harapan

Keyakinan Benar Menghadapi Musibah

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Akhlak Muamalah 0 Comments

Allah subhanahu wa ta’ala akan memberi fitnah kepada setiap orang beriman. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
«أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ»
“Apakah manusia mengira akan dibiarkan mengucapkan, ‘Kami beriman,’ sementara mereka tidak diberi fitnah.” [QS. Al-Ankabût [29]: 2]

Arti fitnah di al-Qur`an lebih dari empat, sementara arti yang dikehendaki di sini adalah ujian. Ini artinya setiap orang beriman pasti Allah beri ujian, baik berupa kebaikan/kelapangan/kemudahan/kekayaan maupun keburukan/kesempitan/kesulitan/kemiskinan, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:
«وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً»
“Dan Kami menguji kalian dengan keburukan (kemiskinan) dan kebaikan (kekayaan) sebagai fitnah (ujian).” [QS. Al-Anbiyâ` [20]: 35]

Allah subhanahu wa ta’ala juga memberi ujian lewat anak:
«إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ»
“Sesungguhnya harta-harta kalian dan anak-anak adalah fitnah (ujian).” [QS. Ath-Thaghâbun [64]: 15]

Allah memberi ujian mereka sesuai dengan kadar keimanannya. Jika keimanannnya kuat maka ujiannya banyak dan berat, tetapi jika keimanannya lemah maka ujiannya sedikit dan ringan. Allah tidak membebani hamba melebihi batas kesanggupannya. Oleh karena itu, manusia yang paling berat dan banyak ujiannya adalah para nabi dan rasul ‘alaihimussalam, karena mereka orang paling bertaqwa dan paling kuat keimanannya. Sa’ad bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاءً؟ قَالَ: «الْأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الصَّالِحُونَ، ثُمَّ الْأَمْثَلُ، فَالْأَمْثَلُ مِنَ النَّاسِ، يُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ صَلابَةٌ زِيدَ فِي بَلائِهِ، وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ خُفِّفَ عَنْهُ، وَمَا يَزَالُ الْبَلاءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَمْشِيَ عَلَى ظَهْرِ الْأَرْضِ لَيْسَ عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ»
“Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berat ujiannya?” Beliau menjawab, “Para nabi, kemudian orang-orang shalih, kemudian orang-orang yang semisal mereka, dan seterusnya. Seseorang akan diuji menurut kadar agamanya (keimanannya). Jika agamanya kuat, akan ditambah ujiannya. Jika agamanya lemah, akan diringankan darinya. Seseorang senantiasa diberi ujian hingga dia akan berjalan di atas bumi tanpa dosa sedikitpun.” [Shahih: HR. Ahmad (no. 1481, III/78), at-Tirmidzi (no. 2398), dan Ibnu Majah (no. 4023). Dinilai shahih Ibnu Katsir dalam tafsirnya]

Maksud “Seseorang senantiasa diberi ujian hingga dia akan berjalan di atas bumi tanpa dosa sedikitpun” karena ujian/musibah/penyakit/kesempitan yang dihadapi dengan sabar dan mengharap pahala dari-Nya akan menghapus dosa-dosa sehingga dosanya habis tak tersisa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«مَا يُصِيبُ المُسْلِمَ، مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ، وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ»
“Tiada seorang muslim yang tertimpa kelelahan, penyakit, kegundahan, kesedihan, gangguan, dan kegelisahan, hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapus dosa-dosanya.” [Muttafaqun ‘Alaih: HR. Al-Bukhari (no. 5641, VII/144) dan Muslim (no. 2573) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu]

Kesimpulan
Setiap orang beriman pasti diuji oleh Allah sesuai dengan kadar keimanannya. Dengan keyakinan ini, setiap orang beriman harus ridha dan pasrah serta mengharap pahala dari Allah agar berpahala dan menghapus dosa-dosanya segala musibah yang menimpanya. Allahu a’lam.[AZ]

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*