nikah

Mendulang Pahala dalam Pernikahan

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Fiqih 0 Comments

Allah subhânahu wa ta’ala berfirman:
«وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ»
“Di antara tanda-tanda (kebesaran-Nya) adalah Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri, supaya kalian merasa tenang karena mereka, dan Dia jadikan di antara kalian mawaddah dan rahmah. Sungguh pada demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berfikir.” [QS. Ar-Rûm [30]: 21]

Dalam ayat ini Allah menjadikan pernikahan sebagai satu dari tanda-tanda-Nya menunjukkan agung dan besarnya masalah pernikahan, bahkan Allah menyebut pernikahan dalam al-Qur`an sebagai mîtsâqan ghalîzhâ (ikatan yang sangat kuat). Hal ini disebabkan di dalam pernikahan terdapat pahala yang melimpah yang akan diuraikan berikut ini:

Pertama: Nafkah

Allah menjadikan nafkah suami kepada keluarganya sebagai sedekah:
«إِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللّٰهِ إِلَّا أُجِرْتَ عَلَيْهَا، حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِي فَمِ امْرَأَتِكَ»
“Tidaklah engkau memberi nafkah karena mengharap wajah Allah melainkan engkau akan diberi pahala, hingga apa yang engkau suapkan ke mulut istrimu.” [Muttafaqun ‘Alaih: HR. Al-Bukhari (no. 56) dan Muslim (no. 1628)]

Bahkan Allah menjadikan  nahfkah kepada keluarga sebagai infaq yang paling utama dan paling besar pahalanya:
«دِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي سَبِيلِ اللّٰهِ، وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي رَقَبَةٍ، وَدِينَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ، وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ، أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِي أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ»
“Satu dinar yang engkau nafkahkan di jalan Allah, satu dinar yang engkau nafkahkan untuk pembebasan budak, satu dinar yang engkau sedekahkan kepada orang miskin, dan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu, maka yang paling besar pahalanya adalah yang engkau nafkahkan untuk keluargamu.” [HR. Muslim (no. 995)]

Untuk itu Allah mencukupkan syarat ketaqwaan dengan infak kepada keluarga: anak dan istri meskipun belum sanggup berinfak kepada faqir miskin maupun infaq fi sabilillah. Mengenai firman Allah:
«ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ (2) الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ»
“Inilah kitab yang tiada keraguan sedikitpun di dalamnya dan sebagai petunjuk bagi orang orang yang bertaqwa. Yaitu orang-orang yang menunaikah shalat dan menginfaqkan sebagian harta yang telah kami berikan kepada mereka.” [QS. Al-Baqarah [2]: 2-3]

Ibnu ‘Abbas, Ibnu Mas’ud, dan sejumlah shahabat menafsirkan infaq ini:
هِيَ نَفَقَةُ الرَّجُلِ عَلَى أَهْلِهِ
“Yaitu nafkah seseorang kepada keluarganya.” [Tafsir Ibnu Katsir (I/168)]

Kedua: Berbuat Baik

Nabi shallâllâhu ‘alaihi wa sallam besabda:
«لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا، وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ»
“Janganlah kalian meremehkan kebaikan sedikitpun meskipun kalian bertemu saudaramu muslim dengan wajah berseri.” [HR. Muslim (no. 2626)] «تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ»
“Senyummu kepada wajah saudaramu bernilai sedekah bagimu.” [Shahih: HR. At Tirmidi (no. 1956). Dinilai shahih al-Albani]

Dalam dua hadits ini, objek yang dibicarakan Nabi shallâllâhu ‘alaihi wa sallam adalah dua orang sesama muslim: antara muslim dengan muslim lainnya, antara seseorang dengan tetangganya, atau antara seorang dengan sahabat muslim lainnya, lalu Nabi menjadikan senyum mereka sebagai sedekah bagi mereka. Maka, pahalanya ini akan semakin besar jika dilakukan antara suami istri atau ayah dengan anaknya karena hubungan mereka lebih dekat dari sekedar muslim dengan muslim lainnya, antara seseorang dengan tetangganya, atau antara seorang dengan sahabat muslim lainnya.

Dalam hadits yang lain Nabi shallâllâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika ada suami istri yang saling berpandangan, maka Allah akan memandang mereka dengan pandagan rahmat. Dan jika mereka saling berpelukan maka gugurlah dosa-dosa mereka.” Atau secara makna tetapi hadits ini dhaif. Hanya saja makna hadits ini tidak bisa disalahkan secara mutlaq, sebab Nabi shallâllâhu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
«لَأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ أَحَدِكُمْ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لَا تَحِلُّ لَهُ»
“Sungguh salah seorang dari kalian kepalanya ditusuk dengan jarum besi lebih baik baginya daripada dia menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” [Shahih: HR. Ath-Thabarani (no. 486). Dinilai shahih al-Albani dan al-Haitsami]

Yakni dosa menyentuh wanita yang tidak halal baginya melebihi ditusuk kepalanya dengan jarum besi. Maka, sebagaimana Allah mengancam siksa yang pendih pada hal tersebut, Allah menjadikan pahala yang agung pada wanita yang halal baginya. Demikian mafhum mukhalafahnya, yakni pemahaman sebaliknya.

Imam al-Bukhari membuat sebuah bab di kitab Shahihnya:
بَابُ السَّمَرِ فِي العِلْمِ
“Bab begadang karena ilmu.” Tetapi hadits yang beliau cantumkan justru tentang perbincangan Nabi shallâllâhu ‘alaihi wa sallam dengan istrinya.
Dari Ibnu ‘Abbas dia berkata:
بِتُّ فِي بَيْتِ خَالَتِي مَيْمُونَةَ بِنْتِ الحَارِثِ زَوْجِ النَّبِيِّ صلّى الله عليه وسلم وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَهَا فِي لَيْلَتِهَا
“Aku bermalam di rumah bibiku Maumanah binti al-Harits istri Nabi shallâllâhu ‘alaihi wa sallam saat beliau shallâllâhu ‘alaihi wa sallam di sisinya pada jatah malam gilirannya.” [HR. Al-Bukhari (no. 117)]

Begitu pula dalam hadits lain diceritakan bahwa kebiasaan Nabi shallâllâhu ‘alaihi wa sallam di malam hari setelah shalat tahajud adalah bercakap-cakap dengan ‘Aisyah jika bangun. Jika ‘Aisyah masih tidur, Nabi langsung tidur.

Ketiga: Bersenggama

Nabi shallâllâhu ‘alaihi wa sallam menjadikan bersenggama antara suami istri bernilai sedekah. Nabi shallâllâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ» قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، أَيَأتِي أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُونُ لَهُ فِيهَا أَجْرٌ؟ قَالَ: «أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِي حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ فِيهَا وِزْرٌ؟ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِي الْحَلَالِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ»
“Dan dalam senggama kalian ada sedekah.” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah salah seorang dari kami melampiaskan syahwatnya lalu dia mendapat pahala?” Beliau menjawab, “Bagaimana menurut kalian jika dia meletakkannya di tempat yang haram, bukankah dia mendapat dosa? Begitu pula jika dia meletakkannya di tempat yang halal, maka dia mendapatkan pahala.” [HR. Muslim (no. 1006)]

Bahkan pahalanya bisa bertambah besar jika dilakukan pada hari Jumat, berdasarkan sabda Nabi shallâllâhu ‘alaihi wa sallam:
«مَنْ غَسَّلَ وَاغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، وَبَكَّرَ وَابْتَكَرَ، وَمَشَى وَلَمْ يَرْكَبْ، فَدَنَا مِنَ الْإِمَامِ وَاسْتَمَعَ وَلَمْ يَلْغُ، كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ أَجْرُ سَنَةٍ صِيَامِهَا وَقِيَامِهَا»
“Barangsiapa yang membuat junub (bersenggama hingga membuat istri wajib mandi junub) dan mandi junub pada hari Jum’at, dan bersegera (mendatangi shalat di awal waktu) dan pergi (sebelum khutbah dimulai), dan berjalan tidak berkendara, lalu mendekat kepada imam dan mendengarkan dengan baik dan tidak berbuat sia-sia (berbicara saat khatib berkhutbah), maka dia mendapatkan setiap langkah pahala satu tahun puasa dan shalat malam.” [Shahih: HR. Ahmad (no. 16962)]

Disamping berpahala, dengan senggama seseorang bisa mempunyai anak shalih yang akan menambah investasi pahala kedua orang tuanya. Sebagaimana sabda Nabi shallâllâhu ‘alaihi wa sallam:
«إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ»
“Jika manusia meninggal dunia maka amalnya terputus darinya kecuali tiga, yaitu shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakannya.” [HR. Muslim (no. 1631)]

Karena besarnya keuntungan memiliki anak shalih ini, Nabi shallâllâhu ‘alaihi wa sallam memerintahkan para pemuda untuk mencari istri yang penyayang dan subur. Nabi shallâllâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ الْأُمَمَ [يَوْمَ الْقِيَامَةِ]»
“Nikahilah wanita yang penyayang dan subur, karena aku akan membanggakan banyaknya jumlah kalian kepada para umat [pada hari Kiamat].” [Shahih: HR. Abu Dawud (no. 2050). Dinilai shahih al-Albani]

Bahkan ‘Umar radhiyallahu ‘anhu berkata:
«وَاللّٰهِ إِنِّي لَأُكْرِهُ نَفْسِي عَلَى الْجِمَاعِ، رَجَاءَ أَنْ يُخْرِجَ اللّٰهُ مِنِّي نَسَمَةً تُسَبِّحُ اللّٰهَ»
“Demi Allah sungguh aku memaksa jiwaku untuk bersenggama karena berharap Allah akan mengeluarkan dariku keturunan yang akan bertasbih kepada Allah.” [HR. Al-Baihaqi (no. 13460)]

Di antara berkah pernikahan terkait keturunan adalah sabda Nabi shallâllâhu ‘alaihi wa sallam:
«مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَمُوتُ لَهُمَا ثَلَاثَةٌ مِنَ الْوَلَدِ لَمْ يَبْلُغُوا الْحِنْثَ إِلَّا جِيءَ بِهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُوقَفُوا عَلَى بَابِ الْجَنَّةِ فَيُقَالُ لَهُمُ: ادْخُلُوا الْجَنَّةَ! فَيَقُولُونَ: حَتَّى يَدْخُلَ آبَاؤُنَا، فَيُقَالُ لَهُمِ: ادْخُلُوا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمُ الْجَنَّةَ!»
“Tidak ada dua orang muslim (orang tua) yang meninggal tiga orang anaknya yang belum baligh melainkan akan didatangkan pada hari Kiamat hingga berhenti di pintu surga. Dikatakan kepada mereka, ‘Masuklah kalian ke dalam surga!’ Mereka menjawab, ‘Hingga masuk juga orang tua kami.’ Lalu dikatakan kepada mereka, ‘Masuklah kalian bersama orang tua kalian ke dalam surga!’” [Shahih: HR. Ath-Thabarani (no. 571). Dinilai shahih al-Albani]

Empat: Menyempurnakan Keimanan dan Pahala

Nabi shallâllâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«مَنْ أَعْطَى لِلّٰهِ، وَمَنَعَ لِلّٰهِ، وَأَحَبَّ لِلّٰهِ، وَأَبْغَضَ لِلّٰهِ، وَأَنْكَحَ لِلّٰهِ، فَقَدِ اسْتَكْمَلَ إِيمَانَهُ»
“Barangsiapa yang memberi karena Allah, menahan karena Allah, mencintai karena Allah, membenci karena Allah, dan menikah karena Allah, maka sungguh telah sempurna keimanannya.” [Hasan: HR. At-Tirmidzi (no. 2521). Dinilai hasan al-Albani]

Betapa agung pahala dalam pernikahan, sehingga tidak belebihan jika Nabi shallâllâhu ‘alaihi wa sallam mengabarkan separuh agama didapatkan oleh siapa yang menikah dalam sabdanya:
«إِذَا تَزَوَّجَ الْعَبْدُ فَقَدْ كَمُلَ نِصْفُ الدِّينِ، فَلْيَتَّقِ اللّٰهَ فِي النِّصْفِ الْبَاقِي»
“Jika seorang hamba menikah maka dia telah menyempurnakan setengah agama. Hendaklah dia bertakwa kepada Allah di setengah sisanya.” [Hasan: HR. Al-Baihaqi (no. 5100). Dinilai hasan al-Albani]

Imam al-Bukhari menyebutkan dalam kitab Shahihnya bahwa Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata kepada muridnya Said bin Jubair:
هَلْ تَزَوَّجْتَ؟ قُلْتُ: لاَ، قَالَ: «فَتَزَوَّجْ فَإِنَّ خَيْرَ هَذِهِ الأُمَّةِ أَكْثَرُهَا نِسَاءً»
“Apakah kamu telah menikah?” Aku (Said) menjawab, “Belum.” Dia berkata, “Menikahlah karena orang yang terbaik dalam umat ini adalah yang paling banyak anaknya.” [HR. Al-Bukhari (no. 5069)] Yakni jika ada dua orang yang sama dalam ibadah, ketaatan, dan ilmu, tetapi yang satu telah menikah dan satunya lagi belum menikah, maka yang lebih utama adalah yang telah menikah.

Untuk itulah Allah subhânahû wa ta’âlâ dan Nabi shallâllâhu ‘alaihi wa sallam memerintahkan dan menganjurkan para pemudanya untuk segera menikah dan tidak menundanya tanpa alasan yang jelas. Bahkan Allah lewat Rasul-Nya menyatakan akan membantu mereka yang tidak mampu mampu menikah karena biaya atau lainnya. Nabi shallâllâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«ثَلَاثَةٌ حَقٌّ عَلَى اللّٰهِ عَوْنُهُمْ: المُجَاهِدُ فِي سَبِيلِ اللّٰهِ، وَالمُكَاتَبُ الَّذِي يُرِيدُ الأَدَاءَ، وَالنَّاكِحُ الَّذِي يُرِيدُ العَفَافَ»
“Tiga orang yang pasti Allah tolong, yaitu orang yang berjihad di jalan Allah, budak mukatab yang ingin menebus dirinya, dan orang yang menikah demi menjaga kehormatan.” [Hasan: HR. At-Tirmidzi (no. 1655)]

Kesimpulan

Allah menjadikan pahala yang melimpah dalam pernikahan, misalnya pahala melimpah dalam nafkah suami kepada keluarganya, perbuatan ihsan, bersenggama, dan menjadikan kesempurnaan iman dan pahala bagi lelaki dan perempuan yang menikah karena Allah demi menjaga kehormatan dan mengikuti sunnah para nabi dan rasul terdahulu.[]

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*