akar

Membongkar Akar Kesyirikan

Abu Zakariya Sutrisno, ST., M.Sc. Aqidah 0 Comments

Segala puji bagi Allah, sholawat dan salam atas Rasulullah.

Allah memerintahkan manusia untuk beribadah hanya kepadaNya dan menjauhi syirik.  Namun pada kenyataannya banyak yang terjerumus dalam kesyirikan.  Kenapa sebabnya? Tidak lain karena kejahilan atau karena ada syubhat (kerancuan pemikiran) yang menyebabkan dia terjerumus pada kesyirikan tersebut.

Pada tulisan yang singkat ini kami ingin menukil faedah yang disebutkan oleh Syaikh Muhammad At Tamimi rahimahullah (wafat tahun 1206H) dalam kitabnya Kasyfu Asy Syubuhat  dalam menyingkap atau menjawab syubhat-syubhat orang-orang yang berbuat kesyirikan.

Beliau mengatakan ada dua cara menjawab syubhat orang-orang yang berbuat kesyirikan:

  1. Secara mujmal (global)
  2. Secara mufashal (terperinci)

Metode menjawab secara global telah disebutkan oleh Allah dalam firmanNya,

هُوَ الَّذِيَ أَنزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُّحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ في قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاء الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاء تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلاَّ اللّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِّنْ عِندِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلاَّ أُوْلُواْ الألْبَابِ

Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat , itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mu-tasyaabihaat . Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.” (QS Ali Imran: 7)

Misalkan ada seseorang yang datang kepada Anda lalu berdalil dengan ayat yang mutasyabihat (tidak jelas maknanya) atau dengan hadits atau dalil lain yang mungkin Anda tidak memahaminya.  Mereka berdalil dengan hal tersebut untuk mendukung kesyirikan atau kebatilan yang ada pada mereka. Maka, Anda bisa menjawab secara global sebagai berikut: Sesungguhnya Allah telah menyebutkan dalam Al Qur’an (QS Ali Imran ayat 3 diatas) bahwa orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya meninggalkan ayat-ayat yang muhkam (yang jelas maknanya) serta mengikuti yang mutasyabihat. Adapun orang yang berilmu (yang lurus) mereka beriman kepada ayat Allah seluruhnya, mereka berpegang pada yang muhkam karena itu adalah pokok Al Qur’an dan mengembalikan yang mutasyabihat pada yang muhkam tersebut.  Adapun dalil yang kamu sebutkan yang saya tidak faham maknanya tetapi saya yakin bahwa firman tidak akan bertentangan, begitu juga sabda Rasul. Allah dan RasulNya dengan jelas telah memerintahkan untuk mentauhidkan Allah dan dengan jelas melarang dari kesyirikan dengan berbagai jenis dan alasannya. Ini adalah perkara yang jelas.

Adapun jawaban terperinci maka sesuai dengan syubhat yang dilontarkan. Orang-orang yang berbuat kesyirikan memiliki banyak syubhat, diantara syubhat mereka dan jawabannya secara ringkas adalah sebagai berikut:

Syubhat: (Mereka berkata) Kami tidak berbuat syirik kepada Allah, bahkan kami bersyahadat bahwa Allah semata sebagai Pencipta, sebagai Pemberi rizki, dan Dia semata yang mendatangkan manfaat dan kemudharatan, dst. Tetapi kami kan orang yang berdosa, yang memiliki banyak kesalahan, kami hanya ingin mendekatkan diri (taqarrub) lewat para wali atau orang-orang sholih tersebut kepada Allah subhanahu wa ta’ala!

Jawab: Perkataan Anda ini persis keadaan kaum musyrikin yang diperangi Rasulullah. Mereka juga beriman bahwa Allah sebagai Pencipta, Pemberi Rizki, Maha pengatur dan seterusnya dari sifat-sifat rububiyah (Ketuhanan) Allah. Hal ini dijelaskan dalam banyak sekali ayat Al Qur’an, diantaranya firman Allah:

قُلْ مَن يَرْزُقُكُم مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ أَمَّن يَمْلِكُ السَّمْعَ والأَبْصَارَ وَمَن يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيَّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَن يُدَبِّرُ الأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللّهُ فَقُلْ أَفَلاَ تَتَّقُونَ

Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka (kaum musyrikin) akan menjawab: “Allah”. Maka katakanlah “Mangapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?” (QS Yunus: 31)

Keimanan mereka dalam rububiyah tidak cukup memasukkan mereka dalam Islam karena mereka masih mempersekutukan Allah dalam ibadah. Mereka juga tidak mau dikatakan musyrik atau beribadah kepada selain Allah, mereka beranggapan mereka hanya sekedar taqorrub kepada Allah lewat sesembahan-sesembahan mereka. Allah berfirman,

أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاء مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ

Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya“. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.” (QS Az Zumar: 3)

Syubhat: Ayat-ayat tersebut turun kepada penyembah berhala, bagaimana mungkin kamu menyamakan orang-orang sholih dengan berhala?? Atau bahkan menyamakan para Nabi dengan berhala!!

Jawab: Orang-orang yang diperangi Rasulullah bermancam-macam yang mereka sembah. Ada yang menyembah berhala, ada yang menyembah malaikat, ada yang menyembah Nabi (seperti Isa alaihissalam), ada yang menyembah orang shalih (seperti Latta), ada yang menyembah pohon (seperti Uzza), tempat yang dikeramatkan dan lainnya. Mereka semua diperangi Rasulullah agar menyembah Allah semata. Allah mengkafirkan orang yang menyebah berhala begitu juga orang yang menyembah Nabi atau yang selainnya. Allah berfirman tentang orang yang menyembah Nabi Isa,

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُواْ إِنَّ اللّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُواْ اللّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّهُ عَلَيهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (QS Al Ma’idah: 72)

Menyembah berhala, nabi, orang sholih atau yang lainnya hukumnya sama-sama kufur, tidak ada perbedaan. Tentu hal tidak berarti menyamakan Nabi atau orang orang sholih dengan berhala!

Syubhat: Orang-orang kafir dahulu meminta dari sesembahannya. Adapun kami tidak meminta kecuali hanya kepada Allah. Kami meyakini hanya Dia yang mendatangkan manfaat dan kemudharatan dan mengatur segala sesuatu. Orang-orang yang sholih tidak ikut campur sedikitpun dalam hal tersebut. Kami hanya menjadikan mereka (orang-orang sholih atau para Nabi) sebagai pemberi syafaat disisi Allah!!

Jawab: Ucapan ini persis dengan ucapan orang-orang kufar zaman dahulu. Mereka juga berdalih sekedar mencari syafaat disisi Allah. Allah berfirman tentang mereka,

وَيَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللّهِ مَا لاَ يَضُرُّهُمْ وَلاَ يَنفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَـؤُلاء شُفَعَاؤُنَا عِندَ اللّهِ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللّهَ بِمَا لاَ يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلاَ فِي الأَرْضِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfa’atan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah”. Katakanlah: “Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) dibumi ?” Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dan apa yang mereka mempersekutukan (itu).” (QS Yunus: 18)

Syafaat itu ada dua: ada yang manfiyah (dinafikan) dan mutsbatah (ditetapkan benar adanya). Syafaat yang dinafikan adalah syafaat yang diminta kepada selain Allah pada sesuatu yang tidak mampu kecuali hanya Dia. Seperti meminta pada orang yang sudah meninggal atau yang ghaib (tidak hadir). Adapun syafaat yang ditetapkan adalah syafaat yang diminta dari Allah, dan si pemberi syafaat mendapat kemuliaan dengan syafaat tersebut, serta yang diberi syafaat adalah orang-orang yang diridhai oleh Allah yaitu orang-orang yang beriman. Contoh syafaat yang ditetapkan adalah syafaat Nabi Muhammad dan orang-orang sholih di hari kiamat kelak.

Tiga syubhat diatas adalah satu syubhat terbesar orang-orang yang berbuat kesyirikan. Mereka juga memiliki syubhat yang lain, diantaranya:

Syubhat: Orang musyrik dahulu tidak bersyahadat, mereka juga mendustakan Rasul. Bagaimana mungkin kami disamakan dengan mereka padahal kami bersyahadat, kami sholat, zakat, puasa dan kami juga berhaji!!

Jawab: Tidak ada khilaf diantara ulama’ jika ada seseorang membenarkan Rasul pada sebagian hal dan mendustakan pada sisi yang lainnya maka dia dihukumi kafir, tidak masuk pada Islam. Begitu juga orang yang mengingkari sebagian ayat Al Qur’an. Begitu juga orang yang mengikarkan tauhid dan sholat tetapi mengingkari zakat, atau mengikrarkan seluruh hal tadi tetapi mengingkari puasa atau haji. Begitu juga orang yang mengikrarkan ke 5 rukun Islam tadi tetapi tidak mengimani hari kebangkitan maka dihukumi kafir juga. Allah berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِاللّهِ وَرُسُلِهِ وَيُرِيدُونَ أَن يُفَرِّقُواْ بَيْنَ اللّهِ وَرُسُلِهِ وَيقُولُونَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَنَكْفُرُ بِبَعْضٍ وَيُرِيدُونَ أَن يَتَّخِذُواْ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلاً  . أُوْلَـئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ حَقّاً وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ عَذَاباً مُّهِيناً

Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan : “Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)”, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir), merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan.” (QS Nisa’: 150-151)

Mengingkari sebagian dari syariat Islam dihukumi kafir. Lalu bagaimana jika yang diingkari adalah tauhid yang mana dia adalah pondasi dari agama??

Syubhat: Mereka mengatakan: Rasulullah mengingkari Usamah yang membunuh seorang yang mengucapkan “La ilaha illallah”. Beliau bersabda, “Apakah kamu membunuh orang yang mengucapkan La ilaha illallah?” [HR Bukhari]

Jawab: Dalam syubhat ini. tujuannya mereka ingin mengatakan bahwa seseorang jika sudah mengucapkan la ilaha illallah maka tidak boleh dikafirkan meskipun melakukan hal apapun. Telah diketahui bahwa Rasulullah memerangi Yahudi padahal mereka juga mengucapkan la ilaha illallah. Para sahabat juga memerangi Bani Hanifah padahal mereka juga mengucapkan la ilaha illallah wa anna muhammadan rasulullah, mereka juga sholat, puasa dan mengaku Islam. Orang yang mengingkari sesuatu dari rukun Islam maka dikafirkan dan diperangi. Bagaimana jika yang diingkari adalah tauhid?? Adapun hadits Usamah maka maksudnya adalah seseorang jika sudah menampakkan Islam maka wajib menahan diri darinya (tidak membunuhnya) sampai jelas dia melakukan hal yang menyelisihinya. Allah menurunkan tentang hal ini,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِذَا ضَرَبْتُمْ فِي سَبِيلِ اللّهِ فَتَبَيَّنُواْ

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah” (QS An Nisa’: 94)

Jika setelah diteliti dan terbukti dia melakukan yang menyelisihi Islam maka diperangi. Hadits Usamah dan hadits lainnya yang semakna menunjukkan hal ini. Yaitu bahwa seseorang jika menampakkan tauhid dan Islam maka wajib menahan diri darinya, tidak boleh dikafirkan dan diperangi sampai jelas dia melakukan hal yang bertentangan dengan hal tersebut. Seperti kalau dia dengan jelas melakukan kekufuran atau syirik besar.

Sekian sedikit faedah dari kitab kasyfu syubuhat yang dapat saya sampaikan, bagi yang ingin lebih bisa melihat lebih jauh dalam kitab tersebut. Semoga bermanfaat.

Abu Zakariya Sutrisno. Riyadh, 29/5/1436H.

Dipublish ulang dari: www.ukhuwahislamiah.com

Alumni Pesma Thaybah, serta lulus T Elektro ITS tahun 2010. Lulus S2 T Elektro di King Saud University, Saudi Arabia tahun 2013, sekarang sedang menempuh pendidikan S3 di tempat yang sama.
Aktivitas keilmuan sekarang mulazamah masyaikh di Riyadh serta mengajar di Maktab Dakwah Naseem, Riyadh.
Lebih dekat dapat dilihat di website beliau ukhuwahislamiah.com dan sutrisnolink.wordpress.com.

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*