istri nabi

5 Nasehat Ilahi untuk Istri-Istri Nabi Radhiyallahu ‘Anhunna Ajmain

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Adab, Akhlak Muamalah, Fiqih 0 Comments

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَ أَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَ بَعْدُ:

Istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia biasa bukan malaikat, sehingga mereka pun pernah khilaf sebagaimana wanita-wanita lainnya. Hanya saja, mereka adalah wanita-wanita terbaik yang dipilih Allah Ta’ala untuk mendampingi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena keistimewaan inilah, setiap kali mereka salah Allah langsung menegurnya. Adapun wanita selain mereka, tidak ada jaminan mendapatkan teguran Allah sehingga sebagian mereka tetap di atas kesalahannya.

Di antara teguran dan nasihat Allah untuk para Ummahatul Mukminin adalah:

1:: Wahai Istri-istri Nabi! Bersabarlah kalian menjalani hidup bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Allah Ta’ala berfirman:

((إِنْ تَتُوبَا إِلَى اللَّهِ فَقَدْ صَغَتْ قُلُوبُكُمَا))

“Jika kalian berdua bertobat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kalian berdua telah condong (kepada kebaikan).” [QS. At-Tahrim [66]: 4]

Yang dimaksud dua orang dalam ayat ini adalah ‘Aisyah binti Abu Bakar dan Hafshah binti ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhum.

‘Aisyah dan Hafshah pernah membantah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga membuat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merasa sedih hingga menyendiri.

Umar radhiyallahu ‘anhu bercerita, “Kami orang-orang Quraiys adalah kaum yang suka menindas wanita. Ketika tiba di Madinah, kami malah mendapati suatu kaum yang justru didominasi oleh kaum wanita. Oleh karena itu, wanita-wanita kami mulai belajar dari wanita-wanita Madinah tersebut.”

Umar melanjutkan kisahnya, “Aku menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya mengucapkan salam. Saat itu aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang duduk bersandar dan beralaskan tikar yang sudah butut sehingga meninggalkan bekas pada punggungnya. Aku berkata dalam keadaan masih berdiri, ‘Apakah Anda telah menceraikan istri-istri Anda, wahai Rasulullah?’ Sejenak aku lihat beliau mengangkat kepalanya kepadaku lalu bersabda, ‘Tidak.’ Aku berkata,

اللَّهُ أَكْبَرُ! يَا رَسُولَ اللَّهِ لَوْ رَأَيْتَنِى، وَكُنَّا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ نَغْلِبُ النِّسَاءَ، فَلَمَّا قَدِمْنَا الْمَدِينَةَ إِذَا قَوْمٌ تَغْلِبُهُمْ نِسَاؤُهُمْ

‘Allahu Akbar! Wahai Rasulullah andai saja Anda tahu, kami orang-orang Quraiys dahulu adalah kaum yang suka menindas perempuan. Ketika tiba di Madinah, kami malah mendapati suatu kaum yang justru dikuasai oleh wanita.’ Seketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersenyum. Lalu, aku berkata lagi,

يَا رَسُولَ اللَّهِ، لَوْ رَأَيْتَنِى وَدَخَلْتُ عَلَى حَفْصَةَ فَقُلْتُ لَهَا: لاَ يَغُرَّنَّكِ أَنْ كَانَتْ جَارَتُكِ أَوْضَأَ مِنْكِ وَأَحَبَّ إِلَى النَّبِىِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

‘Wahai Rasulullah andai saja Anda tahu, aku sudah temui putriku Hafshah dan aku katakan padanya, ‘Kamu jangan pernah cemburu kepada madumu ‘Aisyah yang memang lebih cantik daripada kamu dan juga yang paling dicintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Mendengar hal itu, beliau kembali tersenyum. [Muttafaqun ‘Alaihi: Shahih al-Bukhari (no. 5191) dan Shahih Muslim (no. 1479)]

Istri-istri Nabi radhiyallahu ‘anhunna ajmain menyesal telah membuat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedih sehingga mereka pun bertobat kepada Allah dan lebih memilih Rasulullah daripada dunia yang ditawarkan kepada mereka. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

((يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ إِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا فَتَعَالَيْنَ أُمَتِّعْكُنَّ وَأُسَرِّحْكُنَّ سَرَاحًا جَمِيلًا (٢٨) وَإِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالدَّارَ الآخِرَةَ فَإِنَّ اللَّهَ أَعَدَّ لِلْمُحْسِنَاتِ مِنْكُنَّ أَجْرًا عَظِيمًا))

“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu: ‘Jika kalian menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka kemarilah supaya kuberikan kepadamu mut’ah (pemberian harta) dan akan kuceraikan kalian dengan cara yang baik. Dan jika kalian menginginkan Allah dan Rasulullah serta negeri akhirat, maka Allah akan menyediakan balasan yang besar bagi siapa yang berbuat kebaikan.’ [QS. Al-Ahzab [33]: 28-29]

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Ini adalah perintah dari Allah kepada Rasul-Nya untuk memberikan pilihan kepada istri-istrinya untuk diceraikan sehingga bisa menikah dengan lelaki lain yang bisa memberikan gemerlap dunia dan perhiasannya kepada mereka atau bersabar bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan kesempitan hidup tetapi mereka akan dibalas dengan pahala yang melimpah. Lalu, mereka radhiyallahu ‘anhunna lebih memilih Allah dan Rasul-Nya serta negeri akhirat. Setelah itu, Allah mengumpulkan untuk mereka kenikmatan dunia dan kebahagiaan akhirat.” [Tafsir Ibnu Katsir (VI/401)]

‘Aisyah adalah istri pertama yang diminta Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pilihannya. Beliau bersabda kepadanya:

«إِنِّى ذَاكِرٌ لَكِ أَمْرًا فَلاَ عَلَيْكِ أَنْ تَسْتَعْجِلِى حَتَّى تَسْتَأْمِرِى أَبَوَيْكِ»

Sesungguhnya saya akan menyebutkan kepadamu suatu urusan maka tidak perlu kamu terburu menjawabnya hingga meminta pertimbangan orang tuamu.”

Lantas beliau menyebutkan firman Allah tersebut dan ‘Aisyah langsung menanggapi:

فَفِى أَىِّ هَذَا أَسْتَأْمِرُ أَبَوَىَّ؟ فَإِنِّى أُرِيدُ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالدَّارَ الآخِرَةَ

“Apakah hanya untuk ini aku harus meminta pertimbangan kedua orang tuaku? Sungguh, aku mengingkan Allah, Rasul-Nya, dan negeri akhirat.” [Shahih: Shahih al-Bukhari (no. 4785) dengan ringkas]

Dalam riwayat lain, ‘Aisyah berkata:

ثُمَّ فَعَلَ أَزْوَاجُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْلَ مَا فَعَلْتُ

“Kemudian istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan seperti apa yang kulakukan.” [Shahih: Shahih al-Bukhari (no. 4786)] Dalam riwayat lain, “Mendengar itu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam merasa senang.” [Tafsir Ibnu Katsir (VI/401)]

2:: Wahai Istri-istri Nabi! Janganlah kalian melakukan fahisyah …

Allah Azza wa Jalla berfirman:

((يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ مَنْ يَأْتِ مِنْكُنَّ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ يُضَاعَفْ لَهَا الْعَذَابُ ضِعْفَيْنِ وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا))

“Wahai istri-istri Nabi! Barangsiapa di antara kalian melakukan fahisyah dengan nyata, maka adzabnya akan dilipatgandakan dua kali lipatnya dan itu mudah bagi Allah.” [QS. Al-Ahzab [33]: 30]

Allah menasihati para istri-istri Nabi radhiyallahu ‘anhunna ajmain agar tidak melakukan fahisyah karena hukumannya amat berat di sisi Allah dengan dilipatgandakan dua kali.

Para ahli tafsir menyebutkan bahwa fahisyah ‘perbutan keji’ adalah dosa yang dihasilkan di antara dua paha.

Ummahatul Mukminin adalah wanita-wanita terhormat dan paling menjaga kesuciannya, tetapi Allah memperingatkan bahwa mereka akan menanggung dosa dua kali lipatnya jika mereka melakukan perbuatan keji itu bersama lelaki lain. Sebab, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah lelaki yang sangat cemburu dan Allah lebih cemburu lagi.

Diriwayatkan bahwa Sa’ad bin Ubadah berkata, “Seandainya saya melihat seorang lelaki berduaan dengan istriku, sungguh aku akan memenggal lehernya tanpa ampun.” Orang-orang yang mendengar ini merasa takjub. Lalu kabar ini sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas beliau bersabda:

«تَعْجَبُوْنَ مِنْ غَيْرَةِ سَعْدٍ؟ وَاللَّهِ لَأَنَا أَغْيَرُ مِنْهُ وَاللَّهُ أَغْيَرُ مِنِّي، وَمِنْ أَجْلِ غَيْرَةِ اللَّهِ حَرَّمَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ»

“Apakah kalian takjub dengan kecemburuan Sa’ad? Demi Allah, sungguh saya lebih cemburu daripada dia, dan Allah lebih cemburu daripada aku. Karena kecemburuan inilah, Allah mengharamkan fahisyah yang nampak maupun yang tersembunyi.” [Muttafaqun ‘Alaihi: Shahih al-Bukhari (no. 7416) dan Shahih Muslim (no. 1499)]

Adapun Ummahatul Mukminin, mereka tidak melakukannya meskipun orang-orang munafik menuduhnya demikian –bahkan Allah sendiri yang membebaskan tuduhan mereka bahwa ‘Aisyah tidak pernah berselingkuh dengan Shafwan bin al-Muaththal–. Maka Allah Ta’ala berfirman pada ayat berikutnya:

((وَمَنْ يَقْنُتْ مِنْكُنَّ لِلَّهِ وَرَسُولِهِ وَتَعْمَلْ صَالِحًا نُؤْتِهَا أَجْرَهَا مَرَّتَيْنِ وَأَعْتَدْنَا لَهَا رِزْقًا كَرِيمًا))

“Dan barangsiapa di antara kalian ta’at kepada Allah dan Rasul-Nya serta mengerjakan amal shalih, maka Kami akan berikan dua kali lipat pahala dan Kami sediakan baginya rezki yang mulia.” [QS. Al-Ahzab [33]: 30]

3:: Wahai Istri-istri Nabi! Janganlah kalian gema-gemulai saat berbicara …

Allah menasihati para Ummatul Mukminin untuk tidak membuat-buat saat berbicara dengan lawan jenisnya kecuali Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka dilarang gema-gemulai, meskipun orang yang mengajak bicara mereka adalah orang-orang yang bisa menjaga diri. Sebab, hal ini dikhawatirkan akan menjadikan orang yang di dalam hatinya ada penyakit berniat fahisyah. Allah berfirman:

((يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا))

“Wahai istri-istri Nabi! Kalian tidaklah sama dengan wanita-wanita lainnya, maka jika kalian bertakwa janganlah gema-gemulai dalam berbicara karena akan menjadikan sangat bernafsu orang yang di dalam hatinya ada penyakit. Dan ucapkanlah ucapan yang baik.” [QS. Al-Ahzab [33]: 32]

قَالَ ابْنُ كَثِيْرٍ: وَمَعْنَى هَذَا لَا تُخَاطِبُ الْمَرْأَةُ الْأَجَانِبَ كَمَا تُخَاطِبُ زَوْجَهَا

Ibnu Katsir berkata, “Makna ayat ini adalah wanita tidak boleh berbicara dengan lelaki asing layaknya berbicara dengan suaminya sendiri.” [Tafsir Ibnu Katsir (VI/409)]

قاَلَ عِكْرِمَةُ ((فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ)): شَهْوَةُ الزِّنَا

Ikrimah berkata tentang ayat ‘Karena akan menjadikan sangat bernafsu orang yang di dalam hatinya ada penyakit’, “Yaitu syahwat zina.” [Tafsir ath-Thabari (XX/258)]

Orang-orang yang ada keperluan dengan istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terutama ‘Aisyah adalah shahahat-shahabat utama yang kebanyakan adalah para perawi hadits, seperti Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, Ibnu Umar, Ibnuz Zubair, dan Abu Hurairah. Namun, Allah yang Maha Melihat menyuruh mereka untuk berbicara dari balik tabir:

((وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ))

“Dan jika kalian meminta suatu keperluan kepada mereka, maka mintalah dari belakang tabir karena itu lebih suci bagi hati kalian dan hati mereka.” [QS. Al-Ahzab [33]: 53]

Imam ath-Thabari berkata, “Allah subhanahu wa ta’ala menuturkan: Pemintaan keperluan kalian kepada mereka jika dilakukan dari belakang tabir akan lebih suci bagi hati kalian dan mereka, karena tidak berpandangan mata yang menyebabkan terjadinya sesuatu di hati lelaki pada perempuan dan hati perempuan pada lelaki, dan hal itu lebih selamat untuk menghalangi setan membuat jalan.” [Tafsir ath-Thabari (XX/313-314)]

================================

Murajaah: Ustadz Muhammad Nur Yasin

(Mudir Pesma Thaybah Surabaya)

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*