kematian

Mengingat Kematian

Brilly El-Rasheed Penyejuk Hati 0 Comments

Oleh Ustadz Abu Ghozie As-Sundawie

Kematian merupakan sebesar-besar petaka yang menimpa kepada manusia dalam kehidupan dunia, Allah ‘Azza wa Jalla menyebutkan di dalam al-Quran bahwa kematian itu musibah. Allah Ta’Ala berfirman, “jika kamu dalam perjalanan di muka bumi Lalu kalian ditimpa musibah kematian.”[1]

Hal itu dikarenakan kematian merupakan pergantian dari satu kondisi kepada kondisi yang lain, perpindahan dari satu tempat ketempat yang lain. Al-Imam Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah berkata,

“Petaka terbesar yang menimpa kepada seorang hamba dalam kehidupan dunia adalah kematian, sedangkan apa yang terjadi setelahnya lebih berat lagi.[2]

Kematian merupakan musibah dan petaka besar yang menimpa kepada hamba. Akan tetapi musibah yang lebih besar dari itu semua adalah lalainya seseorang dari kematian, lupa dari mengingatnya, tidak merenungi dan mentadabburinya, sehingga tidak peduli dan tidak mempersipkan diri akan datangnya peristiwa yang menghancurkan segala kenikmatan ini. Rasulullah menganjurkan serta memerintahkan untuk banyak mengingat, merenungkan dan memikirkan kematian.

Abu Hurairah mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan.” Maksudnya adalah kematian .”[3]

Berdasarkan Sabda Nabi ini para ulama menyatakan disyari’atkannya mengingat kematian bahkan ini merupakan ijma’ para ulama. Berkata al-Wazir Ibnu Hubairah,

“Mereka (para ulama) telah sepakat atas dianjurkannya mengingat kematian”.

Ibnu Umar mengatakan,

“Aku sedang bersama Rasulullah tiba-tiba datang seorang lelaki dari kalangan Anshar, kemudian ia mengucap salam kepada Nabi dan bertanya, ‘Wahai Rasulullah, orang mukmin bagaimanakah yang paling baik?’ Beliau menjawab, ‘Orang yang paling baik akhlaknya dari mereka’ Ia bertanya lagi, ‘Orang mukmin bagaimanakah yang bijak?’ Beliau menjawab, ‘Orang yang paling banyak mengingat kematian di antara mereka, dan yang paling baik persiapan setelah mengingatnya, dan mereka itulah orang-orang yang bijak.’.”[4]

Oleh karena itu Islam menganjurkan untuk berziarah kubur yang diantara hikmahnya adalah agar ingat kepada kematian.

Abu Hurairah meriwayatkan,

“Rasulullah menziarahi kubur ibunya, lalu beliau menangis, dan orang-orang yang ada di sekelilingnya pun turut menangis. Beliau bersabda, “Aku telah minta izin kepada Allah untuk meminta ampunan bagi ibuku, namun Allah tak memberiku izin, kemudian aku minta izin untuk berziarah ke kuburnya barulah aku diizinkan. Oleh karena itu kunjungilah pemakaman karena ia akan mengingatkan kita pada kematian.[5]

Dari Hadits yang mulia ini terdapat faedah bolehnya seorang muslim menziarahi kubur orang kafir akan tetapi tidak boleh mendoakannya atau memohonkan ampunan untuknya sebagaimana yang disyari’atkan memohonkan ampunan untuk sudaranya yang muslim.

Allah berfirman, “Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam.”[6]

Hikmah menziarahi kubur orang kafir adalah sebagai pengingat kematian saja, yaitu untuk mengambil pelajaran. Rasulullah bersabda,

“Aku dahulu melarang kalian menziarahi kubur, maka sekarang ziarahilah kubur karena padanya ada pelajaran.[7]

Penjelasan lebih lengkap simak di majalah al-Ihsan edisi 2, terbitan Yayasan As Sunnah Pasuruan, Jawa Timur. Harga hanya Rp 10.000,- (Ukuran A4).


[1]     QS Al-Maidah (5): 106

[2]     Jami’ul ‘Ulum wal Hikam 1/190

[3]     HR. at-Tirmidzi no. 2307

[4]     HR. Ibnu Majah no. 4259. Shahih Sunan Ibnu Majah 2/419 : 3435

[5]     Mukhtashar Shahih Muslim : 498

[6]     QS. at-Taubah (9): 113

[7]     HR. Ahmad 3/38.

(1) Pimred majalah TAUHIDULLAH; (2) Pimred majalah dan buletin AS-SHOLIHIN, (3) redaktur pelaksana majalah AL-AKHBAR, (4) editor dan layouter majalah AL IHSAN, (5) reporter majalah MEDIAN LPMP Jawa Timur, (6) kontributor lepas majalah AR-RISALAH, (7) kontributor tetap majalah LENTERA QOLBU, (8) kontributor lepas di majalah ELFATA, (9) editor in chief majalah digital QUANTUM FIQIH, (10) konseptor dan mantan redaktur pelaksana majalah FITHRAH, (11) mantan layouter sekaligus pimred buletin Jum’at THAYBAH, (12) redaktur penerbit PT. EFMS, (13) admin salah satu situs berita Islam Nasional dengan 20.000 visit/hari), (14) online marketing UD. SBY CORPORATION, (15) pengasuh situs THAYBAH.ID, (16) promotor penerbitan majalah donatur, (17) redaktur pelaksana majalah SUARA MASKUMAMBANG, (18) redaktur pelaksana majalah SEJAHTERA dan buletin jumat YATIM SEJAHTERA, dan (19) mengasuh 2 website dan belasan blog keislaman yang ‘hidup segan mati tak mau’ sebagai salah satu cara merehatkan diri, serta (20) penulis buku GOLDEN MANNERS, KUTUNGGU DI TELAGA AL-KAUTSAR, MENDEKAT KEPADA ALLAH, QUANTUM IMAN, yang bisa Anda dapatkan di Gramedia atau toko buku lainnya.

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*