surga neraka

Empat Golongan Penghuni Neraka (1)

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Aqidah 0 Comments

Neraka disebut nâr karena dia terbuat dari api yang membakar. Panasnya adalah puncak panas dan siksanya adalah puncak siksaan. Belum pernah ada yang menyiksa dan membelenggu sebagaimana malaikat neraka menyiksa dan membelenggu. Bahkan penghuni neraka yang paling ringan siksaannya menyakini bahwa dia adalah yang paling berat siksaannya karena saking beratnya siksaan, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam:
«إِنَّ أَهْوَنَ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا مَنْ لَهُ نَعْلَانِ وَشِرَاكَانِ مِنْ نَارٍ، يَغْلِي مِنْهُمَا دِمَاغُهُ كَمَا يَغْلِ الْمِرْجَلُ، مَا يَرَى أَنَّ أَحَدًا أَشَدُّ مِنْهُ عَذَابًا وَإِنَّهُ لَأَهْوَنُهُمْ عَذَابًا»
“Sesungguhnya penduduk neraka yang paling ringan siksanya adalah seseorang yang diberi dua sandal beserta tali sandalnya dari api, yang karena keduanya otaknya mendidih sebagaimana bejana mendidih. Dia meyak bahwa tidak ada seorang pun yang lebih berat siksaannya daripada dirinya, padahal dia adalah orang yang paling ringan siksaannya.” [HR. Muslim (no. 213, I/196) dan al-Hakim (no. 8730) dalam al-Mustadrâk dari an-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu]

Lantas, siapakah calon penduduk neraka?

Allâh telah menciptakan neraka untuk empat golongan, yaitu orang kafir, musyrik, munafiq, dan ahli maksiat.

Golongan pertama adalah orang kafir. Allâh berfirman:
«فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ»
“Maka jagalah diri kalian dari neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu yang telah disiapkan untuk orang-orang kafir.” [QS. Al-Baqarah [2]: 24] Penghulu makhluk pertama yang kafir adalah iblis la’natullah ‘alaihi, yaitu ketika dia enggan sujud kepada Adam atas perintah Allâh ta’ala dan saat itulah dia dikafirkan oleh Allâh. Allâh menceritakan:
«وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ»
“Dan ingatlah ketika Kami berkata kepada para malaikat, ‘Sujudlah kalian semua kepada Adam.’ Maka, mereka semua bersujud kecuali iblis. Dia enggan dan sombong, sehingga dia termasuk golongan kafir.” [QS. Al-Baqarah [2]: 34] Berikutnya adalah orang-orang Yahudi dan Nashrani (Kristen) yang dinamakan al-Qur`an sebagai ahli kitab. Allâh telah mengkafirkan mereka dalam al-Qur`an dan Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya.

Tentang kekafiran orang Yahudi Allâh berfirman:
«لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ»
“Sungguh telah dilaknat orang-orang kafir Bani Isara`il lewat lisan Dawud dan Isa putra Maryam. Hal itu karena mereka durhaka dan mereka melampaui batas.” [QS. Al-Mâ`idah [5]: 78]

Tentang kekafiran orang Nashrani Allâh berfirman:
«لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلَّا إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ»
“Sungguh telah kafir orang-orang yang mengatakan bahwa Allâh adalah bagian dari yang tiga. Padahal tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali ilah yang satu. Jika mereka tidak berhenti dari perkataan itu, sungguh orang-orang kafir dari mereka akan disentuh adzab yang pedih.” [QS. Al-Mâ`idah [5]: 73]

Nabi Isa ‘alaihissalam tidak ridha untuk disembah, bahkan semenjak awal beliau memperingatkan umatnya untuk hanya menyembah Allâh saja. Allâh menceritakan:
«لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ»
“Sungguh telah kafir orang-orang yang mengatakan bahwa Allâh adalah al-Masih putra Maryam. Dan al-Masih berkata, ‘Wahai bani Isra`il, sembahlah Allâh Rabb-ku dan Rabb kalian.’” [QS. Al-Mâ`idah [5]: 72]

Di hari Kiamat nanti, akan terjadi dialog antara Allâh dengan Nabi Isa berkenaan dengan umatnya yang meyembah beliau. Nabi Isa ‘alaihissalam pun mengingkari penyembahan umatnya dan berlepas diri dari mereka.
«وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِنْ كُنْتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ * مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلَّا مَا أَمَرْتَنِي بِهِ أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَا دُمْتُ فِيهِمْ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنْتَ أَنْتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ»
“Dan ingatlah ketika Allâh bertanya kepada Isa putra Maryam, ‘Apakah engkau dulu bertaka kepada manusia, ‘Jadikanlah aku dan ibuku sebagai tuhan selain Allâh?’ Dia menjawab, ‘Mahasuci Engkau, tidak patut bagiku untuk berkata apa yang bukan menjadi hakku. Jika aku mengatakannya sungguh Engkau pasti tahu, karena Engkau tahu apa yang ada di dalam jiwaku sementara aku tidak tahu apa yang ada di dalam Jiwa-Mu. Sesungguhnya Engkau adalah mahatahu yang ghaib. Tidaklah aku katakan kepada mereka kecuali apa yang dulu Engkau perintahkan kepadaku, yaitu sembahlah Allâh Rabb-ku dan Rabb kalian. Aku menjadi saksi bagi mereka selama aku berada di tengah mereka. Tetapi ketika Engkau mewafatkanku, Engkau-lah yang mengawasi mereka, dan Engkau terhadap segala sesuatu maha menyaksikan.” [QS. Al-Mâ`idah [2]: 116-117]

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya juga menegaskan akan kekafiran mereka para ahli kitab. Beliau bersabda:
«وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ»
“Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidak seorang pun dari kalangan umat Yahudi atau Nasrani ini yang mendengar ajaranku, kemudian ia mati tanpa mengimani risalahku, kecuali ia tergolong penghuni neraka.” [HR. Muslim (no. 153), Ahmad (no. 8203), Abu ‘Awanah (no. 307) dalam al-Mustakhrâj, Ibnu Mandah (no. 401) dalam al-Iman & (no. 149) dalam at-Tauhîd, dan al-Lalika`i (no. 2201) dalam Syarah Ushul I’tiqâd Ahli Sunnah wal Jamâ’ah dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu]

Allâh telah mengkafirkan agama Yahudi dan Nashrani (Kristen) yang diturunkan kitab (Taurat dan Injil) dari langit, maka tentu agama Hindu, Budha, Konghucu, Sito, dan lain-lain banyaknya yang merupakan buatan manusia lebih layak untuk dikafirkan, setelah Islam datang yang dibawa Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Golongan yang kedua adalah orang-orang musyrik. Allâh berfirman:
«إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ»
“Barangsiapa yang berbuat syirik kepada Allâh, maka Allâh akan mengharamkan surga baginya, tempat kediamaannya adalah neraka. Itulah seburuk-seburuk tempat kembali.” [QS. Al-Mâ`idah [5]: 72] Orang-orang musyrik adalah orang-orang yang diperangi Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam dari orang-orang Quraiys Makkah. Begitu juga orang-orang yang menyembah selain Allâh, baik bersamaan dengan itu dia juga menyembah Allâh atau tidak. Adapun orang-orang Quraisy yang diperangi Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya, mereka menyembah Allâh tetapi juga menyembah tuhan-tuhan lain selain Allâh seperti Hubal, Manat, Latta, Uzza, dan lain-lain.

Maka, sedekar menyakini bahwa Allâh adalah Penciptanya, Pemberi rezekinya dan Pengatur alam semesta, belum cukup memasukkannya kepada Islam. Buktinya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabat tetap memerangi mereka. Allâh berfirman:
«وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ خَلَقَهُنَّ الْعَزِيزُ الْعَلِيمُ»
“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka, ‘Siapakah yang menciptakan langit-langit dan bumi?’ Maka mereka pasti akan menjawab, ‘Yang menciptakannya benar-benar Yang maha perkasa lagi maha mengetahui.’” [QS. Az-Zukhrûf [43]: 9] «وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ»
“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka, ‘Siapakah yang menciptakan diri-diri mereka?’ Maka mereka pasti akan menjawab, ‘Allâh!’” [QS. Az-Zukhrûf [43]: 87] Dalam satu surat, Allâh mengumpulkan kekafiran orang Yahudi Nashrani (ahli kitab) dan orang musyrik dalam firman-Nya:
«إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ»
“Sesungguhnya orang-orang kafir dari ahli kitab dan orang-orang musyrik di neraka Jahannam kekal di dalamnya. Mereka itulah seburuk-buruk manusia.” [QS. Al-Baiyyinah [98]: 6]

Bersambung…

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*