mahabbah

Memahami Cinta Allah dan Karena Allah

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Aqidah 0 Comments

Ibadah itu tidak hanya shalat, puasa, zakat, haji, sedekah, berdzikir, dan lainnya dari ibadah-ibadah anggota badan (lisan dan perbuatan). Di sana masih ada ibadah lain bahkan ibadah yang paling agung yang disebut ibadah qalbiyyah (yang berhubungan dengan hati) seperti sabar, tawakkal, ikhlas, cinta, dan lain-lain. Cinta termasuk ibadah paling agung karena termasuk satu dari tiga pilar ibadah (cinta, takut, dan berharap). Ibadah seseorang kepada Allah tidak akan sempurna dan tidak akan diterima hingga terpenuhi tiga pilar ini. Di sini akan dijelaskan secara ringkas satu pilar ibadah yang agung ini, cinta.

Cinta yang benar itu ada dua, yaitu [1] mencintai Allah dan ini poros cinta di mana semua cinta kembali kepada cinta ini, [2] mencintai apa saja yang dicintai Allah. Oleh karena itu, kita mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para shahabat, dan orang-orang shalih karena Allah mencintai mereka dan Allah pun memerintahkan demikian.

Untuk itu Allah menjadikan mencintai saudaranya sesama muslim karena-Nya termasuk satu dari tiga penyempurna keimanan dimana orang tersebut akan merasakan lezatnya iman, sebagaimana kabar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
«ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ المَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ»
“Tiga perkara yang barangsiapa itu terdapat pada dirinya, maka dia akan merasakan lezatnya iman, yaitu: [1] Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya, [2] mencintai saudaranya karena Allah semata, [3] membenci kembali kepada kekufuran sebagaimana benci jika dilemparkan ke dalam api.” [Muttafaqun ‘Alaih: HR. Al-Bukhari (no. 16, I/12) dan Muslim (no. 43) dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu]

«لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ»
“Tidaklah (sempurna) keimanan salah seorang di antara kalian hingga dia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri.” [Muttafaqun ‘Alaih: HR. Al-Bukhari (no. 13, I/12) dan Muslim (no. 45) dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu]

Dalam dua hadits ini, Allah mengaitkan kesempurnaan iman dengan mencintai sesama muslim karena mereka mencintai Allah.
Al-Hafizh Ibnu Rajab (w. 795 H) menjelaskan, “Imam memiliki kelezatan dan aroma yang dirasakan hati sebagaimana makanan dan minuman memiliki lelezatan dan aroma yang dirasakan mulut, karena imam nutrisi dan penguat hati sebagaimana makanan dan minuman nutrisi dan penguat badan. Tatkala badan tidak bisa merasakan lezatnya dan enaknya makanan dan minuman kecuali saat sehat, begitu pula saat sakit ia tidak bisa merasakan lezatnya makanan, bahkan terkadang merasakan lezatnya makananan yang membahanyakannya dan tidak lezat karena dikalahkan oleh sakitnya. Oleh karena itu, hati merasakan lezatnya iman tergantung sakit dan sehatnya. Jika hatinya sehat dari penyakit hawa nafsu yang menyesatkan dan syahwat yang diharamkan maka dia akan merasakan lezatnya iman seketika itu juga, tetapi jika hatinya sakit tidak akan merasakan lezatnya iman, bahkan merasakan nikmat hawa nafsu dan maksiat yang membinasakannya.” [Fathul Bârî (I/50) oleh Ibnu Rajab]

Al-Hafizh al-Iman an-Nawani (w. 676 H) menjelaskan, “Cinta karena Allah merupakan buah mencintai Allah. Sebagian ulama mengatakan, ‘Cinta adalah kecocokan hati kepada apa yang dicintai Allah, sehingga dia mencinta apa yang dicintai-Nya dan membenci apa yang dibenci-Nya.’” [Al-Minhâj Syarhu Shahîh Muslim bin Hajjâj (II/14) oleh an-Nawawi]

Dalam hadits ke-2, terdapat isyarat agar kita tidak dengki dengan kenikmatan yang Allah berikan kepada saudara kita disertai menyukai pemberian Allah kepadanya sebagaimana kita menyukai hal tersebut bila diberikan kepada kita, jika tidak maka tidak sempurna iman kita. Intinya, kita menyukai semua kebaikan yang dimiliki saudara kita dan diinginkannya? Imam Qatadah menjelaskan definisi kebaikan:
وَالْخَيْرُ كَلِمَةٌ جَامِعَةٌ تَعُمُّ الطَّاعَاتِ وَالْمُبَاحَاتِ الدُّنْيَوِيَّةَ وَالْأُخْرَوِيَّةَ
“Kebaikan adalah ungkapan umum yang mencakup semua jenis ketaatan dan perkara-perkara mubah dunia dan akhirat.” [Fathul Bârî (I/57) oleh Ibnu Hajar]

Al-Hafizh Ibnu Hajar (w. 852 H) menjelaskan, “Abu az-Zinad bin Siraj menjelaskan bahwa hadits ini menuntut persamaan, dan pada hakikatnya mengharuskan lebih diutamakan karena masing-masing orang lebih suka diutamakan dari selainnya.” [Fathul Bârî (I/58) oleh Ibnu Hajar]

Dianjurkan orang yang mencintai saudaranya melakukan dua hal, yaitu memberitahukannya dan mengucapkan salam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«إِذَا أَحَبَّ الرَّجُلُ أَخَاهُ فَلْيُخْبِرْهُ أَنَّهُ يُحِبُّهُ»
“Jika seseorang mencintai saudaranya (sesama muslim), maka hendaklah ia memberitahunya bahwa ia mencintainya.” [Shahih: HR. Abu Dawud (no. 5124, IV/332) dan at-Tirmidzi (no. 2392) dari al-Miqdam bin Ma’di Karib radhiyallahu ‘anhu. Dinilai shahih al-Albani dan Syu’aib al-Arna`uth]

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bercerita:
أَنَّ رَجُلًا كَانَ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَمَرَّ بِهِ رَجُلٌ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي لَأُحِبُّ هَذَا، فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَعْلَمْتَهُ؟» قَالَ: لَا، قَالَ: «أَعْلِمْهُ» قَالَ: فَلَحِقَهُ، فَقَالَ: إِنِّي أُحِبُّكَ فِي اللَّهِ، فَقَالَ: أَحَبَّكَ الَّذِي أَحْبَبْتَنِي لَهُ
“Seorang lelaki berada di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian seorang lelaki lain lewat, lalu ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mencintai orang ini.’ Maka, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, ‘Apakah kamu telah memberitahukannya?’ Ia menjawab, ‘Belum,’ lalu beliau bersabda, ‘Beritahukanlah kepadanya.’ Maka orang itu mengejarnya, seraya berkata, ‘Aku mencintaimu karena Allah.’ Orang itu menjawab, ‘Semoga engkau dicintai Dzat yang engkau mencintaiku karenanya.’ [Hasan: HR. Abu Dawud (no. 5125, IV/333), Ahmad (no. 12430), dan Ibnu Hibban (no. 571). Dinilai hasan al-Albani juga shahih dalam as-Shahîhah (no. 3253) dan hasan lighairih oleh Syu’aib al-Arna`uth]

«لَا تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا، وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا، أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ»
“Kalian tidak akan masuk surga sehingga kalian beriman dan kalian tidak (sempurna) beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan kepadamu sesuatu yang apabila kalian melakukannya maka kalian akan saling mencintai? Yaitu, sebarkanlah salam di antara kalian.” [HR. Muslim (no. 54, I/74), at-Tirmidzi (no. 2688), Abu Dawud (no. 5193), dan Ibnu Majah (no. 68) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu]

Dalam hadits ini jelas sekali bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkaitkan antara masuk surga dengan mencintai saudaranya karena Allah. Inilah balasan bagi mereka. Sebelum masuk surga, mereka yang saling mencintai ini akan Allah muliakan dalam nauangan-Nya di hari sangat panas di padang Mahsyar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«إِنَّ اللَّهَ يَقُولُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: أَيْنَ الْمُتَحَابُّونَ بِجَلَالِي، الْيَوْمَ أُظِلُّهُمْ فِي ظِلِّي يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلِّي»
“Sesungguhnya Allah berfirman pada hari Kiamat, ‘Di manakah orang-orang yang (sewaktu di dunia) saling mencintai karena keagungan-Ku? Para hari ini, Aku akan menaungi mereka di dalam naungan-Ku pada hari tidak ada naungan selain naungan-Ku.’” [HR. Muslim (no. 2566, IV/1988), Ahmad (no. 7231), dan Ibnu Hibban (no. 574) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu]

Ini di antara hal yang menyebabkan para nabi dan para syuhada iri (ghibthah) kepada mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan:
«إِنَّ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ لَأُنَاسًا مَا هُمْ بِأَنْبِيَاءَ، وَلَا شُهَدَاءَ يَغْبِطُهُمُ الْأَنْبِيَاءُ وَالشُّهَدَاءُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، بِمَكَانِهِمْ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى» قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، تُخْبِرُنَا مَنْ هُمْ، قَالَ: «هُمْ قَوْمٌ تَحَابُّوا بِرُوحِ اللَّهِ عَلَى غَيْرِ أَرْحَامٍ بَيْنَهُمْ، وَلَا أَمْوَالٍ يَتَعَاطَوْنَهَا، فَوَاللَّهِ إِنَّ وُجُوهَهُمْ لَنُورٌ، وَإِنَّهُمْ عَلَى نُورٍ لَا يَخَافُونَ إِذَا خَافَ النَّاسُ، وَلَا يَحْزَنُونَ إِذَا حَزِنَ النَّاسُ» وَقَرَأَ هَذِهِ الْآيَةَ: «أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ»
“Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah ada yang bukan para nabi dan bukan pula para syahid. Akan tetapi, pada Hari Kiamat para nabi dan para syahid iri terhadap mereka lantaran posisi mereka di sisi Allah.” Para shahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, beritahu kami, siapakah mereka?” Beliau menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah padahal tidak ada ikatan kekerabatan di antara mereka dan bukan karena harta benda yang mereka gunakan. Demi Allah, wajah-wajah mereka bercahaya dan mereka berada di atas cahaya, mereka tidak takut saat orang-orang takut dan tidak sedih saat orang-orang sedih.” Kemudian, beliau membaca ayat, “Ketahuilah sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Yunus [10]: 62) [Shahih: HR. Abu Dawud (no. 3527, III/288) dan al-Baihaqi (no. 8585) dalam Syu’abul Imân dari ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Dinilai shahih al-Albani]

Sekarang, kita akan menyimak kisah dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang seseorang yang berkunjung ke rumah saudaranya karena Allah dan jawaban cinta Allah padanya karena hal itu. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan:
«أَنَّ رَجُلًا زَارَ أَخًا لَهُ فِي قَرْيَةٍ أُخْرَى، فَأَرْصَدَ اللهُ لَهُ عَلَى مَدْرَجَتِهِ مَلَكًا، فَلَمَّا أَتَى عَلَيْهِ، قَالَ: أَيْنَ تُرِيدُ؟ قَالَ: أُرِيدُ أَخًا لِي فِي هَذِهِ الْقَرْيَةِ، قَالَ: هَلْ لَكَ عَلَيْهِ مِنْ نِعْمَةٍ تَرُبُّهَا؟ قَالَ: لَا، غَيْرَ أَنِّي أَحْبَبْتُهُ فِي اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، قَالَ: فَإِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكَ، بِأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَبَّكَ كَمَا أَحْبَبْتَهُ فِيهِ»
“Seorang lelaki menjenguk saudaranya di suatu desa. Kemudian, Allah mengutus seorang malaikat untuk menemuinya. Tatkala malaikat itu telah menemuinya, ia berkata, ‘Hendak ke mana engkau?’ Dia menjawab, ‘Aku hendak menjenguk saudaraku yang ada di desa ini.’ Malaikat itu bertanya lagi, ‘Apakah engkau mempunyai keperluan yang menguntungkanmu darinya?’ Dia menjawab, ‘Tidak ada. Hanya saja aku mencintainya karena Allah.’  Malaikat itu berkata, ‘Aku adalah utusan Allah untuk mengabarkan kepadamu bahwa Allah mencintaimu sebagaimana engkau mencintai saudaramu itu karena-Nya.’” [HR. Muslim (no. 2567, IV/1988), Ahmad (no. 7919), dan Ibnu Hibban (no. 572) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu]

Al-Imam an-Nawawi (w. 676 H) menjelaskan, “Dalam hadits ini terdapat keutamaan cinta karena Allah ta’ala dan merupakan sebab Allah mencintai hamba-Nya. Di dalamnya juga terdapat keutamaan mengunjungi orang-orang shalih dan teman karib, juga anak Adam bisa melihat malaikat.” [Al-Minhâj (XVI/124) oleh an-Nawawi]

Inilah rahasia mencintai karena Allah sehingga Allah menjadikannya satu dari tiga penyempurna keimanan dan kelezatannya. Dari hadits ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa mencintai karena Allah bisa mendatangkan cinta Allah  kepadanya. Barangsiapa yang dicintai Allah, tidak ada balasan dari orang yang dicintai-Nya melainkan Surga.

Sebenarnya, orang yang mencintai karena Allah sehingga dia berusaha tidak hasad, berusaha menyukai kenikmatan yang ada pada saudaranya, dan berusaha bersedih atas kesedihan saudaranya yang amat berat dilaksanakan, pada hakikatnya semua manfaatnya kembali kepada dirinya sendiri. Karena siapa yang dicintai Allah, berarti di akhirat masuk surga dan di dunia akan diperhatikan-Nya serta dicintai seluruh makhluk penduduk langit dan bumi. Simaklah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut:
«إِذَا أَحَبَّ اللَّهُ العَبْدَ نَادَى جِبْرِيلَ: إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلاَنًا فَأَحْبِبْهُ، فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ، فَيُنَادِي جِبْرِيلُ فِي أَهْلِ السَّمَاءِ: إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلاَنًا فَأَحِبُّوهُ، فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ، ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ القَبُولُ فِي الأَرْضِ»
“Apabila Allah mencintai seorang hamba, maka Dia akan menyeru Jibril, ‘Sesunggunya Allah mencintai fulan, maka cintailah dia.’ Maka, Jibril pun mencintai orang tersebut, lalu Jibril menyeru kepada penghuni langit, ‘Sesungguhnya, Allah mencintai fulan, maka cintailah fulan.’ Maka, penduduk langit pun mencintainya, kemudian ditetapkan baginya penerimaan di hati penduduk bumi.” [Muttafaqun ‘Alaih: HR. Al-Bukhari (no. 3209, IV/111) dan Muslim (no. 2637) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu]

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*