lupa

Lupa

Brilly El-Rasheed Akhlak Muamalah 0 Comments

Oleh Brilly Y. Will.

Allah memberikan peringatan dalam Al-Quran, “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran…” [QS. Al-‘Ashr : 1-3]

Ayat ini mengajarkan kepada kita sebagai manusia, agar tak mudah lupa, yang akibatnya kita berpotensi harus menjemput kerugian demi kerugian. Manusia beriman adalah contoh sosok manusia yang eling dan waspada. Ia tahu betul, bahwa hanya dengan keimanan kepada Yang Maha Pencipta, ia bisa menjalani hidup sebagai manusia yang tak lain adalah ciptaanNya juga. Keimanan itulah yang menggiringnya untuk beramal, untuk beribadah dan beraktivitas. Iman tanpa amal adalah dusta. Garis iman dan amal itu akan semakin tergores secara pekat dalam nuansa hidup manusia, bila dibudidayakan dalam wujud nasehat-menasehati. Dan untuk itu semua, kita perlu bersabar.
Banyak peringatan dalam Al-Quran dan Hadis-Hadis Nabi, yang berisi peringatan agar kita tidak lupa. Salah satu contohnya, firman Allah, “Carilah apa yang menjadi hakmu di akhirat nanti, tapi jangan lupa dengan hakmu di dunia…” (QS. Al-Qashash : 77)
Terhadap kehidupan dunia yang hina ini, terhadap berbagai kenikmatan hidup di alam yang fana inipun, manusia dilarang lupa. Maka, apalagi terhadap kepentingan-kepentingan kehidupan akhirat, atau berbagai hal di dunia yang bukan bermuatan murni karunia duniawi, tapi juga bernilai ibadah. Islam sudah pasti tak mengijinkan siapapun untuk melupakannya.
‘Lupa’ bukan hadir semata-mata sebagai ketidaksengajaan, tapi kerap muncul dari kesengajaan demi kesengajaan yang dibiasakan. Hal yang tak boleh ditampik, bahwa banyak pakar medis menyebutkan bahwa lupa juga bisa merupakan penyakit bawaan, bisa disebabkan karena faktor genetik dan sejenisnya.
Tapi betapapun wujudnya, ‘lupa’ tetap saja sebuah kondisi, kebiasaan dan kenyataan yang menyusahkan, dan kebanyakan orang berupaya menghindarinya. Maka betapapun juga, harus ada upaya-upaya pencegahan, penanganan, solusi dan bila perlu penyembuhan, bila terbukti faktor lupa itu merupakan penyakit bawaan atau genetik yang memerlukan terapi khusus.

Inspired from Don’t Forget by Abu ‘Umar Basyier.

(1) Pimred majalah TAUHIDULLAH; (2) Pimred majalah dan buletin AS-SHOLIHIN, (3) redaktur pelaksana majalah AL-AKHBAR, (4) editor dan layouter majalah AL IHSAN, (5) reporter majalah MEDIAN LPMP Jawa Timur, (6) kontributor lepas majalah AR-RISALAH, (7) kontributor tetap majalah LENTERA QOLBU, (8) kontributor lepas di majalah ELFATA, (9) editor in chief majalah digital QUANTUM FIQIH, (10) konseptor dan mantan redaktur pelaksana majalah FITHRAH, (11) mantan layouter sekaligus pimred buletin Jum’at THAYBAH, (12) redaktur penerbit PT. EFMS, (13) admin salah satu situs berita Islam Nasional dengan 20.000 visit/hari), (14) online marketing UD. SBY CORPORATION, (15) pengasuh situs THAYBAH.ID, (16) promotor penerbitan majalah donatur, (17) redaktur pelaksana majalah SUARA MASKUMAMBANG, (18) redaktur pelaksana majalah SEJAHTERA dan buletin jumat YATIM SEJAHTERA, dan (19) mengasuh 2 website dan belasan blog keislaman yang ‘hidup segan mati tak mau’ sebagai salah satu cara merehatkan diri, serta (20) penulis buku GOLDEN MANNERS, KUTUNGGU DI TELAGA AL-KAUTSAR, MENDEKAT KEPADA ALLAH, QUANTUM IMAN, yang bisa Anda dapatkan di Gramedia atau toko buku lainnya.

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*