taawudz

Haruskah Terucap Ta’awudz?

Brilly El-Rasheed Fiqih 3 Comments

فقد أمر الله عز وجل من أراد من عباده أن يقرأ كتابه بالاستعاذة من الشيطان الرجيم، قال الله تعالى: فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ {النحل:98}.

Allah azza wa jalla telah memerintahkan kepada hamba-Nya yang hendak membaca Al Qur’an untuk meminta perlindungan dari syaithan yang terkutuk. Allah ta’ala berfirman :  “Jika Engkau hendak membaca Al Qur’an maka mintalah perlindungan kepada Allah dari syaithan yang terkutuk.” (An Nahl : 98)

ولهذا؛ ذهب بعض أهل العلم إلى وجوب الاستعاذة في بداية القراءة، وذهب الجمهور إلى ندبها واستحبابها.

Berdasarkan ayat ini, sebagain ulama’ berpendapat akan wajibnya membaca ta’awudz sebelum membaca Al Qur’an. Adapun mayoritas ulama’ berpendapat bahwa hal tersebut sunnah dan dianjurkan.

وأما البسملة فيلزم الإتيان بها لمن أراد ابتداء القراءة من أول سورة ما عدا سورة براءة، وأما إذا ابتدأ بالأجزاء أو الأحزاب أو الآيات غير أوائل السور فالقارئ مخير إن شاء بسمل وإن شاء ترك البسملة، والأمر واسع، وقد وردت الأدلة على ذلك، ومن كتابة المصحف حيث كتبت البسملة في بداية كل سورة ما عدا براءة، هذا بالنسبة لمن أراد قراءة القرآن.

Sedangkan basmalah, maka wajib membacanya bagi orang yang membaca Al Qur’an mulai dari awal surat kecuali surat bara-ah (at taubah). Adapun jika membaca Al Qur’an mulai pada bagian tertentu, hizb, atau ayat yang tidak diawal surat, maka ada boleh memilih, jika mau bisa membaca basmalah, jika tidak maka tidak mengapa, dalam hal ini ada kelonggaran. Terdapat dalil akan hal tersebut yaitu ketika dituliskan basmalah pada setiap awal surat di mushaf kecuali surat bara-ah. Semua ini dimaksudkan bagi orang yang hendak membaca Al Qur’an.

أما من أراد الاستشهاد على  أمر أو الاستدلال على حكم فالأصل أنه لا يأتي بالبسملة ولا الاستعاذة،

Adapun orang yang hendak berdalil dengan Al Qur’an untuk hukum tertentu, maka hukum asalnya dia tidak membaca basmalah dan ta’awudz.

فقد كان النبي صلي الله عليه وسلم والصحابة رضوان الله عليهم يستشهدون بالآيات القرآنية، ولم ينقل عنهم أنهم كانوا يستعيذون أو يبسملون،

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum berdalil dengan ayat Al Qur’an namun tidak dinukil dari mereka bahwa mereka membaca ta’awudz atau basmalah.

ففي صحيح البخاري وغيره أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: قال الله تعالى: أعددت لعبادي الصالحين ما لا عين رأت، ولا أذن سمعت، ولا خطر على قلب بشر، فاقرؤوا إن شئتم: فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّا أُخْفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعْيُنٍ.

Didalam shahih Al Bukhari dan selainnya, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Allah ta’ala berfirman : “Aku persiapkan untuk hamba-hamb-Ku yang shalih sesuatu yang tidak pernah terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga dan terbetik dalam hati manusia.” Maka bacalah oleh kalian jika mau : “Tidak ada seorangpun yang mengetahui nikmat yang disembunyikan bagi mereka (di surga) yang menyejukkan mata.”

وفي خطبته صلى الله عليه وسلم في فتح مكة وحجة الوداع: الناس لآدم وآدم من تراب. قال الله تعالى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ.

Pada khutbahnya ketika penaklukan kota Mekah dan saat haji wadaa’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Wahai manusia, anak adam dan adam berasal dari tanah. Allah ta’ala berfirman : “Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kalian dari jenis laki-laki dan perempuan. Dan menjadikan kalian berkelompok-kelompok dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Melihat dan Maha Mengetahui.”

وقال صلى الله عليه وسلم: ما من مولود إلا يولد على الفطرة فأبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه كما تنتج البهيمة بهيمة جمعاء هل تحسون فيها من جدعاء، ثم يقول: فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا. وهذه الأحاديث كلها صحيحة في الصحيحين أو غيرهما.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Tidaklah lahir seorang bayi kecuali dia dalam keadaan fithrah. Maka kedua orang tuanya yang menjadikan dia Yahudi, Nasrani atau Majusi sebagaimana binatang ternak melahirkan anaknya dalam keadaan sempurna, apakah kalian melihat ada yang cacat padanya.”, kemudian berkata : “Fithrah Allah yang telah menciptakan manusia diatas fithrah tersebut.”

Hadits-hadits ini semuanya shahih, ada di shahihain atau selain keduanya.

وهذا يدل على أن المستدل والخطيب والكاتب….. لا يستعيذ ولا يبسمل، وإنما يكتفي بقال الله تعالى، أو ما أشبه ذلك، مما يميز القرآن الكريم عن غيره.

Semua ini menunjukkan bahwa orang yang berdalil, khatib dan penulis . . . tidak perlu mengucapkan ta’awudz dan basmalah. Cukup berkata : Allah ta’ala berfirman atau yang semisalnya, untuk membedakan Al-Qur’an dengan yang lainnya.

والله أعلم.

Sumber : http://www.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=52684

[/B]

(1) Pimred majalah TAUHIDULLAH; (2) Pimred majalah dan buletin AS-SHOLIHIN, (3) redaktur pelaksana majalah AL-AKHBAR, (4) editor dan layouter majalah AL IHSAN, (5) reporter majalah MEDIAN LPMP Jawa Timur, (6) kontributor lepas majalah AR-RISALAH, (7) kontributor tetap majalah LENTERA QOLBU, (8) kontributor lepas di majalah ELFATA, (9) editor in chief majalah digital QUANTUM FIQIH, (10) konseptor dan mantan redaktur pelaksana majalah FITHRAH, (11) mantan layouter sekaligus pimred buletin Jum’at THAYBAH, (12) redaktur penerbit PT. EFMS, (13) admin salah satu situs berita Islam Nasional dengan 20.000 visit/hari), (14) online marketing UD. SBY CORPORATION, (15) pengasuh situs THAYBAH.ID, (16) promotor penerbitan majalah donatur, (17) redaktur pelaksana majalah SUARA MASKUMAMBANG, (18) redaktur pelaksana majalah SEJAHTERA dan buletin jumat YATIM SEJAHTERA, dan (19) mengasuh 2 website dan belasan blog keislaman yang ‘hidup segan mati tak mau’ sebagai salah satu cara merehatkan diri, serta (20) penulis buku GOLDEN MANNERS, KUTUNGGU DI TELAGA AL-KAUTSAR, MENDEKAT KEPADA ALLAH, QUANTUM IMAN, yang bisa Anda dapatkan di Gramedia atau toko buku lainnya.

Rekomendasi Artikel

Comments 3

  1. Lafazh ta’awudz yang masyhur adalah a’uudzubillaahi minasy-syaithaanir-rajiim. Ada riwayat lain dari Nabi dimana Nabi mengajarkan lafazh ta’awudz yang lain. Dan ta’awudz sejatinya adalah doa, sehingga lafazhnya boleh dengan lafazh selain yang disebutkan. Allah Mahatahu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*