pendidikan anak

Pengaruh Amal Sholeh Orang Tua terhadap Pendidikan Anak

Brilly El-Rasheed Adab, Fiqih 0 Comments

Pada edisi lalu, sudah dimuat bagian pertama dari pembahasan ini. Di mana amal sholih orang tua memiliki pengaruh dalam perkembangan dan kesholihan anak-anaknya. Adapun pada edisi ini, kami muat bagian kedua, sebagai kelanjutan dari pembahasan pertama, yang meliputi keteladanan anak pada orang tuanya yang beramal sholih, pujian terhadap anak karena kesholihan orang tuanya dan manfaat amal sholih orang tua pada anak di akhirat.

Anak akan meneladani orang tuanya dalam beramal sholeh

Di antara pengaruh amal sholih kedua orang tua dalam pendidikan anak adalah anak akan meneladani orang tuanya.

Seorang anak yang melihat ayahnya senantiasa berdzikir, bertahlil, bertahmid, bertasbih dan bertakbir, ia akan menirukan perkataanya “Laa ilaaha illallooh” , “Subhaanalloh” dan“Alloohu akbar”.

Begitu pula anak yang diperintahkan oleh ayahnya di malam hari untuk membagikan shodaqoh kepada orang-orang fakir secara rahasia di rumah-rumah mereka akan berbeda dengan anak yang diperintahkan oleh ayahnya di malam hari untuk membeli narkotik dan rokok.

Seorang anak yang melihat ayahnya berpuasa Senin dan Kamis, menunaikan sholat Jum’at, sholat jama’ah dan pergi ke masjid tidak sama dengan anak yang melihat ayahnya di tempat-tempat pertunjukan, hiburan dan bioskop.

Anda akan melihat anak yang banyak mendengar adzan, ia akan menirukannya secara berulang-ulang. Sedangkan seorang anak yang mendengar ayahnya bernyanyi, ia akan menirukan nyanyian-nyanyian secara terus-menerus.

Hendaknya seseorang senantiasa berbuat baik kepada kedua orang tuanya dengan mendo’akan keduanya, memohonkan ampun untuk keduanya, berupaya mengetahui keadaan keduanya, merasa tenang dengan keduanya, memenuhi kebutuhan keduanya, banyak mengucapkan “Robbighfirlii wa liwaalidayya” , senantiasa mengucapkan “Robbirham humaa kamaa robbayaanii shoghiiroo“, berziarah ke kuburan keduanya setelah meninggal dunia, banyak bershodaqoh untuk keduanya, menyambung hubungan dengan orang yang memiliki hubungan dengan keduanya dan memberi orang yang dulu diberi oleh keduanya. Apabila si anak melihat akhlak ini pada kedua orangtuanya, maka ia dengan idzin Alloh akan mengambil / meniru akhlak tersebut. Ia akan memohonkan ampun untuk kedua orang tuanya setelah kedua orangtuanya meninggal dunia. Dan ia akan memperlakukan kedua orangnya sebagaimana yang ia melihat keduanya memperlakukan kedua orangtuanya.

Anak yang diajari oleh ayahnya sholat tidak seperti anak yang dilatih oleh ayahnya main film, musik dan bola.

Anak yang melihat ayahnya melakukan sholat malam, menangis karena takut kepada Alloh dan membaca al-Qur’an, pastilah akan berfikir: Kenapa ayahku menangis? Kenapa ayahku sholat? Kenapa dia meninggalkan tidur menuju air yang dingin dan berwudhu, padahal tempat tidur itu hangat? Kenapa menjauhkan dirinya dari tempat tidur dan berdoa kepada Robbnya dengan takut dan harap?

Semua pertanyaan-pertanyaan ini akan terbetik pada benak anak dan akan dipikirkannya serta akan ditirunya dengan idzin Alloh.

Begitu juga seorang anak perempuan yang melihat ibunya senantiasa mengenakan hijab supaya tidak terlihat oleh kaum laki-laki, di mana ibunya terselimuti rasa malu, terhiasi dengan sifat waqar (tenang dan wibawa) dan nampak padanya iffah dan kesucian, ia akan belajar dari ibunya sifat malu, waqor, iffah dan kesucian. Adapun anak perempuan yang biasa melihat ibunya menampakkan aurat di hadapan kaum laki-laki, berjabat tangan denga kaum laki-laki yang bukan mahromnya, berbicara dengan mereka, bercampur dengan mereka dan duduk-duduk dengan mereka, tertawa dan tersenyum kepada mereka bahkan menari dalam tarian-tarian, ia akan belajar dari ibunya juga.

Maka bertakwalah kepada Alloh wahai ayah dan ibu pada anak laki-laki dan anak perempuannmu! Jadilah teladan yang baik bagi mereka dengan akhlak, tabiat dan sifat yang baik. Dan landasilah semuanya, dengan berpegang teguh pada agama serta kecintaan kepada Alloh dan Rosululloh.

Pujian terhadap anak karena kesholihan orang tuanya

Amal sholih kedua orang tua dapat menjadi sebab orang-orang memuji anak-anaknya dan sebaliknya amal yang buruk dapat menjadi sebab orang-orang mencela anak-anaknya. Di mana semuanya akan berpengaruh pada kejiwaan dan mental anak.

Maka janganlah anda wahai ayah dan anda wahai ibu, menjadi sebab celaan terhadap anak-anak. Di mana mereka dicela dengan sebab anda. Apakah anda ridho bila dikatakan kepada anakmu bahwa ayahmu seorang pencuri? Atau ayahmu seorang penzina? Ibumu memasukkan orang laki-laki yang bukan mahromanya di dalam rumah? Atau si fulan dari kaum laki-laki yang bukan mahromnya berkholwat dengan ibumu? Apakah anda ridho bila dikatakan kepada anak anda bahwa ayahmu seorang yang suka menyelisihi janji.

Perkara-perkara tersebut menghancurkan kejiwaan anak-anak sedangkan anda tidak menyadari. Sebaliknya anak apabila dikatakan kepadanya ayahmu seorang yang sholih dan ulama, ayahmu seorang pemberani, ayahmu dulu pernah mendamaikan orang-orang yang berselisih, berbuat baik kepada orang fakir dan memberi makan orang miskin, ayahmu seorang yang tekun melakukan ibadah thowaf, i’tikaf, ruku’dan sujud. Apabila dikatakan kepadanya perkara-perkara yang baik tersebut, maka jiwanya akan tumbuh menjadi mulia, akhlaknya berkembang dan dia akan bersemangat untuk melakukan kebaikan. Adapun anak yang mendengarkan olok-olokan orang kepada dirinya dengan julukan-julukan yang tidak baik dan celaan-celaan orang dengan keburukan-keburukan yang dilakukan oleh kedua orang tuanya,maka hal itu akan menghancurkannya.

Sesungguhnya Alloh mengingatkan anak-anak dengan kebaikan orang tua untuk menganjurkan mereka supaya beriman, bersyukur dan beramal sholih. Alloh berfirman, yang artinya:

“(yaitu) anak cucu dari orang-orang yang Kami bawa bersama-sama Nuh. Sesungguhnya dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur.” (QS. Al-Isro’:3)

Artinya, wahai anak keturunan orang-orang beriman yang naik perahu bersama nabi Nuh, bapak-bapak kalian adalah orang-orang beriman sebab tidak naik perahu bersama Nuh kecuali orang yang memiliki iman. Ingatlah terhadap syukurnya karena dia adalah hamba yang banyak bersyukur. Maka jadilah kalian seperti bapak-bapak kalian yang sholih. Dan Allloh dalam beberapa ayat berfirman:

“Hai Bani Israil”

Artinya, wahai anak-anak nabi Israil yaitu Yaqub. Dalam hal ini terdapat pengingatan dengan bapak yang sholih, kakek yang sholih dan nabi yang mulia. Dan pengingatan ini membawa anak keturunannya untuk mencontoh bapaknya dalam kebaikan dan kesholihan.

Berkaitan dengan ini, kaumnya maryam berkata kepada maryam, artinya:

Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang penjahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang penzina”. (QS. Maryam:28)

Maka bertaqwalah kepada Alloh wahai ayah pada anak laki-laki dan anak perempuanmu. Dan bertaqwalah kepada Alloh, wahai ibu pada anak laki-laki dan anak perempuanmu bahkan pada cucu-cucumu juga.

Anak yang sholih mendapatkan manfaat dari keshalihan kedua orang tuanya diakhirat

Orang tua yang sholih akan dipertemukan oleh Alloh dengan anak-anaknya yang sholih meskipun amalnya kurang dibandingkan dengan amal orang tuanya. Alloh berfirman, yang artinya:

“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka.Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. Ath-Thuur:21)

Maka apabila seorang anak tidak mencapai dengan amalnya kedudukan ayahnnya, maka Alloh akan menyertakan dengan ayahnya tanpa mengurangi haknya.

Demikian penjelasan beberapa pengaruh amal sholih pada pendidikan anak. Maka hendaknya para orang tua menyadari akan pentingnya amal sholih. Di mana, dapat mendatangkan kebaikan dan manfaat yang besar bagi diri dan anak keturunannya. Di samping itu, amal sholih merupakan sarana pendidikan yang penting tetapi dilalaikan oleh banyak orang. Marilah kita didik diri kita dan anak-anak kita dengan yang diperintahkan oleh Alloh dan Rasul-Nya, pendidikan yang mengantarkan diri dan anak-anak kita menjadi orang-orang sholih. Yaitu orang-orang yang dijanjikan oleh Alloh mendapatkan dua kebahagiaan, kebahagiaan dunia dan kebahagiaan di akhirat. Semoga Alloh senantiasa membimbing kita semua dalam menempuh jalan yang dicintai dan diridhoinya. Amiin.

(Diadaptasikan dari Fiqhu Tarbiyatil Abnaa’, Syaikh Musthofa bin Al-Adawi)

Diadopsi dari majalahlenteraqolbu.wordpress.com

(1) Pimred majalah TAUHIDULLAH; (2) Pimred majalah dan buletin AS-SHOLIHIN, (3) redaktur pelaksana majalah AL-AKHBAR, (4) editor dan layouter majalah AL IHSAN, (5) reporter majalah MEDIAN LPMP Jawa Timur, (6) kontributor lepas majalah AR-RISALAH, (7) kontributor tetap majalah LENTERA QOLBU, (8) kontributor lepas di majalah ELFATA, (9) editor in chief majalah digital QUANTUM FIQIH, (10) konseptor dan mantan redaktur pelaksana majalah FITHRAH, (11) mantan layouter sekaligus pimred buletin Jum’at THAYBAH, (12) redaktur penerbit PT. EFMS, (13) admin salah satu situs berita Islam Nasional dengan 20.000 visit/hari), (14) online marketing UD. SBY CORPORATION, (15) pengasuh situs THAYBAH.ID, (16) promotor penerbitan majalah donatur, (17) redaktur pelaksana majalah SUARA MASKUMAMBANG, (18) redaktur pelaksana majalah SEJAHTERA dan buletin jumat YATIM SEJAHTERA, dan (19) mengasuh 2 website dan belasan blog keislaman yang ‘hidup segan mati tak mau’ sebagai salah satu cara merehatkan diri, serta (20) penulis buku GOLDEN MANNERS, KUTUNGGU DI TELAGA AL-KAUTSAR, MENDEKAT KEPADA ALLAH, QUANTUM IMAN, yang bisa Anda dapatkan di Gramedia atau toko buku lainnya.

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*