kafir

Kafir Tapi Tidak Kafir

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Aqidah 0 Comments

Jenis manusia yang kekal di neraka selama-lamanya ada tiga: kafir, musyrik, dan munafik. Siapa pun yang pada dirinya terdapat kekafiran, maka dia pasti masuk neraka dan kekal selama-lamanya jika meninggal tanpa bertobat. Namun, di antara kaum muslimin ada sekelompok orang yang tergesa-gesa dan serampangan memvonis saudaranya kafir, karena salah memahami teks nash. Padahal ancaman vonis ini sangat besar bagi yang salah sasaran, berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam:
«إِذَا قَالَ الرَّجُلُ لِأَخِيهِ يَا كَافِرُ فَقَدْ بَاءَ بِهِ أَحَدُهُمَا»
“Jika seseorang berkata kepada saudaranya, ‘Hai kafir!’ Maka, salah seorang dari mereka berdua akan pulang dengan membawanya.” [Muttafaqun ‘Alaih: HR. Al-Bukhari (no. 6103, VIII/26), ath-Thabarani (no. 4570) dalam al-Mu’jam al-Ausath, dan al-Lalika`i (no. 1896) dalam Syarhul Ushûl dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu]

Tidak semua vonis kafir di dalam al-Qur`an maupun hadits mengeluarkan seseorang dari Islam. Ada jenis kekafiran yang diistilahkan oleh para ulama kufrun duna kufrin, yaitu jenis kekafiran yang tidak kafir sehingga pelakunya tidak keluar dari Islam, meski tetap menanggung dosa besar. Imam al-Bukhari membuat bab untuk hukum ini dengan bab kufrun duna kufrin.

Membunuh orang muslim misalnya. Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengatakan bahwa dia kafir, tetapi nash-nash yang ada jika digabungkan menghasilkan makna kekafiran yang tidak kafir. Jika tidak difahami demikian, maka nash yang satu dengan yang lain akan bertentangan. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
«سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ»
“Mencaci orang muslim adalah kefasikan dan membunuhnya adalah kekufuran.” [Muttafaqun ‘Alaih: HR. Al-Bukhari (no. 48, I/19) dan Muslim (no. 64) dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu] «لَا تَرْجِعُوا بَعْدِي كُفَّارًا يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ»
“Janganlah kalian menjadi orang-orang kafir sepeninggalku, sebagian kalian memenggal leher sebagian yang lain.” [Muttafaqun ‘Alaih: HR. Al-Bukhari (no. 121, I/35) dan Muslim (no. 65) dari Jarir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu] Orang yang membunuh saudaranya tetap dikatakan seorang muslim dan tidak mengeluarkannya dari Islam, selagi dia tidak menghalalkannya.

Syaikh Shalih al-Fauzan berkata, “Sungguh Allah tetap menjadikan orang yang mengerjakan dosa besar sebagai orang mukmin. Allah befirman:
‏«يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِي الْقَتْلَى‏»
“Wahai orang-orang yang beriman telah diwajibkan atas kalian qishash dalam pembunuhan.” [QS. Al-Baqarah [2]: 178] Allah tidak mengeluarkan orang yang membunuh dari kalangan orang-orang mukmin, bahkan Dia menjadikannya sebagai saudara wali korban. Allah berfirman:
«فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَأَدَاءٌ إِلَيْهِ بِإِحْسَانٍ»
“Maka, barangsiapa yang dimaafkan oleh saudaranya, maka hendaklah dia mengiringi dengan perbuatan yang baik.” [QS. Al-Baqarah [2]: 178] Yang dimaksud adalah saudara seagama, tanpa diragukan lagi.

Allah juga berfirman:
«وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الأخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّى تَفِيءَ إِلَى أَمْرِ اللَّهِ فَإِنْ فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ * إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ»
“Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang, maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah. Jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” [QS. Al-Hujurat [49]: 10-11] Selesai. [Aqidatut Tauhid (hal. 83) oleh Shalih al-Fauzan]

Namun, jika seseorang membunuh orang muslim dengan keyakinan kebolehannya atau menghalalkannya, maka tidak ragu lagi bahwa hal ini akan mengeluarkan seseorang dari Islam dan kelak akan kekal di neraka jika tidak bertobat sebelum matinya. Allah berfirman:
«وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا»
“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahanam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” [QS. An-Nisâ` [4]: 93]

Pada hakekatnya, kufrun duna kufrin adalah jenis kufur yang berhubungan dengan amal (kufrun amali), bukan yang berhubungan dengan keyakinan (kufrun i’tiqadi). Di antara perbuatan yang masuk kufrun duna kufrin yang lainnya antara lain:

1)Mengaku-ngaku keturunan orang lain. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
«لَيْسَ مِنْ رَجُلٍ ادَّعَى لِغَيْرِ أَبِيهِ وَهُوَ يَعْلَمُهُ إِلَّا كَفَرَ وَمَنْ ادَّعَى قَوْمًا لَيْسَ لَهُ فِيهِمْ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ»
“Tidak ada seorang pun yang mengaku-ngaku kepada selain ayahnya melainkan dia telah kafir, dan barangsiapa yang mengaku-ngaku suatu kaum padahal dia bukan termasuk kaum tersebut, hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya di neraka.” [Muttafaqun ‘Alaih: HR. Al-Bukhari (no. 3508, IV/180) dan Muslim (no. 61) dari Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu)
«لَا تَرْغَبُوا عَنْ آبَائِكُمْ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ أَبِيهِ فَهُوَ كُفْرٌ»
“Janganlah kalian membenci ayah-ayah kalian. Barangsiapa yang membenci ayahnya, maka dia kafir.” [Muttafaqun ‘Alaih: HR. Al-Bukhari (no. 6768, VIII/156) dan Muslim (no. 62) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu]

2)Mencela nasab dan meratapi mayat. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
«اثْنَتَانِ فِي النَّاسِ هُمَا بِهِمْ كُفْرٌ: الطَّعْنُ فِي النَّسَبِ وَالنِّيَاحَةُ عَلَى الْمَيِّتِ»
“Ada dua jenis manusia yang keduanya kafir, yaitu mencela nasab dan meratapi mayat.” [HR. Muslim (no. 67, I/82), Ahmad (no. 8905), dan al-Baihaqi (no. 1140) dalam as-Sunan ash-Shaghîr dari Abu Hurairah]

3)Budak melarikan diri dari majikannya. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
«أَيُّمَا عَبْدٍ أَبَقَ مِنْ مَوَالِيهِ فَقَدْ كَفَرَ حَتَّى يَرْجِعَ إِلَيْهِمْ»
“Budak mana saja yang melarikan diri dari majikannya, maka sungguh dia kafir kecuali kembali lagi kepadanya.” [HR. Muslim (no. 68, I/83), an-Nasa`i (no. 4049) dan Ibnu Khuzaimah (no. 941) dari Jarir bin ‘Abdillah. Manshur berkata, “Sungguh, demi Allah ini diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, hanya saja aku tidak suka untuk diriwayatkan dariku hadits ini di Bashrah.”]

4)Menyetubuhi istri yang sedang haid atau lewat dubur. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
«مَنْ أَتَى حَائِضًا أَوْ امْرَأَةً فِي دُبُرِهَا أَوْ كَاهِنًا فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ»
“Barangsiapa mendatangi istri yang sedang haid atau istri lewat duburnya, atau dukun, maka sungguh dia telah kafir kepada apa yang telah diturunkan kepada Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.” [Shahih: HR. At-Tirmidzi (no. 135, I/242), Abu Dawud (no. 3904), dan Ibnu Majah (no. 639) dari Abu Hurairah. Dinilai shahih al-Albani]

5)Mendatangi dukun atau tukang ramal. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
«مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ»
“Barangsiapa mendatangi dukun atau tukang ramal lalu membenarkan ucapannya, maka sungguh dia telah kafir terhadap apa yang telah diturunkan kepada Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.” [Shahih: HR. Ahmad (no. 9536, XV/331), al-Hakim (no. 15), dan al-Khallal (no. 1398) dalam as-Sunnah dari Abu Hurairah dan al-Hasan radhiyallahu ‘anhum. Dinilai shahih al-Albani dan al-Hakim serta disetujui adz-Dzahabi]

6)Tidak mensyukuri nikmat dan tidak bersyukur. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ أُعْطِيَ عَطَاءً فَوَجَدَ فَلْيَجْزِ بِهِ وَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَلْيُثْنِ فَإِنَّ مَنْ أَثْنَى فَقَدْ شَكَرَ وَمَنْ كَتَمَ فَقَدْ كَفَرَ وَمَنْ تَحَلَّى بِمَا لَمْ يُعْطَهُ كَانَ كَلَابِسِ ثَوْبَيْ زُورٍ
“Barangsiapa diberi suatu pemberian lalu dia mendapatkan sesuatu, hendaklah dia membalasnya, dan barangsiapa yang tidak mendapatkan apa-apa, hendaklah dia memuji. Sebab, sesungguhnya siapa yang memuji, maka dia telah besyukur, dan siapa yang menyembunyikan, maka dia telah kafir. Dan barangsiapa yang berpura-pura merasa cukup dengan apa yang dia tidak diberi, maka dia seperti seseorang yang memakai pakaian kebohongan.” [Hasan: HR. At-Tirmidzi (no. 2034, IV/379), Abu Dawud (no. 4813), dan Ibnu Hibban (no. 3415) dari Abu Hurairah. Dinilai hasan al-Albani] Imam Abu ‘Isa at-Tirmidzi menjelaskan:
مَعْنَى قَوْلِهِ وَمَنْ كَتَمَ فَقَدْ كَفَرَ يَقُولُ قَدْ كَفَرَ تِلْكَ النِّعْمَةَ
“Makna sabda Nabi ‘dan barangsiapa yang menyembunyikan, maka dia kafir’ maksudnya mengingkari nikmat.”

7)Meninggalkan shalat. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
«الْعَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ الصَّلَاةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ»
“Perjanjian antara kita dan mereka adalah shalat. Barangsiapa yang meninggalkannya, maka sungguh dia kafir.” [Shahih: HR. At-Tirmidzi (no. 2621, V/13), an-Nasa`i (no. 463), dan Ibnu Majah (no. 1079) dari Buraidah radhiyallahu ‘anhu. Dinilai shahih al-Albani]

8)Tidak berterima kasih kepada suami. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
«أُرِيتُ النَّارَ فَإِذَا أَكْثَرُ أَهْلِهَا النِّسَاءُ يَكْفُرْنَ» قِيلَ: أَيَكْفُرْنَ بِاللَّهِ؟ قَالَ: «يَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ وَيَكْفُرْنَ الْإِحْسَانَ لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ»
“Telah diperlihatkan kepadaku neraka. Ternyata kebanyakan penghuninya adalah perempuan kafir.” Ditanyakan, “Apakah mereka kafir kepada Allah?” Beliau menjawab, “Kafir kepada keluarga dan kafir kepada kebaikan. Seandainya kamu berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka beberapa lama, lalu dia melihat sesuatu yang tidak disenanginya darimu, lantas dia berkata, ‘Aku tidak pernah melihat engkau berbuat baik sedikitpun.’” [Muttafaqun ‘Alaih: HR. Al-Bukhari (no. 29, I/15) dan Muslim (no. 884) dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma]

Dalil-dalil ini sekaligus merupakan bantahan bagi paham Khawarij yang mengatakan bahwa pelaku dosa besar kafir dan kekal di neraka. Adapun Ahlus Sunnah, pelaku dosa besar tidak kafir yang mengeluarkannya dari Islam, tetapi kufrun duna kufrin. Hanya saja, dia telah melakukan dosa besar yang dikhawatirkan nanti akan membinasakannya. Allahu a’lam.[AZ]

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*