menyimpang

Kelompok-Kelompok Menyimpang dari Islam

Abu Zakariya Sutrisno, ST., M.Sc. Aqidah, Manhaj 0 Comments

 Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam atas Rasulillah.

Dalam sebuah pepatah Arab dikatakan,

عرفت الشر لا للشر لكن لتوقيه *** ومن لا يعرف الشر من الخيريقع فيه

Aku mengenal keburukan bukan untuk berbuat keburukan, tetapi untuk menjauhinya***Barangsiapa tidak mengenal keburukan dari kebaikan, maka ia akan terjerumus ke dalamnya”.

Pepatah diatas benar adanya. Berapa banyak orang terjerumus pada keburukan atau penyimpangan karena ketidaktahuan. Banyak sekali kelompok menyimpang yang mengatasnamakan Islam diantaranya Syi’ah, Khawarij, Qodariyah, Murji’ah, Jahmiyah, Mu’tazilah, Shufiyah dan lainnya. Masing-masing memiliki penyimpangan yang berbahaya bagi kaum muslimin baik berupa keyakinan, ucapan maupun perbuatan. Sering kali penyimpangan mereka begitu samar sehingga sebagian kaum muslimin terkecoh sehingga terjerumus padanya.

Hendaknya  setiap muslim bersemangat mempelajari agamanya secara benar sesuai dengan apa yang diajarkan Rosulullah dan diamalkan para sahabat sehingga mampu membedakan mana yang benar mana yang salah. Selain itu hendaknya berusaha mengenali tiap-tiap kelompok menyimpang agar tidak terjatuh pada peyimpangan-peyimpangan mereka.  Berikut kami berusaha ringkaskan sedikit penjelasan tiap kelompok menyimpang tersebut. Semoga kita dan kaum muslimin dapat berhati-hati darinya.

 

Syi’ah

Syi’ah adalah kelompok menyimpang yang cukup awal muncul dari tubuh kaum muslimin. Awalnya penyimpangan ini hanya sekedar melebihkan Ali dan ahli bait Rasulullah. Lalu penyimpangan mereka semakin parah sampai pengkultusan sebagian ahli bait. Demikianlah setiap penyimpangan dan bid’ah pada umat ini, awalnya kecil bahkan menyerupai kebenaran, kemudian membesar dan bahkan dapat mengeluarkan pelakunya dari Islam.

Diatara pokok penyimpangan Syi’ah:

–          Syiah meyakini bahwa kitab suci al ‎Qur’an yang ada sekarang tidak ‎otentik lagi alias telah mengalami ‎penambahan dan pengurangan.‎

–          Orang syiah mengkafirkan para sahabat Rasulullah kecuali segelintir orang saja seperti Abu Dzar, Salman Al Farisi, dan lainnya. Termasuk yang dikafirkan oleh mereka adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khatab, Ustman bin Affan, dan Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu anhum ajma’in.

–          Orang Syiah (khususnya Rafidhah) meyakini bahwa imamah/ kepemimpinan kaum muslimin hanya ada para imam mereka yang berjumlah 12. Meyakini imamah adalah salah satu rukun islam bagi mereka. Mereka memiliki banyak keyakinan yang ghuluw (berlebihan) tentang imam-imam mereka seperti keyakinan bahwa imam-imam mereka maksum dan mengetahui hal yang ghaib.

–          Orang syiah menghalalkan bahkan menganjurkan nikah mut’ah (kontrak), yaitu nikah dalam durasi tertentu misal sehari atau sepekan. Padahal jelas bahwa nikah mut’ah dilarang dalam Islam karena pada hakikatnya nikah mut’ah adalah zina yang terselubung.

Penyimpangan ‎yang telah dijelaskan para ulama tersebut ‎bukan sekedar tuduhan semata tetapi ‎benar-benar disebutkan dalam kitab-‎kitab rujukan mereka seperti kitab Al ‎Kafi, Al Istibshar, Biharul Anwar, dan ‎lainnya. ‎Masih banyak sekali peyimpangan yang dimiliki kaum Syiah. Tetapi mereka ‎selalu berupaya membungkus kesesatan dan peyimpangan mereka dengan sesuatu ‎yang indah agar orang-orang awam tertarik. Seperti klaim mereka bahwa mereka ‎mencintai dan membela ahlu bait. Mereka juga gemar melakukan dusta dan taqiyah (pura-pura) untuk ‎menutupi penyimpangan mereka. Imam Syafi’I rahimahullah mengatakan, ‎‎“Saya tidak pernah melihat seorang pun penganut hawa nafsu yang lebih dusta ‎dalam pengakuan dan lebih banyak bersaksi palsu melebihi Kaum Rafidhah.” ‎ Sekarang ini Syi’ah menjadi aliran yang sangat berbahaya karena selain sebagai gerakan ideologis juga sebagai gerakan politik. Banyak sekali aliran atau firqah dalam syi’ah, sebagiannya lebih parah dari yang lain.

Khowarij

Bersama dengan Syi’ah, Khawarij adalah kelompok menyimpang yang pertama kali muncul dalam tubuh umat Islam (sekitar tahun 37-40H). Bahkan benih-benih mereka telah muncul sejak zaman Nabi. Di dalam tubuh khawarij terdapat banyak sekali firqah atau kelompok sempalan. Tetapi inti aqidah atau pemikiran mereka hampir sama, diantaranya:

–          Mengkafirkan pelaku kabair (dosa besar)

–          Pengkafiran kaum muslimin secara umum dan negara kaum muslimin.

–          ‎Mereka adalah orang-orang yang menarik tangan (keluar baiat) dari pemimpin kaum muslimin dan melakukan pemberontakan baik dalam hati, dengan lisan atau bahkan dengan mengangkat senjata.

Mulai nampak munculnya Khawarij adalah saat terjadi perang Shifiin yang terjadi antara khalifah Ali dan ‎ahli Syam. Saat itu, Ahli Syam menawarkan kepada Ali untuk melakukan tahkim (perundingan) ‎yang diwakili dua orang laki-laki (satu dari Iraq dan satu dari Syam) khalifah Ali pun menyetujuinya. ‎Orang-orang khawarij (yang mana awalnya berada di dalam barisan pasukan Ali) pun mengingkari ‎urusan tahkim lewat perwakilan ini. Mereka mengatakan bahwa itu berarti berhukum dengan selain ‎hukum Allah sambil mengulang-ulang firman Allah “Sesunggunya hukum hanya milik Allah” (QS Yusuf: ‎‎40). ‎

Singkat cerita lalu orang-orang Khawarij pun membangkang dan keluar dari barisan pasukan Ali. ‎Mereka lalu membunuh Abdullah bin Khabab dan membelah dada budak wanitanya dalam kondisi ‎hamil lalu membunuhnya. Ali pun memerintahkan mereka untuk bertaubat dan menyerahkan diri. ‎Orang-orang Khawarij pun enggan bertaubat dan menyerahkan diri. Ali pun mengirim pasukan untuk ‎menumpas mereka. Terjadilah perang Nahrawan yang terkenal, dimana dalam waktu yang singkat ‎orang-orang khawarij dapat ditumpas sehingga tidak tersisa kecuali segelintir. ‎Namun demikian,pemikiran  Khawarij yang rusak tersebut semakin menyebar. Mereka senantiasa muncul ‎disetiap zaman dengan berbagai ‘warna’. Tetapi inti aqidah dan pemikiran mereka sama yaitu ‎pengkafiran kaum muslimin dan pemberontakan kepada penguasa kaum muslimin. ‎

Qodariyah

Digelari Qadariyah demikian karena mereka menafikan taqdir Allah dan menyandarkan perbuatan hamba pada kehendak dan kemampuan mereka sendiri. Ini berarti menetapkan pencipta (خالق ) atas perbuatan hamba selain Allah. Padahal yang benar adalah bahwa Allah adalah pencipta segala sesuatu, Dia yang menciptakan makhuq dan Dia juga menciptakan perbuatan makhluqNya. Sebelumnya perlu diketahui bahwa diantara pokok aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah adalah beriman kepada taqdir, baik yang baik maupun yang buruk. Rasulullah bersabda dalam hadits Jibril yang masyhur, “Dan beriman kepada tadir, yang baik maupun yang buruk” [HR Muslim]. Taqdir Allah ada beberapa tingkatan yang mana kita wajib mengimaninya:

  1. Al Ilmu, yaitu bahwa Allah mengetahui segala sesuatu.
  2. Al Kitabah, yaitu bahwa Allah telah menulis taqdir dari segala sesuatu.
  3. Al Masyi’ah, yaitu bahwa segala sesuatu adalah terjadi karena kehendak Allah
  4. Al Khalq, yaitu bahwa Allahlah yang menciptakan segala sesuatu.

Kelompok Qodariyah mulai muncul tahun 62H-an, diantara pencetus dan generasi awal mereka adalah Ma’bad  Aj Juhani (mati tahun 80H) dan Ghailan Ad Dimasyqy (mati tahun 105H). Ringkasnya mereka mengatakan bahwa Allah tidak mentaqdirkan perbuatan hamba, tidak pula menulisnya (dalam lauhul mahfudz), dan bahwasanya segala sesuatu itu musta’nafah, yaitu tidak diketahui oleh Allah dan tidak ditaqdirkan oleh Allah sebelumnya. Maka bangkitlah para ulama’ dan sahabat yang masih hidup mengingkari pemikiran dan ucapan mereka. Ibnu Taimiyah mengatakan “Di akhir zaman sahabat muncul bid’ah Qadariyah dan Murji’ah. Maka para sahabat dan tabi’in pun mengingkari mereka seperti Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Jabir bin Abdillah dan Watsilah bin Asqa’” [Minhajus Sunnah 1/309].   Setelah diingkari oleh para sahabat dan tabi’in kebanyaknya Qadariyah mau mengakui ilmu dan kitabah Allah, tetapi mereka tetap mengingkari bahwa Allah menciptakan perbuatan hamba atau sebagian perbuatannya. Mereka mengatakan bahwa Allah tidak menciptakan kejelekan. Ini adalah pemikiran qadariyah generasi kedua, diantara pelopor pemikiran ini adalah kelompok Mu’tazilah.

Murji’ah

Salafus salih bersepakat bahwa keimanan itu mencakup pembenaran dalam hati (keyakinan), ucapan dengan lisan dan amal dengan anggota badan. Adapun kaum Murji’ah mengatakan bahwa amal tidak termasuk dalam keimanan. Sebagian kelompok Murji’ah mengatakan, “Kemaksiatan tidak berbahaya (atau tidak mengurangi) keimanan seseorang, sebagaimana ketaatan tidak bermafaat atas kekafiran.” Padahal yang benar adalah bahwa iman itu naik dan turun, naik karena ketaatan dan turun karena kemaksiatan.

Dikatakan bahwa yang pertama kali bicara masalah irja’ adalah Dzur bin Abdillah (menginggal sekitar tahun 99H), dan Hamad bin Abi Sulaiman (meninggal tahun 120H) gurunya Imam Abu Hanifah. Murji’ah semakin membesar setelah masuk ke dalamnya Amr bin Murrah Al Muradiy (meninggal 116H). Dahulunya dia adalah seorang ahli ibadah yang salih maka manusia pun banyak yang terfitnah. Mughirah mengatakan, “Senantiasa manusia tetap seperti sebelumnya sampai masuknya Amr bin Murrah dalam Murji’ah maka manusia pun banyak terfitnah” [Syarh Lalika’I 5/1074, 1075]. Pemikiran Murji’ah bertingkat tingkat dan tersebar pada banyak kelompok seperti Jahmiyah, Mu’tazilah, sebagian Hanafiyah (dikenal dengan irja’ fuqaha’), dan lainnya.

Jahmiyah

Nisbah kepada Jahm bin Shofwan, pendahulu mereka (Dipenggal 128H). Jahmiyah mulai muncul di awal abad ke-2 hijriyah. Selain Jahm bin Shofwan, diantara pendiri Jahmiyah adalah Ja’ad bin Dirham (dipenggal 124H) bahkan dialah yang merintis dan guru dari Jahm. Kedua pendiri Jahmiyah tersebut dipenggal penguasa saat itu karena pemikiran mereka yang sangat berbahaya dan mengadung kekufuran. Jahmiyah adalah kelompok Mu’athilah, yaitu kelompok yang mengingkari asma’, sifat, dan af’al (perbuatan) Allah. Mereka juga adalah Jabriyah murni, yaitu bahwa seorang hamba “dipaksa” oleh taqdir, mereka tidak memiliki kehendak (pemikiran ini kebalikan dari qodariyah).

Jahmiyah memiliki banyak kemiripan dengan Mu’tazilah. Bahkan para salaf dahulu menganggap mereka satu. Jika para salaf menyembut Jahmiyah, termasuk di dalamnya Mu’tazilah. Kedua kelompok ini adalah ahli kalam murni yang banyak menyandarkan pemikiran mereka pada falsafat dan akal.  Keduanya adalah kelompok yang menta’wil dan meta’thil (menolak) asma’ dan sifat Allah (walaupun berbeda dalam penerapan). Hanya saja keduanya memiliki beberapa perbedaa, diantaranya yang paling penting adalah dalam masalah qadar: Jahmiyah adalah Jabriyah murni sedang Mu’tazilah adalah Qodariyah murni.

Secara umum Jahmiyah dapat dikelompokan menjadi tiga:

–          Jahmiyah murni: mengingkari seluruh asma’ dan sifat

–          Jahmiyah Mu’tazilah: mengingkari sifat tetapi menetapkan asma’ Allah secara global.

–          Jahmiyah alhi kalam pada sifat: seperti Asy’ariyah, Maturidiyah, Kulabiyah dan yang serupa mereka. Mereka banyak menakwilkan sifat-sifat Allah sesuai mahaj Jahmiyah.

Mu’tazilah

Mu’tazilah adalah kelompok aqlaniyah (ahli akal), kalamiyah dan filsafat. Mereka banyak mencampur adukkan syariat dengan filsafat dan akal.  Diantara pokok pemikiran mereka adalah apa yang disebut dengan ushul khomsah (pokok yang lima):

–          Manzilah baina manzilataini (kedudukan diantara dua kedudukan): Yaitu bahwa seorang fasiq (yang berbuat dosa besar) tidaklah mukmin dan tidak pula kafir, tetapi diantara keduanya.(???)

–          Tauhid (versi mereka): yaitu menafikan sifat Allah.

–          Adl (adil): maksud mereka menafikan qodar.

–          Al Wa’ad wal Wa’id: yaitu bahwa seorang yang berbuat dosa besar dan tidak bertaubat maka akan kekal di neraka.

–          Amr bil Ma’ruf wan Nahyi anil Munkar: maksud mereka adalah khuruj (keluar) dari pemerintah dan melazimkan manusia dengan pemikiran dan aqidah mereka.

Digelari Mu’tazilah karena pemimpin mereka, yaitu Washil bin Atho’ (meninggal 131H) memisahkan diri (I’tazala) dari majelis Hasan al Bashri rahimahullah (meninggal 110H). Sebagian mengatakan digelari Mu’tazilah karena mereka memisahkan diri dari jama’ah kaum muslimin dan para imam mereka serta menyelisihi mereka. Kelompok ini cepat sekali menyebar keseluruh penjuru daerah kaum muslimin saat itu karena mereka ahli debat dan banyak mengirim utusan-utusan ke penjuru negeri.

Kelompok-Kelompok setelahnya

Kelompok-kelompok yang datang setelah kelompok diatas kebanyakan adalah kelanjutan dari penyimpangan mereka. Sebagian kelompok mencampur adukkan pemikiran kempok-kelompok sebelumnya. Diantara kelompok itu adalah Karamiyah, mereka adalah sahabat Abi Abdillah Muhammad bin Kirom. Dan mereka adalah orang-orang yang menetapkan sifat (Allah) sampai pada taraf tajsim  dan tasybih (menyerupakan Allah dan Makhluq). Kemudian Kulabiyah, nisbah kepada Abdullah bin Sa’id bin Kulab al Bashri, seorang Mutakalim (ahli kalam), dia adalah pemimpin kelompok ini. Tak kalah berbahaya adalah kelompok Sufiyah. Diantara ciri khas kelompok Sufiyah adalah jauh dari ilmu, salah/berlebihan dalam memahami zuhud, meyakini khasyaf (dapat menyingkap hal-hal yang tersembunyi dan ilmu ghaib), membagi agama menjadi syariat dan hakikat dan lainnya.

Masing-masing kelompok tersebut terpecah-pecah dalam sekte-sekte sempalan yang begitu banyak. Untuk keterangan lebih detail dari kelompok-kelompok ini dapat membaca tulisan Asy Syaikh Dr. Ibrahim bin ‘Amir Ar Ruhaily “Mauqifu Ahlus sunnati wal Jama’ati Min Ahlil Ahwaa’i Wal Bida’.“ Semoga Allah menjaga kita dan kaum muslimin dari kelompok-kelompok tersebut, menghidupkan kita diatas Islam dan Sunnah, menjadikan kita pengikut setia petunjuk Rosulullah dalam setiap segi kehidupan kita, dan menyatukan kita dengan golongan orang-orang beriman di akhirat kelak. Amien.

Semoga bermanfaat, Sholawat dan salam semoga tercurah kepada Rosulullah serta keluarga dan sahabatnya.

Abu Zakariya Sutrisno. Riyadh, 19/5/1435H.

Repost dari artikel: www.ukhuwahislamiah.com

Maraji’:

–          Dirasat fil Ahwa’ wal Firqah wal Bida’ syaikh Prof. Dr. Nashir Al Aql hafizahullah

–          Footnote kitab Lum’atul I’tiqad dalam Majmu’ al Mutuun Li Tholibi ‘Ilmi al Funuun (disusun oleh Saifu Tholal al Waqiti) cetakan Darul Shomii’iy hal.174-175

Alumni Pesma Thaybah, serta lulus T Elektro ITS tahun 2010. Lulus S2 T Elektro di King Saud University, Saudi Arabia tahun 2013, sekarang sedang menempuh pendidikan S3 di tempat yang sama.
Aktivitas keilmuan sekarang mulazamah masyaikh di Riyadh serta mengajar di Maktab Dakwah Naseem, Riyadh.
Lebih dekat dapat dilihat di website beliau ukhuwahislamiah.com dan sutrisnolink.wordpress.com.

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*