mencium mushaf

Mencium Mushaf, Bid’ah ?

Brilly El-Rasheed Fatwa Ulama, Tanya Ustadz 0 Comments

Dijawab oleh Brilly El-Rasheed

Bismillah, memang beberapa tahun lalu sempat mencuat pendapat dari beberapa ulama bahwa mencium mushaf adalah merupakan bid’ah yang harus ditinggalkan. Sebagaimana diungkapkan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dalam video berikut.

Bersamaan dengan itu ternyata, ada pula ulama yang membolehkannya, karena tidak ada larangannya dari Nabi, sekaligus perbuatan tersebut sebagai bentuk pengagungan dan cinta kepada firman Allah Ta’ala.

Syaikh Ibnu Baz memfatwakan, “Begitu juga mencium mushaf Al-Qur’an tidak mengapa (tidak dilarang). Tidak bisa disebut perbuatan bid’ah. Ia termasuk bab ta’dzim (pengagungan) terhadap Al-Qur’an. Dan juga bentuk cinta kepadanya.” Kemudian beliau menukil riwayat dari Ikrimah bin Abu Jahal Radhiyallahu ‘Anhu, ia mencium mushaf Al-Qur’an. Ia berkata, “ini kalam Tuhanku.” Tetapi hal tersebut tidak disyariatkan. Karenanya meninggalkannya itu lebih utama. Namun jika ia mau menciumnya –karena pengagungan dan kecintaannya- itu tidak apa-apa. (Fatawa Nur ‘Ala al-Darbi: 26/248, dinukil dari www.binbaz.org.sa)

Beliau juga pernah ditanya tentang mencium mushaf setelah mushaf itu terjatuh dari tempat yang tinggi. Beliau menjawab, “Kami tidak mengetahui ada satu dalil yang menunjukkan disyariatkannya mencium mushaf. Tetapi kalau ada seseorang menciumnya maka tidak apa-apa. Diriwayatkan dari seorang sahabat mulia Ikrimah bin Abi Jahal Radhiyallahu ‘Anhu, ia pernah mencium mushaf. Lalu beliau berkata, “Ini kalam Tuhanku.” Dalam kondisi apapun, tidak masalah mencium mushaf, tetapi perkara itu tidak diperintahkan. Tidak ada satu dalilpun yang menunjukkan disyariatkannya hal itu. Akan tetapi kalau ada seseorang menciumnya sebagai ta’dzim (pengagungan), memuliakan dan menghormatinya saat ia terjatuh dari tangannya atau terjatuh dari tempat tinggi, maka, insya Allah dalam hal itu tidak apa-apa dan tidak berdosa.” (Fatawa Nuur ‘Ala al-Darb: 26/247)

Ketika ditanya tentang mencium mushaf saat akan membacanya, adakah dalilnya? Beliau menjawab, “Tidak ada dalilnya itu. Meninggalkanya lebih utama. Diriwayatkan dari Ikrimah bin Abi Jahal Radhiyallahu ‘Anhu, ia pernah mencium mushaf. Tetapi saya tidak mengetahui keshahihan riwayat itu darinya. Maka yang lebih utama meninggalkan hal itu.”

Al-Imam As-Subki menjelaskan, kebolehan mencium mushaf diqiyaskan dengan mencium hajar aswad, tangan orang yang alim, orang yang sholih dan orang tua, karena sudah maklum bahwasanya al-qur’an lebih mulia dari pada hal-hal tersebut. Sebagaimana dalam kitab Hasyiyah Asy-Syarwani Ala Tuhfatul Muhtaj, Juz : 1 Hal : 155

Bahkan menurut sebagian ulama’ mencium mushaf hukumnya sunat, sebagaimana difatwakan oleh Syekh Ibnu Abis Shoif, pendapat ini didasarkan pada kesunatan mencium hajar aswad. Al-Imam An-Nawawi dalam kitab “At-Tibyan Fi Adabi Hamalatil Qur’an” meriwayatkan ;

“Dari Ibnu Abi Malikah, bahwasanya Ikrimah bin Abu Jahal meletakkan mushaf pada mukanya, sambil berkata : “Kitab Tuhanku”.” [Sunan Ad-Darimi, no. 3393]

Al-Hafizh As-Suyuthi dalam kitab beliau, “Al-Itqon Fi Ulumil Qur’an” menjelaskan bahwa hukum mencium al-qur’an adalah sunat berdasarkan riwayat yang menyatakan bahwa Ikrimah bin Abu Jahal melakukannya, dan diqiyaskan pada kesunatan mencium hajar aswad. Selain itu, Al-qur’an adalah hadiah (pemberian) dari Alloh subhanahu wata’ala, maka dari itu dianjurkan untuk menciumnya sepertihalnya disunatkan untuk mencium anak kecil (yang juga merupakan karunia dari Allah).

Andapun dapat mencermati fatwa Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah, Juz : 13 Hal : 133-134

Dr. Khalid Al-Mushlih ketika ditanya hal yang sama, beliau menerangkan “Yang terpenting adalah bagaimanakah kita mengagungkan mushaf dengan cara yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Pengagungan mereka adalah dengan membaca, mengamalkan dan tidak meninggalkannya. “

Simak penjelasan beliau,

(1) Pimred majalah TAUHIDULLAH; (2) Pimred majalah dan buletin AS-SHOLIHIN, (3) redaktur pelaksana majalah AL-AKHBAR, (4) editor dan layouter majalah AL IHSAN, (5) reporter majalah MEDIAN LPMP Jawa Timur, (6) kontributor lepas majalah AR-RISALAH, (7) kontributor tetap majalah LENTERA QOLBU, (8) kontributor lepas di majalah ELFATA, (9) editor in chief majalah digital QUANTUM FIQIH, (10) konseptor dan mantan redaktur pelaksana majalah FITHRAH, (11) mantan layouter sekaligus pimred buletin Jum’at THAYBAH, (12) redaktur penerbit PT. EFMS, (13) admin salah satu situs berita Islam Nasional dengan 20.000 visit/hari), (14) online marketing UD. SBY CORPORATION, (15) pengasuh situs THAYBAH.ID, (16) promotor penerbitan majalah donatur, (17) redaktur pelaksana majalah SUARA MASKUMAMBANG, (18) redaktur pelaksana majalah SEJAHTERA dan buletin jumat YATIM SEJAHTERA, dan (19) mengasuh 2 website dan belasan blog keislaman yang ‘hidup segan mati tak mau’ sebagai salah satu cara merehatkan diri, serta (20) penulis buku GOLDEN MANNERS, KUTUNGGU DI TELAGA AL-KAUTSAR, MENDEKAT KEPADA ALLAH, QUANTUM IMAN, yang bisa Anda dapatkan di Gramedia atau toko buku lainnya.

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*