islam

Islam Mengajarkan Kepekaan

Brilly El-Rasheed Akhlak Muamalah 1 Comment

Oleh Brilly Y. Will.

Islam adalah satu-satunya agama yang menanamkan kepekaan pada qalbu setiap pemeluknya melalui nilai-nilainya. Dalam ukhuwwah islamiyyah, Islam mengajarkan kepekaan. Rasulullah mengibaratkan kaum muslimin sebagai satu tubuh, “Perumpamaan orang-orang beriman dalam kecintaan, kasih sayang, kerukunan sesama mereka adalah seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh yang satu sakit, seluruh tubuh akan ikut merasa susah dan demam.” [Shahih Muslim no. 6751]

Dari Anas bin Malik, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya segala apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri berupa kebaikan.” [Shahih Al-Bukhari no. 13; Shahih Muslim no. 45]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa ingin dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka hendaklah ia mati dalam keadaan beriman kepada Allah dan hari Akhir, dan hendaklah ia menunaikan dan berbuat (kebaikan) kepada orang lain apa yang ia senang bila orang lain (berbuat baik) kepadanya.” [Shahih Muslim no. 1844; Sunan Abu Dawud no. 4248; Sunan Ibnu Majah no. 3956]

Islam mengajarkan kepekaan dalam masalah perceraian wanita yang sedang haid. Dari Qotadah, ia berkata bahwa ia mendengar Yunus bin Jubair berkata, “Aku mendengar Ibnu ‘Umar berkata bahwa ia pernah mentalak istrinya dalam keadaan haid. Lalu ‘Umar mendatangi Nabi kemudian mengadukan perihal anaknya. Nabi bersabda, “Perintah ia untuk rujuk pada istrinya. Jika istrinya telah suci dan ia mau, ia bisa mentalaknya.” Yunus berkata pada Ibnu ‘Umar, “Apakah engkau menganggap jatuh talak?” Ibnu ‘Umar menjawab, “Apa yang menghalanginya? Talak tersebut tidak terhalang walau karena kelemahan atau kebodohannya.” [Al-Bukhari no. 5258 dan Muslim no. 1471]

Islam mengajarkan kepekaan dalam masalah jima’ suami-istri. Ketika Jabir menikah, Nabi bertanya padanya, “Apakah engkau menikahi gadis (perawan) atau janda?” “Aku menikahi janda”, kata Jabir. “Kenapa engkau tidak menikahi gadis saja karena engkau bisa bercumbu dengannya dan juga sebaliknya ia bisa bercumbu mesra denganmu?” [HR. Al-Bukhari no. 2967 dan Muslim no. 715]

Ibnu Qudamah mengatakan, ”Dianjurkan (disunahkan) agar seorang suami mencumbu istrinya sebelum melakukan jima’ supaya bangkit syahwat istrinya, dan dia mendapatkan kenikmatan seperti yang dirasakan suaminya. Dan telah diriwayatkan dari ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz bahwasanya dia berkata, ”Janganlah kamu menjima’ istrimu, kecuali dia (istrimu) telah mendapatkan syahwat seperti yang engkau dapatkan, supaya engkau tidak mendahului dia menyelesaikan jima’nya (maksudnya engkau mendapatkan kenikmatan sedangkan istrimu tidak).

(1) Pimred majalah TAUHIDULLAH; (2) Pimred majalah dan buletin AS-SHOLIHIN, (3) redaktur pelaksana majalah AL-AKHBAR, (4) editor dan layouter majalah AL IHSAN, (5) reporter majalah MEDIAN LPMP Jawa Timur, (6) kontributor lepas majalah AR-RISALAH, (7) kontributor tetap majalah LENTERA QOLBU, (8) kontributor lepas di majalah ELFATA, (9) editor in chief majalah digital QUANTUM FIQIH, (10) konseptor dan mantan redaktur pelaksana majalah FITHRAH, (11) mantan layouter sekaligus pimred buletin Jum’at THAYBAH, (12) redaktur penerbit PT. EFMS, (13) admin salah satu situs berita Islam Nasional dengan 20.000 visit/hari), (14) online marketing UD. SBY CORPORATION, (15) pengasuh situs THAYBAH.ID, (16) promotor penerbitan majalah donatur, (17) redaktur pelaksana majalah SUARA MASKUMAMBANG, (18) redaktur pelaksana majalah SEJAHTERA dan buletin jumat YATIM SEJAHTERA, dan (19) mengasuh 2 website dan belasan blog keislaman yang ‘hidup segan mati tak mau’ sebagai salah satu cara merehatkan diri, serta (20) penulis buku GOLDEN MANNERS, KUTUNGGU DI TELAGA AL-KAUTSAR, MENDEKAT KEPADA ALLAH, QUANTUM IMAN, yang bisa Anda dapatkan di Gramedia atau toko buku lainnya.

Rekomendasi Artikel

Comments 1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*