balas budi

Hilangnya Tradisi Balas Budi

Brilly El-Rasheed Adab 0 Comments

Tradisi balas budi dapat kita rasakan ketika kita berinteraksi dengan orang yang baru kita kenal. Orang baru akan kita balas kebaikannya dengan cepat. Kita bisa temukan tradisi balas budi versi ‘fast food’ ini ketika kita bertemu orang baru di kereta, di bus, di angkot, di pesawat, di kapal, di halte, di terminal, di stasiun, di bandara, di masjid, di kantor dan lain sebagainya. Kita akan sangat cepat membalas kebaikan orang baru secepat penjual ‘fast food’ menyajikan burger, pizza, spagetti, fried chicken, french fries, kebab, dan lain sebagainya.

Terhadap orang baru, tradisi balas budi biasanya dijaga betul. Prinsipnya, relasi akan abadi tergantung interaksi pertama. Walaupun orang baru memberikan sebungkus permen, sebatang coklat, sepotong es, sekerat roti, kebanyakan kita akan sibuk mencari sesuatu yang senilai untuk kita berikan. Takut dibilang orang tak tahu terima kasih.

Tradisi balas budi versi ‘fast food’ tidak akan dilakukan oleh orang-orang yang tidak peka perasaannya. Semakin orang terbiasa dengan kehidupan individualistis, semakin tidak peduli dengan orang baru. Bersamaan dengan itu, harusnya tradisi balas budi versi ‘fast food’ kita transformasikan dalam segala fragmen kehidupan.

Siang tadi, saat menyusun tulisan ini, saya bersama ayah saya sedang berada di kantor pusat kerajinan di Surabaya Pusat. Saya dan ayah berbincang-bincang ramah menjalin keakraban dengan petugas security di kantor tersebut sejak ba’da ‘Ashar hingga ba’da ‘Isya. Di sela-sela momen baru tersebut, ayah menyuruh saya memberikan nasi bebek goreng ke petugas tersebut. Saya pikir ah buat apa sih, toh tadi kan sudah dikasih makanan ringan produksi sendiri. Pembaca, sekedar informasi, ayah-ibu saya punya pabrik krupuk kedelai.

Rupanya ayah saya tetap memaksa. Ya, otomatis, saya kasihkan nasi bebek goreng ke petugas itu, lalu ayah dan saya juga makan masing-masing satu bungkus. Sebelum makan, saya sudah mengadu ke ayah, “Wah, Ayah, ngga bawa minum?” “Iya. Ah nanti pasti dikasih sama pak satpam itu,” jawab ayah. Saya menimpali, “Iya, ya. Masak ngga ditawari minum, wong sudah kita kasih nasi bebek goreng.”

Akhirnya saya makan. Ayah juga makan. Eh, bulir nasi terakhir sudah habis bersih, tinggal bungkusnya. Pak Satpam malah asyik mengamati lalu lalang kendaraan. Ih, apa pak satpam ini lupa harus balas budi, atau lupa kalau punya air minum satu galon penuh, atau  tidak tahu kalau ayah dan saya tidak bawa minum, atau memang tidak mau ambil peduli. Ayah dan saya tidak mau minta-minta. Ya, sudahlah, habis makan, haus plus kepedesan. Bukannya saya minta dibalas budii, tapi rupanya kepekaan pak satpam kurang terasah. Harusnya tradisi balas budi versi ‘fast food’ kan berlaku ya? Iya dong, tapi kali itu tidak berlaku bagi pak satpam. Entah kenapa.

Alhasil, cerita saya tersebut agaknya bisa menjadi ‘ibrah (pelajaran) hikmah (kebijaksanaan) bahwa kita perlu menjadi pribadi yang peka. Peka terhadap kebutuhan orang lain, peka terhadap peluang kebaikan, peka terhadap keadaan dan lain sebagainya. Rasulullah mengibaratkan kaum muslimin sebagai satu tubuh yang saling merasakan dan melengkapi. “Perumpamaan orang-orang beriman dalam kecintaan, kasih sayang, kerukunan sesama mereka adalah seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh yang satu sakit, seluruh tubuh akan ikut merasa susah dan demam.” [Shahih Muslim no. 6751]

(1) Pimred majalah TAUHIDULLAH; (2) Pimred majalah dan buletin AS-SHOLIHIN, (3) redaktur pelaksana majalah AL-AKHBAR, (4) editor dan layouter majalah AL IHSAN, (5) reporter majalah MEDIAN LPMP Jawa Timur, (6) kontributor lepas majalah AR-RISALAH, (7) kontributor tetap majalah LENTERA QOLBU, (8) kontributor lepas di majalah ELFATA, (9) editor in chief majalah digital QUANTUM FIQIH, (10) konseptor dan mantan redaktur pelaksana majalah FITHRAH, (11) mantan layouter sekaligus pimred buletin Jum’at THAYBAH, (12) redaktur penerbit PT. EFMS, (13) admin salah satu situs berita Islam Nasional dengan 20.000 visit/hari), (14) online marketing UD. SBY CORPORATION, (15) pengasuh situs THAYBAH.ID, (16) promotor penerbitan majalah donatur, (17) redaktur pelaksana majalah SUARA MASKUMAMBANG, (18) redaktur pelaksana majalah SEJAHTERA dan buletin jumat YATIM SEJAHTERA, dan (19) mengasuh 2 website dan belasan blog keislaman yang ‘hidup segan mati tak mau’ sebagai salah satu cara merehatkan diri, serta (20) penulis buku GOLDEN MANNERS, KUTUNGGU DI TELAGA AL-KAUTSAR, MENDEKAT KEPADA ALLAH, QUANTUM IMAN, yang bisa Anda dapatkan di Gramedia atau toko buku lainnya.

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*