puncak

Menggapai Puncak Tertinggi Cita-Cita

Abu Ukasyah Chardian, S.T. Penyejuk Hati 0 Comments

Dulu saat duduk di bangku kelas 1 SD, kita sering ditanya oleh guru kita “kalau sudah besar, anak-anak mau jadi apa?”. Dengan bersemangat ada yang menjawab ingin jadi dokter, ingin jadi pilot, ingin jadi tentara, ingin jadi polisi, ingin jadi ustadz, bahkan ingin jadi presiden. Semua itu adalah cita-cita yang besar dari anak-anak yang notabene “menghitung  perkalian” pun belum bisa.

Tidak hanya itu, bahkan ketika duduk di bangku perkuliahan kita masih sering mendapat pertanyaan semacam ini, “Apa cita-citamu? Apa impianmu?” Tentu jawaban kita lebih rasional dan bijaksana ketimbang saat kelas 1 SD.

Seorang mahasiswa adalah seorang yang memiliki bekal pemikiran yang luas, mampu menentukan sikap dan langkah, kreatif, berpikir jauh kedepan, mengetahui mana yang bermanfaat dan mana yang tidak bermanfaat. Kelebihan-kelebihan tersebut hendaklah dibarengi dengan kuatnya ilmu agama dalam dirinya. Dengan ilmu agama yang benar, dia mampu mengoptimalkan potensi yang dimiliki di jalur yang di ridhoi oleh Allah subhaanahu wata’ala.

Orang muslim yang cerdas adalah orang yang memanfaatkan segala apa yang dimilikinya dan apa yang dilakukannya untuk mendulang pahala di sisi Allah subhaanahu wata’ala. Dia tidak rela dan merasa sangat rugi apabila pekerjaan yang dilakukannya tidak mendatangkan pahala di sisi Allah subhaanahu wata’ala.

Allah subhaanahu wata’ala melalui lisan rasul-Nya shallallahu’alaihi wasallam memerintahkan kepada kita untuk bersemangat di dalam hal-hal yang bermanfaat bagi kita, baik dalam urusan dunia maupun urusan akhirat. Sebagaimana di dalam hadits yang diriwayatkan oleh imam muslim, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,  “Bersemangatlah terhadap hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah kepada Allah, dan janganlah engkau lemah.” [HR. Muslim]

Disaat kita bersemangat di dalam hal-hal yang bermanfaat bagi kita, maka janganlah kita lupa untuk senantiasa memohon pertolongan kepada Allah subhaanahu wata’ala agar dimudahkan dalam urusan-urusan tersebut. Allah subhaanahu wata’ala adalah tempat kita bergantung. Seberapapun besarnya kekuatan yang kita siapkan untuk berbuat, tetapi jika Allah subhaanahu wata’ala tidak mengizinkan tercapai maka hal tersebut tidak akan tercapai.

Memohon pertolongan kepada Allah subhanaahu wata’ala kemudian berusaha semaksimal mungkin, adalah kunci untuk mencapai puncak tertinggi dari cita-cita yang kita impikan. Apapun cita-cita kita, menjadi dokter, pilot, tentara, polisi, ustadz bahkan presiden, yang utama adalah berniat ikhlas karena Allah subhaanahu wata’ala dan menjadikan cita-cita yang diraih sebagai sarana untuk mendulang pahala disisi Allah subhaanahu wata’ala.

Ketika menjadi dokter, jadilah dokter yang jujur, ketika menjadi ustadz jadilah ustadz yang benar-benar menyeru kepada jalan Allah subhanaahu wata’ala, ketika menjadi presiden jadilah presiden yang amanah. Ingatlah, bahwa apapun yang kita lakukan akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah subhanaahu wata’ala kelak.

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*