istiqamah

Banyak Fitnah, Kita Harus Istiqomah

Brilly El-Rasheed Aqidah, Penyejuk Hati 0 Comments

Setelah kita mengetahui bahwa kekufuran menjadikan kita diharamkan masuk surga oleh Allah Ta’ala, sementara sekarang ini kita dikepung berbagai syubhat dan syahwat yang mana membuat seseorang bisa jadi paginya muslim sorenya kafir atau sebaliknya, sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah. Akan tetapi, atas izin Allah, kita akan selamat dari kekufuran.

Ketika Allah mencintai kita maka Allah akan wafatkan kita dalam Islam. Agar Allah mewafatkan kita di atas Islam, maka jadikan qalbu kita gembira ketika menyembah Allah. Herannya, sebagian orang sangat gembira ketika menyaksikan pertandingan atau hiruk-pikuk pentas hiburan, tetapi apa yang dirasakannya ketika menyembah Allah?

Maka, bagaimana kita bisa tahu akan mati di atas Islam? Caranya adalah apakah kita sudah berhasil senantiasa gembira ketika menyembah Allah. Jangan kerjakan ibadah semata-mata sekedar agar tertunaikan. Melainkan, niatkan dengan penuh ketulusan sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah. Dengan begitu, kita tidak akan ditimpa bahaya atas maksiat kita, dan kita akan bisa mati di atas Islam.

Bagaimanapun juga mati di atas Islam jauh lebih baik dari mati di atas kekufuran. Tersebut sebuah doa yang biasa dipanjatkan orang-orang yang shalih dengan penuh ketawadhu’an dan ketadharru’an, “Wahai Allah, aku mencintaimu, walaupun aku masih saja tergelincir mendurhakaimu.”

Salah seorang shahabat Nabi bernama ‘Amr bin Al-‘Ash berdoa menjelang wafatnya, “Wahai Allah, aku bukan orang yang terbebaskan dari dosa, maka aku memohon ampunanMu. Dan aku bukanlah orang yang kuat dalam beribadah, maka aku memohon pertolonganMu. Dan tiada daya dan upaya melainkan dari Allah.”

Sebagai contoh apabila engkau keluar dari masjid setelah shalat shubuh berjama’ah, maka hadirkan perasaan gembira, bahwasanya Allah dengan rahmahNya telah membangunkan engkau dari tempat tidur dan menyebabkan engkau bisa berdiri lantas bergerak menuju rumahNya.

Mereka yang diinginkan Allah kebaikan, maka Allah tetapkan di atas agamaNya dan mati di atasnya. Dan selayaknya, tidak ada kegembiraan bagi seorang hamba kecuali kegembiraannya terhadap Islam.

Kita patut bersyukur karena sudah dijadikan oleh Allah sebagai hambaNya yang muslim. Kita semua dengan rahmah Allah dilahirkan muslim, dan Allah memberinya tanpa kita memintanya, maka semoga Allah mengaruniakan surga tatkala kita memintanya.

(1) Pimred majalah TAUHIDULLAH; (2) Pimred majalah dan buletin AS-SHOLIHIN, (3) redaktur pelaksana majalah AL-AKHBAR, (4) editor dan layouter majalah AL IHSAN, (5) reporter majalah MEDIAN LPMP Jawa Timur, (6) kontributor lepas majalah AR-RISALAH, (7) kontributor tetap majalah LENTERA QOLBU, (8) kontributor lepas di majalah ELFATA, (9) editor in chief majalah digital QUANTUM FIQIH, (10) konseptor dan mantan redaktur pelaksana majalah FITHRAH, (11) mantan layouter sekaligus pimred buletin Jum’at THAYBAH, (12) redaktur penerbit PT. EFMS, (13) admin salah satu situs berita Islam Nasional dengan 20.000 visit/hari), (14) online marketing UD. SBY CORPORATION, (15) pengasuh situs THAYBAH.ID, (16) promotor penerbitan majalah donatur, (17) redaktur pelaksana majalah SUARA MASKUMAMBANG, (18) redaktur pelaksana majalah SEJAHTERA dan buletin jumat YATIM SEJAHTERA, dan (19) mengasuh 2 website dan belasan blog keislaman yang ‘hidup segan mati tak mau’ sebagai salah satu cara merehatkan diri, serta (20) penulis buku GOLDEN MANNERS, KUTUNGGU DI TELAGA AL-KAUTSAR, MENDEKAT KEPADA ALLAH, QUANTUM IMAN, yang bisa Anda dapatkan di Gramedia atau toko buku lainnya.

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*