taqdir

Terlarangkah Membicarakan Taqdir?

Brilly El-Rasheed Aqidah 0 Comments

Para sahabat menyampaikan masalah taqdir kepada murid-murid mereka, kalangan tabi’in. Mereka mengajukan pertanyaan tentang taqdir untuk menguji dan mengetahui pandangan mereka. Dalam sebuah riwayat Muslim (no. 2650), Abul Aswad ad-Du’ali berkata, “Imran bin Hushain pernah bertanya kepadaku, ‘Apa pendapatmu tentang amalan yang dikerjakan orang hari ini, yakni bekerja keras? Apakah sesuatu yang telah ditetapkan untuk mereka dan sesuatu yang telah lewat taqdir sebelumnya? Ataukah untuk sesuatu yang akan mereka hadapi, dari ajaran yang dibawa oleh Nabi mereka dan hujjah telah tegak untuk mereka?’ Aku menjawab, ‘Bahkan, sesuatu yang telah ditetapkan untuk mereka.’ Beliau bertanya, ‘Kalau begitu, apakah bukan sebuah kezhaliman bagi mereka?’ Abul Aswad berkata, ‘Aku pun langsung benar-benar terkejut.’ Aku berkata, ‘Segala sesuatu adalah ciptaan Allah, kekuasaan di tangan-Nya. Dia tidak ditanya tentang perbuatan-Nya, akan tetapi merekalah yang akan ditanya tentang perbuatan mereka.’ ‘Imran bin Hushain berkata:

يَرْحَمُكَ اللهُ إِنِّي لَمْ أُرِدْ بِمَا سَأَلْتُكَ إِلَّا لِأَحْزِرَ عَقْلَكَ

‘Semoga Allah merahmatimu, sesungguhnya aku tidak memaksudkan dari pertanyaanku kepadamu melainkan untuk memahamkan akalmu’.”

Para ulama salaf telah menulis dan menyusun tulisan tentang taqdir. Jika kita melarang pembahasan tentang taqdir, sama artinya menganggap mereka sebagai orang-orang bodoh. An-Nawawi berkata, “Telah pasti secara dalil qath’i, dari Al-Kitab, As-Sunnah, ijma’ sahabat, ijma’ ahlil halli wal ‘aqdi, dari generasi salaf dan khalaf, tentang ketetapan taqdir. Banyak ulama yang menulis tentang taqdir. Di antara kitab terbaik yang ditulis dan banyak memberikan faedah adalah kitab karya Al-Hafizh Al-Faqih Abu Bakr Al-Baihaqi, semoga Allah merahmatinya.” [Syarah An-Nawawi, an-Nawawi, 1/154—155]

Pertanyaannya, bagaimana memadukan keterangan di atas dengan beberapa riwayat yang menunjukkan larangan membicarakan taqdir? Misalnya, hadits Ibnu Mas’ud riwayat ath-Thabarani dalam kitab al-Mu’jamul al-Kabir (no. 10448) dan yang lain. Rasulullah bersabda:

وَإِذَا ذُكِرَ الْقَدَرُ فَأَمْسِكُوا

“Apabila disebut tentang taqdir, tahanlah diri!”

Atau contoh lain, hadits Abu Hurairah riwayat at-Tirmidzi (no. 2133), Rasulullah sangat marah saat menyaksikan para sahabat sedang berselisih tentang taqdir. Beliau bersabda:

إِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حِينَ تَنَازَعُوا فِي هَذَا الْأَمْرِ، عَزَمْتُ عَلَيْكُمْ أَلَّا تَتَنَازَعُوا فِيهِ

“Sesungguhnya umat sebelum kalian binasa karena memperselisihkan masalah ini (taqdir). Saya mengharuskan kalian untuk tidak berselisih tentang masalah ini!”

Sesungguhnya ajaran Islam tidak mengandung kontradiksi. Larangan untuk membicarakan tentang taqdir hanyalah pada kondisi-kondisi berikut ini.

1. Membicarakan tentang taqdir secara batil, tanpa ilmu dan tanpa dalil.

Allah berfirman: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra’: 36)

“Maksudnya, taqdir termasuk rahasia. Apabila seseorang membahasnya dan memperdalam pembahasan, ia tidak akan mungkin pernah mencapai tujuan melainkan jika dia berjalan sesuai dengan keterangan nash-nash. Pada beberapa hadits disebutkan, ‘Jika perkara taqdir disebut, tahanlah diri!’ Hal ini karena jika si hamba memperdalam pembahasan tentang taqdir bukan di atas ilmu, ia akan terperosok dalam kesesatan. Sebab kesesatannya, karena ia mencari ‘illah (alasan) bagi perbuatan -perbuatan Allah dan membahas taqdir tanpa memiliki pengetahuan tentang Al-Qur’an dan as-Sunnah.” [Syarh Lum’atul I’tiqad, hlm. 70—72]

2. Landasan membicarakan taqdir adalah dengan akal, karena akal manusia sangat terbatas.

3. Tidak bersikap tunduk dan menerima ketentuan Allah tentang taqdir, karena taqdir termasuk perkara gaib.

4. Membahas sisi dan aspek yang tersembunyi tentang taqdir, sesuatu yang tidak dibahas dalam Al-Qur’an dan as-Sunnah.

5. Mengungkapkan pertanyaan-pertanyaan yang menunjukkan ketidakpuasan terhadap nash.

[al-Iman bil Qadha wal Qadar, Muhammad bin Ibrahim, hlm. 19—25]

(1) Pimred majalah TAUHIDULLAH; (2) Pimred majalah dan buletin AS-SHOLIHIN, (3) redaktur pelaksana majalah AL-AKHBAR, (4) editor dan layouter majalah AL IHSAN, (5) reporter majalah MEDIAN LPMP Jawa Timur, (6) kontributor lepas majalah AR-RISALAH, (7) kontributor tetap majalah LENTERA QOLBU, (8) kontributor lepas di majalah ELFATA, (9) editor in chief majalah digital QUANTUM FIQIH, (10) konseptor dan mantan redaktur pelaksana majalah FITHRAH, (11) mantan layouter sekaligus pimred buletin Jum’at THAYBAH, (12) redaktur penerbit PT. EFMS, (13) admin salah satu situs berita Islam Nasional dengan 20.000 visit/hari), (14) online marketing UD. SBY CORPORATION, (15) pengasuh situs THAYBAH.ID, (16) promotor penerbitan majalah donatur, (17) redaktur pelaksana majalah SUARA MASKUMAMBANG, (18) redaktur pelaksana majalah SEJAHTERA dan buletin jumat YATIM SEJAHTERA, dan (19) mengasuh 2 website dan belasan blog keislaman yang ‘hidup segan mati tak mau’ sebagai salah satu cara merehatkan diri, serta (20) penulis buku GOLDEN MANNERS, KUTUNGGU DI TELAGA AL-KAUTSAR, MENDEKAT KEPADA ALLAH, QUANTUM IMAN, yang bisa Anda dapatkan di Gramedia atau toko buku lainnya.

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*