cadar

Hukum Cadar: Khilaf Para Ulama (1)

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Fiqih 0 Comments

Cadar (niqab) termasuk syari’at Islam. Tidak ada satu pun ulama` Ahlus Sunnah yang mengingkari syari’at cadar, dan cadar telah dipraktekkan oleh istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sebagian para shahabiyah. Jika ada seseorang yang mengatakan bahwa jilbab atau cadar hanya budaya orang Arab dan bukan dari Islam, maka kemungkinan besar dia bukan ahli ilmu atau kurang cerdas dalam membaca ayat dan hadits, meskipun memiliki kitab tafsir yang tebal. Di antara yang berpendapat seperti ini adalah Prof. Dr. Quraisy Syihab dalam tafsirnya al-Mishbâh maupun dalam ceramah-ceramahnya.

Tatkala turun ayat tentang hijab:

«وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ»

“Dan hendaklah mereka menutup kudung mereka ke dada-dada mereka.” [QS. An-Nûr [24]: 31]

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:

أَخَذْنَ أُزْرَهُنَّ فَشَقَّقْنَهَا مِنْ قِبَلِ الحَوَاشِي فَاخْتَمَرْنَ بِهَا

“Mereka (para shahabiyah) mengambil kain-kain mereka lalu merobek ujungnya-ujungnya untuk berkhimar (berkerudung untuk menutupi kepala) dengannya.” [Shahih: HR. Al-Bukhari (no. 4759, VI/109), al-Hakim (no. 7416) dalam al-Mustadrâk, al-Baihaqi (no. 3259) dalam as-Sunan al-Kubrâ, dan an-Nasa`i (no. 11299) dalam as-Sunan al-Kubrâ]

Sekali lagi, kaum muslimin telah berijma’ bahwa cadar merupakan syari’at Islam dan sebuah kemuliaan bagi kaum muslimah yang mengenakannya. Mereka hanya berbeda pendapat apakah cadar hukumnya wajib atau sunnah? Mereka terbagi dua pendapat dan masing-masing memakai dalil-dalil yang kuat.

Pendapat pertama menyatakan bahwa seluruh tubuh wanita termasuk wajah dan telapak tangan adalah aurat sehingga wajib ditutupi. Ini pendapat yang mewajibkan bercadar. Di antara dalil yang mereka kemukakan:

«وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ»

“Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada-dada mereka.” [QS. An-Nûr [24]: 31]

Syaikh al-’Utsaimin menjelaskan, “Bila wajib menutup leher dan dada, maka menutup wajah juga wajib karena lebih utama untuk ditutupi, karena seseorang yang ingin mengetahui kecantikan wanita pasti tidak bertanya kecuali wajahnya. Jika memang wajahnya cantik, dia tidak perlu lagi melihat bagian lainnya meskipun juga penting. Oleh karena itu, jika ada yang berkata “si fulanah cantik” maka kalimat ini tidak dipahami kecuali kecantikan wajah. Jelaslah bahwa wajah adalah tempat kecantikan secara thalab dan khabar. Jika keadaannya seperti ini, apakah mungkin syari’at yang penuh hikmah ini memerintahkan untuk menutup leher dan dada lalu memberi keringanan membuka wajah???” [Risâlatul Hijâb (hal. 11) oleh Fadhilatus Syaikh. Dicetak tanpa nama penerbit]

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«إِذَا خَطَبَ أَحَدُكُمْ امْرَأَةً، فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَنْظُرَ إِلَيْهَا إِذَا كَانَ إِنَّمَا يَنْظُرُ إِلَيْهَا لِخِطْبَةٍ، وَإِنْ كَانَتْ لَا تَعْلَمُ»

“Jika salah seorang dari kalian hendak mengkhithbah seorang wanita, maka tidak berdosa ia melihatnya jika memang melihatnya untuk tujuan mengkhithbahnya, meskipun si wanita tidak tahu.” [Shahih: HR. Ahmad (no. 23602, XXIX/15) dalam Musnadnya dari Abu Humaid atau Abu Humaidah radhiyallahu ‘anhu. Dinilai shahih oleh al-Arna`uth]

Syaikh al-’Utsaimin menjelaskan, “Segi pengambilan hukumnya adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menganggap dosa bagi pengkhithbah secara khusus untuk melihat wanita yang hendak dikhithbah dengan syarat melihat itu memang untuk mengkhithbah. Ini menunjukkan bahwa selain pengkhithbah berdosa melihat wanita asing dalam setiap keadaan, begitu pula pengkhitbah yang melihatnya bukan untuk tujuan khitbah misalnya melihat dengan tujuan berlezat-lezat atau menikmatinya atau semisalnya.” [Risâlatul Hijâb (hal. 17) oleh Fadhilatus Syaikh]

Syaikh Muhammad bin Qasim al-Ghazzi ulama` bermadzhab asy-Syafi’i berkata:

وَجَمِيْعُ بَدَنِ الْمَرْأَةِ الحُرَّةِ عَوْرَةٌ إِلَّا وَجْهُهَا وَكَفَّيْهَا، وَهَذِهِ عَوْرَتُهَا فِي الصَلَاةِ، أَمَّا خَارِجُ الصَّلَاةِ فَعَوْرَتُهَا جَمِيْعُ بَدَنِهَا

“Seluruh badan wanita merdeka selain wajah dan telapak tangan adalah aurat. Ini aurat di dalam shalat. Adapun di luar shalat, aurat wanita adalah seluruh badan.” [Lihat Fathul Qârib (hal. 19) olehnya]

Pendapat kedua menyatakan bahwa seluruh tubuh wanita adalah aurat kecuali wajah dan telapak tangan, sehingga cadar tidak wajib tapi sunnah. Ini pendapat yang tidak mewajibkan cadar. Di antara dalil yang mereka kemukakan adalah:

  1. Firman Allâh:

«وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا»

“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka.” [QS. An-Nûr [24]: 31]

Tentang perhiasan yang biasa nampak ini, al-Hafizh Ibnu Katsir (w. 774 H) berkata, “Dari A’masy dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas tentang ayat di atas:

وَجْهُهَا وَكَفَّيْهَا وَالْخَاتَمُ

‘Wajah dan dua telapak tangan serta cincin.’

Juga diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar, ‘Atha`, ‘Ikrimah, Sa’id bin Jubair, Abu asy-Sya’tsa`, adh-Dhahhak, Ibrahim an-Nakha’i, dan selainnya yang semisal dengan itu.” Lanjut al-Hafizh, “Dimungkinkan tafsir “apa yang tampak” yang dikehendaki Ibnu ‘Abbas dan orang-orang yang mengikutinya adalah wajah dan kedua telapak tangan. Inilah yang masyhur di kalangan jumhur.” [Tafsîr Ibnu Katsîr (VI/45)]

  1. Hadits

Diriwayatkan dari ‘Aisyah berkata, “Asma` binti Abu Bakar datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memakai pakaian tipis. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berpaling dan berkata:

«يَا أَسْمَاءُ، إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتِ الْمَحِيضَ لَمْ تَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلَّا هَذَا وَهَذَا»

‘Wahai Asma`, sesungguhnya wanita itu apabila telah haidh (baligh) tidak boleh terlihat darinya kecuali ini dan ini saja.’ Beliau menunjuk wajah dan kedua telapak tangannya.” [Shahih: HR. Abu Dawud (no. 4104, IV/62), al-Baihaqi (no. 2358) dalam as-Sunan ash-Shaghîr dan (no. 3218) dalam as-Sunan al-Kubrâ, dan ath-Thabarani (no. 2739) dalam Musnad asy-Syammiyyin. Dinilai shahih oleh al-Albani dalam Shahîhul Jâmi’ (no. 7847), Shahîh at-Targhîb wat Tarhîb, al-Misykâh (no. 4372), dan Ghâyatul Marâm (no. 2045). Hadits mursal tetapi memiliki banyak jalur periwayatan]

Al-Imam Muhammad ‘Alauddin bermadzhab Maliki berkata:

وَجَمِيْعُ بَدَنِ الحُرَّةِ عَوْرَةٌ إِلَّا وَجْهُهَا وَكَفَّيْهَا، وَقَدَمَيْهَا فِي رِوَايَةٍ، وَكَذَا صَوْتُهَا، وَلَيْسَ بِعَوْرَةٍ عَلَى الْأَشْبَهِ، وَإِنَّمَا يُؤَدِّي إِلَى الْفِتْنَةِ، وَلِذَا تَمْنَعُ مِنْ كَشْفِ وَجْهِهَا بَيْنَ الرِّجَالِ لِلْفِتْنَةِ

“Seluruh badan wanita adalah aurat kecuali wajah dan telapak tangan dalam. Dalam suatu riwayat, juga telapak tangan luar. Demikian juga suaranya. Namun bukan aurat jika dihadapan sesama wanita. Jika cenderung menimbulkan fitnah, dilarang menampakkan wajahnya di hadapan para lelaki.” [Lihat adDurr al-Muntaqâ (hal. 81)]

Demikian khilaf para ulama` kita tentang masalah wajib atau sunnahnya cadar. Yang terpenting, masing-masing orang hendaklah lapang dada dan tidak memaksakan salah satu pendapat kepada saudarinya. Bagi kaum wanita baik mahasiswi maupun dosen wanita, untuk memperhatikan masalah pakaiannya dengan mengenakan pakaian yang diperintahkan Allâh dan menanggalkan pakaian yang tidak memenuhi kriteria pakaian muslimah.

Bagi mahasiswi yang memutuskan memakai cadar, tidak perlu resah dengan ucapan manusia karena Allâh-lah yang mensyariatkan cadar dan tentunya yang akan menjaga dan memberi pahala bagi siapa yang menjalankan syari’at-Nya. Bagi mahasiswi yang berjilbab lebar (jilbaber) untuk menghormati dan menyayangi saudarinya yang bercadar dan juga istiqomah dalam mengenakannya meskipun kebanyakan mahasiswi dan dosen perempuannya bertolak belakang dengannya.

Bagi kedua muslimah tersebut, untuk bersyukur kepada Allâh atas nikmat kelapangan hati menjalankan syari’at ini sehingga dia tidak diganggu kaum lelaki hidung belang dan lelaki nakal. Allâh berfirman:

«يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللّٰهُ غَفُورًا رَحِيمًا»

“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, putri-putrimu, dan seluruh perempuan beriman untuk menjulurkan jilbab-jilbab mereka, karena dengan hal tersebut mereka lebih mudah untuk dikenali (sebagai muslimah yang baik) sehingga tidak diganggu. Dan Allâh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [QS. Al-Ahzâb [33]: 59]

Bersambung….

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*