bersandar

Hadapi Apa yang Ada dengan Penuh Kesadaran!

Brilly El-Rasheed Akhlak Muamalah 0 Comments

Jangan berfatwa tanpa prediksi, pastikan dulu mampukah melaksanakan fatwa sendiri kalau dalam kondisi tidak ‘berprofesi’ mufti. Semakin ‘alim dan faqih seseorang, maka syaithan jin yang bermain dalam hidupnya juga semakin hebat. Orang yang ‘alim dan faqih kadangkala terjerat nafsu syahwat ‘mengobral’ fatwa didasari keinginan membumikan Islam dan menyebarkan ilmu yang sudah dikuasainya, baik tanpa riya’-sum’ah ataupun dilandasi syirik ashghar tersebut.

Meskipun fatwa sangat mendesak untuk dilontarkan, tidak semestinya mufti mengabaikan masa depan dirinya sendiri, bisakah melaksanakan apa yang difatwakan. Bila bisa, tidak mengapa, lagipula genting dan darurat. Bila tidak, lebih baik urungkan saja, tak perlu malu ataupun pilu, daripada nanti tidak sanggup mengamalkan apa yang diajarkan.

Mengukur diri sendiri terlebih dahulu sebelum mengukur orang lain adalah sikap yang harus kita akomodir secara simultan. Mengukur diri sendiri bukan hanya harus dilakukan oleh mufti, tapi setiap orang yang bicara soal agama Islam. Betapa banyak orang yang ketika bicara Islam sangat luwes dan lihai bak seorang mufti yang ‘alim dan faqih. Realitas keseharian tidak relevan dengan kepiawaiannya mengungkap dalil-dalil syar’i dan fiqhi.

Orang tua yang mengajarkan adab dan fiqh kepada anak. Orang tua harus terlebih dahulu mengukur dirinya sendiri, apakah sudah mengamalkan dan nanti akan terus mengamalkan. Orang tua tidak pantas kemudian bersikap acuh karena menganggap anak yang masih kecil tidak akan ingat nanti kalau sudah besar bahwa dulu diajari begini dan begitu oleh orang tuanya. Bukan soal anak akan mengingatnya kelak dewasa atau tidak, ini soal bagaimana kepastian masa depan orang tua untuk tetap mengamalkan apa yang diajarkannya kepada buah hati.

Pejabat atau pemangku kepentingan rakyat. Mereka mungkin dapat tampil sangat Islami di hadapan publik. Mengajak masyarakat untuk mengamalkan nilai-nilai keislaman dalam kehidupannya. Tuntutan pidato sambutan membuat sang pejabat harus mengobral wise (hikmah) dan mau tidak mau mengutip dalil atau kata-kata Islami.

Bisa dimaklumi posisi pejabat memang harus jadi teladan keshalihan, tapi kalau kemudian pejabat berani obral dalil tanpa memperhitungkan bisa tidak mengamalkannya pada masa mendatang, bisa-bisa sang pejabat akan menjadi sorotan mata masyarakat dan dicatat Allah sebagai pembual. Terlalu riskan jika memposisikan diri sebagai da’i dan muballigh tapi bukan karena Allah melainkan karena tuntutan jabatan.

Mengukur diri sendiri tidak semata-mata ketika akan mengajarkan Islam pada orang lain. Mengukur diri sendiri harus pula diterapkan ketika sedang merancang masa depan. Masa depan selalu spekulatif. Tidak ada masa yang stagnan, begitupun manusia. Kelenturan masa depan itulah yang harus kita sikapi dengan mengukur diri sendiri apakah bisa tetap istiqamah pada masa depan.

Apa yang ada, hadapi dan nikmati! Belum tentu impian akan bisa kita hadapi dan nikmati sepenuh hati. Kita mungkin memimpikan kesempurnaan penghambaan jika bisa berada di tanah suci. Faktanya, tidak sedikit diantara kita yang begitu sampai di tanah suci tiba-tiba impian tersebut meleleh persis garam yang disiram air panas. Tatkala di tanah air, ingin sekali segera pergi ke tanah suci agar bisa ibadah secara optimal karena suasana di sana sangat kondusif. Tatkala sudah di tanah suci, bukannya menunaikan apa yang diimpi-impikan, malah terpikat dengan suasana kondusif.

(1) Pimred majalah TAUHIDULLAH; (2) Pimred majalah dan buletin AS-SHOLIHIN, (3) redaktur pelaksana majalah AL-AKHBAR, (4) editor dan layouter majalah AL IHSAN, (5) reporter majalah MEDIAN LPMP Jawa Timur, (6) kontributor lepas majalah AR-RISALAH, (7) kontributor tetap majalah LENTERA QOLBU, (8) kontributor lepas di majalah ELFATA, (9) editor in chief majalah digital QUANTUM FIQIH, (10) konseptor dan mantan redaktur pelaksana majalah FITHRAH, (11) mantan layouter sekaligus pimred buletin Jum’at THAYBAH, (12) redaktur penerbit PT. EFMS, (13) admin salah satu situs berita Islam Nasional dengan 20.000 visit/hari), (14) online marketing UD. SBY CORPORATION, (15) pengasuh situs THAYBAH.ID, (16) promotor penerbitan majalah donatur, (17) redaktur pelaksana majalah SUARA MASKUMAMBANG, (18) redaktur pelaksana majalah SEJAHTERA dan buletin jumat YATIM SEJAHTERA, dan (19) mengasuh 2 website dan belasan blog keislaman yang ‘hidup segan mati tak mau’ sebagai salah satu cara merehatkan diri, serta (20) penulis buku GOLDEN MANNERS, KUTUNGGU DI TELAGA AL-KAUTSAR, MENDEKAT KEPADA ALLAH, QUANTUM IMAN, yang bisa Anda dapatkan di Gramedia atau toko buku lainnya.

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*