sedekah

Menyoal Berapa yang Perlu Disedekahkan

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Fiqih 0 Comments

Kasus Pertama: Tidak boleh  berlebihan dalam bersedekah tetapi pertengahan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang ‘ibadurrahman (hamba-hamba ar-Rahman):
«وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا»
“Dan mereka orang-orang yang apabila bersedekah tidak boros dan tidak pelit, tetapi pertengahan di antara itu.” [QS. Al-Furqân [25]: 67]

Allah menasehati Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk bersikap pertengahan dalam bersedekah dalam firman-Nya:
«وَلَا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَى عُنُقِكَ وَلَا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُومًا مَحْسُورًا»
“Dan jangan jadikan tanganmu terbelenggu sampai ke lehermu (isyarat bakhil) dan jangan pula membentangkannya seluas-luasnya (isyarat boros/berlebihan), sehingga kamu duduk dalam keadaan tercela (karena pelit) dan tertahan (karena boros).” [QS. Al-Isrâ` [17]: 29]

Al-Hafizh Ibnu Katsir (w. 774 H) menjelaskan, “Allah ta’ala berfirman menyuruh pertengahan dalam sedekah dengan  mencela pelit dan melarang boros. Maksud ‘dan jangan jadikan tanganmu terbelenggu sampai ke lehermu’ adalah jangan pelit dan menahan harta dengan tidak mau memberi apapun kepada orang lain, seperti ucapan Yahudi –semoga laknat Allah atas mereka–, ‘Tangan Allah terbelenggu,’ [QS. Al-Mâ`idah [5]: 64] sebagai isyarat mereka menisbatkan Allah kepada sifat pelit. Mahatinggi Allah Mahasuci Mahamulia Maha Pemberi. Adapun maksud ‘dan jangan pula membentangkannya seluas-luasnya’ adalah jangan boros dalam bersedekah sehingga memberi orang melebihi kemampuan dengan mengeluarkan semua simpanan. Akhirnya kamu duduk dalam keadaan tercela (karena pelit) dan tertahan (karena boros).” [Tafsîr Ibni Katsîr (V/70)]

Dikisahkan bahwa saat Sa’ad bin Abi Waqqash merasa sekarat, dia menyampaikan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam niat menyedekahkan seluruh hartanya di jalan Allah tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarangnya. Sa’ad berkata, “Wahai Rasulullah, aku berniat menyedekahkan seluruh hartaku.” Beliau menjawab, “Tidak boleh.” “Setengahnya.” “Tidak.” “Sepertiganya.” Beliau menjawab:
«فَالثُّلُثُ، وَالثُّلُثُ كَثِيرٌ، إِنَّكَ أَنْ تَدَعَ وَرَثَتَكَ أَغْنِيَاءَ خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَدَعَهُمْ عَالَةً يَتَكَفَّفُونَ النَّاسَ فِي أَيْدِيهِمْ، وَإِنَّكَ مَهْمَا أَنْفَقْتَ مِنْ نَفَقَةٍ، فَإِنَّهَا صَدَقَةٌ، حَتَّى اللُّقْمَةُ الَّتِي تَرْفَعُهَا إِلَى فِي امْرَأَتِكَ، وَعَسَى اللَّهُ أَنْ يَرْفَعَكَ، فَيَنْتَفِعَ بِكَ نَاسٌ وَيُضَرَّ بِكَ آخَرُونَ»
“Sepertiga. Sepertiga pun sudah banyak. Kamu tinggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya lebih baik daripada kamu tinggalkan  mereka dalam keadaan miskin yang menengadahkan tangannya ke manusia. Tatkala kamu memberi nafkah, itu bernilai sedekah bagimu hingga suapan yang kamu berikan ke istrimu. Semoga Allah mengangkatmu sehingga lewatmu Allah memberikan manfaat kepada manusia dan memberi mudharat kepada lainnya (musuh).” Pada hari itu dia tidak memiliki anak kecuali satu anak perempuan. [Muttafaqun ‘Alaih: HR. Al-Bukhari (no. 2742, IV/3) dan Muslim (no. 1628)]

Kasus Kedua: Praktek Rasulullah dan para shahabat serta sebagian ulama salaf justru mereka menyedekahkan seluruh hartanya tanpa perhitungan, minimal melebihi batas kewajaran. Hal ini berbeda dengan aturan perintah tidak boros di atas. Berikut beberapa kisah mereka.

Kisah pertama. Berkenaan dengan surat Isrâ` di atas, al-Hafizh Ibnul Jauzi (w. 597 H) mengisahkan dalam Zâdul Masîr (III/21), “Sebab turunnya ayat ini, dikisahkan ada seorang lelaki datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, ‘Ibuku meminta kepadamu ini dan itu.’ Beliau menjawab, ‘Kami tidak memiliki apa-apa hari ini.’ Dia berkata lagi, ‘Ibuku meminta baju gamis Anda.’ Beliau pun melepas baju gamisnya dan memberikannya kepada lelaki itu. Beliau pun duduk tertahan di rumah. Maka, turunlah ayat ini. Ini diriwayatkan Ibnu Mas’ud. Diriwayatkan juga oleh Jabir bin ‘Abdillah yang semisal ini tetapi ada tambahan, ‘Lalu Bilal mengumandangkan adzan shalat. Jamaah menunggu tetapi beliau belum juga keluar hingga mereka sibuk memikirkannya. Sebagian mereka masuk menemuai beliau, ternyata mereka menjumpai beliau telanjang (mungkin telanjang dada atau dibalik tabir) lalu turunlah ayat ini.’”

Demikianlah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menolak permintaan. Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma berkata:
مَا سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ شَيْءٍ قَطُّ فَقَالَ: لاَ
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah diminta apapun lalu menjawab tidak.”[ Muttafaqun ‘Alaih: HR. Al-Bukhari (no. 6034, VIII/13) dan Muslim (no. 2311).]

Kisah kedua. Abu Bakar ash-Shiddiq bersedekah dengan seluruh hartanya tanpa meninggalkan apapun untuk keluarganya, anehnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menegurkanya. ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu menceritakan:
أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  أَنْ نَتَصَدَّقَ فَوَافَقَ ذَلِكَ عِنْدِي مَالًا، فَقُلْتُ: اليَوْمَ أَسْبِقُ أَبَا بَكْرٍ إِنْ سَبَقْتُهُ يَوْمًا، قَالَ: فَجِئْتُ بِنِصْفِ مَالِي، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ: وَسَلَّمَ: «مَا أَبْقَيْتَ لِأَهْلِكَ؟» قُلْتُ: مِثْلَهُ، وَأَتَى أَبُو بَكْرٍ بِكُلِّ مَا عِنْدَهُ، فَقَالَ: «يَا أَبَا بَكْرٍ مَا أَبْقَيْتَ لِأَهْلِكَ؟» قَالَ: أَبْقَيْتُ لَهُمُ اللَّهَ وَرَسُولَهُ، قُلْتُ: لَا أَسْبِقُهُ إِلَى شَيْءٍ أَبَدًا
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada kami untuk bersedekah. Ternyata bertepatan aku memiliki harta. Aku berkata, ‘Hari ini aku akan mengalahkan Abu Bakar jika aku mendahuluinya hari ini.’ Aku pun pergi dengan membawa setengah hartaku. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, ‘Apa yang kamu sisakan untuk keluargamu?’ Aku jawab, ‘Setengahnya.’ Datanglah Abu Bakar dengan semua yang dimilikinya. Beliau bertanya, ‘Wahai Abu Bakar, apa yang kamu sisakan untuk keluargamu?’ Dia menjawab, ‘Aku sisakan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya.’ Aku tidak akan mampu mendahuluinya apapun selamanya.” [Hasan: HR. At-Tirmidzi (no. 3675, V/614), Abu Dawud (no. 1678), al-Hakim (no. 1510), dan ad-Darimi (no. 1701). Dinilai hasan al-Albani, at-Tirmidzi, dan Husain Salim Asad]

Kisah ketiga. Diriwayatkan dari Hisyam bin ‘Urwah bin az-Zubair bin Awwam dari ayahnya:
أَنَّ مُعَاوِيَةَ بَعَثَ إِلَى عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهَا بِمِائَةِ أَلْفٍ، فَوَاللهِ مَا غَابَتِ الشَّمْسُ عَنْ ذَلِكَ الْيَوْمَ حَتَّى فَرَّقَتْهَا قَالَتْ مَوْلَاةٌ لَهَا: لَوِ اشْتَرَيْتِ لَنَا مِنْ هَذِهِ الدَّرَاهِمِ بِدِرْهَمٍ لَحْمًا، فَقَالَتْ: لَوْ قُلْتِ قَبْلَ أَنْ أُفَرِّقَهَا لَفَعَلْتُ
“Sesungguhnya Mu’awiyah mengutus orang untuk menyerahkan uang 100.000 kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhu. Demi Allah, matahari belum terbenam di hari itu melainkan dia telah membagi-bagikannya. Budak perempuannya berkata, ‘Andai saja Anda membeli daging untuk kita dari dirham-dirham tersebut (mungkin untuk berbuka puasa).’ ‘Aisyah menjawab, “Andai saja kamu katakan sebelum aku bagi-bagikan, pasti aku lakukan.’” [Hilyatul Auliyâ` (II/47) oleh Abu Nu’aim al-Ashfahani]

Menggabungkan Dua Hukum
Dua kasus di atas seakan bertolak-belakang, di mana Allah melarang boros dan menyuruh pertengahan dalam bersedekah, tetapi praktek Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sebagian shahabat justru bersedekah seluruh hartanya. Dua hal ini bisa digabungkan sebagai berikut:

Hukum asal bersedekah adalah pertengahan tidak pelit dan tidak boros, sebagaimana ketentuan Allah dan Rasul-Nya, karena tidak semua orang memiliki keimanan yang kuat, keyakinan yang tinggi, dan kesabaran yang hebat tatkala seluruh hartanya disedekahkan seluruhnya. Boleh jadi bagi yang pas-pasan imannya, setelah menyedekahkan seluruh hartanya justru setelah itu mengeluh dan berkeluh-kesah, bahkan menyesal tidak menyisakan untuk dirinya dan keluarganya. Sebab, menyesali dan mengeluhkan takdir hukumnya haram.

Adapun bagi orang yang kuat imannya seperti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shiddiqin seperti Abu Bakar ash-Shiddiq dan ‘Aisyah ash-Shiddiqah tidak tercela bahkan ini yang lebih utama untuk mengejar simpanan yang melimpah di akhirat. Allahu a’lam.

Peringatan
Nafkah kepada  keluarga hukumnya wajib sementara sedekah di jalan Allah hukumnya tathawwu’ (anjuran/sunnah) sesuai sikon (situasi dan kondisi). Oleh karena itu, tidak diperbolehkan membelanjakan seluruh hartanya tanpa menyisakan sedikitpun apa yang mencukupi kebutuhan keluarganya. Dalilnya adalah kisah Sa’ad bin Abi Waqqash dengan putrinya di atas. Adapun kasus Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu yang tidak menyisahkan harta apapun untuk keluarganya dipahami bahwa mereka ridha dengan keputusannya. Mereka yakin Allah tidak akan menyia-nyiakan mereka yang berbuat kebaikan. Allahu a’lam.[AZ]

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*