la adri

Katakan Aku Tak Tahu!

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Adab, Manhaj 0 Comments

 Setengah ilmu adalah bertanya dan setengah sisanya adalah mengatakan aku tak tahu untuk perkara yang memang tidak diketahuinya. Abu Dawud berkata:
قَوْلُ الرَّجُلِ فِيمَا لَا يَعْلَمُ: لَا أَعْلَمُ نِصْفُ الْعِلْمِ
“Ucapan seseorang terhadap sesuatu yang tidak diketahuinya: ‘Aku tak tahu’ adalah setengah ilmu.” [Al-Jâmi’ (no. 1585, II/841) oleh Ibnu ‘Abdil Barr]

Mustahil seorang ustadz dan syaikh mengetahui semua hadits hingga ahli hadits sekalipun. Ketika para ahli hadits menyadari bahwa tidak semua hadits mereka hafal, mereka pun memberi wasiat kepada para muridnya untuk meninggalkan pendapat mereka jika telah jelas datang hadits shahih yang menyelisihinya. Imam asy-Syafi’i (w. 204 H) berkata:
إِذَا صَحَّ الْحَدِيثُ فَهُوَ مَذْهَبِي
“Apabila ada hadits shahih maka dia madzhabku.” [Ar-Rasâ`il al-Munîriyah (III/98-114) beserta syarahnya oleh Taqiyyuddin as-Subki]

Manusia adalah makhluk yang serba kurang dan tidak diberi ilmu kecuali sedikit sehingga sangat mungkin untuk tidak tahu semua hukum, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:
«وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا»
“Dan kalian tidak diberi ilmu kecuali sedikit.” [QS. Al-Isrâ` [17]: 85]

Imam asy-Syaukani (w. 1250 H) menjelaskan, “Ilmu kalian yang diajarkan Allah kepada kalian hanya sedikit sekali dibanding ilmu al-Khaliq meskipun diberi bagian ilmu yang banyak, bahkan ilmu para nabi ‘alaihimussalam dibanding ilmu Allah seperti seekor burung yang mengambil air laut dengan paruhnya, sebagaimana disebutkan dalam hadits Musa dan Khadhir ‘alaihimassalam.” [Fathul Qadîr (III/302) oleh asy-Syaukani]

Rasululullah manusia yang paling pandai pun tidak tahu kecuali wahyu yang Allah turunkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«مَا أَدْرِي أَتُبَّعٌ لَعِينًا كَانَ أَمْ لَا؟ وَمَا أَدْرِي ذُو الْقَرْنَيْنِ نَبِيًّا كَانَ أَمْ لَا؟ وَمَا أَدْرِي الْحُدُودُ كَفَّارَاتٌ لِأَهْلِهَا أَمْ لَا؟»
“Aku tidak tahu apakah Tubba’ (seorang dari kaum Nabi Ibrahim) dilaknat atau tidak? Aku tidak tahu apakah Dzulqarnain seorang nabi atau tidak? Aku juga  tidak tahu apakah (dilaksanakannya) had (hukuman seperti dera dan potong tangan) menjadi kafarat (penghapus dosa) bagi pelakunya atau tidak?” [Shahih: HR. Al-Hakim (no. 1552, II/828) dalam al-Mustadrâk, al-Baihaqi (no. 17595) dalam as-Sunan al-Kubrâ, dan Ibnu Abdil Barr (no. 1553) dalam al-Jâmi’ dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Dinilai shahih al-Albani dan berkata, “Termasuk sunnah adalah mengucapkan ‘aku tidak tahu.’” Dishahihkan al-Hakim dan disetujui adz-Dzahabi]

Imam Malik bin Anas (w. 179 H) berkata:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِمَامُ الْمُسْلِمِينَ وَسَيِّدُ الْعَالَمِينَ يُسْأَلُ عَنِ الشَّيْءِ فَلَا يُجِيبُ حَتَّى يَأْتِيَهُ الْوَحْيُ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah imam kaum muslimin dan penghulu seluruh alam, ditanya tentang sesuatu tidak menjawab hingga datang wahyu kepada beliau.” [Al-Jâmi’ (II/839)] Diriwayatkan dari Muhammad bin Jubair bin Muth’im dari ayahnya bercerita:
أَنَّ رَجُلًا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّ الْبِلَادِ شَرٌّ؟ فَقَالَ: «لَا أَدْرِي» فَلَمَّا أَتَاهُ جِبْرِيلُ قَالَ: «يَا جِبْرِيلُ أَيُّ الْبُلْدَانِ شَرٌّ؟» قَالَ: لَا أَدْرِي حَتَّى أَسْأَلَ رَبِّي، فَانْطَلَقَ جِبْرِيلُ فَمَكَثَ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَمْكُثَ، ثُمَّ جَاءَ، فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، إِنَّكَ سَأَلْتَنِي أَيُّ الْبِلَادِ شَرٌّ؟ وَإِنِّي قُلْتُ لَا أَدْرِي وَإِنِّي سَأَلْتُ رَبِّي فَقُلْتُ: أَيُّ الْبِلَادِ شَرٌّ، فَقَالَ: «أَسْوَاقُهَا»
“Seorang lelaki mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bertanya, ‘Wahai Rasulullah, tempat manakah yang paling buruk?’ Beliau menjawab, ‘Aku tidak tahu.’ Ketika Jibril datang beliau bertanya, ‘Wahai Jibril, tempat manakah yang paling buruk?’ ‘Aku tidak tahu hingga aku bertanya kepada Rabb-ku,’ jawabnya. Kemudian Jibril pergi beberapa saat yang lama sesuai yang Allah kehendaki lalu datang dan berkata, ‘Wahai Muhammad, kamu bertanya kepadaku tentang tempat mana yang paling buruk lalu aku menjawab tidak tahu hingga bertanya kepada Rabb-ku. Lalu aku bertanya kepada-Nya tempat mana yang paling buruk? Lalu Dia menjawab, ‘Pasar.’” [Hasan: HR. Al-Hakim (no. 303, I/166) dalam al-Mustadrâk dan Ahmad (no. 16744) dalam Musnadnya. Dinilai hasan al-Albani dalam al-Misykâh (no. 741)]

Para shahabat saling melempar pertanyaan karena enggan menjawab sendiri, takut akan ancaman berbicara tanpa ilmu. ‘Abdurrahman bin Abi Laila berkata:
لَقَدْ أَدْرَكْتُ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ عِشْرِينَ وَمِائَةً مِنَ الْأَنْصَارِ، وَمَا مِنْهُمْ مِنْ أَحَدٍ يُحَدِّثُ بِحَدِيثٍ إِلَّا وَدَّ أَنَّ أَخَاهُ كَفَاهُ الْحَدِيثَ، وَلَا يُسْأَلُ عَنْ فُتْيَا إِلَّا وَدَّ أَنَّ أَخَاهُ كَفَاهُ الْفُتْيَا
“Sungguh aku menjumpai di masjid ini 120 kaum Anshar dan tidak seorang pun dari mereka yang menceritakan sebuah hadits melainkan sangat ingin jika saudaranya saja yang menyampaikannya, dan tidaklah ditanya untuk berfatwa melainkan sangat ingin agar saudaranya saja yang berfatwa.” [Shahih: HR. Ad-Darimi (no. 137, I/248) dalam Sunannya dan Ibnul Mubarak (no. 58) dalam az-Zuhd. Dinilai shahih oleh Husain Salim Asad]

Ancaman yang mereka maksud adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
«مَنْ أُفْتِيَ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ إِثْمُهُ عَلَى مَنْ أَفْتَاهُ»
“Barangsiapa yang bertafwa tanpa ilmu maka dosanya ditanggung orang yang berfatwa.” [Hasan: HR. Abu Dawud (no. 3657, III/321), Ibnu Majah (no. 53), dan Ahmad (no. 8776) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu]

Abu Bakar ash-Shiddiq (w. 13 H) berkata:
أَيُّ سَمَاءٍ تُظِلُّنِي؟ وَأَيُّ أَرْضٍ تُقِلُّنِي؟ إِذَا قُلْتُ فِي كِتَابِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ
“Langit mana yang menaungiku? Bumi mana tempat  tinggalku? Jika aku berbicara dalam Kitabullah tanpa ilmu.” [Al-Jâmi’ (II/833)]

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata:
مَنْ عَلِمَ فَلْيَقُلْ، وَمَنْ لَمْ يَعْلَمْ فَلْيَقُلِ: اللَّهُ أَعْلَمُ، فَإِنَّ مِنَ العِلْمِ أَنْ يَقُولَ لِمَا لاَ يَعْلَمُ: لاَ أَعْلَمُ، فَإِنَّ اللَّهَ قَالَ لِنَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «قُلْ مَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ وَمَا أَنَا مِنَ المُتَكَلِّفِينَ»
“Siapa yang tahu silahkan berbicara dan siapa yang tidak tahu katakan, ‘Allah lebih tahu,’ karena termasuk ilmu adalah ucapan terhadap yang tidak diketahui, ‘Aku tak tahu,’ karena Allah berfirman kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Katakanlah, ‘Aku tidak meminta upah dari kalian dan aku bukan termasuk orang yang membebani diri (menjawab setiap pertanyaan).’” [Muttafaqun ‘Alaih: HR. Al-Bukhari (no. 4774, VI/114) dan Muslim (no. 2798)] Ibnu ‘Umar ditanya sesuatu lalu menjawab aku tak tahu. Tatkala yang bertanya pergi dia berkata, “Sebaik-baik ucapan adalah ‘Abdullah bin ‘Umar yang ditanya apa yang tidak diketahuinya lalu menjawab, ‘Aku tak tahu.’” [Al-Jâmi’ (II/834)]

‘Abdurrahman bin Mahdi berkata, “Kami di sisi Malik bin Anas lalu datang seseorang bertanya, ‘Wahai Abu ‘Abdillah, aku datang kepadamu dari tempat perjalanan 6 bulan. Penduduk negeriku menugasiku untuk menanyakan beberapa masalah kepadamu.’ Malik berkata, ‘Bertanyalah.’ Dia pun menanyakan beberapa masalah lalu dijawab, ‘Aku tak tahu.’ Lelaki itu terdiam seakan dia datang kepada orang yang tak tahu apa-apa. Dia berkata, ‘Lalu apa yang akan aku sampaikan kepada penduduk negeriku saat tiba?’ Jawab Malik, ‘Katakan kepada mereka bahwa Malik tak tahu.’” [Al-Jâmi’ (II/838)]

Al-Qashim bin Muhammad bin Abu Bakar ash-Shiddiq ditanya lalu menjawab tak tahu. Orang-orang memprotesnya lalu dia berkata:
إِنَّا وَاللَّهِ مَا نَعْلَمُ كُلَّ مَا تَسْأَلُونَ عَنْهُ، وَلَوْ عَلِمْنَا مَا كَتَمْنَاكُمْ، وَلَا حَلَّ لَنَا أَنْ نَكْتُمَكُمْ
“Demi Allah, kami tak tahu setiap apa yang kalian tanyakan. Andai kami tahu tidak akan  kami sembunyikan. Tidak halal bagi kami menyembunyikan (ilmu) dari kalian.” [Shahih: HR. Ad-Darimi (no. 113, I/237) dalam Sunannya dan Abu Nu’aim (II/184) dalam al-Hilyah. Dinilai shahih oleh Husain Salim Asad]

Seorang tua berkata kepada al-Qasim bin Muhammad, “Wahai putra saudaraku, berfatwalah, demi Allah aku tidak melihat majlis yang lebih baik daripada majlismu sekarang ini.” Al-Qasim pun menjawab:
وَاللَّهِ لَأَنْ يُقْطَعَ لِسَانِي أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَتَكَلَّمَ بِمَا لَا عِلْمَ لِي بِهِ
“Demi Allah, seandainya lidahku dipotong lebih aku sukai daripada aku berbicara tanpa ilmu.” [Al-Jâmi’ (II/837)]

Imam asy-Sya’bi ditanya tentang suatu masalah lalu menjawab tak tahu, seraya berkata:
لَكِنَّ الْمَلَائِكَةَ الْمُقَرَّبِينَ لَمْ تَسْتَحْيِ حِينَ قَالَتْ: «لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا»
“Karena malaikat yang didekatkan tidak malu saat berkata, ‘Tidak ada ilmu pada kami kecuali apa yang Engkau ajarkan kepada kami.’” QS. Al-Baqarah [2]: 32 [Diriwayatkan Ibnu ‘Abdil Barr (no. 1557, II/832) dalam al-Jâmi’]

Al-A’masy berkata:
مَا سَمِعْتُ إِبْرَاهِيمَ يَقُولُ قَطُّ: حَلَالٌ وَلَا حَرَامٌ، إِنَّمَا كَانَ يَقُولُ: كَانُوا يَكْرَهُونَ، وَكَانُوا يَسْتَحِبُّونَ
“Aku tidak pernah sama sekali mendengar Ibrahim mengatakan (ini hukumnya) halal dan haram, tetapi ucapannya adalah, ‘Mereka (para shahabat) membenci dan mereka menyukai.’” [Shahih: HR. Ad-Dirimi (no. 190, I/277) dalam Sunannya dan dinilai shahih oleh Husain Salim Asad]

Orang yang tidak kenal “Lâ adrî” tercela di dunia dan di akhirat. Di dunia mendapat celaan dari Allah dan ulama. Adapun di akhirat terancam masuk neraka. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
«وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا»
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak memiliki ilmu tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati semuanya akan diminta pertanggungjawaban.” [QS. Al-Isrâ` [17]: 36]

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata:
إِنَّ مَنْ يُفْتِي فِي كُلِّ مَا يَسْتَفْتُونَهُ لَمَجْنُونٌ
“Siapa yang berfatwa untuk semua pertanyaan yang diajukan kepadanya benar-benar orang gila.” [Al-Jâmi’ (II/843)] Al-A’masy berkata, “Kemudian aku sampaikan hal itu kepada al-Hakam bin ‘Utaibah lalu menjawab, ‘Andai saja kamu sampaikan ini sebelumnya, pasti aku tidak akan berfatwa apa yang pernah aku fatwakan.’”

Sa’id bin Jubair ditanya sesuatu lalu menjawab, “Aku tak tahu,” lalu melanjutkan:
وَيْلٌ لِلَّذِي يَقُولُ لِمَا لَا يَعْلَمُ: إِنِّي أَعْلَمُ
“Celaka orang yang berkata apa yang tidak diketahuinya, ‘Aku tahu.’” [Al-Jâm’ (II/836)]

‘Uqbah bin Muslim berkata, “Aku menemani Ibnu ‘Umar selama 34 bulan lebih. Setiap kali ditanya menjawab aku tak tahu, lalu menoleh kepadaku berkata:
تَدْرِي مَا يُرِيدُ هَؤُلَاءِ؟ يُرِيدُونَ أَنْ يَجْعَلُوا ظُهُورَنَا جِسْرًا لَهُمْ إِلَى جَهَنَّمَ
“Apakah kamu tahu apa yang diinginkan mereka? Mereka ingin menjadikan punggung-punggung kita sebagai jembatan mereka menuju Jahannam.” [Al-Jâmi’ (II/841)]

Setiap orang perlu belajar “aku tidak tahu” karena jika dia berucap “aku tak tahu” manusia akan mengajarinya hingga tahu, tetapi jika dia berucap “aku tahu” manusia akan menanyainya hingga tak tahu.[]

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*