kebaikan

Doa Orang Yang Terzhalimi

Brilly El-Rasheed Adab, Fiqih 0 Comments

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda,

دعوة المظلوم مستجابة وإن كان فاجرا ففجوره على نفسه

“Doa orang yang dizhalimi adalah diterima sekalipun doa dari orang yang jahat. Kejahatannya itu memudharatkan dirinya (tanpa mempengaruhi keterkabulan doa tadi).” [Musnad Ath-Thayalisi]

Al-Imam An-Nawawi telah meletakkan satu tajuk dalam kitabnya Al-Azkar, “Bab: Kewajiban bagi seorang manusia untuk mendoakan keburukan kepada orang yang menzhalimi orang-orang Islam atau menzalimi dirinya.”

Ibnu ‘Allan Ash-Shiddiqi, pengarang syarah Al-Adzkar dan syarah Riyadh Ash-Shalihin, berkata di bawah tajuk ini, “Maksud ‘kewajiban yang disebut Al-Imam An-Nawawi adalah mencakup hukum sunat (tidak wajib). Maksudnya ia tidak haram dan tidak makruh. Doa kecelakaan kepada orang yang menzhalimi manusia lain supaya terhindar dari kezhalimannya maka hukumnya sunat. Doa kecelakaan kepada orang yang menzhalimi dirinya sendiri atau yang menyakitinya, maka wajib. Tapi akan sangat mulia dan bagus jika dia memaafkan dan melupakannya.”

Pada zaman pemerintahan ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, beliau telah melantik Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu sebagai gubenur propinsi Kufah. Ada seorang lelaki yang bernama Usamah bin Qatadah atau Abu Sa’dah telah menuduh Sa’ad,

أما إن نشدتنا فإن سعدا لا يسير بالسرية ولا يقسم بالسوية ولا يعدل في القضية

“Sekiranya kamu bertanya kami tentang Sa’ad, sesungguhnya dia tidak pernah ikut peperangan, tidak menyamaratakan pemberian dan tidak berlaku adil dalam hukum.”

Lalu Sa’ad berdoa,

اللهم إن كان عبدك هذا كاذبا قام رياء وسمعة فأطل عمره وأطل فقره وعرضه للفتن

“Ya Allah sekiranya hamba mu ini pembohong dan melakukannya semata karena riya’ dan sum’ah maka hendaklah engkau panjangkan umurnya, kekalkan kefaqirannya dan jatuhkan dia kepada fitnah.”

Kemudian setelah tua, lelaki yg menuduh Saad radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku telah terkena bencana akibat doa Sa’ad.” “Abdul Malik bin ‘Umair radhiyallahu ‘anhu perawi hadits ini berkata, Aku melihat lelaki tadi ketika sudah tua, dua bulu keningnya telah gugur kerana terlampau tua, dia telah menganggu perempuan-perempuan muda dengan meraba dan meremas mereka.” [Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim]

Kisah lainnya, suatu hari ada seorang laki-laki yang mencaci ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, Thalhah, dan  Zubair. Melihat itu, Sa’ad pun melarang orang itu agar tidak melakukan hal tersebut, namun orang itu tak mau berhenti dari perbuatannya, bahkan dia terus mengulangi perkataannya itu. Karenanya, Sa’ad berkata, “Hentikanlah perbuatanmu! Jika kamu tidak mau, maka aku akan berdoa untuk kejelekan dirimu (karena kamu sudah mencela shahabat Nabi!”

Orang itu berkata dengan nada mengejek, “Kamu mengatakan hal itu seolah-olah kamu adalah seorang nabi hingga doamu pun pasti dikabulkan.”

Sa’ad radhiyallahu ‘anhu pun berdiri, lalu dia berwudhu, dan melakukan shalat dua rakaat. Setelah itu dia berdoa untuk kejelekan orang tersebut. Tidak berselang lama, orang laki-laki itu pun menjadi sebuah pelajaran dan bukti yang memperlihatkan kepada Sa’ad bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menerima doanya. Tiba-tiba keluarlah seekor unta yang kuat yang datang dengan membabi buta, sepertinya ia sedang mencari seorang laki-laki yang didoakan oleh Sa’ad teersebut. Ketika melihat laki-laki tersebut, unta itu langsung menendang orang tersebut dengan menggunakan kaki-kakinya hingga orang itu pun jatuh ke tanah. Unta itu masih terus menendang dan menginjak orang tersebut hingga dia mati.

Diambil dari buku Kisah Teladan 20 Sahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk Anak, Dr. Hamid Ahmad Ath-Thahir, Irsyad Baitus Salam, 2006.

(1) Pimred majalah TAUHIDULLAH; (2) Pimred majalah dan buletin AS-SHOLIHIN, (3) redaktur pelaksana majalah AL-AKHBAR, (4) editor dan layouter majalah AL IHSAN, (5) reporter majalah MEDIAN LPMP Jawa Timur, (6) kontributor lepas majalah AR-RISALAH, (7) kontributor tetap majalah LENTERA QOLBU, (8) kontributor lepas di majalah ELFATA, (9) editor in chief majalah digital QUANTUM FIQIH, (10) konseptor dan mantan redaktur pelaksana majalah FITHRAH, (11) mantan layouter sekaligus pimred buletin Jum’at THAYBAH, (12) redaktur penerbit PT. EFMS, (13) admin salah satu situs berita Islam Nasional dengan 20.000 visit/hari), (14) online marketing UD. SBY CORPORATION, (15) pengasuh situs THAYBAH.ID, (16) promotor penerbitan majalah donatur, (17) redaktur pelaksana majalah SUARA MASKUMAMBANG, (18) redaktur pelaksana majalah SEJAHTERA dan buletin jumat YATIM SEJAHTERA, dan (19) mengasuh 2 website dan belasan blog keislaman yang ‘hidup segan mati tak mau’ sebagai salah satu cara merehatkan diri, serta (20) penulis buku GOLDEN MANNERS, KUTUNGGU DI TELAGA AL-KAUTSAR, MENDEKAT KEPADA ALLAH, QUANTUM IMAN, yang bisa Anda dapatkan di Gramedia atau toko buku lainnya.

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*