al quran

Hujjah Teragung dalam Al-Qur’an (3)

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Aqidah 0 Comments

Makna Keempat adalah ilmu dan amal.

Makna ini ditunjukkan oleh sebuah hadits bahwa Nabi SAW bersabda:
«أَلَا إِنَّ الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ مَلْعُونٌ مَا فِيهَا إِلَّا ذِكْرُ اللّٰهِ  وَمَا وَالَاهُ وَعَالِمٌ أَوْ مُتَعَلِّمٌ»
“Ketahuilah bahwa dunia itu terlaknat dan terlaknat pula apa yang ada di dalamnya, kecuali dzikir kepada Allah dan ketaatan kepada-Nya, dan orang alim atau penuntut ilmu.” [Hasan: HR. At-Tirmidzi (no. 2322) dan Ibnu Majah (no. 4112) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Dinilai hasan oleh al-Albani] Semua manusia rugi kecuali orang yang berilmu dan yang mengamalkan ilmunya. Hal ini disebabkan Allah tidak bisa dikenal dan tidak suka diibadahi kecuali dengan ilmu, untuk itu Allah membenci kaum Nashrani karena mereka beribadah tanpa ilmu dan menyebut mereka dengan kaum yang sesat. Kemudian ilmu tidak akan bermanfaat dan berguna bagi ahlinya kecuali diamalkan karena ilmu dicari untuk diamalkan. Untuk itu Allah murka kepada orang-orang Yahudi yang berilmu tetapi tidak mengamalkannya dan  menyebut mereka sebagai kaum yang dimurkai.

Tentang ilmu, Allah berfirman:
«فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ»
“Maka ilmuilah bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Allah.” [QS. Muhammad [47]: 19]

Tentang amal, Allah berfirman:
«أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ»
“Apakah kalian hendak memerintahkan kebaikan kepada manusia tetapi kalian sendiri melupakan diri-diri kalian, padahal kalian membaca al-Kitab? Apakah kalian tidak berakal???” [QS. Al-Baqarah [2]: 44]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«مَثَلُ الْعَالِمِ الَّذِي يُعَلِّمُ النَّاسَ الْخَيْرَ ويَنْسَى نَفْسَهُ كَمَثَلِ السِّرَاجِ يُضِيءُ لِلنَّاسِ ويَحْرِقُ نَفْسَهُ»
“Perumpamaan orang alim yang mengajari manusia kebaikan tetapi melupakan dirinya seperti lilin yang menerangi manusia tetapi membakar dirinya.” [Jayyid: HR. Ath-Thabarani (no. 1681) dalam al-Mu’jam al-Kabîr dari Jundub Abu Dzar radhiyallahu ‘ahnu. Dinilai baik sanadnya oleh al-Albani]

«يُجَاءُ بِالرَّجُلِ يَوْمَ القِيَامَةِ فَيُلْقَى فِي النَّارِ، فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُهُ فِي النَّارِ، فَيَدُورُ كَمَا يَدُورُ الحِمَارُ بِرَحَاهُ، فَيَجْتَمِعُ أَهْلُ النَّارِ عَلَيْهِ فَيَقُولُونَ: أَيْ فُلاَنُ! مَا شَأْنُكَ؟ أَلَيْسَ كُنْتَ تَأْمُرُنَا بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَانَا عَنِ المُنْكَرِ؟ قَالَ: كُنْتُ آمُرُكُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَلاَ آتِيهِ، وَأَنْهَاكُمْ عَنِ المُنْكَرِ وَآتِيهِ»
“Akan didatangkan seseorang pada hari Kiamat lalu dilempar ke neraka lalu usus-ususnya keluar berceceran di neraka. Dia berputar-putar seperti putaran keledai di tempat penggilingan. Kemudian penduduk neraka mengerumuninya dan bertanya, ‘Wahai fulan, apa yang terjadi padamu? Bukankah dahulu kamu memerintah kami yang ma’ruf dan melarang kami yang mungkar?’ Dia menjawab, ‘Dulu memang aku memerintahkan kalian yang ma’ruf tetapi aku sendiri tidak melaksanakannya, dan aku melarang kalian yang mungkar tetapi aku sendiri melanggarnya.’” [Muttafaqun ‘Alaihi: HR. Al-Bukhari (no. 3267) dan Muslim (no. 2989) dari Usamah bin Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘ahnuma]

Ketiga dan Keempat adalah Orang berdakwah dan Bersabar.
Allah SWT berfirman:
«يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ»
“Wahai ananda, laksanakanlah shalat dan perintahkan yang makruf dan cegahlah yang mungkar serta bersabarlah atas apa yang menimpamu.” [QS. Luqmân [31]: 17] Dalam ayat ini Allah menggabungkan empat kriteria orang yang dikecualikan dari kerugian.  Yang pertama (ilmu) dan kedua (amal) ditunjukkan oleh ayat “laksanakanlah shalat” karena amal shalat tidak akan benar kecuali dengan ilmu. Sementara yang ketiga (berdakwah) dan keempat (sabar) ditunjukkan oleh ayat “perintahkan yang makruf dan cegahlah yang mungkar” sebagai isyarat berdakwah dan ayat “serta bersabarlah atas apa yang menimpamu” sebagai isyarat bersabar terutama dalam berdakwah.

Dalam ayat lain, Allah berfirman:
«وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا»
“Dan perintahkanlah keluarganmu untuk shalat dan bersabarlah kamu atasnya.” [QS. Thâhâ [20]: 132]

Allah melaknat Bani Isra`il karena mereka tidak mau berdakwah sebagaimana firman-Nya:
«لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ (78) كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ»
“Orang-orang kafir dari Bani Isra`il dilaknat lewat lisan Dawud dan Isa bin Maryam. Hal itu disebabkan mereka bermaksiat dan melampaui batas. Mereka tidak saling mencegah kemungkaran yang mereka kerjakan. Sungguh amat buruk apa yang mereka kerjakan itu.” [QS. Al-Mâ`idah [5]: 78-79]

Dalam surat Hûd Allah menceritakan tentang model-model manusia yang tidak beradab kepada Allah. Jika ditahan rezekinya, mengadu kepada Allah tetapi jika diberi rezeki justru melupakan Allah. Kemudian Allah mengecualikan orang-orang yang sabar:
«إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ»
“Kecuali orang-orang yang sabar dan beramal shalih. Merekalah orang-orang yang akan mendapat ampunan dan rezeki yang besar.” [QS. Hûd [11]: 9-11]

Kesimpulan

Semua manusia berada dalam kerugian, kesesatan, dan laknat kecuali manusia yang memiliki empat sifat, yaitu berilmu, beramal, berdakwah, dan bersabar. Kadar kerugian, kesesatan, dan laknat atasnya sesuai dengan kadar lemahnya ilmu, amal, dakwah, dan kesabarannya. Maka, barangsiapa yang Allah kumpulkan  baginya empat perkara ini maka dialah orang yang sukses dan beruntung. Allahu a’lam.

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*