renungan

Bertanyalah Kepada Hatimu

Abu Zakariya Sutrisno, ST., M.Sc. Akhlak Muamalah, Manhaj, Penyejuk Hati 0 Comments

Segala puji bagi Allah, sholawat dan salam atas Rasulullah.

Diantara karunia yang Allah berikan kepada manusia adalah hati yang mereka miliki. Allah menjadikan fitrah dalam hati manusia untuk mengenali cahaya kebenaran. Kebenaran mengandung cahaya yang hati akan mengenalinya sebagaimana juga kebatilan mengandung kegelapan yang mana hati akan mengingkarinya. Dengan demikian pada asalnya manusia bisa membedakan yang baik dengan yang buruk, yang salah dengan yang benar dengan hati yang mereka miliki.

Dari Nawwas bin Sam’an radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alahi wasallam beliau bersabda,

البر حسن الخلق والإثم ما حاك في نفسك وكرهت أن يطلع عليه الناس

Kebaikan adalah baiknya akhlaq, dan dosa adalah sesuatu yang bergejolak dalam jiwa dan engkau tidak suka manusia untuk mengetahuinya. [HR Muslim]

وعن وابصة بن مَعبد رضي الله عنه قال أتيت رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال ” جئت تسأل عن البر؟ ” قلت : نعم قال ” استفت قلبك , البر ما اطمأنت إليه النفس واطمأن إليه القلب , والإثم ما حاك في النفس وتردد في الصدر وإن أفتاك الناس وأفتوك ” حديث حسن رويناه في مسندي الإمامين أحمد بن حنبل والدرامي بإسناد حسن

Dalam hadits Wabishah bin Ma’bad radhiyallahu anhu, ia berkata : “Aku telah datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, lalu beliau bersabda : ‘Apakah engkau datang untuk bertanya tentang kebajikan ?’ Aku menjawab : ‘Benar’. Beliau bersabda : ‘Mintalah fatwa dari hatimu. Kebajikan itu adalah apa-apa yang menentramkan jiwa dan menenangkan hati dan dosa itu adalah apa-apa yang meragukan jiwa dan meresahkan hati, walaupun orang-orang memberikan fatwa kepadamu dan mereka membenarkannya”. (HR. Imam Ahmad bin Hanbal dan Ad-Darimi, Hadits hasan)

Kedua hadits diatas menunjukkan bahwa Allah menjadikan fitrah pada hati hambaNya untuk mengenali dan menerima kebenaran. Hati akan tentram dengan kebenaran dan tergerak untuk mengikutinya serta berontak dengan yang sebaliknya.  Semakna dengan hal ini adalah apa yang disebutkan dalam sebuah hadist Qudsi, bahwa Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku menciptakan hambaKu dalam keadaan hunafa’a muslimin (lurus dan berserah diri). Lalu syaitan mendatangi mereka dan memalingkan mereka dari agama mereka, mengharamkan bagi mereka apa yang Aku halalkan dan menghalalkan apa yang Aku haramkan, memerintahkan mereka untuk mensekutukanKu padahal tidak diturunkan hujjah atas hal tersebut” [HR Muslim no. 2865]. Rasulullah juga bersabda, “Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanya yang menjadikan yahudi, nashrani atau majusi” [HR Bukhari no. 1358, Muslim no. 2658]

Kebaikan (dan apa yang Allah perintahkan) disebut dengan hal yang ma’ruf (dikenali) dan kejelekan (dan apa yang Allah larang) disebut dengan hal yang munkar (diingkari). Karena memang pada asalnya seperti itu, kebaikan akan dikenali oleh hati dan kejelekan akan diingkari oleh hati. Oleh karena itu seorang muslim hendaknya mengembalikan pada hatinya jika mengalami hal yang tidak jelas. Jika hatinya tenang dan dadanya lapang maka itu adalah kebaikan dan halal. Dan jika yang terjadi adalah sebaliknya maka hal itu adalah kejelekan dan haram.

Dalam hadits Nawwas diatas, sabda Rasulullah “dosa adalah sesuatu yang bergejolak dalam jiwa dan engkau tidak suka manusia untuk mengetahuinya” menunjukkan bahwa dosa/kejelekan menjadikan hati gelisah dan bergejolak serta dada terasa sempit karenanya. Bersamaan dengan itu dosa/kejelekan tersebut secara umum juga diingkari oleh manusia sehingga pelakunya takut jika diketahui orang lain saat melakukan dosa tersebut. Oleh karena itu jika ada sesuatu yang tidak jelas tetapi hati kita mengingkarinya maka hendaknya kita tinggalkan. Terlebih lagi jika hal tersebut secara umum dipandang tidak baik oleh masyarakat. Ibnu Mas’ud mengatakan, “Apa-apa yang dipandang orang mukmin baik maka hal tersebut baik di sisi Allah dan apa-apa yang dipandang buruk oleh orang mukmin maka di sisi Allah buruk” [Diriwayatkan Ath Thayalisi no. 246, Ahmad 1/379, Bazar 1816, dll]. Ini tingkatan yang pertama, bahwa hal tersebut secara umum diingkari oleh manusia, diingkari oleh pelakunya sendiri dan yang lainnya.

Adapun sabda Rasulullah “walaupun orang-orang memberikan fatwa kepadamu dan mereka membenarkannya” dalam hadits Wabishah menunjukkan bahwa apa-apa yang mengelisahkan hati maka itu adalah dosa meskipun ada yang menfatwakan bahwa hal itu buka dosa. Ini adalah tingkatan yang kedua yaitu bahwa hal tersebut diingkari oleh pelakunya dan tidak diingkari yang lain (misal sebagian orang memandang itu bukan dosa). Ini juga dosa. Hal ini bisa terjadi karena si pelaku tersebut hatinya disinari dengan keimanan adapun si mufti (yang mengatakan tidak dosa) berfatwa atas dzon (dugaan) atau sekedar mengikuti hawa nafsu tanpa dalil syar’i.  Namun jika yang berfatwa adalah orang yang berilmu, dan dia berfatwa dengan membawakan dalil-dalil syar’I maka wajib untuk ruju’ padanya meskipun mungkin hati tidak lapang. Sebagai contoh apa yang terjadi pada sebagian sahabat yang hatinya terasa berat untuk menerima perjanjian Hudaibiyah dan saat Rasululllah memerintahkan mereka untuk bertahalul dari umroh mereka saat itu.

Singkat kata, apa-apa yang ada nash (dalil yang jelas) maka tidak ada bagi seorang mukmin kecuali ta’at kepada Allah dan RasulNya atas hal tersebut, sebagaimana firman Allah, “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka” (QS Al Ahzab: 36).  Adapun jika tidak ada dalil baik dari Al Qur’an ataupun sunnah, atau perkataan sahabat, salafus saleh dan ulama’ setelah mereka maka seorang mukmin (yang hatinya disinari cahaya keimanan dan hidayah) hendaknya merujuk pada hatinya.

Disarikan dari Jaami’ul Ulum wal Hikam fi Syarhi Khamsiina Haditsan min Jawaami’il Kalim karya Ibnu Rajab al Hambali.

Abu Zakariya Sutrisno. Riyadh, 13 Dzulhijjah 1434.

Artikel: www.thaybah.or.id

Alumni Pesma Thaybah, serta lulus T Elektro ITS tahun 2010. Lulus S2 T Elektro di King Saud University, Saudi Arabia tahun 2013, sekarang sedang menempuh pendidikan S3 di tempat yang sama.
Aktivitas keilmuan sekarang mulazamah masyaikh di Riyadh serta mengajar di Maktab Dakwah Naseem, Riyadh.
Lebih dekat dapat dilihat di website beliau ukhuwahislamiah.com dan sutrisnolink.wordpress.com.

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*