al quran

Hujjah Teragung dalam Al-Qur’an (1)

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Aqidah 0 Comments

Allah telah menurunkan sebuah hujjah kepada makhluk-Nya yang seandainya Allah tidak menurunkan hujjah selain itu maka ia telah mencukupi. Ia adalah sebuah surat yang pendek dan ringkas tetapi sarat dengan makna dan pelajaran serta hujjah yang nyata bagi siapa yang mentadabburinya. Ia tiada lain adalah surat al-‘Ashr.

«وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ»
“Demi masa. Sesungguhnya seluruh manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih serta orang-orang yang saling berwasiat dalam kebenaran dan saling berwasiat dalam kesabaran.” [QS. Al-‘Ashr [103]: 1-3]

Imam as-Syafi’i mengomentari ayat ini:
لَوْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ حُجَّةً عَلَى خَلْقِهِ إِلاَّ هَذِهِ السُّوْرَةَ لَكَفَتْهُمْ
“Sekiranya Allah tidak menurunkan hujjah bagi makhluk-Nya selain surat ini, niscaya ia telah mencukupi.” [Tafsîr Imâm asy-Syafi’î (III/ 146)]

Allah memulai surat ini dengan sumpah, menunjukkan bahwa apa yang akan disebutkan merupakan perkara yang besar dan perlu diperhatikan oleh manusia. Kemudian Allah mengabarkan bahwa seluruh manusia tanpa terkecuali berada dalam kerugian, laknat, dan kesesatan. Ini seperti dalam ayat yang lain :
«وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ»
“Jika engkau mengikuti (keinginan) kebanyakan orang di bumi niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” [QS. Al-Mâ`idah [6]: 116] «وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ»
“Dan tidaklah kebanyakan manusia beriman meskipun engkau sangat menginginkan (mereka beriman).”  [QS. Yûsûf [12]: 103]

Kemudian Allah mengecualikan dari mereka 4 golongan manusia. Siapakah mereka itu?

Pertama dan kedua: Orang yang beriman dan beramal shalih.
Ada 4 makna mengenai orang beriman dan beramal shalih.

Makna yang pertama adalah ibadah batin dan ibadah dhahir.

Ibadah batin seperti  roja’ (berharap), khouf (rasa takut), mahabbah (cinta), raghbah (berharap diterima amalnya), rahbah (takut ditolak amalnya), ikhlas, tawakkal, dan yang semisalnya. Diantara ibadah batin yang teragung adalah beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-Nya, rasul-Nya, hari Akhir, dan takdir sebagaimana hadits Jibril AS, “Apa itu iman?” Maka Nabi SAW bersabda:
«أَنْ تُؤمِنَ بِالله، وَمَلاِئكَتِه، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَالْيَومِ الآَخِر، وَتُؤْمِنَ بِالقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ»
“Engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari Akhir, dan engkau beriman kepada takdir-Nya yang baik maupun yang buruk.” [HR. Muslim (no. 8) dari ‘Umar RA]

Ibadah dhahir seperti rukun Islam yaitu syahadat, shalat, zakat, puasa, dan haji. Sebagaimana hadits Ibnu ‘Umar bahwa Nabi SAW bersabda:
«بُنِيَ الإِسْلامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَنَّ مُحَمَّدَاً رَسُوْلُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلاةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجِّ البِيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ»
“Islam dibagun di atas lima hal: syahadat lâ ilâha illâllâh dan muhammadur rasûlûllâh, menegakkan shalat, menunaikan zakat, haji ke Baitullah, dan puasa Ramadhan.” [Muttafaqun ‘Alaihi: HR. Al-Bukhari (no. 8) dan Muslim (no. 16) dari Ibnu ‘Umar RAHUMA]

Maka termasuk orang yang Allah kecualikan dari kerugian adalah orang-orang yang mengamalkan ibadah batin dan dhahir terutama rukun iman dan rukun Islam.

Makna kedua adalah ikhlas dan ittiba’.

Hal ini disebabkan inti dari keimanan adalah ikhlas (memurnikan) ibadah hanya kepada Allah semata dan tidak mencampurinya dengan kesyirikan dan riya’. Allah berfirman:
«وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ»
“Dan mereka tidak diperintah kecuali menyembah Allah dengan mengikhlaskan agama yang lurus kepada-Nya.” [QS. Al-Bayyinah [98]: 5]

Kemudian Nabi SAW bersabda:
«قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي، تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ»
“Allah berfirman, ‘Aku adalah Dzat yang paling tidak butuh dengan sekutu. Barangsiapa yang mengerjakan amalan yang dicampuri kesyirikan bersama-Ku, maka aku akan meninggalkannya dan kesyirikannya.’” [HR. Muslim (no. 2985) dari Abu Hurairah RA]

Dan sebuah amalan dikatakan amal shalih jika amal tersebut sesuai dengan petunjuk nabi SAW. Berdasarkan hadits nabi SAW:
«مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ»
“Barangsiapa yang mengada-mengada dalam urusan kami ini yang bukan bagian darinya, maka ia tertolak.” [Muttafaqun ‘Alaihi: HR. Al-Bukhari (no. 2697) dan Muslim (no. 1718) dari ‘Aisyah RAH] «مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ»
“Barangsiapa yang beramal tanpa ada perintahnya dari kami, maka amal itu tertolak.” [HR. Muslim (no. 1718)]

Hal ini disebabkan ibadah ikhlas apapun tidak akan Allah terima hingga ia sesuai dengan petunjuk Nabi SAW. Sehingga jadilah dikatakan suatu ibadah baik (ihsan) hingga diterima Allah jika ikhlas dan ittiba’ mengikuti Rasulullah SAW. Begitulah, Allah hanya menerima ibadah yang baik (ihsan) saja, sebagaimana firman-Nya:
«أُولَئِكَ الَّذِينَ نَتَقَبَّلُ عَنْهُمْ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا»
“Merekalah orang-orang yang Aku terima ibadah mereka yang baik (ihsan) yang telah mereka kerjakan.” [QS. Al-Ahqâf [46]:]

Imam Fudhail bin Iyadh menafsirkan firman Allah:
«الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَياةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً»
“Yang telah menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian siapa di antara kalian yang paling baik (ahsan) amalnya.” [QS. Al-Mulk [67]: 2] أَحْسَنُ عَمَلًا أَخْلَصُهُ وَأَصْوَبُهُ. وَقَالَ: الْعَمَلُ لَا يُقْبَلُ حتى يكونخالصا صوابا فالخالص إذا كان الله وَالصَّوَابُ إِذَا كَانَ عَلَى السُّنَّةِ
“Yakni amal yang ikhlas dan benar. Amal tidak akan diterima hingga ikhlas dan benar. Dikatakan ikhlas jika hanya untuk Allah dan benar jika di atas sunnah.” [Tafsîr al-Baghawî (V/125)]

Bersambung…

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*