surga neraka

Empat Golongan Penghuni Neraka (2)

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Aqidah 0 Comments

Golongan ketiga adalah orang munafiq. Allâh berfirman:
«إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا»
“Sesungguhnya orang-orang munafiq berada di neraka yang paling dasar. Dan kamu tidak akan mendapatkan penolong pun untuk mereka.” [QS. An-Nisâ` [4]: 145] Kemunafiqan di sini bukan kemunafiqan amali seperti apabila berbicara berdusta, apabila berjanji melanggar, dan apabila diberi amanah khianat karena boleh jadi orang beriman melakukannya karena kelemahan imannya dalam keadaan masih beriman. Tetapi yang dimaksud di sini adalah nifaq i’tiqadi, maksudnya secara zhahir dia muslim tapi sebenarnya dia pura-pura masuk Islam untuk menghancurkan Islam dari dalam. Untuk itu tempatnya di neraka lebih berat daripada ahli kitab dan penyembah berhala.

Namun, pada umumnya semua sifat yang disebutkan itu dimiliki orang munafik tulen. Mengenai sifat kemunafikan, Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam mengabarkan:
«آيَةُ المُنَافِقِ ثَلاَثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ»
“Tanda orang munafik ada tiga, yaitu apabila berbicara dusta, apabila berjanji mengingkari, dan apabila diberi amanah khianat.” [Muttafaqun ‘Alaih: HR. Al-Bukhari (no. 33, I/16) dan Muslim (no. 59) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu]

Dalam kesempatan lain, Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam menyebutkan 4 tanda:
«أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا، وَمَنْ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا: إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ، وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ»
“Empat hal bila ada pada seseorang maka dia adalah seorang munafiq tulen, dan barangsiapa yang terdapat pada dirinya satu sifat dari empat hal tersebut maka pada dirinya terdapat sifat nifaq hingga dia meninggalkannya. Yaitu, jika diberi amanat dia khianat, jika berbicara dusta, jika berjanji mengingkari dan jika berseteru curang.” [Muttafaqun ‘Alaih: HR. Al-Bukhari (no. 34, I/16) dan Muslim (no. 58) dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma]

Allâh subhanahu wa ta’ala berfirman:
«وَالَّذِينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ أُولَئِكَ لَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوءُ الدَّارِ»
“Dan orang-orang yang melanggar janji Allâh setelah diikrarkan dan memutus apa yang Allâh perintahkan untuk disambung serta berbuat kerusakan di bumi, mereka akan mendapatkan laknat dan bagi mereka tempat yang buruk.” [QS. Ar-Ra’du [13]: 25]

Abul Aliyah menafsirkan hadits dan ayat ini sebagai enam sifat kemunafikan:
هِيَ سِتُّ خِصَالٍ مِنَ الْمُنَافِقِينَ: إِذَا كَانَتْ فِيهِمُ الظَّهْرَة عَلَى النَّاسِ أَظْهَرُوا هَذِهِ الْخِصَالَ: إِذَا حَدَّثُوا كَذَبُوا، وَإِذَا وَعَدُوا أَخْلَفُوا، وَإِذَا اؤْتُمِنُوا خَانُوا، وَنَقَضُوا عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ، وَقَطَعُوا مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ، وَأَفْسَدُوا فِي الْأَرْضِ، وَإِذَا كَانَتِ الظَّهْرَةُ عَلَيْهِمْ أَظْهَرُوا الْخِصَالَ الثَّلَاثَ: إِذَا حَدَّثُوا كَذَبُوا، وَإِذَا وَعَدُوا أَخْلَفُوا، وَإِذَا اؤْتُمِنُوا خَانُوا
“Orang-orang munafiq mempunyai enam sifat. Jika mereka mempunyai pendukung di tengah-tengah mereka, mereka menampakkan enam sifat-sifat tersebut. Yaitu, [1] jika berbicara maka ia berbohong, [2] jika berjanji tidak menetapi, [3] jika dipercaya khianat, [4] mereka melanggar janji Allâh setelah diikrarkan, [5] memutuskan apa-apa yang Allâh perintahkan agar disambung, dan [6] berbuat kerusakan di bumi. Namun, jika mereka tidak punya pendukung, mereka menampakkan tiga sifat: [1] jika berbicara berbohong, [2] jika berjanji ingkar, [3] jika dipercaya khianat.” [Tafsîr Ibnu Katsîr (I/211)]

Tiga golongan pertama ini kekal di neraka selama-lamanya. Siapa yang meninggal dalam keadaan kafir, musyrik, atau munafiq, maka dia selamanya tidak akan beruntung karena kekal selamanya di neraka Jahannam.

Golongan terakhir adalah para pelaku maksiat dari kaum muslimin. Orang Islam manapun yang meninggal di atas keimanan dan tidak batal Islamnya pasti masuk surga, sebagaimana yang Allâh janjikan. Hanya saja, para pelaku maksiat dari mereka akan Allâh adili dengan dua kemungkinan kehendak-Nya: adakalanya Allâh mengampuninya karena rahmat-Nya dan adakalanya Dia mengadzabnya karena keadilan-Nya. Kalaupun dia penghuni neraka tidak akan  kekal, suatu saat nanti akan dikeluarkan dari nereka dan dimasukkan surga. Inilah aqidah shahih Ahli Sunnah wal Jama’ah.

Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda:
«يَدْخُلُ أَهْلُ الجَنَّةِ الجَنَّةَ، وَأَهْلُ النَّارِ النَّارَ، ثُمَّ يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: أَخْرِجُوا مِنَ النَّارِ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ مِنْ إِيمَانٍ. فَيُخْرَجُونَ مِنْهَا قَدِ اسْوَدُّوا، فَيُلْقَوْنَ فِي نَهَرِ الحَيَا -أَوِ الحَيَاةِ- فَيَنْبُتُونَ كَمَا تَنْبُتُ الحِبَّةُ فِي جَانِبِ السَّيْلِ، أَلَمْ تَرَ أَنَّهَا تَخْرُجُ صَفْرَاءَ مُلْتَوِيَةً»
“Penduduk surga masuk surga dan penduduk neraka masuk neraka. Kemudian Allâh berfirman, ‘Keluarkan dari neraka siapa saja yang di dalam hatinya ada keimanan meskipun seberat biji sawi. Mereka pun dikeluarkan darinya dalam keadaan telah menghitam. Lalu mereka diceburkan di sungai kehidupan. Mereka tumbuh seperti biji tumbuh di pinggir sungai. Tidakkah kamu lihat bahwa dia keluar berwarna kuning kemudaan?” [Muttafaqun ‘Alaihi: HR. Al-Bukhari (no. 22, I/13) dan Muslim (no. 184) dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu]

Imam ath-Thahawi berkata:
وَهُمْ فِي مَشِيئَتِهِ وَحُكْمِهِ إِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُمْ وَعَفَا عَنْهُمْ بِفَضْلِهِ كَمَا ذَكَرَ عَزَّ وَجَلَّ فِي كِتَابِهِ: «وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ» وَإِنْ شَاءَ عَذَّبَهُمْ فِي النَّارِ بِعَدْلِهِ ثُمَّ يُخْرِجُهُمْ مِنْهَا بِرَحْمَتِهِ
“Mereka berada di dalam kehendak dan hukum-Nya. Jika Dia berkehendak Dia mengampuninya dan memaafkannya dengan karunia-Nya sebagaimana yang disebutkan Allâh dalam Kitab-Nya, ‘Dan Dia mengampuni selain itu (syirik dan kufur) kepada siapa saja yang Dia kehendaki.’ [QS. An-Nisâ` [4]: 58 & 116] Dan jika berkehendak Dia akan mengadzabnya di neraka dengan keadilan-Nya, kemudian mengeluarkannya dari neraka dengan rahmat-Nya.” [Al-Aqîdah ath-Thahâwiyah (hal. 66)]

Neraka hanya untuk empat golongan ini: orang kafir, musyrik, munafiq, dan mukmin ahli maksiat. Tiga yang pertama kekal selamanya dan yang terakhir sementara dan suatu saat Allâh memasukkannya ke surga.[]

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*