ilmu

Hai Yahya! Ambillah Kitab Itu dengan Kuat

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Nasihat Ulama, Penyejuk Hati 0 Comments

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَليَ آلِهِ وَ أَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَ بَعْدُ:

Wahai Saudaraku …

Bersabarlah engkau dalam menuntut ilmu dan berpalinglah dari orang yang berpaling dari ilmu.

Tahukah engkau siapakah Abu Hurairah itu? Dia adalah salah satu shahabat utama yang paling banyak meriwayatkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidaklah hadits Nabi disebut, melainkan namanya tersebut pula sehingga penuntut ilmu yang kebanyakan mereka orang alim, ulama, dan para imam mendoakannya: radhiyallahu ‘anhu –semoga Allah meridhainya–.

Namun, apakah Abu Hurairah mendapatkan keagungan ini dengan serta-merta tanpa sebab? Sama sekali tidak. Mari kita mendengar penuturannya sendiri:

إِنَّ إِخْوَانَنَا مِنَ الْمُهَاجِرِينَ كَانَ يَشْغَلُهُمُ الصَّفْقُ بِالأَسْوَاقِ، وَإِنَّ إِخْوَانَنَا مِنَ الأَنْصَارِ كَانَ يَشْغَلُهُمُ الْعَمَلُ فِى أَمْوَالِهِمْ، وَإِنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ كَانَ يَلْزَمُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِشِبَعِ بَطْنِهِ وَيَحْضُرُ مَا لاَ يَحْضُرُونَ، وَيَحْفَظُ مَا لاَ يَحْفَظُونَ

“Sesungguhnya saudara-saudara kami kaum Muhajirin sibuk berdagang di pasar dan saudara-saudara kami kaum Anshar sibuk mengurus hartanya, sementara Abu Hurairah selalu menyertai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan perut kenyang. Dia menghadiri apa yang tidak mereka hadiri dan menghafal apa yang tidak mereka hafal.” [Shahih: Shahih al-Bukhari (no. 118)]

قاَلَ الشَّافِعِي رَحِمَهُ للَّهُ: أَبُوْ هُرَيْرَةَ أَحْفَظُ مَنْ رَوَى الْحَدِيْثَ فِي عَصْرِهِ

Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Abu Hurairah adalah orang yang paling banyak hafalannya di antara para perawi hadits pada masanya.” [Fathul Bâri (I/214) oleh Ibnu Hajar]

قاَلَ ابْنُ عُمَرَ: كَانَ يَحْفَظُ عَلَى الْمُسْلِمِيْنَ حَدِيْثَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Ibnu ‘Umar rahimahullah berkata, “Dia telah menjaga hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk kaum muslimin.” [Ibid (I/214)]

Saya tidak mengatakan bahwa orang-orang yang sibuk dengan dunianya dan bisnisnya tercela, tetapi yang nampak jelas bagi kita bahwa kemuliaan itu lebih dekat kepada orang-orang yang sibuk dengan ilmu, sebagaimana Abu Hurairah rahimahullah mulia karena sibuk dengan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Wahai Saudaraku …

Duduklah di majlis ilmu meskipun saudara-saudaramu asyik ria dengan istri dan hartanya.

Menyendirilah dengan buku, meskipun saudara-saudaramu asyik ria di mall-mall dan vila-vila.

Biarkan mereka tertawa ria, sementara engkau banyak menangis dan diam karena tuntutan ilmu. Biarkan mereka banyak mengobrol dan membicarakan dunia, sementara engkau menyendiri untuk menghafal al-Qur`an dan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Biarkan orang-orang mengejar dunianya, sementara Anda ridha dengan akhirat

Jika salah seorang dari mereka mengajakmu duduk untuk mengobrol, maka katakanlah kepadanya dengan santun, “Jika saya duduk dengan kalian, maka saya tidak mendapat apa-apa. Namun, jika saya duduk dengan para shahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum, maka saya akan dapat banyak warisan.” Atau jawaban, “Jika kalian bisa menahan matahari agar tidak bergeser, maka aku akan ikut nimbrung bersama kalian.”

Mereka adalah orang-orang yang berlebihan dalam makan, minum, tidur, dan tertawa. Jauhilah orang yang memiliki empat sifat ini agar Anda mulia.

Saudaraku hafizhakumullah

Berpayah-payahlah dalam menuntut ilmu dan bersabarlah dalam mencarinya.

قَالَ أَبُو حَاتِمٍ الرَّازِيُّ: خَرَجْتُ فِي طَلَبِ الْحَدِيثِ فَأَحْصَيْتُ أَحْصَيْتُ أَنِّي مَشَيْتُ عَلَى قَدَمَيَّ زِيَادَةً عَلَى أَلْفِ فَرْسَخٍ

Abu Hatim ar-Razi berkata, “Aku keluar mencari hadits lalu aku menghitungnya, ternyata aku menghitung perjalananku dengan berjalan kaki lebih dari seribu farsakh.” [Al-Hatstsu ala Hifzhil Ilmi wa Tadzkiratul Huffadz (hal. 92) oleh Ibnul Jauzi]

Ya seribu farsakh, Anda baru bisa menempuh seribu farsakh jika Anda berjalan kaki bolak-balik Surabaya – Jakarta sebanyak empat kali. Begitulah mereka. Adapun Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu melakukan perjalanan selama satu bulan demi satu buah hadits! Maka, jadikanlah mereka sebagai teladan agar Anda kelak dijadikan teladan.

Imam Ibnu Jama’ah rahimahullah berkata, “Sebagian ulama salaf berkata, ‘Siapa yang tidak sabar terhadap kehinaan belajar, maka sisa umurnya ada pada kebutaan dan kebodohan. Dan siapa yang sabar terhadap hal itu, maka urusannya akan menjangkau kemuliaan dunia dan akhirat.” [Tadzkiratus Sâmi’ (hal. 140) oleh Ibnu Jama’ah]

Dalam sebagian syairnya, Imam as-Syafi’i berkata:

اِصْبِرْ عَلَى مُرِّ الْجَفَا مِنْ مُعَلِّمٍ ** فَإِنَّ رُسُوْبَ الْعِلْمِ فِي نَفَرَاتِهِ

وَمَنْ لَمْ يَذُقْ مُرَّ التَّعَلُّمِ سَاعَةً ** تَجَرَّعَ ذُلَّ الْجَهْلِ طُوْلَ حَيَاتِهِ

وَمَنْ فاَتَهُ التَّعْلِيْمُ وَقْتَ شَبَابِهِ ** فَكَبِّرْ عَلَيْهِ أَرْبَعاً لِوَفَاتِهِ

حَيَاةُ الْفَتَى وَاللَّهِ بِالْعِلْمِ وَالتُّقَى ** إِذَا لَمْ يَكُوْنَا لَا اعْتِبَارَ لِذَاتِهِ

Bersabarlah mendapat perlakuan kasar seorang guru. Sebab, gagalnya ilmu ada pada meninggalkannya

Dan siapa yang tidak merasakan pahitnya belajar sesaat, akan meneguk hinanya kebodohan sepanjang hidupnya

Dan siapa yang tidak belajar di waktu muda, maka bertakbirlah empat kali karena ia telah meninggal

Hidupnya seorang pemuda –demi Allah– ada pada ilmu dan takwa, jika keduanya tidak ada, maka keberadaannya tidaklah berarti

[Diwan Imam asy-Syafi’i (hal. 164-165)]

Saudaraku hafizhakumullah

Ketahuilah bahwa tidak ada waktu bersua bagimu di dunia ini, tidak pula bersantai-santai, malas-malasan, dan bermain-main. Sesungguhnya istirahatmu adalah saat dimasukkan ke liang lahat.

Abu Qatadah bin Rib’i al-Anshari radhiyallahu ‘anhu bercerita:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرَّ عَلَيْهِ بِجِنَازَةٍ فَقَالَ: «مُسْتَرِيْحٌ، وَمُسْتَرَاحٌ مِنْهُ» قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْمُسْتَرِيْحُ وَالْمُسْتَرَاحُ مِنْهُ؟ قَالَ: «الْعَبْدُ الْمُؤْمِنُ يَسْتَرِيْحُ مِنْ نَصَبِ الدُّنْيَا وَأَذَاهَا إِلَى رَحْمَةِ اللَّهِ، وَالْعَبْدُ الْفَاجِرُ يَسْتَرِيْحُ مِنْهُ الْعِبَادُ وَالْبِلاَدُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ»

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpapasan dengan usungan jenazah lalu beliau bersabda, ‘Yang beristirahat dan yang diistirahatkan.’ Mereka bertanya, ‘Ya Rasulullah apa maksud yang beristirahat dan yang diistirahatkan?’ Beliau menjawab, ‘Seorang hamba mukmin beristirahat dari kepayahan dan penderitaan dunia menuju rahmat Allah, sementara hamba yang fajir diistirahatkan darinya manusia, daerah, pohon, dan binatang.’” [Muttafaqun ‘Alaihi: Shahih al-Bukhari (no. 6512) dan Shahih Muslim (no. 950). Ini lafazh al-Bukhari]

Dan puncak istirahatmu adalah saat kakimu menginjak tanah surga.

((جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِنْ ذَهَبٍ وَلُؤْلُؤًا وَلِبَاسُهُمْ فِيهَا حَرِيرٌ (٣٣) وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَذْهَبَ عَنَّا الْحَزَنَ إِنَّ رَبَّنَا لَغَفُورٌ شَكُورٌ))

“(Bagi mereka) surga Adn yang akan mereka masuki, di dalamnya mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas dan dengan mutiara, dan pakaian mereka di dalamnya adalah sutera. Dan mereka berkata, ‘Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kesedihan kami. Sesungguhnya Rabb kami benar-benar Maha Pengampun lagi Mensyukuri.’” [QS. Fatir [35]: 33-34]

Saudaraku, kelak akan terbukti milik siapakah kemuliaan itu. Maka, bersabarlah …

Bersabarlah …

Bersabarlah …

قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: ذَلَلْتَ طَالِباً فَعَزَزْتَ مَطْلُوْباً

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Kamu terhina saat menjadi penuntut ilmu, tetapi kamu akan mulia nanti saat manusia membutuhkanmu.” [At-Tibyan fî Adâbi Hamalatil Qur`an (hal. 50) oleh Imam an-Nawawi]

Terakhir, inilah seruan untukmu wahai penuntut ilmu:

((يَا يَحْيَى خُذِ الْكِتَابَ بِقُوَّةٍ))

“Hai Yahya! Ambillah kitab itu dengan kuat!” [QS. Maryam [19]: 12]

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ

Saudaramu yang ingin mulia sepertimu

Abu Zur’ah ath-Thaybi

Masjid Thaybah, 3 April 2012

Referensi:

  1. Shahih al-Bukhari karya Abu Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhari al-Ju’fi (w: 256 H), Penerbit: Dar Ibnu Katsir Beirut th. 1407 H/1987 M, Tahqiq: Dr. Mushthafa al-Bagha dosen Ilmu Hadits di Fakultas Syari’ah Universitas Damaskus, 6 Jilid.
  2. Shahih Muslim karya Abul Husain Muslim bin Hajjaj bin Muslim al-Qusyairi an-Naisaburi (w: 261 H), Penerbit: Ihyaut Turats al-Arabi Beirut, Tahqiq: Dr. Muhammad Fuad Abdul Baqi, 5 Jilid.
  3. Fathul Bari Syarah Shahih al-Bukhari karya Abul Fadhl Ahmad bin Ali bin Hajar al-‘Asqalani asy-Syafi’i (w: 852 H), Penerbit: Darul Ma’rifat Beirut, cet. th. 1379 H, 13 Jilid.
  4. Al-Hatstsu ala Hifzhil Ilmi wa Tadzkiratul Huffadz karya Ibnul Jauzi, Tahqiq: Prof. Dr. Fu’ad Abdul Mun’im, Penerbit: Muassasah Syababul Jami’ah Iskandariyah, cet. 2 th. 1412.
  5. Diwan al-Imam asy-Syafi’i karya Abu Abdillah Muhammad bin Idris asy-Syafi’i (w: 204 H), Pengumpul dan Pensyarah: Muhammad bin Abdurrahman, Penerbit: Darul Fikr Beirut, th. 1415 H.
  6. Tadzkiratus Sâmi’ wal Mutakallim fî Adâbil Alim wal Muta’allim karya Badrudin bin Abu Ishaq Ibrahim Ibnu Jama’ah (w: 733 H), Muhaqqiq dan Mu’alliq: as-Sayyid Muhammad bin Hasyim an-Nadawi, Penerbit: Darul Ma’ali, cet. ke-3 th. 1419 H.
  7. At-Tibyan fî Adâbi Hamalatil Qur`an karya Abu Zakaria Yahya bin Syaraf an-Nawawi (w: 676 H), Muhaqqiq dan Mu’alliq: Muhammad al-Hajar, Penerbit: Dar Ibnu Hazm.
  8. Al-Maktabah asy-Syamilah versi 10 000 Kitab
  9. Dan lainnya.
Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*