orang kaya

3 Ketidakberuntungan Orang Kaya

Abu Zur'ah Ath-Thaybi Akhlak Muamalah 0 Comments

Menjadi kaya adalah idaman setiap manusia. Dengan kekayaan manusia bisa melakukan apa saja termasuk bersedekah di jalan Allah, haji dan umrah, jihad, dan lainnya. Hanya saja, orang kaya tidak selamanya lebih beruntung daripada orang miskin.

Pertama: Orang kaya didahului 500 tahun masuk surga oleh orang miskin, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
«يَدْخُلُ فُقَرَاءُ المُسْلِمِينَ الجَنَّةَ قَبْلَ أَغْنِيَائِهِمْ بِنِصْفِ يَوْمٍ وَهُوَ خَمْسُمِائَةِ عَامٍ»
“Orang-orang faqir dari kaum muslimin akan masuk surga sebelum orang-orang kaya mereka, sejarak setengah hari yaitu 500 tahun.” [Hasan Shahih: HR. At-Tirmidzi (no. 2354, IV/578) dan an-Nasa`i (no. 11348) dalam al-Kubrâ dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu]

Untuk itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa meminta hidup dan mati dalam keadaan miskin, meskipun yang dimaksud di sini bukan miskin sedikitnya harta tetapi meminta ketawadhuan dan qonaah atas pemberian Allah. Beliau bersabda:
«اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مِسْكِينًا وَأَمِتْنِي مِسْكِينًا وَاحْشُرْنِي فِي زُمْرَةِ المَسَاكِينِ يَوْمَ القِيَامَةِ» فَقَالَتْ عَائِشَةُ: لِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «إِنَّهُمْ يَدْخُلُونَ الجَنَّةَ قَبْلَ أَغْنِيَائِهِمْ بِأَرْبَعِينَ خَرِيفًا، يَا عَائِشَةُ لَا تَرُدِّي المِسْكِينَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ، يَا عَائِشَةُ أَحِبِّي المَسَاكِينَ وَقَرِّبِيهِمْ فَإِنَّ اللَّهَ يُقَرِّبُكِ يَوْمَ القِيَامَةِ»
“Ya Allah hidupkanlah aku dalam keadaan miskin dan matikanlah aku dalam keadaan miskin dan kumpulkanlah aku dalam rombongan orang-orang miskin pada hari Kiamat.” ‘Aisyah bertanya, “Karena apa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Mereka masuk surga sebelum orang-orang kaya sejarak 40 tahun. Wahai ‘Aisyah, kamu jangan mengabaikan orang miskin meskipun hanya separuh kurma. Wahai ‘Aisyah, cintailah orang miskin dan mendekatlah kepada mereka, karena Allah akan mendekat kepadamu pada hari Kiamat.” [Shahih: HR. At-Tirmidzi (no. 2352, IV/577) dan al-Baihaqi  (no. 13152) dalam al-Kubrâ dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Dinilai shahih al-Albani]

Penyebutan 40 tahun dan 500 tahun, dipahami oleh para ‘ulama sebagai batas tahun perbedaan waktu masuk tiap-tiap orang miskin, karena tingkatan orang miskin berbeda sehingga berbeda pula ketersegeraan mereka masuk surga. Mustahil Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kontradiksi, karena sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berasal dari wahyu Allah subhanahu wa ta’ala, bukan berasal dari hawa nafsu.

Al-Mubarakfuri menjelaskan, “Makna ini dijelaskan oleh riwayat ath-Thabarani dari Maslamah bin Makhlad dengan lafazh, ‘Orang-orang Muhajirin mendahului manusia masuk surga sejarak 40 tahun, kemudian kelompok kedua sejarak 100 tahun, kelompok ketiga 200 tahun,’ begitu seterusnya. Seolah-olah mereka dibatasi sampai 5 kelompok, atau perbedaan (masuk surga) sesuai dengan perbedaan tingkatan kefakiran mereka dalam kesabaran, keridhaan, dan kesyukuran. Ini pendapat yang paling bagus sebagaimana dijelaskan pula dalam kitab Jâmi’ul Ushûl, ‘Cara menggabungkan dua hadits ini, hadits 40 tahun untuk orang faqir yang sangat ingin menjadi orang kaya, sementara hadits 500 tahun untuk orang faqir yang sangat zuhud terhadap kekayaan.’” [Tuhfatul Ahwadzî (VII/17)]

Kedua: Orang kaya yang berinfaq disamakan pahalanya dengan orang miskin yang jujur niatnya berinfaq meski belum mampu berinfaq, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
«إِنَّمَا الدُّنْيَا لِأَرْبَعَةِ نَفَرٍ، عَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَعِلْمًا فَهُوَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ، وَيَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ، وَيَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا، فَهَذَا بِأَفْضَلِ المَنَازِلِ، وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ عِلْمًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالًا فَهُوَ صَادِقُ النِّيَّةِ يَقُولُ: لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ، وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًا، فَهُوَ يَخْبِطُ فِي مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ لَا يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ، وَلَا يَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ، وَلَا يَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا، فَهَذَا بِأَخْبَثِ المَنَازِلِ، وَعَبْدٍ لَمْ يَرْزُقْهُ اللَّهُ مَالًا وَلَا عِلْمًا فَهُوَ يَقُولُ: لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ فِيهِ بِعَمَلِ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ»
“Sesungguhnya dunia untuk 4 jenis manusia, yaitu [1] hamba yang diberi Allah rezeki harta dan ilmu. Dengannya ia bertaqwa kepada Rabb-nya, menyambung silaturrahim, dan mengetahui hak Allah dalam harta tersebut, dan ini adalah kedudukan paling utama. [2] Hamba yang diberi Allah ilmu tetapi tidak diberi rezeki harta. Dengan niat yang jujur dia berkata, ‘Andai saya punya harta pasti aku beramal seperti fulan.’ Dia dengan niatnya itu dinilai sama pahala keduanya. [3] Hamba yang diberi Allah rezeki harta tetapi tidak diberi ilmu. Dia menghabiskan hartanya tanpa ilmu tanpa takut kepada Rabb-nya, tidak menyambung silaturrahim, dan tidak mengetahui hak Allah dalam harta tersebut. Inilah kedudukan yang paling buruk. [4] Hamba yang tidak diberi harta dan ilmu lalu berkata, ‘Andai aku memiliki harta, pasti aku akan melakukan seperti perbuatan fulan.’ Orang ini dengan niatnya dinilai sama dosa keduanya.” [Shahih: HR. At-Tirmidzi (no. 2325, IV/562), Ibnu Majah (no. 4228), dan Ahmad (no. 18024) dari Abu Kabsyah al-Anmari radhiyallahu ‘anhu. Dinilai shahih al-Albani]

Zhahir hadits ini mengabarkan bahwa orang kaya yang berinfak dan orang miskin yang memiliki niat jujur berinfaq meski belum memiliki uang, pahala mereka berdua sama tidak berbeda. Meski demikian, orang kaya dari sisi manfaatnya bagi orang Islam lebih luas, karena mereka bisa bersedekah membantu orang miskin, mengenyangkan orang kelaparan, menolong orang kesulitan, membangung jembatan, dan kebaikan lainnya yang tidak mampu dilakukan oleh orang miskin. Dari sisi manfaat sosial ini, orang kaya lebih utama.

Dalilnya sebuah riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa orang-orang miskin Muhajirin mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata:
ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ بِالدَّرَجَاتِ الْعُلَى، وَالنَّعِيمِ الْمُقِيمِ، فَقَالَ: «وَمَا ذَاكَ؟» قَالُوا: يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّي، وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ، وَيَتَصَدَّقُونَ وَلَا نَتَصَدَّقُ، وَيُعْتِقُونَ وَلَا نُعْتِقُ، فَقَالَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَفَلَا أُعَلِّمُكُمْ شَيْئًا تُدْرِكُونَ بِهِ مَنْ سَبَقَكُمْ وَتَسْبِقُونَ بِهِ مَنْ بَعْدَكُمْ؟ وَلَا يَكُونُ أَحَدٌ أَفْضَلَ مِنْكُمْ إِلَّا مَنْ صَنَعَ مِثْلَ مَا صَنَعْتُمْ» قَالُوا: بَلَى، يَا رَسُولُ اللهِ قَالَ: «تُسَبِّحُونَ، وَتُكَبِّرُونَ، وَتَحْمَدُونَ، دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ مَرَّةً» قَالَ أَبُو صَالِحٍ: فَرَجَعَ فُقَرَاءُ الْمُهَاجِرِينَ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالُوا: سَمِعَ إِخْوَانُنَا أَهْلُ الْأَمْوَالِ بِمَا فَعَلْنَا، فَفَعَلُوا مِثْلَهُ، فَقَالَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «ذَلِكَ فَضْلُ اللهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ»
“Orang-orang kaya memborong derajat tinggi (beramal banyak) dan kenikmatan yang langgeng.” Beliau bertanya, “Ada apa?” Mereka berkata, “Mereka shalat seperti kami, mereka puasa seperti kami, tetapi mereka bersedekah dan kami tidak, dan mereka membebaskan budak dan kami tidak.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Apakah kalian mau aku ajari sesuatu yang bisa mengejar orang  yang mendahului kalian dan melampaui orang-orang setelah kalian? Tidak ada orang yang lebih utama dari kalian kecuali yang melakukan seperti apa yang kalian lakukan?” Mereka menjawab, “Mau wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Kalian bertasbih, bertakbir, dan bertahmid usai setiap shalat 33 kali.” Kemudian orang-orang miskin Muhajirin mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lagi seraya berkata, “Saudara-saudara  kami orang-orang kaya mendengar apa yang kami amalkan lalu mereka pun ikut mengamalkannya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya.” [HR. Muslim (no. 595, I/416), ath-Thabarani (no. 802) dalam al-Mu’jam ash-Shaghîr, dan Abu ‘Awanah (no. 2086) dalam Musnadnya]

Ketiga: Orang kaya minoritas penduduk surga karena kebanyakan penduduk surga orang miskin, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
«اطَّلَعْتُ فِي الْجَنَّةِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا الْفُقَرَاءَ، وَاطَّلَعْتُ فِي النَّارِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ»
“Aku pernah mengintip surga dan ternyata kebanyakan penghuninya adalah orang-orang faqir dan aku mengintip neraka dan ternyata kebanyakan penduduknya adalah kaum wanita.” [HR. Muslim (no. 2737, IV/2096), at-Tirmidzi (no. 2602), dan Ahmad (no. 2086) dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma]

Ada banyak alasan mengapa banyak orang kaya yang masuk neraka dan sedikit di surga, di antaranya:
1. Kebanyakan penentang kebenaran adalah orang kaya karena merasa lebih mulia dari para nabi dan da’i yang kebanyakan miskin harta atau orang tidak terpandang. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
«وَمَا أَرْسَلْنَا فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا بِمَا أُرْسِلْتُمْ بِهِ كَافِرُونَ (34) وَقَالُوا نَحْنُ أَكْثَرُ أَمْوَالًا وَأَوْلَادًا وَمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِينَ»
“Dan tidaklah Kami mengutus di suatu negeri seorang pemberi peringatan melainkan orang-orang kaya di negeri tersebut berkata, ‘Kami kafir terhadap apa yang kamu diutus.’ Mereka juga mengatakan, ‘Kami lebih banyak harta dan anak-anak, dan kami tidak akan disiksa.’” [QS. Saba` [34]: 34-35] «وَقَالَ الْمَلَأُ مِنْ قَوْمِهِ الَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِلِقَاءِ الْآخِرَةِ وَأَتْرَفْنَاهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا مَا هَذَا إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يَأْكُلُ مِمَّا تَأْكُلُونَ مِنْهُ وَيَشْرَبُ مِمَّا تَشْرَبُونَ (33) وَلَئِنْ أَطَعْتُمْ بَشَرًا مِثْلَكُمْ إِنَّكُمْ إِذًا لَخَاسِرُونَ»
“Dan para pembesar dari kaumnya (Hud ‘alaihissalam) yang kafir dan mendustakan hari akhirat dan orang-orang yang Kami beri kekayaan dunia berkata, ‘Tidaklah orang ini kecuali hanya manusia seperti kalian yang makan seperti yang kalian makan dan minum seperti yang kalian minum. Jika kalian mengikuti manusia yang seperti kalian ini, tentu kalian benar-benar akan rugi.’” [QS. Al-Mu`minûn [23]: 33-34] Mereka beralasan karena kemiskinan tanda kesesatan dan tidak dicintai Allah. Untuk itu, para pengikut Nabi Nuh ‘alaihissalam dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dilecehkan karena mereka adalah orang-orang miskin:
«فَقَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ مَا نَرَاكَ إِلَّا بَشَرًا مِثْلَنَا وَمَا نَرَاكَ اتَّبَعَكَ إِلَّا الَّذِينَ هُمْ أَرَاذِلُنَا بَادِيَ الرَّأْيِ وَمَا نَرَى لَكُمْ عَلَيْنَا مِنْ فَضْلٍ بَلْ نَظُنُّكُمْ كَاذِبِينَ»
“Dan para pembesar orang-orang kafir dari kaumnya (Nuh) berkata, ‘Kami tidak melihatmu kecuali manusia biasa dan kami melihat para pengikutmu hanya orang-orang rendahan di kalangan kami yang sedikit akalnya. Kami juga melihat bahwa kalian tidak memiliki kelebihan apapaun atas kami dan kami yakin kalian hanya para pendusta.’” [QS. Hûd [11]: 27]

2. Kebanyakan orang kaya sombong dan orang miskin tawadhu’.  Fir’aun menentang dakwah Nabi Musa dan Harun ‘alaihimassalam bukan karena tidak mengakui Rabb semesta alam, tetapi karena rasa sombong di dalam dirinya atas kekayaan melimpah dan kerajaan besar yang dimilikinya sehingga tidak rela menjadi pengikut dan diatur siapa pun. Allah subhanahu wa ta’ala menceritakan:
«وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا»
“Mereka (Fir’aun dan bala tentaranya) menentangnya (risalah Musa) padahal jiwa-jiwa mereka meyakininya (kebenaran risalah Musa), karena kezhaliman dan kesombongan.” [QS. An-Naml [27]: 14]

3. Orang-orang kaya dari umat Islam akan ditahan di sebuah tempat antara neraka dan surga untuk ditanyai (dimintai pertanggungjawaban) atas harta yang dimilikinya satu demi satu. Akhirnya mereka telat masuk surga. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«لَا تَزُولُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ، عَنْ عُمُرِهِ فِيمَ أَفْنَاهُ، وَعَنْ شَبَابِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ، وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ، وَمَاذَا عَمِلَ فِيمَا عَلِمَ»
“Telapak kaki anak Adam tidak akan bergeser di hari Kiamat dari sisi Rabb-nya hingga ditanya tentang 5 hal, yaitu tentang umurnya untuk apa dihabiskan, tentang masa mudanya untuk apa digunakan, tentang hartanya dari mana didapat dan untuk apa dibelanjakan, dan tentang amal atas apa yang diketahuinya.” [Hasan: HR. At-Tirmidzi (no. 2416, IV/612), ath-Thabarani (no. 760) dalam al-Mu’jam ash-Shaghîr, dan al-Bazzar (no. 1435) dalam Musnadnya dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Dinilai hasan al-Albani] Ternyata 2 dari 5 pertanyaan berkaitan dengan harta. Sangat sulit mempertanggungjawabkan pertanyaan mencari rezeki dengan cara yang halal, kalaupun selamat masih ada pertanyaan ke-2 ke mana dibelanjakan. Sungguh amat sulit dan sedikit yang lolos dengan selamat.

4. Allah dan Nabi-Nya mensifati orang kafir dengan gemar makan, minum, dan bersenang-senang, dan ini umumnya tidak mampu dilakukan kecuali oleh orang kaya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
«وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَهُمْ»
“Dan orang-orang kafir suka bersenang-senang dan makan seperti binatang ternak makan, sementara neraka adalah tempat tinggal mereka.” [QS. Muhammad [47]: 12] «المُؤْمِنُ يَأْكُلُ فِي مِعًى وَاحِدٍ، وَالكَافِرُ يَأْكُلُ فِي سَبْعَةِ أَمْعَاءٍ»
“Orang beriman makan dengan satu usus dan orang kafir makan dengan 7 usus.” [Muttafaqun ‘Alaih: HR. Al-Bukhari (no. 5393, VII/71) dan Muslim (no. 2060) dari Nafi’ dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhum]

Lebih Utama Mana, Kaya Syukur atau Miskin Sabar?

Syaikhul Islam Muhammad bin ‘Abdul Wahhab dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan bahwa yang paling utama adalah siapa di antara keduanya yang paling bertaqwa. Jadi tolok ukurnya bukan kaya atau miskin, syukur atau sabar, tetapi taqwa. Ini selaras dengan firman Allah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
«إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ»
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa.” [QS. Al-Hujurât [49]: 13] Sebagian ‘ulama` menganggap miskin sabar lebih utama, di antara mereka adalah ‘Ali al-Qari` dalam kitab al-Mirqah:
إِنْ لَمْ يَكُنْ دَلِيلٌ آخَرُ غَيْرَ هَذَا الْحَدِيثِ لَكَفَى حُجَّةً وَاضِحَةً عَلَى أَنَّ الْفَقِيرَ الصَّابِرَ خَيْرٌ مِنَ الْغَنِيِّ الشَّاكِرِ
“Andai saja tidak ada dalil lain selain hadits ini (hadits tentang lebih dahulunya orang miskin masuk surga dari orang kaya), niscaya telah mencukupi menjadi hujjah yang gamblang bahwa faqir yang sabar lebih utama daripada kaya yang syukur.” [Tuhfatul Ahwadzî (VII/17) oleh Abul ‘Ala` al-Mubarakfuri]

Renungan

Orang yang gemar mengumpulkan harta tatkala ditanya, sebagian mereka menjawab, “Kami gemar mengejar dunia untuk akhirat agar bisa banyak bersedekah di jalan Allah, membantu Islam dan kaum muslimin.” Jika ini benar tulus dari dalam hatinya, ternyata jerih payah mereka ini dalam bekerja siang dan malam juga bisa diperoleh pahalanya oleh orang miskin yang jujur niatnya. Tapi adakah mereka yang benar-benar meniatkan harta dan bisnisnya untuk Islam dan kaum muslimin? Tidak ada, kalau pun ada jumlah mereka sangat sedikit.

Penutup

Risalah ini tidak menganjurkan Anda untuk melarat atau lebih menyukai kemiskinan, bahkan dakwah lebih kuat jika ditopang dengan dana dari orang kaya. Pelajaran di sini adalah jangan terlalu menggebu mencari dunia dengan membabi buta lupa daratan lupa ibadah. Jika diberi Allah harta bersyukurlah dan belanjakan untuk fi sabilillah, dan jika diberi Allah hanya ala kadarnya (miskin), terimalah pemberian Allah ini dengan qanaah dan tidak perlu larut bersedih hati karena harta bukan ukuran kebahagiaan dan kemuliaan, karena ukuran kemulian dan kebahagiaan di sisi Allah adalah ketaqwaan. Maka bersemangatlah mencari yang satu ini nicaya Anda akan bahagia dan mulia.[]

Penulis buku “MUNGKINKAH AKU HAFAL SATU JUTA HADITS SEPERTI IMAM AHMAD BIN HANBAL??”, “ADA APA DENGAN BAHASA ARAB?”, “ARBAIN QUR’ANIYYAH”, dan “ARBA’IN MUTTAFAQUN ALAIH”, Penerjemah Kutaib PENGARUH IBADAH DALAM KEHIDUPAN karya Syaikh Abdul Muhsin al-Badr.

Pengelola situs http://terjemahmatan.blogspot.com

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*