at Tadzhib

At-Tahdzib fi Adillati Matn Al-Ghayah wa At-Taqrib

Brilly El-Rasheed Review Kitab 0 Comments

Adalah Kitab At-Tahdzib Fi Adillati Matnil Ghayati Wat Taqrib, karangan Dr Mushthafa Dib Al-Bigha. Kitab ini merupakan penjelasan terhadap kitab Matan Taqrib dengan mencantumkan ayat-ayat Al-Qur’an maupun hadits yang mendasarinya. Atau dengan kata lain, merupakan pendalilan terhadap kitab Matan Taqrib.

Disusun sedemikian rupa sehingga dapat membuktikan bahwa apa yang dinyatakan dalam Taqrib adalah bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhamma. Dalil-dalilnya adalah bagaikan benang emas yang mengikat dan menyelempangi hukum-hukum syar’i.

Kitab Taqrib

Adapun kitab Taqrib itu sendiri (Matnul Ghoyat Wat Taqrib), adalah tergolong kitab terbaik dalam Madzhab Imam Syafi’i. Susunan seorang Ulama besar ; Imam Abu Syuja’, seorang Menteri dan Hakim di Isfahan dengan nama lengkapnya Imam Ahmad bin Husain bin Ahmad Al-Asfahani,yang hidup pada abad V sampai VI Hijriyah (Lahir tahun 434 H, wafat tahun 593 H). Kitab ini termasuk klasifikasi Kitab Fiqih, dan memuat rumusan-rumusan praktis untuk pegangan kaum muslimin dalam kehidupan mereka sehari-hari. Bentuk dan kandungannya dalam format yang tipis, kecil, tetapi segala bab, segala hukum dan segala masalah-masalah fiqih, baik tentang ibadah, mu’amalah maupun yang lain, semuanya tercakup di dalamnya. Kalimat-kalimatnya cukup singkat, padat, jelas dan lugas.

Taqrib mendapat perhatian yang besar dari para Ulama sesudah Imam Abu Syuja’, sehingga lahir beberapa syarah (penjelasan dan komentar) atasnya, antara lain Fat-h Al-Qarieb, oleh Al-Ghazzie; Al-Iqna’, oleh Al-Khathib Asy-Syarbini; Al-Bujairimi ‘Ala Al-Iqna’, oleh Sulaiman Al-Bujairimi.

Dan tentu saja, At-Tahdzib ini.

Di kalangan umat Islam, Taqrib sangat amat terkenal, dan tidak ketinggalan di Indonesia, sehingga tiada satu pesantrenpun yang tidak mengajarkan. Beberapa penulis dan Kyai telah pula menerjemahkan, baik kedalam bahasa Indonesia maupun bahasa Daerah. Taqrib diajarkan secara rutin hampir di setiap masjid dan langgar/surau di berbagai tempat di Indonesia, bahkan juga dihapalkan teksnya sebagaimana menghapalkan bacaan shalat. Demikianlah Taqrib telah membudaya di kalangan kaum Muslimin Indonesia.

Pentingnya kehadiran At-Tahdzib

Berbicara tentang umat Islam Indonesia, rupanya kini tengah meniti proses perkembangannya lebih lanjut. Tampak gejala-gejala gerak-kembangnya umat dari –status kuantitas- menuju -status kualitas-, sehingga pada saatnya nanti, Insya Alloh umat Islam Indonesia menjadi umat yang tinggi kuantitas sekaligus kualitasnya. Setinggi Islam itu sendiri, sebagai suatu agama tertinggi yang tiada apapun melebihi ketinggiannya.

Karena tuntutan kualitas itulah, maka dituntut untuk dapat menampilkan kitab-kitab semacam Taqrib ini secara lebih segar dan meyakinkan. Apa yang telah dihasilkan oleh Dr Mushthofa Dib Al-Bigha dengan At-Tahdzib ini, kiranya dapat kita hargai sebagai ihtiar memenuhi tuntutan tersebut. At-Tahdzib ini menjadi sebuah kitab yang dihiasi dengan manik-manik dalil, yang khusus disusun pengarangnya untuk  memenuhi -kehausan- kaum pelajar atau yang memperdalam ilmu fiqih. Menjadi bashirah dalam agama, menambah yakin dalam syari’at, memantapkan aqidah dan keteduhan di dalam ibadah, serta lurus dalam laku dan gaul.

“At-Tahdzib Fi Adillati Matn Al-Ghayah Wa At-Taqrib”, memberikan isyarah bahwa dalil-dalil adalah bagai benang emas yang mengikat dan menyelempangi hukum-hukum syar’i. Selesai disusun beliau Malam Ahad, 12 Muharram 1398 H / 1 Februari 1978 M.

Walaupun, sebetulnya pembuktian akan benarnya isi muatan kitab-kitab bermadzhab Syafi’i itu (Taqrib) bukanlah sesuatu yang luar biasa; karena dalam beliau-beliau menyusun madzhabnya telah terlebih dulu mengkaji sedalam-dalamnya terhadap Al-Qur’an, Sunnah Nabi maupun Atsar Shahabat, dan juga ajaran para Ulama sebelum beliau. Sehingga ajaran madzhabnya terjamin kebenarannya dan kesesuaiannya dengan Nash Al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Tetapi, penelusuran dari suatu kitab sampai kepada Nash Al-Qur’an maupun Sunnah yang mendasarinya seperti ini, adalah hal patut dihargai serta dicontoh semua pihak serta layak digunakan.

Diolah dari iqbal1.wordpress.com/2011/12/16/resensi-kitab-taqrib-dan-atttadzdhieb/

(1) Pimred majalah TAUHIDULLAH; (2) Pimred majalah dan buletin AS-SHOLIHIN, (3) redaktur pelaksana majalah AL-AKHBAR, (4) editor dan layouter majalah AL IHSAN, (5) reporter majalah MEDIAN LPMP Jawa Timur, (6) kontributor lepas majalah AR-RISALAH, (7) kontributor tetap majalah LENTERA QOLBU, (8) kontributor lepas di majalah ELFATA, (9) editor in chief majalah digital QUANTUM FIQIH, (10) konseptor dan mantan redaktur pelaksana majalah FITHRAH, (11) mantan layouter sekaligus pimred buletin Jum’at THAYBAH, (12) redaktur penerbit PT. EFMS, (13) admin salah satu situs berita Islam Nasional dengan 20.000 visit/hari), (14) online marketing UD. SBY CORPORATION, (15) pengasuh situs THAYBAH.ID, (16) promotor penerbitan majalah donatur, (17) redaktur pelaksana majalah SUARA MASKUMAMBANG, (18) redaktur pelaksana majalah SEJAHTERA dan buletin jumat YATIM SEJAHTERA, dan (19) mengasuh 2 website dan belasan blog keislaman yang ‘hidup segan mati tak mau’ sebagai salah satu cara merehatkan diri, serta (20) penulis buku GOLDEN MANNERS, KUTUNGGU DI TELAGA AL-KAUTSAR, MENDEKAT KEPADA ALLAH, QUANTUM IMAN, yang bisa Anda dapatkan di Gramedia atau toko buku lainnya.

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*