Remaja, Sudahkah Kenal Mereka?

penggembala

Bukan rahasia kalau banyak remaja muslim yang gandrung dengan selebritis. Mereka mengenal para selebritis hingga ukuran sepatunya, warna yang disukainya, makanan favoritnya, kemana berlibur, dulu pernah sekolah dan kuliah dimana, kebiasaan buruknya apa, dan lain-lain. Ini semua didukung dengan pesatnya perkembangan media berita. Di sisi lain, kita perlu tanya kepada diri kita masing-masing yang mungkin masih remaja atau sudah beranjak …

Mintalah Surga, Takutlah Neraka, Berarti Anda Ikhlash!

ikhlas

Berbagai ayat al Qur’an dan riwayat hadits ini menunjukkan bahwa seluruh ajaran agama ini mengajak setiap hamba untuk mencari surga dan berlindung dari neraka-Nya. Dalil-dalil tersebut juga menunjukkan bahwa para rasul, para nabi, para shidiq, para syuhada’, para malaikat dan para wali Allah yang mulia, mereka semua beramal karena ingin meraih surga dan takut akan siksa neraka. Mereka adalah hamba …

Benarkah Allah Benci Hamba yang Berharap Balasan?

berharap

Dalam Al-Qur`an, Allah banyak menyebut balasan-balasan kenikmatan bagi hamba-hamba-Nya yang taat kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal, mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah dari padanya.” (QS. Al Kahfi: 107-108) Allah Ta’ala berfirman, “Al Qur’an sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan siksaan yang sangat pedih dari sisi …

Taklid

Taklid itu dalam dua kondisi Pertama, untuk orang awam yang tidak mampu mengetahui hukum agama secara langsung taklid hukumnya adalah WAJIB mengingat firman Allah QS an Nahl:43. Orang awam tidaklah diperintahkan untuk bertanya kepada para ulama kecuali agar dia mengambilkan fatwa sang ulama. Jika bukan karena tujuan ini lantas apa manfaat bertanya kepada ulama jika fatwa dan penjelasannya tidak kita …

Terlarangkah Membicarakan Taqdir?

taqdir

Para sahabat menyampaikan masalah taqdir kepada murid-murid mereka, kalangan tabi’in. Mereka mengajukan pertanyaan tentang taqdir untuk menguji dan mengetahui pandangan mereka. Dalam sebuah riwayat Muslim (no. 2650), Abul Aswad ad-Du’ali berkata, “Imran bin Hushain pernah bertanya kepadaku, ‘Apa pendapatmu tentang amalan yang dikerjakan orang hari ini, yakni bekerja keras? Apakah sesuatu yang telah ditetapkan untuk mereka dan sesuatu yang telah lewat taqdir sebelumnya? Ataukah untuk sesuatu yang akan mereka hadapi, dari ajaran yang dibawa oleh Nabi mereka dan hujjah telah tegak untuk mereka?’ Aku menjawab, ‘Bahkan, sesuatu yang telah ditetapkan untuk mereka.’ Beliau bertanya, ‘Kalau begitu, apakah bukan sebuah kezhaliman bagi mereka?’ Abul Aswad berkata, ‘Aku pun langsung benar-benar terkejut.’ Aku berkata, ‘Segala sesuatu adalah ciptaan Allah, kekuasaan di tangan-Nya. Dia tidak ditanya tentang perbuatan-Nya, akan tetapi merekalah yang akan ditanya tentang perbuatan mereka.’ ‘Imran bin Hushain berkata: يَرْحَمُكَ اللهُ إِنِّي لَمْ أُرِدْ بِمَا سَأَلْتُكَ إِلَّا لِأَحْزِرَ عَقْلَكَ ‘Semoga Allah merahmatimu, sesungguhnya aku tidak memaksudkan dari pertanyaanku kepadamu melainkan untuk memahamkan akalmu’.” Para ulama salaf telah menulis dan menyusun tulisan tentang taqdir. Jika kita melarang pembahasan tentang taqdir, sama artinya menganggap mereka sebagai orang-orang bodoh. An-Nawawi berkata, “Telah pasti secara dalil qath’i, dari Al-Kitab, As-Sunnah, ijma’ sahabat, ijma’ ahlil halli wal ‘aqdi, dari generasi salaf dan khalaf, tentang ketetapan taqdir. Banyak ulama yang menulis tentang taqdir. Di antara kitab terbaik yang ditulis dan banyak memberikan faedah adalah kitab karya Al-Hafizh Al-Faqih Abu Bakr Al-Baihaqi, semoga Allah merahmatinya.” [Syarah An-Nawawi, an-Nawawi, 1/154—155] Pertanyaannya, bagaimana memadukan keterangan di atas dengan beberapa riwayat yang menunjukkan larangan membicarakan taqdir? Misalnya, hadits Ibnu Mas’ud riwayat ath-Thabarani dalam kitab al-Mu’jamul al-Kabir (no. 10448) dan yang lain. Rasulullah bersabda: وَإِذَا ذُكِرَ الْقَدَرُ فَأَمْسِكُوا “Apabila disebut tentang taqdir, tahanlah diri!” Atau contoh lain, hadits Abu Hurairah riwayat at-Tirmidzi (no. 2133), Rasulullah sangat marah saat menyaksikan para sahabat sedang berselisih tentang taqdir. Beliau bersabda: إِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حِينَ تَنَازَعُوا فِي هَذَا الْأَمْرِ، عَزَمْتُ عَلَيْكُمْ أَلَّا تَتَنَازَعُوا فِيهِ “Sesungguhnya umat sebelum kalian binasa karena memperselisihkan masalah ini (taqdir). Saya mengharuskan kalian untuk tidak berselisih tentang masalah ini!” Sesungguhnya ajaran Islam tidak mengandung kontradiksi. Larangan untuk membicarakan tentang taqdir hanyalah pada kondisi-kondisi berikut ini. 1. Membicarakan tentang taqdir secara batil, tanpa ilmu dan tanpa dalil. Allah berfirman: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra’: 36) “Maksudnya, taqdir termasuk rahasia. Apabila seseorang membahasnya dan memperdalam pembahasan, ia tidak akan mungkin pernah mencapai tujuan melainkan jika dia berjalan sesuai dengan keterangan nash-nash. Pada beberapa hadits disebutkan, ‘Jika perkara taqdir disebut, tahanlah diri!’ Hal ini karena jika si hamba memperdalam pembahasan tentang taqdir bukan di atas ilmu, ia akan terperosok dalam kesesatan. Sebab kesesatannya, karena ia mencari ‘illah (alasan) bagi perbuatan -perbuatan Allah dan membahas taqdir tanpa memiliki pengetahuan tentang Al-Qur’an dan as-Sunnah.” [Syarh Lum’atul I’tiqad, hlm. 70—72] 2. Landasan membicarakan taqdir adalah dengan akal, karena akal manusia sangat terbatas. 3. Tidak bersikap tunduk dan menerima ketentuan Allah tentang taqdir, karena taqdir termasuk perkara gaib. 4. Membahas sisi dan aspek yang tersembunyi tentang taqdir, sesuatu yang tidak dibahas dalam Al-Qur’an dan as-Sunnah. 5. Mengungkapkan pertanyaan-pertanyaan yang menunjukkan ketidakpuasan terhadap nash. [al-Iman bil Qadha wal Qadar, Muhammad bin Ibrahim, hlm. 19—25] Brilly El-Rasheed (1) Pimred majalah TAUHIDULLAH; (2) Pimred majalah dan buletin AS-SHOLIHIN, (3) redaktur pelaksana majalah AL-AKHBAR, (4) editor dan layouter majalah AL IHSAN, …

Empat Dimensi Iman kepada Para Rasul

muhammad

Iman kepada para Rasul mengandung empat dimensi: 1. Mengimani bahwasanya risalah mereka benar-benar dari Allah Azza wa Jalla. Allah al-Haq berfirman: كَذَّبَتْ قَوْمُ نُوحٍ الْمُرْسَلِينَ “Kaum Nuh telah mendustakan para Rasul.” [Asy-Syu-‘araa’: 105] Lihat juga QS. Asy-Syu’araa’: 123, 141 dan 160 Allah Azza wa Jalla menyebutkan bahwa mereka mendustakan semua Rasul, padahal hanya seorang Rasul saja yang ada (yaitu Nuh …

Mari Imani Para Rasul!

rasulullah

Iman kepada para rasul adalah dengan membenarkan wahyunya dan menetapkan nubuwahnya (kenabiannya). Sungguh, para rasul adalah orang-orang yang jujur (shidiq) terhadap yang disampaikan dari Allah. Sungguh, mereka telah menyampaikan risalah (wahyu) dan menjelaskan pada manusia tentang sesuatu yang tidak boleh mereka jahil (bodoh) padanya. Dalil tentang wajibnya beriman pada para Rasul amat banyak. Di antaranya Allah Ta’ala berfirman, وَلَكِنَّ الْبِرَّ …