hadiah

Hadiah Uang dalam Produk

Brilly El-Rasheed Fiqih, Kontemporer 0 Comments

Sebagai entrepreneur, banyak sekali cara yang dicetuskan dalam bisnis untuk menarik customer sebanyak-banyaknya, salah satunya, menyertakan hadiah uang tunai dalam produk. Kita sering sekali menjumpai hal itu. Sebagai entrepreneur muslim, kita patut mencari hukum trik bisnis tersebut dalam Islam.

Hukum permasalahan ini diperselisihkan oleh fuqaha` (para ulama fiqih). Ada dua pandangan,
Pandangan pertama mengharamkannya, karena menilai bahwa hal ini termasuk dalam transaksi yang oleh para ulama klasik dikenal dengan istilah ‘muddu ajwah wa dirham’. Itu termasuk transaksi tukar-menukar satu jenis komoditi ribawi dengan sesama jenisnya, namun pada salah satu benda komoditi ribawi terdapat benda tambahan nonribawi.

Contohnya kurma dibarter dengan kurma, namun bersama kurma kedua tersebut terdapat tambahan berupa uang tunai. Kurma dibarter dengan kurma adalah barter komoditi ribawi dengan komoditi ribawi sejenis, yang dalam kurma kedua terdapat tambahan yang tidak sejenis dengan komoditi ribawi yang dibarterkan.

Kita cermati hadis dari Fudhalah bin Ubaid dalam perang Khaibar. Beliau membeli kalung emas yang mengandung marjan dengan uang dinar yang terbuat dari emas. Nabi Muhammad mengomentari,

لاَ تُبَاعُ حَتَّى تُفَصَّلَ

“Kalung semacam itu tidak boleh dijual sampai bagian yang bukan emas dipisahkan dari emasnya. [Shahih Muslim no. 4160]

Saat emas ditukar dengan emas, timbangan keduanya harus sama, meskipun kualitas karatnya berbeda dan pada salah satu emas  tidak boleh ada tambahan meski tambahan tersebut berasal dari selain emas. Jika tambahannya berupa emas, berarti terjadi riba fadhl, jadi tetap haram. Sedangkan jika tambahannya itu bukan emas juga tetap haram karena hal ini adalah sarana menuju riba fadhl.

Pandangan kedua, merinci hukum kasus ini dengan meninjau nilai uang yang disertakan. Jika nilainya remeh atau sedikit, menurut ‘urf (penilaian umumnya masyarakat), maka hukumnya adalah tidak mengapa. Misalnya hadiah uang tunai dalam komoditi cuma seribu rupiah atau lima ratus rupiah, sedangkan komoditinya seharga ratusan ribu. Dan hadiah uang tunai seribu rupiah tidak akan menjadi target dan harapan pembeli sehingga transaksi yang terjadi adalah tukar-menukar uang dari pembeli dan komoditi inti dari penjual. Sedangkan hadiah uang tunai yang disertakan dalam komoditi sekedar tambahan yang tidak dimaksudkan dalam transaksi tersebut.

Alasannya, para ulama klasik juga memberikan toleransi untuk tambahan yang remeh dalam transaksi ‘mudd ajwah wa dirham’. Namun apabila hadiah uang tunai tersebut nilainya cukup besar, maka hal ini tidak diperbolehkan karena keberadaan uang hadiah tersebut menjadi tujuan pelaku transaksi, maka transaksi real yang terjadi adalah tukar-menukar uang rupiah dengan uang rupiah, dan pada salah satu uang rupiah terdapat tambahan berupa komoditi yang disertai hadiah uang, sehingga hal ini terlarang karena tergolong kasus ‘mudd ajwah wa dirham’.
Dalam hal ini, penulis condong pada pandangan yang lebih rajih (kuat) yaitu pandangan kedua yang memberi rincian besaran nilai uang yang menjadi hadiah. [Al-Mu’amalah Al-Maliyah Al-Muashirah, Hal. 37]

(1) Pimred majalah TAUHIDULLAH; (2) Pimred majalah dan buletin AS-SHOLIHIN, (3) redaktur pelaksana majalah AL-AKHBAR, (4) editor dan layouter majalah AL IHSAN, (5) reporter majalah MEDIAN LPMP Jawa Timur, (6) kontributor lepas majalah AR-RISALAH, (7) kontributor tetap majalah LENTERA QOLBU, (8) kontributor lepas di majalah ELFATA, (9) editor in chief majalah digital QUANTUM FIQIH, (10) konseptor dan mantan redaktur pelaksana majalah FITHRAH, (11) mantan layouter sekaligus pimred buletin Jum’at THAYBAH, (12) redaktur penerbit PT. EFMS, (13) admin salah satu situs berita Islam Nasional dengan 20.000 visit/hari), (14) online marketing UD. SBY CORPORATION, (15) pengasuh situs THAYBAH.ID, (16) promotor penerbitan majalah donatur, (17) redaktur pelaksana majalah SUARA MASKUMAMBANG, (18) redaktur pelaksana majalah SEJAHTERA dan buletin jumat YATIM SEJAHTERA, dan (19) mengasuh 2 website dan belasan blog keislaman yang ‘hidup segan mati tak mau’ sebagai salah satu cara merehatkan diri, serta (20) penulis buku GOLDEN MANNERS, KUTUNGGU DI TELAGA AL-KAUTSAR, MENDEKAT KEPADA ALLAH, QUANTUM IMAN, yang bisa Anda dapatkan di Gramedia atau toko buku lainnya.

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*