rumah desa

Perbanyak Berkumpul dan Berbincang dengan Orang yang Lebih Tua

Brilly El-Rasheed Adab, Akhlak Muamalah 0 Comments

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukanlah termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi orang muda diantara kami, dan tidak mengetahui kemuliaan orang-orang yang tua diantara kami” [HR. At-Tirmidzi]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallampun bersabda, “Bukan termasuk golonganku orang yang tidak menyayangi orang muda diantara kami dan tidak menghormati orang yang tua” [HR. At-Tirmidzi].

Menghormati orang yang tua bukan hanya budaya, namun bagian dari akhlak mulia dan terpuji yang diseru oleh Islam. Hal ini dilakukan dengan cara memuliakannya dan memerhatikan hak-haknya. Terlebih, bila disamping tua umurnya, juga lemah fisik, mental, dan status sosialnya. Nabi n bersabda, “Barangsiapa tidak menyayangi anak kecil kami dan tidak mengenal hak orang tua kami maka bukan termasuk golongan kami.” [HR. Al-Bukhari dalam Al-Adab, lihat Shahih Al-Adab Al-Mufrad no. 271]

Hadits ini merupakan ancaman bagi orang yang menyia-nyiakan dan meremehkan hak orang yang sudah tua, di mana orang tersebut tidak di atas petunjuk Nabi dan tidak menepati jalannya. Al-Imam At-Tirmidzi rahimahullah menjelaskan, “Berkata sebagian ulama bahwa makna sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam “Bukan termasuk golonganku” adalah “Bukan termasuk sunnah kami, bukan termasuk adab kami” [Sunan At Tirimidzi, 4/322]

Hadits di atas dengan jelas memberikan pengertian kepada kita tentang keutamaan menghormati orang tua atau orang yang lebih tua daripada kita, menghormati mereka adalah termasuk sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan orang yang tidak menghormati mereka berarti tidak mengikuti sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam masalah ini.

Keutamaan menghormati orang yang lebih tua juga tercantum dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya termasuk mengagungkan Allah adalah menghormati orang muslim yang sudah tua” [HR. Abu Dawud] “Sesungguhnya termasuk mengagungkan Allah adalah menghormati seorang muslim yang beruban [sudah tua], pembawa Al-Qur’an yang tidak berlebih-lebihan padanya [dengan melampaui batas] dan tidak menjauh [dari mengamalkan] Al-Qur’an tersebut, serta memuliakan penguasa yang adil.” [HR. Abu Dawud. Shahih At-Tarhib no. 92]

Orang tua tentunya telah melewati berbagai macam tahapan hidup di dunia ini sehingga setumpuk pengalaman dimilikinya. Orang yang telah mencapai kondisi ini biasanya ketika hendak melakukan sesuatu telah dipikirkan matang-matang. Terlebih lagi, disamping banyak pengalamannya, juga mendalam ilmu dan ibadahnya. Rasulullah bersabda, “Barakah itu bersama orang-orang tua dari kalian.” [HR. Ibnu Hibban, Al-Hakim, dll, lihat Shahihul Jami’ no. 2884]

Menghormati orang yang lebih tua, baik dari segi usia, ilmu, pengalaman dan lain sebagainya adalah amalan yang mulia dan berpahala, sebagai makna terbalik dari meremehkan orang lain merupakan perbuatan dosa. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Cukuplah kejelekan bagi seseorang dengan meremehkan saudara muslimnya. Setiap muslim haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya atas muslim yang lain.” [HR. Muslim No. 2564]

Muhammad Ali Farkus hafizhahullah menasehatkan, zhahir dari nash-nash yang membahas tentang adab menunjukkan bahwa faktor usia itu dipertimbangkan dalam prioritas memuliakan seseorang dalam banyak kasus. Sebagaimana dalam hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Jibril memerintahkan aku untuk mengutamakan orang-orang tua” [HR. Abu Bakr Asy-Syafi’i dalam Al-Fawa’id, 9/97/1; Ahmad, 6191; Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubra, 173. Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, 4/74]

Jibril memerintahkan Nabi untuk mengutamakan orang yang lebih tua dalam hal usia. Inilah yang dipahami secara haqiqah [eksplisit]. Adapun jika dipahami kabir di sini adalah secara konotatif, semisal orang yang lebih tinggi ilmunya, maka ini dipahami secara majaz [makna konotatif]. Ada kaidah fiqih yang berbunyi, “Al-Haqiqah lebih didahulukan daripada Al-Majaz”.

Hal ini ditunjukkan juga oleh hadits Al-Qisamah, yaitu ketika ‘Abdurr Rahman bin Sahl hendak berbicara sebelum orang lain padahal ketika itu ia yang paling muda, akan tetapi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam bersabda, “Dahulukanlah yang besar (tua).” [HR. Al-Bukhari, 3002; Muslim, 4342]. Maksudnya adalah lebih besar usianya [Lihat Syarah Shahih Muslim Lin Nawawi, 11/146].

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengisahkan, “Pernah ketika Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam sedang bersiwak ada dua orang lelaki. Lalu diwahyukan kepada beliau untuk mendahulukan yang lebih tua, maksudnya mengambilkan siwak untuk orang yang lebih tua.”

Jika telah ada nash tentang mengutamakan orang yang tua dalam berbicara, dalam bersiwak, maka diterapkan juga pada semua jenis pemuliaan, termasuk dalam berjabat tangan, kecuali ada dalil yang mengecualikan. Seperti dalam masalah prioritas imam shalat, maka lebih didahulukan orang yang lebih pandai membaca Al Qur’an, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, “Orang yang mengimami sekelompok orang adalah yang paling pandai membaca Al Qur’an. Jika mereka semua sama dalam kepandaian membaca Al-Qur’an, maka yang lebih pandai terhadap As-Sunnah. Jika mereka sama dalam kepandaiannya terhadap As-Sunnah, maka yang lebih dahulu hijrah (dari Makkah ke Madinah). Jika mereka sama dalam hijrah, maka yang lebih tua usianya.” [HR. Abu Daud, 50; Dihasankan Ibnu Hajar dalam Fathul Baari, 1/357. Silsilah Al-Ahadits Ash Shahihah, 4/76]

Juga dalam adab memberikan minuman, maka dimulai dari yang kanan walau bukan yang paling tua. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam tentang hal ini, “Dari yang kanan lalu kanan selanjutnya” [HR. Al-Bukhari, 2225; Muslim, 5282]

Dalam menerangkan hadits ‘Jibril memerintahkan aku untuk mengutamakan orang-orang tua’, Al-Munawi rahimahullah mengutarakan, “Hadits ini dalil bahwa usia itu adalah faktor yang dipertimbangkan dalam prioritas. Hadits ini dapat dijadikan dalil dalam banyak pembahasan fiqih lebih lagi asababul wurud hadits adalah tentang akhlak dalam bersiwak, sehingga bisa diterapkan dalam semua bentuk pemuliaan. Seperti dalam menaikin kendaraan, makan, minum, memakai sandal, berobat, selama tidak ada yang lebih diutamakan dari faktor usia. Jika ada yang lebih diutamakan dari faktor usia, maka ia yang diutamakan, semisal masalah prioritas imam shalat, pemilihan kepala negara, wali nikah, memberikan minum pada yang sebelah kanan dahulu. Dan mendahulukan yang lebih tua juga selama tidak bertentangan dengan hadits. Karena hadits ini bukanlah dalil bahwa yang lebih tua usianya itu didahulukan dalam segala hal, namun faktor usia itu dipertimbangkan dalam menentukan prioritas” [Faidh Al-Qadir, 2/193]

Saya katakan, secara umum dahulukanlah yang lebih tua jika memang orangnya banyak, sebagai bentuk muamalah yang baik. Dan jika orang yang diajak berjabat tangan itu usianya tidak jauh berbeda, atau orang-orang yang tua jelas tidak terlihat letaknya, atau orang yang tua-tua kebetulan ada di sebelah kanan, maka ini semua tidak bertentangan dengan hadits anjuran mendahulukan kanan. [Sumber: http://www.ferkous.com/site/rep/Bq116.php]

Guna melaksanakan sunnah Nabi berupa memuliakan orang yang lebih tua ini jelas tidak bisa kita lakukan kecuali kita berada di tengah-tengah orang-orang yang lebih tua, dalam artian kita berkumpul dan berbincang-bincang dengan mereka, yang mana hal tersebut dapat meningkatkan wawasan kita tanpa mengalami apa yang sudah mereka alami, sehingga kita bisa lebih dewasa daripada umur kita.

(1) Pimred majalah TAUHIDULLAH; (2) Pimred majalah dan buletin AS-SHOLIHIN, (3) redaktur pelaksana majalah AL-AKHBAR, (4) editor dan layouter majalah AL IHSAN, (5) reporter majalah MEDIAN LPMP Jawa Timur, (6) kontributor lepas majalah AR-RISALAH, (7) kontributor tetap majalah LENTERA QOLBU, (8) kontributor lepas di majalah ELFATA, (9) editor in chief majalah digital QUANTUM FIQIH, (10) konseptor dan mantan redaktur pelaksana majalah FITHRAH, (11) mantan layouter sekaligus pimred buletin Jum’at THAYBAH, (12) redaktur penerbit PT. EFMS, (13) admin salah satu situs berita Islam Nasional dengan 20.000 visit/hari), (14) online marketing UD. SBY CORPORATION, (15) pengasuh situs THAYBAH.ID, (16) promotor penerbitan majalah donatur, (17) redaktur pelaksana majalah SUARA MASKUMAMBANG, (18) redaktur pelaksana majalah SEJAHTERA dan buletin jumat YATIM SEJAHTERA, dan (19) mengasuh 2 website dan belasan blog keislaman yang ‘hidup segan mati tak mau’ sebagai salah satu cara merehatkan diri, serta (20) penulis buku GOLDEN MANNERS, KUTUNGGU DI TELAGA AL-KAUTSAR, MENDEKAT KEPADA ALLAH, QUANTUM IMAN, yang bisa Anda dapatkan di Gramedia atau toko buku lainnya.

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*