alfatihah

Trend SMS al-Fatihah

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Fiqih 0 Comments

***
Innallillahi wa inna ilahi rajiun. Telah meninggal Kyai Fulan bin Fulan. Mohon bacaan al-Fatihah. Semoga amal beliau diterima dan dosa-dosanya diampuni.
***

Demikianlah bunyi sebuah SMS yang masuk ke mailbox saya beberapa minggu yang lalu. SMS sejenis telah beberapa kali saya terima. Barangkali Pembaca Budiman pernah juga. Kemudian, apakah benar bacaan al-Qur’an seseorang yang dihadiahkan kepada orang yang telah meninggal bisa sampai? Apakah perkara yang dilakukan oleh mayoritas masyarakat Indonesia ini ada tuntunannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Mari kita membahasnya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
«وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى»
“Dan tidak ada seorang pun yang mendapatkan (pahala atau dosa) melainkan apa yang pernah dia usahakan sendiri.” [QS. An-Najm [53]: 39]

Imam Ibnu Katsir (w. 774 H) menjelaskan ayat ini:
كَمَا لَا يُحْمَلُ عَلَيْهِ وِزْرُ غَيْرِهِ، كَذَلِكَ لَا يُحَصِّلُ مِنَ الْأَجْرِ إلاَّ مَا كَسَبَ هُوَ لِنَفْسِه. وَمِنْ هَذِهِ الْآيَةِ الْكَرِيمَةِ اسْتَنْبَطَ الشَّافِعِيُّ، رَحِمَهُ اللَّهُ، وَمَنِ اتَّبَعَهُ أَنَّ الْقِرَاءَةَ لَا يَصِلُ إِهْدَاءُ ثَوَابِهَا إِلَى الْمَوْتَى؛ لِأَنَّهُ لَيْسَ مِنْ عَمَلِهِمْ وَلَا كَسْبِهِمْ
“Sebagaimana seseorang tidak bisa memikul dosa orang lain, begitu juga seseorang tidak akan memperoleh pahala keculai pahala yang dia usahakan untuk dirinya sendiri. Dari ayat yang mulai ini, Imam asy-Syafi’i dan orang-orang yang mengikuti beliau beristimbat (menyimpulkan hukum) bahwa pahala bacaan al-Qur’an tidak sampai kepada mayat karena itu bukan dari amal dan usahanya sendiri.

وَلِهَذَا لَمْ يَنْدُبْ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُمَّتَهُ وَلَا حَثَّهُمْ عَلَيْهِ، وَلَا أَرْشَدَهُمْ إِلَيْهِ بِنَصٍّ وَلَا إِيمَاءٍ، وَلَمْ يُنْقَلْ ذَلِكَ عَنْ أَحَدٍ مِنَ الصَّحَابَةِ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ، وَلَوْ كَانَ خَيْرًا لَسَبَقُونَا إِلَيْهِ
Oleh sebab itu, Rasulullah tidak pernah menganjurkan kepada shahabatnya untuk melakukannya, tidak pula membimbing mereka dengan dalil tidak pula isyarat untuk mengamalkannya. Dan lagi, hal ini tidak pernah dinukil dari seorang pun dari para shahabat. Jika sekiranya perbuatan itui baik, niscaya mereka telah mendahului kita dalam mengamalkannya.

وَبَابُ الْقُرُبَاتِ يُقْتَصَرُ فِيهِ عَلَى النُّصُوصِ، وَلَا يُتَصَرَّفُ فِيهِ بِأَنْوَاعِ الْأَقْيِسَةِ وَالْآرَاءِ، فَأَمَّا الدُّعَاءُ وَالصَّدَقَةُ فَذَاكَ مُجْمَعٌ عَلَى وُصُولِهِمَا، وَمَنْصُوصٌ مِنَ الشَّارِعِ عَلَيْهِمَا
Masalah pendekatan diri kepada Allah terbatas hanya dengan nash-nash dan masalah ini tidak bisa dikreasikan atau dipalingkan dengan berbagai qiyas dan pendapat. Adapun do’a dan sedekah, maka telah menjadi ijma’ (kesepakatan ‘ulama) akan sampainya (pahala) keduanya dan telah ada nash syar’inya dari Pembuat Syariat (Allah) ta’ala.” [Tafsîr Ibni Katsîr (VII/465)] Penjelasan ini menunjukkan bahwa ayat ini berhukum umum dan mutlak tanpa ada pengecualian bahwa manusia tidak akan memperoleh/menanggung dari orang lain.

Permasalahan

Memang di sana ada hadits shahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan ada 3 amal yang zhahirnya dikerjakan orang lain tetapi dia mendapat jatah pahalanya sepeninggalnya, yakni hadits berbunyi:
«إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ»
“Apabila manusia meninggal maka terputuslah semua amalnya kecuali 3 perkara: [1] sedekah jariyah (mengalir), [2] ilmu yang diambil manfaatnya, dan [3] anak shalih yang mendoakannya.’” [HR. Muslim (no. 1631)]

Jawabannya, ketiga hal ini pada hakikatnya adalah hasil usaha dan amalnya sendiri. Perinciannya sebagai berikut.
1. Sedekah jariyah adalah hasil usahanya sendiri, karena hal itu merupakan atsar (bekas/jejak/peninggalan) orang tersebut sebelum meninggal. Dalilnya adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:
«إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُم»
“Sesungguhnya Kami akan menghidupkan orang mati dan menulis apa yang dahulu mereka perbuat dan atsar-atsar mereka.” [QS. Yasin [36]: 12] 2. Ilmu yang diambil manfaatnya oleh orang lain sepeninggalnya adalah hasil amalnya sendiri. Dalilnya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
«مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى، كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ، لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا»
“Barangsiapa menunjukkan kepada petunjuk, maka baginya pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun.” [HR. Muslim (no. 2674, IV/2060)] 3. Anak shalih beserta doanya adalah hasil usahanya sendiri. Dalilnya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
«إِنَّ مِنْ أَطْيَبِ مَا أَكَلَ الرَّجُلُ مِنْ كَسْبِهِ وَوَلَدُهُ مِنْ كَسْبِهِ»
“Sesungguhnya makanan yang paling baik bagi seseorang adalah dari hasil usahanya sendiri dan sesungguhnya anak adalah hasil dari usahanya sendiri.” [Shahih: HR. Abu Dawud (no. 3528, III/288) dan at-Tirmidzi (no. 1358)]

Untuk itu, semua amal ketaatan anak shalih, orang tua dapat jatah pahalanya meskipun tidak diniatkan oleh si anak. Namun, anak tidak boleh mengerjakan ibadah-ibadah yang dibebankan kepada orang tua, karena masuk ke dalam keumuman ayat an-Najm 39 di atas, kecuali tiga saja: sedekah, puasa nazhar, dan haji karena ada hadits shahih yang mengecualikannya.

Hadits Muslim di atas juga digunakan untuk menjelaskan hadits-hadits lain tentang amal-amal lain yang setema dengan ini. Imam as-Suyuthi (w. 911 H) mengumpulkan semua hadits tentang masalah ini beserta hadits Muslim di atas dan menyimpulkan ada 13 amal yang mengalir setelah kematiannya karena pada hakekatnya merupakan atsar peninggalannya, yaitu:
1. Sedekah jariyah
2. Ilmu yang dimanfaatkan orang lain
3. Doa anak shalih untuknya
4. Ribath (berjaga di perbatasan saat jihad)
5. Menghidupkan sunnah (tradisi yang baik)
6. Pelestarian tradisi yang baik oleh generasi berikutnya
7. Waqaf mushaf al-Qur`an
8. Membangun masjid
9. Membangun rumah singgah untuk ibnu sabil
10. Mengalirkan sungai
11. Membuat sumur
12. Menanam pohon kurma (atau pohon lain yang hasil dapat dinikmati manusia/binatang)
13. Doa ampunan dari peziarah kubur kepada ahli kubur.

Hikmah

Seandainya seseorang boleh menghadiahkan pahala kepada orang lain, tentu orang yang kaya akan membayar manusia untuk menghadiahkan pahala mereka kepadanya. Jadilah mereka pemalas dan semakin rakus mencari dunia. Akhirnya jadilah agama ini agama jual-beli. Yang kaya menang dan yang miskin bangkrut sekaligus miskin amal.

Kesimpulan

Manusia tidak akan mendapat pahala dari kiriman orang lain maupun menanggung dosa orang lain. Adapun hadits-hadits yang menyebutkan dapat jatah pahala sepeninggalnya atas perbuatan orang lain, jika ditelusuri ternyata hal itu adalah atsar (jejak/bekas/peninggalannya) sewaktu masih hidup secara tidak langsung. Ayat ini tetap dalam keumumannya dan tidak dikecualikan.Allahu a’lam.[AZ]

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*