al quran

Hujjah Teragung dalam Al-Qur’an (2)

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Aqidah 0 Comments

Makna Ketiga: berakhlak mulia kepada al-Khaliq dan makhluk.

Nabi SAW telah mengisyaratkan hal ini dalam sabdanya:
«إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ»
“Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak.” [Shahih: HR. Al-Baihaqi (no. 20572) dalam Syu’abul Imân. Dinilai shahih oleh al-Hakim, Ibnu Abdil Barr, al-Haitsami, dan al-Albani]

Lafazh innamâ (hanyalah) seakan mengisyaratkan tugas Nabi SAW hanyalah memperbaiki akhlak saja padahal tugas teragung Nabi SAW adalah tauhid dan mengenalkan umat kepada Allah. Hal ini hanya bisa digabungkan bila akhlak di sini mencakup akhlak kepada Allah dengan mensucikannya dari cacat dan kesyirikan dan mengesakannya dalam peribadahan.
Akhlak kepada Allah harus diiringi akhlak kepada makhluk terutama manusia, yakni dia perlu memperbaiki hubungannya dengan Allah (habluminallah) dan hubungannya dengan manusia (hablumminannas).

Nabi SAW mengajarkan akhlak kepada binatang dalam sabdanya:
«إِنَّ اللهَ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيءٍ، فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا القِتْلَةَ، وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذِّبْحَةَ، وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ، وَلْيُرِحْ ذَبِيْحَتَهُ»
“Sesungguhnya Allah menetapkan untuk berbuat baik atas segala sesuatu. Maka, apabila kalian membunuh membunuhlah dengan cara yang baik, dan apabila kalian menyembelih menyembelilah dengan baik pula. Hendaklah salah seorang dari kalian menajamkan pisaunya dan mempermudah penyembelihan.” [HR. Muslim (no. 1955) dari Abu Ya’la Syaddad bin Aus RA]

«عُذِّبَتِ امْرَأَةٌ فِى هِرَّةٍ سَجَنَتْهَا حَتَّى مَاتَتْ فَدَخَلَتْ فِيْهَا النَّارَ، لاَ هِيَ أَطْعَمَتْهَا وَلاَ سَقَتْهَا إِذْ حَبَسَتْهَا، وَلاَ هِيَ تَرَكَتْهَا تَأْكُلُ مِنْ خَشَاشِ الأَرْضِ»
“Seorang wanita disiksa karena seekor kucing yang dikurungnya hingga mati, lalu dia pun masuk neraka. Dia tidak memberi makan dan minum saat mengurungnya, tidak pula membiarkannya lepas untuk makan makanan di bumi.” [Muttafaqun ‘Alaih: HR. Al-Bukhari (no. 3482) dan Muslim (no. 2242) dari ‘Abdullah bin ‘Umar RAHUMA]

«بَيْنَمَا كَلْبٌ يُطِيفُ بِرَكِيَّةٍ كَادَ يَقْتُلُهُ الْعَطَشُ، إِذْ رَأَتْهُ بَغِىٌّ مِنْ بَغَايَا بَنِى إِسْرَائِيلَ، فَنَزَعَتْ مُوْقَهَا فَسَقَتْهُ، فَغُفِرَ لَهَا بِهِ»
“Suatu ketika ada seekor anjing yang berputar-putar hampir mati karena kehausan. Tiba-tiba seorang pezina dari Bani Israil melihatnya lantas melepas sepatunya lalu memberi minum anjing itu. Maka, karena itu Allah mengampuninya.” [Muttafaqun ‘Alaih: HR. Al-Bukhari (no. 3467) dan Muslim (no. 2345) dari Abu Hurairah RA]

Jika binatang saja diperintahkan untuk diperlakukan baik dan Nabi SAW mengancam dengan hukuman berat bagi yang berlaku jahat kepada mereka, maka manusia lebih ditekankan lagi. Abu Hurairah RA bercerita:
قِيلَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ فُلَانَةَ تَصُومُ النَّهَارَ وَتَقُومُ اللَّيْلَ وَتُؤْذِي جِيرَانَهَا بِلِسَانِهَا فَقَالَ: «لَا خَيْرَ فِيهَا هِيَ فِي النَّارِ»، قِيلَ: فَإِنَّ فُلَانَةَ تُصَلِّي الْمَكْتُوبَةَ وَتَصُومُ رَمَضَانَ وَتَتَصَدَّقُ بِأَثْوَارٍ مِنْ أَقِطٍ وَلَا تُؤْذِي أَحَدًا بِلِسَانِهَا قَالَ: «هِيَ فِي الْجَنَّةِ»
“Ditanyakan kepada Nabi SAW bahwa ada seorang wanita yang selalu puasa di siang hari dan shalat di malam hari tetapi lisannya suka menyakiti tetangganya.” Lalu beliau menjawab, “Tidak ada kebaikan padanya dan dia di neraka.” Ditanyakan lagi, “Ada pula wanita yang shalat lima waktu, puasa Ramadhan, dan bersedekah dengan sedikit gandum tetapi tidak pernah menyakiti seorang pun dengan lisannya.” Beliau menjawab, “Dia di surga.” [Shahih: HR. Al-Hakim (no. 7305, IV/184) dalam al-Mustadrâk. Dinilai shahih oleh al-Albani, al-Arna`uth, dan al-Hakim seraya berkata, “Sesuai syarat al-Bukhari Muslim,” dan disetujui adz-Dzahabi]

Tampak dalam hadits tersebut bahwa wanita itu baik akhlaknya kepada Allah dengan banyak melakukan ibadah-ibadah sunnah apalagi yang wajib. Tetapi ternyata Allah tidak menyukainya karena dia tidak menggabungkan dengan berakhlak mulia  kepada tetangganya dengan sering menyakiti mereka dengan lisannya. Hal ini menunjukkan bahwa belum cukup seseorang disebut orang beriman dan beramal shalih sampai dia berakhlak kepada Allah juga makhluk-Nya.

Di dalam hadits lain, juga disebutkan bahwa Nabi SAW bersabda:
«كَانَ فِي بَنِي إِسْرَائِيلَ رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ جُرَيْجٌ، كَانَ يُصَلِّي، جَاءَتْهُ أُمُّهُ فَدَعَتْهُ، فَقَالَ: أُجِيبُهَا أَوْ أُصَلِّي، فَقَالَتْ: اللَّهُمَّ لاَ تُمِتْهُ حَتَّى تُرِيَهُ وُجُوهَ المُومِسَاتِ، وَكَانَ جُرَيْجٌ فِي صَوْمَعَتِهِ، فَتَعَرَّضَتْ لَهُ امْرَأَةٌ وَكَلَّمَتْهُ فَأَبَى، فَأَتَتْ رَاعِيًا فَأَمْكَنَتْهُ مِنْ نَفْسِهَا، فَوَلَدَتْ غُلاَمًا، فَقَالَتْ: مِنْ جُرَيْجٍ فَأَتَوْهُ فَكَسَرُوا صَوْمَعَتَهُ وَأَنْزَلُوهُ وَسَبُّوهُ، فَتَوَضَّأَ وَصَلَّى ثُمَّ أَتَى الغُلاَمَ، فَقَالَ: مَنْ أَبُوكَ يَا غُلاَمُ؟ قَالَ الرَّاعِي، قَالُوا: نَبْنِي صَوْمَعَتَكَ مِنْ ذَهَبٍ؟ قَالَ: لاَ، إِلَّا مِنْ طِينٍ»
“Di kalangan Bani Isra`il ada seorang yang bernama Juraij. Suatu ketika dia shalat lalu ibunya datang memanggilnya. Juraij berkata (dalam hati), ‘Aku memenuhi panggilannya atau tetap shalat?’ Lalu ibunya berdoa, ‘Ya Allah janganlah Engkau mewafatkannya hingga Engkau perlihatkan padanya wajah wanita pelacur.’ Ketika Juraij di tempat ibadahnya, dia dirayu seorang wanita dan menawarkan dirinya tetapi Juraij tidak mau. Lalu wanita itu mendatangi penggembala lalu berzina dengannya lalu lahirlah seorang bayi lalu dia berkata, ‘Ini anaknya Juraij.’ Lalu orang-orang mendatangi tempat ibadah Juraij untuk mengusirnya dan merobohkannya. Lalu dia berwudhu lalu shalat lalu mendatangi bayi tersebut seraya bertanya, ‘Siapakah ayahmu wahai bayi?’ Dia menjawab, ‘Penggembala.’ Maka orang-orang pun berkata, ‘Kami akan membangun kembali tempat ibadahmu dari emas.’ Juraij menjawab, ‘Tidak. Dari tanah saja.’” [Muttafaqun ‘Alaih: HR. Al-Bukhari (no. 3436, IV/165) dan Muslim (no. 2550) dari Abu Hurairah RA]

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Juraij adalah ahli ibadah. Bahkan dia adalah orang shalih dan wali Allah yang mempunyai karomah. Ini bisa diketahui dengan bagusnya ibadahnya kepada Allah dan pertanyaannya kepada bayi serta sikapnya tidak mau mushallanya dibuat dari emas. Kemudian Allah mengabulkan doa keburukan dari ibunya, padahal ibunya mendoakannya karena pilihan Juraij lebih mendahulukan shalatnya ketimbang ibunya. Tetapi justru Allah lebih memenuhi doa ibunya, karena Juraij telah salah sikap dalam hal ini. Dia lebih mendahulukan keutamaan (ibadah shalat sunnah) daripada kewajiban birrul walidain berupa memenuhi panggilan ibunya. Hadits ini juga menunjukkan bahwa belumlah cukup seseorang dikatakan beriman dan beramal shalih hingga dia menggabungkan antara akhlak kepada Allah dan makhkluk-Nya.

Bersambung…

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*