ujub

Ujub Memang Bahaya

Brilly El-Rasheed Akhlak Muamalah 0 Comments

Satu dosa yang paling menjebak adalah ujub. Ujub mendorong untuk menjadikan diri sendiri sebagai tolok ukur kesuksesan, kemuliaan, kebaikan. Dia akan memusuhi dan membenci, setiap orang yang tidak berbuat seperti yang diinginkannya. Dalam hematnya, dirinya sudah benar, orang lain salah besar. Frekuensi kata tertinggi yang dilontarkannya adalah, “Saya.”

Nabi Muhammad berkata, “Tiga hal yang menyelamatkan: Takut kepada Allah ta’ala dalam kondisi rahasia maupun terang-terangan; Bersikap adil ketika ridha maupun marah; Dan bersikap pertengahan (tidak boros dan tidak pelit) ketika fakir ataupun ketika kaya. Tiga hal yang membinasakan: Hawa yang diikuti; Kikir yang dituruti; Kekaguman seseorang terhadap dirinya sendiri.” [Hasan: Shahih Al-Jami’ no. 3039; Ash-Shahihah no. 1802]

Faktor pemicu ujub antara lain adalah terlalu berlebihan dalam bermuhasabah dimana dia terjerumus ke dalam sikap bangga bahwa dirinya telah banyak beramal shalih dan berlebihan dalam bersyukur atas keberhasilan berbuat kebaikan. Yang paling banyak diingatnya adalah hadits, “Barangsiapa kebaikannya menggembirakannya dan keburukannya menyedihkannya, maka dialah orang mu`min.” [Sunan At-Tirmidzi no. 2318]

Faktor lain adalah dia terlalu berlebihan dalam keinginannya untuk meneladankan kebaikan. Meneladankan kebaikan atau mengajarkan kebaikan dalam bentuk sikap riil memang bentuk dakwah yang efektif. Sayangnya orang yang terjangkit ujub ini ingin agar seluruh gerak-geriknya dijadikan sumber ilmu bagi orang lain.

Dalam hal ini dia telah mensucikan dirinya sendiri, sebab dalam qalbu telah terpatri dengan kuat keyakinan bahwa dirinya telah berada di puncak keutamaan sehingga dia merasa orang lain patut untuk mencontoh kebaikan darinya. Rasulullah dengan tegas bersabda, “Jangan mensucikan diri kalian, Allah lebih tahu tentang orang yang ahli kebaikan di antara kalian.” [Shahih Muslim no. 3992]

Kondisi ini jauh berbeda dengan para salaf dahulu. Keshalihan mereka terekam hingga kini bukan atas usaha mereka mempromosikan diri, melainkan dipromosikan oleh orang lain. Para salaf lebih banyak menyembunyikan keshalihan mereka karena takut tidak bisa ikhlash.

Rekaman jejak keshalihan mereka ada hingga sekarang adalah bukan karena keinginan mereka, tapi orang lain-lah yang ingin agar generasi khalaf dapat belajar dari mereka. Kalaupun mereka melontarkan kata-kata sarat hikmah, itu murni dari ketulusan qalbu, tanpa rekayasa sedikitpun, dan didorong keinginan melestarikan kebaikan. Dan jarang sekali mereka menjadikan diri sebagai poros ucapan mereka.

Maka sudah saatnya kita mengoreksi diri, benarkah niat kita dalam menampakkan kebaikan itu murni untuk keteladanan? Ataukah untuk popularitas? Atau pula agar tetap diterima oleh orang-orang dekat? Biasanya, ketika ahli ujub sudah tidak diterima lingkungannya, dia akan mencari kambing hitam. Pada taraf paling parah, dia akan mempersalahkan semua orang, dan ujubnya pun semakin menggerogoti qalbunya.

Sudah dimuat di http://www.arrefahiyah.or.id/ujub-yang-paling-bahaya/

:: Dukung Dakwah Islamiyyah Online kami dengan comment, doa bi zhohril ghoib dan financial.

(1) Pimred majalah TAUHIDULLAH; (2) Pimred majalah dan buletin AS-SHOLIHIN, (3) redaktur pelaksana majalah AL-AKHBAR, (4) editor dan layouter majalah AL IHSAN, (5) reporter majalah MEDIAN LPMP Jawa Timur, (6) kontributor lepas majalah AR-RISALAH, (7) kontributor tetap majalah LENTERA QOLBU, (8) kontributor lepas di majalah ELFATA, (9) editor in chief majalah digital QUANTUM FIQIH, (10) konseptor dan mantan redaktur pelaksana majalah FITHRAH, (11) mantan layouter sekaligus pimred buletin Jum’at THAYBAH, (12) redaktur penerbit PT. EFMS, (13) admin salah satu situs berita Islam Nasional dengan 20.000 visit/hari), (14) online marketing UD. SBY CORPORATION, (15) pengasuh situs THAYBAH.ID, (16) promotor penerbitan majalah donatur, (17) redaktur pelaksana majalah SUARA MASKUMAMBANG, (18) redaktur pelaksana majalah SEJAHTERA dan buletin jumat YATIM SEJAHTERA, dan (19) mengasuh 2 website dan belasan blog keislaman yang ‘hidup segan mati tak mau’ sebagai salah satu cara merehatkan diri, serta (20) penulis buku GOLDEN MANNERS, KUTUNGGU DI TELAGA AL-KAUTSAR, MENDEKAT KEPADA ALLAH, QUANTUM IMAN, yang bisa Anda dapatkan di Gramedia atau toko buku lainnya.

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*