uhud

Ada Shahabat yang Murtad?

Brilly El-Rasheed Aqidah 0 Comments

Menyimak hadits-hadits tentang telaga Nabi khususnya di dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, kita mungkin akan menyadari ada hadits yang sedikit bernuansa kontradiksi yang menyebutkan bahwa ada shahabat yang murtad. Jika kita membacanya sepintas lalu tanpa bimbingan dari para ulama hadits, niscaya kita akan terjerumus pada aqidah yang salah, yang dianut oleh Syiah.

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ حَدَّثَنَا الْمُغِيرَةُ بْنُ النُّعْمَانِ قَالَ حَدَّثَنِي سَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّكُمْ مَحْشُورُونَ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا ثُمَّ قَرَأَ  كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُعِيدُهُ وَعْدًا عَلَيْنَا إِنَّا كُنَّا فَاعِلِينَ .وَأَوَّلُ مَنْ يُكْسَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِبْرَاهِيمُ وَإِنَّ أُنَاسًا مِنْ أَصْحَابِي يُؤْخَذُ بِهِمْ ذَاتَ الشِّمَالِ فَأَقُولُ أَصْحَابِي أَصْحَابِي فَيَقُولُ إِنَّهُمْ لَمْ يَزَالُوا مُرْتَدِّينَ عَلَى أَعْقَابِهِمْ مُنْذُ فَارَقْتَهُمْ فَأَقُولُ كَمَا قَالَ الْعَبْدُ الصَّالِحُ وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَا دُمْتُ فِيهِمْ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي إِلَى قَوْلِهِ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ .

Telah bercerita kepada kami Muhammad bin Katsir telah mengabarkan kepada kami Sufyan telah bercerita kepada kami Al-Mughirah bin An-Nu’man berkata telah bercerita kepadaku Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, Sesungguhnya kalian akan dikumpulkan (pada hari qiyamat) dalam keadaan telanjang dan tidak dikhitan. Lalu Beliau membaca firman Allah QS Al-Anbiya` ayat 104 yang artinya (Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan yang pertama, begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti dari Kami. Sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya). Dan orang yang pertama kali diberikan pakaian pada hari qiyamat adalah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan ada segolongan orang dari sahabatku yang akan diculik dari arah kiri lalu aku katakana, Itu sahabatku, Itu sahabatku. Maka Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya mereka menjadi murtad sepeninggal kamu.” Aku katakan sebagaimana ucapan hamba yang shalih (firman Allah dalam QS Al-Maidah ayat 117 – 118 yang artinya (Dan aku menjadi saksi atas mereka selagi aku bersama mereka. Namun setelah Engkau mewafatkan aku…) hingga firman-Nya (….Engkau Maha Perkasa lagi Maha bijaksana). [Shahih Bukhari, no. 3100]

Makna firman Allah Subhanahu wa Ta’ala قَالَ فَيُقَال إِنَّهُمْ لَمْ يَزَالُوا مُرْتَدِّينَ عَلَى أَعْقَابِهِمْ “Sesungguhnya mereka menjadi murtad sepeninggal kamu.” Disampaikan oleh Al-Mubarakhfuri di dalam Tuhfah Al-Ahwadzi dengan mengutip pemaparan An-Nawawi di dalam Al-Minhaj, dimana An-Nawawi menyimpulkan bahwa terjadi perbedaan pandangan di kalangan para ulama tentang hal itu,

Pertama. Bahwa maksudnya adalah orang-orang munafik dan orang-orang murtad yang bisa jadi dikumpulkan dikarenakan cahaya (bekas wudhu) lalu Nabi shalallahu alaihi wa sallam memanggil mereka dikarenakan tanda yang ada pada mereka namun dikatakan (kepada Nabi) bahwa mereka bukan termasuk orang-orang yang dijanjikan kepadamu. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang telah mengganti (agamanya) setelahmu artinya bahwa mereka tidaklah mati di atas fithrahnya yaitu tauhid seperti saat kamu tinggalkan mereka.

Kedua. Bahwa maksudnya adalah orang yang ada pada zaman Nabi shalallahu alaihi wa sallam kemudian murtad sepeninggalnya lalu Nabi shalallahu alaihi wa sallam memanggil mereka meskipun tidak ada tanda wudhu pada diri mereka dikarenakan Nabi shalallahu alaihi wa sallam mengenalnya di saat hidupnya akan keislaman mereka lalu dikatakan kepada Nabi shalallahu alaihi wa sallam bahwa mereka telah murtad sepeninggal beliau.

Ketiga. Bahwa mereka adalah para pelaku maksiat dan dosa besar yang meninggal di atas tauhid serta para pelaku bid’ah yang kebid’ahannya tidak mengeluarkan mereka dari islam. Ibnu Abdil Barr mengatakan bahwa setiap yang melakukan perbuatan baru didalam agama (bid’ah) termasuk orang-orang yang dihalau dari telaga (Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam), seperti Khawarij, Rafizhah dan para pengikut hawa nafsu.” Dia juga mengatakan,”Termasuk orang-orang zhalim yang berlebihan didalam kezhaliman, menghilangkan kebenaran dan mengumumkan dosa-dosa besarnya.” Dia berkata,”Setiap mereka dikhawatirkan termasuk dalam apa yang dimaksudkan di dalam hadits.”

Sekian penjelasan An-Nawawi yang dikuti Al-Mubarakfuri. Namun khusus untuk Khawarij, ada hadits tersendiri yang menyebutkan bahwa mereka juga dihalau dari telaga Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam.

Dalam Fat-h Al-Bari 18/370, kita juga akan dapatkan uraian dari Ibnu Hajar serta ulama lainnya yang beliau nukil. Ibnu Hajar menyebutkan, yang terdapat didalam riwayat Al-Kusymihani “Lan Yazaaluu” serta didalam terjemah Maryam dari hadits-hadits tentang para Nabi. Al-Farari berkata bahwa telah disebutkan dari Abu Abdillah Al-Bukhari dari Qabishah berkata,”Mereka adalah orang-orang yang murtad pada masa Abu Bakar yang kemudian diperangi Abu Bakar hingga mereka terbunuh dan mati dalam keadaan kufur. Al-Ismaili juga telah menyambungkannya dari sisi lain dari Qabishah.

Al-Khattabi memaparkan,”Tak seorang pun dari sahabat yang murtad. Adapun yang murtad adalah orang-orang kasar dari kalangan badui yang tidak pernah membela agama (islam) dan hal ini tidaklah menjadikan aib bagi para sahabat yang masyhur. Hal itu ditunjukkan dengan perkataannya “Ushaihabii” dengan pola yang menunjukkan kecil (tashghir), maksudnya jumlah mereka adalah sedikit.” Ibnu At-Tin menjelaskan,”(Teks ini) mengandung makna bahwa mereka adalah orang-orang munafik atau para pelaku dosa-dosa besar.” Ad-Dawawi mengatakan,”Tidak menutup kemungkinan termasuk pula para pelaku dosa besar dan perbuatan bid’ah.”

Ungkapan ringkas Ad-Dawawi ini sangat benar adanya, karena banyak riwayat-riwayat lain yang senada yaitu tentang al-haudh, bahwa orang-orang yang berbuat bid’ah adalah berarti mengubah-ubah agama Nabi Muhammad, dan mereka pun dihalau dari telaga beliau.

Dari penjelasan ini, jangan sampai ada yang berkeyakinan atau mengira atau bahkan berprasangka bahwa ada di antara shahabat Nabi yang murtad dari Islam, karena mengikuti aqidah Syiah. Na’udzubillah. Sesungguhnya para shahabat adalah bintang-bintang di angkasa sejarah Islam. [/Rasheed]

(1) Pimred majalah TAUHIDULLAH; (2) Pimred majalah dan buletin AS-SHOLIHIN, (3) redaktur pelaksana majalah AL-AKHBAR, (4) editor dan layouter majalah AL IHSAN, (5) reporter majalah MEDIAN LPMP Jawa Timur, (6) kontributor lepas majalah AR-RISALAH, (7) kontributor tetap majalah LENTERA QOLBU, (8) kontributor lepas di majalah ELFATA, (9) editor in chief majalah digital QUANTUM FIQIH, (10) konseptor dan mantan redaktur pelaksana majalah FITHRAH, (11) mantan layouter sekaligus pimred buletin Jum’at THAYBAH, (12) redaktur penerbit PT. EFMS, (13) admin salah satu situs berita Islam Nasional dengan 20.000 visit/hari), (14) online marketing UD. SBY CORPORATION, (15) pengasuh situs THAYBAH.ID, (16) promotor penerbitan majalah donatur, (17) redaktur pelaksana majalah SUARA MASKUMAMBANG, (18) redaktur pelaksana majalah SEJAHTERA dan buletin jumat YATIM SEJAHTERA, dan (19) mengasuh 2 website dan belasan blog keislaman yang ‘hidup segan mati tak mau’ sebagai salah satu cara merehatkan diri, serta (20) penulis buku GOLDEN MANNERS, KUTUNGGU DI TELAGA AL-KAUTSAR, MENDEKAT KEPADA ALLAH, QUANTUM IMAN, yang bisa Anda dapatkan di Gramedia atau toko buku lainnya.

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*