Allah

Menjadikan Allah Sebagai Tempat Bersandar

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Aqidah 0 Comments

Seandainya ada orang tua yang sudah rapuh tulangnya dan beruban rambutnya kemudian menginginkan kelahiran seorang anak, apakah mungkin terjadi? Mungkin saja tetapi kemungkinannya sangat kecil sekali. Bagaimana bila si istri mandul, apakah mungkin? Sangat tidak mungkin, mustahil. Namun, hal ini bukan mustahil bagi Allah subhanahu wa ta’ala karena tidak ada yang mustahil bagi Allah yang Mahakuasa dan Maha Mentakdirkan. Ini dipahami dan diyakini oleh orang-orang shalih terdahulu dari kalangan para nabi dan rasul ‘alaihimussalam. Untuk itu, mereka menjadikan Allah sebagai segala-galanya bagi mereka dengan menjadikan-Nya tempat bersandar, tempat meminta, dan tempat pertolongan, dan tempat menggantungkan segala keinginan mereka.

Nabi Zakariyya ‘alaihissalam sangat merindukan kelahiran seorang anak padahal beliau sudah tua renta, beruban, dan lemah tulangnya, apalagi istrinya mandul. Namun, beliau menyandarkan dirinya kepada Allah dengan memohon kepada-Nya hingga Allah pun memberikannya seorang keturunan, bahkan seorang nabi, Yahya bin Zakariyya ‘alaihimussalam. Allah subhanahu wa ta’ala menceritakan:
«إِذْ نَادَى رَبَّهُ نِدَاءً خَفِيًّا (3) قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا (4) وَإِنِّي خِفْتُ الْمَوَالِيَ مِنْ وَرَائِي وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا فَهَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا (5) يَرِثُنِي وَيَرِثُ مِنْ آلِ يَعْقُوبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا (6) يَا زَكَرِيَّا إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَامٍ اسْمُهُ يَحْيَى لَمْ نَجْعَلْ لَهُ مِنْ قَبْلُ سَمِيًّا (7) قَالَ رَبِّ أَنَّى يَكُونُ لِي غُلَامٌ وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا وَقَدْ بَلَغْتُ مِنَ الْكِبَرِ عِتِيًّا (8) قَالَ كَذَلِكَ قَالَ رَبُّكَ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ وَقَدْ خَلَقْتُكَ مِنْ قَبْلُ وَلَمْ تَكُ شَيْئًا»
“Ingatlah tatkala Zakariyya berdoa kepada Rabb-nya dengan lirih seraya berkata, ‘Rabb-ku, tulangku telah rapuh, kepalaku telah menyala ubannya, dan aku tidak hentinya berdoa kepada-Mu Rabb-ku. Aku khawatir tidak memiliki keturunan sepeninggalku sementara istriku mandul. Berilah aku dari sisi-Mu seorang anak yang akan mewarisiku (dalam kenabian) dan mewarisi keluarga Ya’qub dan jadikanlah dia sebagai anak yang diridhai.’ ‘Wahai Zakariyya, Kami memberi kabar gembira kepadamu dengan kelahiran seorang anak bernama Yahya yang belum pernah ada nama itu sebelumnya.’ Dia berkata, ‘Rabb-ku, bagaimana aku memiliki anak sementara istriku mandul dan aku pun sudah tua renta.’ Allah berkata, ‘Demikianlah. Itu mudah bagi-Ku dan aku menciptakanmu padahal sebelumnya kamu belum ada.’” [QS. Maryam [19]: 2-9]

Dalam ayat yang lain:
«وَزَكَرِيَّا إِذْ نَادَى رَبَّهُ رَبِّ لَا تَذَرْنِي فَرْدًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ (89) فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَى وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ»
“Dan Zakariyya tatkala dia menyeru Rabb-Nya, ‘Rabb-ku, janganlah Engkau tinggalkan aku seorang diri dan Engkau adalah sebaik-baik yang memberi warisan.’ Maka Kami kabulkan doanya dan memberinya Yahya dan Kami perbaiki istrinya (dari kemandulan).” [QS. Al-Anbiyâ` [21]: 89-90]

Inilah Ayyub ‘alaihissalam yang tertimpa sakit beberapa masa yang lama. Beliau menyandarkan dirinya kepada Allah dengan berdoa kemudian Allah menghilangkan penyakitnya. Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan:
«وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ (83) فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِنْ ضُرٍّ وَآتَيْنَاهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَذِكْرَى لِلْعَابِدِينَ»
“Dan Ayyub tatkala dia menyeru Rabb-nya, ‘Aku ditimpa kesusahan sementara Engkau adalah yang paling Pemurah di antara yang pemurah.’ Maka Kami jawab doanya dan Kami hilangkan penyakit darinya dan Kami berikan kepadanya keluarganya dan yang semisal bersama mereka sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi hamba-hamba yang beribadah.” [QS. Al-Anbiyâ` [21]: 83-84]

Inilah Dzun Nun ‘alaihissalam. Nabi Yahya Dzun Nun ‘alaihissalam tatkala berada di kegelapan ikan, kegelapan laut, dan kegelapan malam, siapakah yang bisa menolongnya? Allah Yang Maha Perkasa. Allah subhanahu wa ta’ala menceritakan:
«وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ (87) فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ»
“Dan Dzun Nun tatkala pergi dengan marah menyangka Kami tidak akan menyusahkannya, dia menyeru di kegelapan-kegelapan, ‘Tiada ilah yang berhak disembah dengan benar selain Engkau. Mahasuci Engkau. Aku termasuk orang-orang zhalim.’ Kami pun jawab doanya dan menyelamatkannya dari kesusahan. Demikianlah Kami selamatkan orang-orang beriman.” [QS. Al-Anbiyâ` [21]: 87-88]

Inilah Musa ‘alaihissalam. Tatkala Fir’aun dengan bala tentaranya mengejarnya dan Bani Isra`il sementara di depan mereka terbentang lautan tak bertepi, adakah yang bisa menyelamatkan mereka? Allah. Dengan mantap Musa ‘alaihissalam mengatakan, “Allah bersamaku dan akan menolongku.”
«فَلَمَّا تَرَاءَى الْجَمْعَانِ قَالَ أَصْحَابُ مُوسَى إِنَّا لَمُدْرَكُونَ (61) قَالَ كَلَّا إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ (62) فَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى أَنِ اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْبَحْرَ فَانْفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيمِ (63) وَأَزْلَفْنَا ثَمَّ الْآخَرِينَ (64) وَأَنْجَيْنَا مُوسَى وَمَنْ مَعَهُ أَجْمَعِينَ (65) ثُمَّ أَغْرَقْنَا الْآخَرِينَ»
“Tatkala kedua golongan telah saling  melihat, pengikut Musa berkata, ‘Kita akan tersusul.’ Musa menjawab, ‘Tidak. Rabb-ku bersamaku yang akan memberikan jalan keluar kepadaku.’ Kami pun mewahyukan kepada Musa untuk memukulkan tongkatnya ke laut lalu tiba-tiba terbelah dua dan setiap belahan seperti gelombang yang besar. Di sana Kami binasakan kaum yang tertinggal dan Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang bersamanya seluruhnya. Kemudian Kami tenggelamkan kaum yang tertinggal tersebut.” [QS. Asy-Syu’ârâ [26]: 61-66]

Tidak ketinggalan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Manusia terbaik ini tidak merasa mampu memikul hidupnya kecuali menyerahkan segala urusannya kepada Allah dan merasa tidak mampu melakukan apapun tanpa Allah. Beliau pun menjadikan Allah sebagai tempat bersandar. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa di pagi dan sore hari:
«يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ، أَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، وَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ»
“Wahai Dzat yang Mahahidup Wahai Dzat yang Maha Berdiri sendiri, aku meminta pertolongan dengan rahmat-Mu. Perbaikilah urusanku semuanya dan janganlah Engkau serahkan diriku kepadaku sendiri meskipun sekejap mata.” [Shahih: HR. An-Nasa`i (no. 10330, IX/212) dalam al-Kubrâ dan al-Hakim (no. 2000) dalam al-Mustadrâk. Dinilai shahih al-Hakim]

Allah subhanahu wa ta’ala pun mesifati dirinya dalam firman-Nya:
«اللَّهُ الصَّمَدُ»
“Allah as-Shamad.” [QS. Al-Ikhlâsh [112]: 2]

As-Shamad artinya tempat bersandar. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menjelaskan:
يَعْنِي الَّذِي يَصْمُدُ الْخَلَائِقُ إِلَيْهِ فِي حَوَائِجِهِمْ وَمَسَائِلِهِمْ
“Yakni Dzat yang para mahkluk bersandar kepada-Nya dalam semua keperluan dan permohonan mereka.” [Tafsîr Ibni Katsîr (VIII/528)]

Siapa yang menjadikan Allah sebagai tempatnya bersandar, maka dia tidak akan dikecewakan-Nya. Allah akan menghilangkan kesedihannya, penyakitnya, dan kesusahannya, berbahagia di dunia sebelum di akhirat. Semoga kita termasuk dari mereka.[]

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*