angan-angan

Asa di Angkasa, Hati Tidak Membumi (2)

Brilly El-Rasheed Akhlak Muamalah 0 Comments

Begitu seringnya kita menjadi bangkai di malam hari dan menjadi keledai di siang hari. Saat matahari hadir, kita masih seperti orang pandir. Saat bulan bersemayam, semangat qiyamul lail kerap padam. Saat awan berkejaran, kita terus saja dalam kelalaian. Saat bintang temaram, dalam tidur. kita tenggelam. Laksana seonggok kayu yang tidak punya nyawa. Tidak tergerak untuk mempersembahkan penghambaan terbaik kepada Alloh. Sementara harapan menjadi penghuni surga dan bebas dari neraka sangat tinggi.

Kiranya, patut kita simak syair Isma’il bin Qasim AI-Baghdadi yang sangat populer, “Engkau berharap keselamatan, namun engkau tidak menempuh jalannya. Adalah sebuah kemustahilan. bahtera berlayar di daratan.” [Al-Bidayah wa An-Nihayah 10/279]

Begitu pula, kita layak untuk menertawakan diri kita sendiri. Bagaimana tidak, kita seringkali menanti upah ibadah. Kita tidak sumringah, kalau ibadah kita tidak berbuah upah. Kita berdakwah, tapi berharap dunia. Kita membaca Al-Qur’an, tapi berharap harta. Kita membangun masjid, tapi berharap ada kelebihan dana, lantas mengambilnya dengan dalih ganti keringat. Padahal Rosululloh telah berkata, “Tidaklah orang yang berperang di jalan Alloh kemudian ia mendapatkan harta rampasan perang (lalu mengambilnya untuk kepentingan diri dan kenikmatan dunia) kecuali ia telah mempercepat duapertiga pahala (yang mestinya didapat utuh) di akhirat sehingga masih tersisa sepertiga. Apabila tidak mengambil ghanimah semua pahala akan ia dapatkan.” [Shohih: Shohih Muslim no. 1906]

Bagaimana bisa kita akan meraih surga tertinggi yang kita idam-idamkan, dan terbebas dari neraka yang ganas, kalau ibadah saja masih terengah-engah, dosa saja masih nikmat terasa, dunia saja masih menjadi fokus asa, kepada Alloh saja masih sering kita lupa? lnilah kelemahan kita yang lain. Terbiasa dengan dosa-dosa yang dianggap remeh, sehingga tidak ada rasa takut akan adzabnya, atau mengira pasti segera diampuni Alloh.

Rosulullah memberikan wejangan, “Jauhilah oleh kalian dosa-dosa yang dianggap remeh. Sesungguhnya dosa-dosa yang dianggap remeh itu seperti sebuah kaum yang singgah di sebuah lembah. Mereka semua mencari kayu bakar maka si A datang membawa sepotong kayu. si B datang membawa sepotong kayu. dan demikian juga yang lain. Akhirnya dengan kayu-kayu yang terkumpul, mereka bisa memasak roti sampai matang. Sesungguhnya bila dosa-dosa yang dianggap remeh itu diberi hukuman oleh Allah, niscaya akan membinasakan pelakunya. [Shohih: Musnad Ahmad. Ash-Shohihah no. 389; Shohih Al-Jami’ no. 2866, 2867]

Demikianlah, bahwa kita adalah hamba Alloh, kewajiban kita dalam hidup ini hanyalah mempersembahkan ibadah yang terbaik kepada Alloh sesuai ketentuan dari-Nya dengan penuh cinta, pengagungan, dan asa. Asa Tidak ada gunanya akan rahmah, ridha, maghfirah, dan karunia Alloh. Tidak perlu kita mengingat-ingat ibadah yang pernah kita sukses mengoptimalkan pelaksanaannya. Yang selalu kita ingat semestinya adalah keburukan kita, agar kita tidak ‘ujub dan lengah, agar semangat kita terjaga dan taubat tidak tersendat. Biarlah Alloh yang menilai seberapa bermutunya ibadah kita, dan biarlah kita sibuk dengan bertaubat dan terus memperbagus ibadah kita kepada Alloh. Andaipun kita telah mampu berupaya seoptimal mungkin dalam beribadah kepada Allah, dan nampaknya kita telah berada di puncak penghambaan, ingatlah sehebat apapun ibadah kita kepada Alloh, kita tidak mampu mencapai kesempurnaan Misalnya terkadang kita lalai dari Alloh, lemah semangat ibadah, terlintas keinginan untuk berbuat buruk. Kalau hal ini kita sadari, maka tidak pantas merasa telah sukses mengoptimalkan ibadah. Alloh berfirman: “Sekali-kali tidak, manusia itu belum melaksanakan apa yang diperintahkan Alloh kepadanya (secara optimal).” [QS. `Abasa: 23]

:: Dukung Dakwah Islamiyyah Online kami dengan comment, doa bi zhohril ghoib dan financial.

(1) Pimred majalah TAUHIDULLAH; (2) Pimred majalah dan buletin AS-SHOLIHIN, (3) redaktur pelaksana majalah AL-AKHBAR, (4) editor dan layouter majalah AL IHSAN, (5) reporter majalah MEDIAN LPMP Jawa Timur, (6) kontributor lepas majalah AR-RISALAH, (7) kontributor tetap majalah LENTERA QOLBU, (8) kontributor lepas di majalah ELFATA, (9) editor in chief majalah digital QUANTUM FIQIH, (10) konseptor dan mantan redaktur pelaksana majalah FITHRAH, (11) mantan layouter sekaligus pimred buletin Jum’at THAYBAH, (12) redaktur penerbit PT. EFMS, (13) admin salah satu situs berita Islam Nasional dengan 20.000 visit/hari), (14) online marketing UD. SBY CORPORATION, (15) pengasuh situs THAYBAH.ID, (16) promotor penerbitan majalah donatur, (17) redaktur pelaksana majalah SUARA MASKUMAMBANG, (18) redaktur pelaksana majalah SEJAHTERA dan buletin jumat YATIM SEJAHTERA, dan (19) mengasuh 2 website dan belasan blog keislaman yang ‘hidup segan mati tak mau’ sebagai salah satu cara merehatkan diri, serta (20) penulis buku GOLDEN MANNERS, KUTUNGGU DI TELAGA AL-KAUTSAR, MENDEKAT KEPADA ALLAH, QUANTUM IMAN, yang bisa Anda dapatkan di Gramedia atau toko buku lainnya.

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*