zhalim

Sikap terhadap Pemimpin Zhalim

Brilly El-Rasheed Manhaj 0 Comments

Rasulullah memerintahkan kepada kita untuk berbuat baik kepada pemimpin, meluruskan kedustaan yang mereka lakukan dan mencegah kezhaliman mereka. Dari Ka’ab bin ‘Ujrah, Rasulullah berkata,

“Sesungguhnya sepeninggalku akan ada pemimpin-pemimpin. Maka barangsiapa yang berinteraksi dengan pemimpin, kemudian membenarkan kedustaan mereka, dan menolong mereka dalam berbuat zhalim, maka dia tidak termasuk golonganku, aku tidak termasuk golongannya, dan dia tidak akan menemuiku di telaga. Dan barangsiapa yang berinteraksi dengan pemimpin, kemudian tidak membenarkan kedustaan mereka, dan tidak menolong mereka dalam berbuat zhalim, maka dia termasuk golonganku dan aku termasuk golongannya, dan dia akan menemuiku di telaga.” [Shahih: Zhilal Al-Jannah no. 755, 758]

Menolong mereka atas kezhaliman mereka maknanya mencegah mereka dari berbuat zhalim. Dari Khabbab bin Al-Art, dia menceritakan, ”Rasulullah berkata, “Dengarkanlah!” Kami menyahut, ”Kami mendengarkan.” Beliau berkata lagi, ”Dengarkanlah!” Kami menyahut, ”Kami mendengarkan.” Beliau mengatakan itu dua atau tiga kali. Kemudian Rasulullah berkata,

“Sesungguhnya sepeninggalku akan ada pemimpin-pemimpin, maka jangan membenarkan kedustaan mereka, jangan menolong mereka dalam berbuat zhalim. Maka barangsiapa membenarkan kedustaan mereka, menolong mereka dalam berbuat zhalim, dia tidak akan menemuiku di telaga.” [Shahih: Zhilal Al-Jannah no. 757]

Dari Abu Sa’id Al Khudri, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Jihad yang paling utama ialah mengatakan kebenaran (berkata yang baik) di hadapan pemimpin yang zhalim.” [ Sunan Abu Daud no. 4344; Sunan At-Tirmidzi no. 2174; Sunan Ibnu Majah no. 4011]

Abu Daud membawakan hadits ini dalam kitab sunannya pada bab “Al-Amru wa An-Nahyu” yang bermakna mengajak pada kebaikan dan melarang dari kemungkaran. At-Tirmidzi membawakan hadits ini dalam kitab sunannya pada bab “Mengingkari kemungkaran dengan tangan, lisan atau hati”. Ibnu Majah membawakan hadits ini dalam bab “Memerintahkan pada kebaikan dan melarang dari kemungkaran.” An-Nawawi dalam Riyadh Ash-Shalihin membawakan hadits ini dalam bab “Memerintahkan pada kebaikan dan melarang dari kemungkaran.” Seperti ada kesepakatan, padahal masa hidup mereka berjauhan.

(1) Pimred majalah TAUHIDULLAH; (2) Pimred majalah dan buletin AS-SHOLIHIN, (3) redaktur pelaksana majalah AL-AKHBAR, (4) editor dan layouter majalah AL IHSAN, (5) reporter majalah MEDIAN LPMP Jawa Timur, (6) kontributor lepas majalah AR-RISALAH, (7) kontributor tetap majalah LENTERA QOLBU, (8) kontributor lepas di majalah ELFATA, (9) editor in chief majalah digital QUANTUM FIQIH, (10) konseptor dan mantan redaktur pelaksana majalah FITHRAH, (11) mantan layouter sekaligus pimred buletin Jum’at THAYBAH, (12) redaktur penerbit PT. EFMS, (13) admin salah satu situs berita Islam Nasional dengan 20.000 visit/hari), (14) online marketing UD. SBY CORPORATION, (15) pengasuh situs THAYBAH.ID, (16) promotor penerbitan majalah donatur, (17) redaktur pelaksana majalah SUARA MASKUMAMBANG, (18) redaktur pelaksana majalah SEJAHTERA dan buletin jumat YATIM SEJAHTERA, dan (19) mengasuh 2 website dan belasan blog keislaman yang ‘hidup segan mati tak mau’ sebagai salah satu cara merehatkan diri, serta (20) penulis buku GOLDEN MANNERS, KUTUNGGU DI TELAGA AL-KAUTSAR, MENDEKAT KEPADA ALLAH, QUANTUM IMAN, yang bisa Anda dapatkan di Gramedia atau toko buku lainnya.

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*