jimat

Hukum Jimat dan Benang di Tubuh Bayi

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Aqidah 0 Comments

***
Telah  marak di negeri Indonesia terutama di pedesaan, setiap kali bayi lahir, oleh dukun bayi dipakaikan gelang atau benang putih untuk menghilangkan bala` (bahaya/musibah/penyakit) atau menolaknya, maupun untuk mendatangkan manfaat. Bagaimana hukum sebenarnya?
***

Memakai jimat atau rajah (tulisan-tulisan aksara/’Arab) atau sejenisnya untuk menghilangkan bala` atau menolaknya, maupun untuk mendatangkan manfaat hukumnya haram. Dalilnya:
Pertama: firman Allah subhanahu wa ta’ala.
«قُلْ أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللَّهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ قُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ»
“Katakanlah, ‘Bagaimana menurut kalian tentang apa-apa (sesembahan) yang kalian seru selain Allah jika Allah menghendakiku bahaya, apakah mereka mampu menghilangkan bahaya tersebut, atau jika Dia menghendakiku mendapat rahmat apakah mereka mampu menahan ramhat-Nya (dariku)?’ Katakanlah, ‘Cukuplah Allah bagiku. Hanya kepada-Nya orang-orang pasrah bertawakkal.’” [QS. Az-Zumar [39]: 38]

Ayat ini dalil bahwa keyakinan ada selain Allah yang mampu menghilangkan dan menolak dhurr/bala` (bahaya/musibah/penyakit) atau mendatangkan rahmat/manfaat adalah syirkul akbar (syirik besar yang membatalkan keislaman), karena Allah dalam awal ayat menyebutkan, “Apa-apa (sesembahan) yang kalian seru selain Allah.”

Setelah menyebutkan keyakinan yang salah, Allah menyebutkan keyakinan yang benar dan diikuti oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam atas perintah Allah, yaitu pasrah dengan menyerahkan diri dan urusannya kepada Allah karena tidak ada dhurr/bala` maupun rahmat/manfaat kecuali atas izin Allah dan dari sisi Allah jalla tsanâ`uh. Untuk itu Allah menutup dengan firman-Nya, “Katakanlah, ‘Cukuplah Allah bagiku. Hanya kepada-Nya orang-orang pasrah bertawakkal.’”

Kedua: sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dikisahkan dari ‘Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang lelaki yang memakai gelang dari kuningan lalu bertanya:
«وَيْحَكَ مَا هَذِهِ؟» قَالَ: مِنَ الْوَاهِنَةِ؟ قَالَ: «أَمَا إِنَّهَا لَا تَزِيدُكَ إِلَّا وَهْنًا انْبِذْهَا عَنْكَ؛ فَإِنَّكَ لَوْ مِتَّ وَهِيَ عَلَيْكَ مَا أَفْلَحْتَ أَبَدًا»
“Hah, apa ini?” Dia menjawab, “Untuk melemahkan (penyakit).” Beliau bersabda, “Ia tidak akan menambahmu kecuali justru kelemahan (iman dan kesehatan). Buanglah darimu. Sungguh andai saja kamu meninggal dalam keadaan memakainya (yakni keyakinan salah), kamu tidak akan beruntung selamanya (masuk neraka).” [Hasan: HR. Ahmad (no. 20000, XXXIII/204), Ibnu Majah (no. 3531), dan Ibnu Hibban (no. 6085). Dinilai hasan oleh al-Haitsami, shahih al-Hakim, dan disepakati adz-Dzahabi. Al-Arna`uth berkata, “Semua perawinya tsiqah perawi kitab Shahihain kecuali Mubarak bin Fudhalah.”]

Hadits ini dalil bahwa segala penangkal dharr/bala` tidak bermanfaat dan bereaksi sama sekali kepada pelakunya bahkan justru menambah kelemahan, karena Nabi bersabda, “Ia tidak akan menambahmu kecuali justru kelemahan (iman dan kesehatan).” Juga dalil bahwa hal ini dilarang karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh membuangnya. Juga dalil bahwa perbuatan ini syirik karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh andai saja kamu meninggal dalam keadaan memakainya, kamu tidak akan beruntung selamanya (masuk neraka).”

As-Sindi menjelaskan, “Dia memakainya karena (keyakinan) bisa menjaganya dari penyakit. Tetapi menurut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk jimat yang terlarang.” [Hasyisyah as-Sindî (II/361)]

Hadits ini diperkuat dengan hadits lainnya:
«مَنْ تَعَلَّقَ تَمِيمَةً، فَلَا أَتَمَّ اللهُ لَهُ، وَمَنْ تَعَلَّقَ وَدَعَةً، فَلَا وَدَعَ اللهُ لَهُ»
“Siapa yang menggantungkan tamimah maka Allah tidak menyempurnakan itu untuknya (karena mereka menyangka tamimah merupakan obat dan penangkal yang paling sempurna). Barangsiapa yang menggantungkan wada’ah (jenis penangkal) maka Allah tidak akan memberikan perlindungan kepadanya.” [Hasan: HR. Ahmad (no. 17404, XVIII/623), Ibnu Hibban (no. 6086), dan al-Hakim (no. 7501) dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu. Dinilai hasan oleh al-Arna`uth dan shahih oleh al-Hakim dan disetujui adz-Dzahabi]

«مَنْ عَلَّقَ تَمِيمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ»
“Barangsiapa yang menggantungkan tamimah maka dia telah syirik.” [Shahih: HR. Ahmad (no. 17422, XXVIII/637) dan al-Hakim (no. 7513). Dinilai kuat oleh al-Arna`uth] As-Sindi menjelaskan, “Tamimah adalah jimat yang biasa dipakai orang Jahiliyah atau penangkal yang orang ‘Arab gantungkan di anak-anak mereka untuk menolak ‘ain (penyakit), lalu Islam membatalkannya.” [Tahqiq Musnad Ahmad (28/624) cet. ar-Risalah]

Ketiga: praktek shahabat. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim bahwa Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu melihat seseorang yang memakai benang di tangannya untuk menangkal demam, beliau pun memutusnya dan membaca:
«وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلَّا وَهُمْ مُشْرِكُونَ»
“Dan kebanyakan mereka tidak beriman kepada Allah, bahkan mereka berbuat syirik.” [QS. Yûsûf [12]: 106] [Fathullah al-Hamîd (hal. 195) dengan tahqiq Bakar Abu Zaid]

Tamimah Antara Syirik Besar dan Syirik Kecil

Jika seseorang meyakini bahwa tamimah bisa menghilangkan/menolak dharr/bala` atau mendatangkan manfaat, maka hukumnya syirik besar yang mengeluarkannya dari Islam. Namun, jika meyakini hanya Allah yang kuasa dan tamimah hanya pelantara, maka hukumnya khilaf di antara syirik besar dan kecil, tetapi yang masyhur masuk syirik kecil yang tidak membatalkan keislaman.

Memahami Sebab

Setelah diperhatikan, tamimah ini berhubungan dengan keyakinan sebab. Untuk itu, orang Islam harus memahami 3 kaidah sebab sehingga bisa terbebas dari syirik jenis ini.
1. Tidak boleh menjadikan sesuatu sebagai sebab yang mampu menghilangkan/menolak dharr/bala` atau mendatangkan manfaat, kecuali ada dalilnya dari syariat atau pembuktian ilmiah. Misalnya kebolehan madu menghilangkan penyakit karena ada nashnya, begitu juga kebolehan bodrek menghilangkan sakit kepala karena bisa dijelaskan lewat kedokteran.
2. Yang diandalkan dan dijadikan sandaran bukan sebab, tetapi yang mencipta sebab dan takdir yakni Allah, dengan tetap berusaha memanfaatkannya. Hal ini dimaksudkan agar hati tidak bergantung kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala.
3. Meyadari bahwa sekuat dan sebesar apapun sebab, tidak akan keluar dari takdir Allah. Jika Allah menghendaki maka sebab itu bereaksi tetapi jika tidak menghendaki maka tidak bereaksi.

Hikmah

Hikmah teragung pelarangan tamimah adalah agar hamba tidak tergantung hatinya kepada selain Allah. Karena selain Allah adalah lemah dan miskin. Siapa yang menggantungkan hatinya kepada selain Allah akan dikecewakan, tetapi siapa yang menggantungkan hatinya kepada Allah tidak akan dikecewakan.

Kesimpulan

Memakai jimat atau rajah (tulisan-tulisan aksara/’Arab) atau sejenisnya untuk menghilangkan dharr/bala` atau menolaknya, maupun untuk mendatangkan manfaat hukumnya haram. Allahu a’lam.[AZ]

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*