ismail

Ibunda Nabi Isma’il

Brilly El-Rasheed Sejarah 0 Comments

Oleh Brilly Y. Will.

Allah berfirman: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumahMu (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, (hal itu) supaya mereka mendirikan shalat. Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka. Dan berilah mereka rizki dari buah-buahan, agar mereka bersyukur.” [QS. Ibrahim: 37]

Hajar adalah gadis Mesir yang berasal dari keluarga raja yang kalah perang. Akibatnya, ia berubah posisi menjadi pelayan istana tanpa bisa menolak takdirnya. Lalu Sayyidah Sarah datang ke Mesir bersama suaminya (Nabi Ibrahim) dan mengambil Hajar menjadi pembantunya.

Ketika itu Sayyidah Sarah sudah tua dan mandul. Ia sudah putus asa untuk memberikan momongan kepada suaminya. Tiba-tiba Sarah berinisiatif menghibahkan pembantunya yang dari Mesir itu kepada suaminya.

Ketika Hajar hamil, rasa cemburu bergelora di dalam hati Sarah. Sarah pun menyampaikan apa yang dirasakannya itu kepada suaminya, tetapi sang suami malah membela Hajar. Sarah merasa kesal dengan hal itu. Dan ketika Hajar melahirkan bayinya, kesabaran Sarah pun habis. Sarah bersumpah bahwa ia tidak akan memberikan tempat bagi Hajar.

Hajar terus bersama suaminya sampai suatu hari sang suami pergi ke arah Selatan dan diikuti oleh Hajar yang menggendong bayinya, Ismail. Hajar mengikat pinggangnya dengan tali membiarkan ujung tali itu menjulur ke belakang. Hajar adalah wanita pertama yang memakai ikat pinggang seperti itu. Dia menggunakan ikat pinggang itu untuk menghapus jejak kakinya agar tidak diketahui oleh Sarah. Ibrahim mempunyai ide untuk mencari tempat perlindungan bagi anaknya di reruntuhan Baitul Atiq (Ka’bah) yang merupakan rumah pertama yang digunakan untuk beribadah kepada Allah di muka bumi, yang memang dibangun oleh Para Malaikat sejak Adam belum diturunkan ke Bumi.

Sampailah mereka di Makkah yang ketika itu merupakan padang pasir yang tandus dan gersang. Nyaris tidak ada orang yang tinggal di sana kecuali sekelompok orang badui yang nomaden dan orang-orang Amaliq yang hidup di luar Makkah dan berpindah-pindah dari waktu ke waktu untuk mencari air dan padang rumput.

Di sebuah bukit kecil yang ada di dekat puing-puing Baitul Atiq (Ka’bah) itulah Ibrahim, Hajar dan anaknya (Isma’il) singgah. Ibrahim meninggalkan sekeranjang kurma dan sekantung air. Ibrahim menyuruh Hajar membuat gubuk. Kemudian Ibrahim bermaksud pulang ke tempat asalnya. Hajar merasa takut dengan sepinya padang pasir. Dia memohon kepada Ibrahim agar tidak meninggalkan dia dan anaknya di tempat yang gersang dan mengerikan itu. Namun Ibrahim memalingkan mukanya dari Hajar. Dia tidak menoleh dan tidak menjawab. Dia khawatir tidak sanggup menahan perasaannya di hadapan seorang ibu yang panik dan bingung. Dia sebetulnya tak sampai hati anak tunggalnya harus terbuang bersama ibunya di padang pasir yang gersang.

Hajar mengulangi pertanyaannya: “Engkau mau pergi ke mana dan meninggalkan kami di lembah yang tidak berpenghuni dan tidak ada apa-apanya ini?” Ibrahim meninggalkannya dan terus berjalan tanpa menoleh sedikitpun kepadanya. Dan ketika sampai di tanjakan lembah itu ia mendengar suara Hajar yang memohon dan bertanya kepadanya dengan nada sedih: “Apakah Allah menyuruhmu melakukan ini?”

“Ya,” jawab Ibrahim tanpa menoleh sedikitpun kepadanya.

Dengan nada pasrah dan khusyuk serta penuh ketawakkalan dan keyakinan kepada Allah Yang Maha Kaya, Hajar berkata: “Kalau begitu, Allah tidak akan menyia-nyiakan kami.”

Hajar diam dan tidak melihat Ibrahim yang telah mengangkat kedua tangannya ke langit karena terhalang oleh tikungan lembah. Ibrahim menghadap ke arah Baitullah kemudian memanjatkan doa: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumahMu (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, (hal itu) supaya mereka mendirikan shalat. Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka. Dan berilah mereka rizki dari buah-buahan, agar mereka bersyukur. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami tunjukkan. Dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit.” [QS. Ibrahim: 37-38]

Kemudian Ibrahim melanjutkan perjalanan pulangnya menuju isterinya Sayyidah Sarah di negeri Kan’an.

Sementara itu Hajar mulai menyusui anaknya dan minum dari cadangan air yang sedikit itu. Dia mencari teman dan hiburan dari anaknya yang masih bayi. Dia nyaris melupakan penderitaannya sebagai budak dan kepedihan hatinya karena harus meninggalkan rumah suaminya. Dia sibuk memandangi wajah anaknya yang lucu nan menggemaskan, sehingga dia tidak merasakan kesendiriannya.

Setelah persediaan airnya , Hajar dan anaknya pun kehausan. Hajar memandangi anaknya yang sedang melingkar. Maka Hajar pun bergegas pergi karena tidak tega melihat anaknya. Hajar naik ke atas dan melihat gunung manakah yang terdekat. Ternyata bukit Shafa adalah yang terdekat. Lalu Hajar berdiri di atas bukit Shafa kemudian menghadap ke arah lembah sambil melihat apakah ada orang di sana? Dia juga mencoba mendengar kalau-kalau ada suara manusia. Setelah yakin dirinya tidak menemukan apa-apa selain kesepian dan keheningan, Hajar pun turun dari bukit Shafa sambil berlari-lari kecil menuju bukit Marwah. Hajar naik ke atas bukit Marwah barangkali dia bisa melihat tanda-tanda kehidupan. Tetapi tak ada sedikitpun yang terlihat.

Dia berlari-lari kecil antara Shafa dan Marwah hingga tujuh kali putaran, sampai dia benar-benar kelelahan dan kepayahan sembari kehausan. Ibnu Abbas menceritakan bahwa Rasulullah bersabda: “Itulah sa’i yang dilakukan orang-orang (ketika menunaikan ibadah haji dan umroh).”

Tetapi dia tidak terlalu lama di tempat itu, karena dengus nafas anaknya yang kehausan mengoyak jantungnya dan merobek hatinya. Hajar melihat hidup anaknya sedang merayap keluar dari tubuhnya dan meredup sedikit demi sedikit. Naluri keibuannya tidak kuasa menyaksikan adegan itu. Maka dia pun mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya dan merangkak menjauhi anaknya yang sedang sekarat.

Hajar mendengar suara yang dia anggap suaranya sendiri. Lalu dia berkata kepada dirinya sendiri: “Jika kamu punya pertolongan.” Tiba-tiba ada Malaikat yang berwujud seperti burung sedang mengawasi tempat itu. Kemudian Malaikat itu turun di suatu tempat di sana. Malaikat itu terus mengibas-ngibaskan sayapnya hingga air (zamzam) menyembur dari dalam tanah. Hajar langsung bergegas menuju air tersebut. Kemudian Hajar membendung air itu sambil menciduknya. Hajar meminum air itu hingga puas dan segera menyusui anaknya.

Ibnu Abbas menyatakan bahwa Nabi bersabda: “Semoga Allah mengasihi ibu Ismail seandainya dia membiarkan air itu.” Atau beliau bersabda: “Seandainya dia (Hajar) tidak menciduk air zamzam itu, niscaya zamzam itu menjadi mata air yang mengalir.”

Ibnu Abbas mengisahkan: “Kemudian ada rombongan dari kabilah Jurhum yang datang dari jalur Kada’. Mereka singgah di Makkah bagian bawah. Tiba-tiba mereka melihat seekor burung. Lalu mereka berkata: ‘Burung itu pasti melihat air. Padahal setahu kita di lembah ini tidak ada air’. Mereka menyuruh pemandu jalan mereka untuk mengamati situasi yang ada. Pemandu itu kembali dan mengajak mereka ke tempat di sana Hajar dan anaknya berada di dekat sumber air yang diberkahi. Lalu mereka berkata kepada Hajar: ‘Kalau engkau setuju kami akan tinggal bersamamu untuk menemanimu. Dan air itu tetap airmu’. Mereka tinggal bersama Hajar di sana. Kemudian mereka mengirim utusan untuk mengajak keluarga mereka tinggal bersama mereka. Ismail belajar bahasa Arab dari mereka. Mereka sangat kagum kepada Ismail ketika dia beranjak remaja. Dan setelah dewasa kelak mereka menikahkannya dengan keluarga mereka.”

Dari semangat keibuannyalah, Sayyidah Hajar, ibunda bangsa Arab ‘Adnaniyah memasuki panggung sejarah sebagai orang paling berjasa bagi Isma’il bin Ibrahim.

(1) Pimred majalah TAUHIDULLAH; (2) Pimred majalah dan buletin AS-SHOLIHIN, (3) redaktur pelaksana majalah AL-AKHBAR, (4) editor dan layouter majalah AL IHSAN, (5) reporter majalah MEDIAN LPMP Jawa Timur, (6) kontributor lepas majalah AR-RISALAH, (7) kontributor tetap majalah LENTERA QOLBU, (8) kontributor lepas di majalah ELFATA, (9) editor in chief majalah digital QUANTUM FIQIH, (10) konseptor dan mantan redaktur pelaksana majalah FITHRAH, (11) mantan layouter sekaligus pimred buletin Jum’at THAYBAH, (12) redaktur penerbit PT. EFMS, (13) admin salah satu situs berita Islam Nasional dengan 20.000 visit/hari), (14) online marketing UD. SBY CORPORATION, (15) pengasuh situs THAYBAH.ID, (16) promotor penerbitan majalah donatur, (17) redaktur pelaksana majalah SUARA MASKUMAMBANG, (18) redaktur pelaksana majalah SEJAHTERA dan buletin jumat YATIM SEJAHTERA, dan (19) mengasuh 2 website dan belasan blog keislaman yang ‘hidup segan mati tak mau’ sebagai salah satu cara merehatkan diri, serta (20) penulis buku GOLDEN MANNERS, KUTUNGGU DI TELAGA AL-KAUTSAR, MENDEKAT KEPADA ALLAH, QUANTUM IMAN, yang bisa Anda dapatkan di Gramedia atau toko buku lainnya.

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*