mufti

Mufti Masa Kini Tak Punya “Gigi”

Brilly El-Rasheed Manhaj 4 Comments

Umpatan, kecaman, bahkan hujatan terhadap para ulama memang marak akhir-akhir ini. Yang mengherankan, dan patut disayangkan, umumnya, yang menggugat dan mencela para ulama sebagai orang yang tak tahu hakekat Islam itu dari sebagian orang Islam yang tidak paham dengan Islam. Dengan berbekal kepandaian mereka dalam IPTEK, mereka berani mendebat dan menyalahkan fatwa para ulama yang kompeten.

Lebih mengerikan lagi, kebanyakan orang, terutama media massa, menganggap, semua tokoh cendekiawan dalam ilmu dunia yang beragama Islam –entah Islam yang mana yang mereka anut- adalah ahli hukum Islam yang harus diikuti pendapatnya, sehingga mereka berani mencerca para mufti (ulama yang punya otoritas berfatwa). Mereka juga tak segan-segan menonjolkan gelar akademisnya sebagai backing untuk membodohkan para mufti dan untuk mencari simpatisan dan pendukung.

Tidak sekali-dua kali, para mufti dihujat para mufti gadungan dan masyarakat Islam awam. Bahkan, ketika rokok difatwakan keharamannya, gelombang penolakan bergulir sedemikian besar. Lebih aneh lagi, agama Ahmadiyah yang sudah jelas-jelas adalah agama yang independent yang tidak ada sangkut-pautnya sama sekali dengan agama Islam, masih saja banyak yang menyalahkan fatwa sesatnya Ahmadiyah. Mereka bersandar pada argumentasi rapuh berdalih kebebasan HAM yang dikoar-koarkan para mufti “imitasi”. Alih-alih menengok dalil untuk kemudian menaati para mufti, melihat teks fatwa saja, para mufti “imitasi” itu tak sudi.

Kalau kita cermati sepertinya ulama khususnya mufti sekarang tidak begitu dihormati. Wejangan mereka yang berbentuk fatwa tidak ada gunanya. Sepertinya hanya formalitas sebuah negara atau hanya merupakan angin lalu. Beberapa hari sebelum tulisan ini saya buat, di sebuah acara bertajuk kajian Islam di stasiun televisi swasta nasional, salah seorang hadirin bertanya kepada narasumber, mengenai wajibkah fatwa itu diikuti. Sungguh mencengangkan, narasumber yang telah bergelar ulama ini menjawab, fatwa tidak wajib diikuti.

Aneh bukan, “fatwa” mufti gadungan ini? Fatwa tidak wajib diikuti. Bisa dibayangkan apa jadinya jika “fatwa” nyeleneh ini malah diikuti. Ulama tak ubahnya seperti anak bayi yang belum punya gigi. Bisa bersuara namun tidak jelas. Anak bayi yang berbicara tentang persoalan orang dewasa, pasti akan tidak dihiraukan. “Anak bayi itu tahu apa? Gigi saja belum genap kok sudah ikut campur urusan orang tua.”

Kedudukan Fatwa dalam Islam

Dalam Islam, fatwa sangatlah urgent dan tidak bisa diabaikan, apalagi digugurkan. Mengingat sangat pentingnya keberadaan fatwa bagi umat Islam, sampai-sampai beberapa ulama Islam menyatakan, haram hukumnya tinggal di sebuah wilayah, jika tidak terdapat seorang mufti yang bisa dijadikan tempat bertanya tentang persoalan agama di wilayah tersebut. [Lihat Al-Bahr Ar-Ra`iq VI/260; Al-Furu’ IV/119; Al-Majmu Syarh Al-Muhadzdzab I/47; Kasyf Al-Qana’ IV/177]

Adalah statement gila, jika umat Islam tidak harus menaati fatwa. Dalil apa yang dia pakai? Bukankah sudah jelas bahwa para mufti termasuk jajaran para ulama. Dan seluruh ulama –yang benar-benar ulama yang kompeten- adalah ulil amri. Sedangkan ketaatan kepada ulil amri adalah sebuah kewajiban mutlak seperti halnya kewajiban menaati Allah dan RasulNya. Dalam Al-Qur`an surah An-Nisa` (4) ayat no.59, Allah jalla wa ‘azza berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ   وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى   اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ   ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kalian kepada Allah dan taatlah kalian kepada Rasul, beserta ulil amri di antara kalian. Maka jika kalian berselisih tentang suatu perkara, kembalikanlah kepada Allah dan Rasul, jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari Akhir. Sikap itu baik dan ta`wil yang paling bagus.”

Sangat jelas bukan, wajibnya umat Islam menaati fatwa? Saking jelasnya, sampai-sampai Allah gandengkan ketaatan kepada fatwa dengan ketaatan kepada Allah dan RasulNya. Kita bisa mengambil banyak pelajaran dari ayat ini. Pertama, umat Islam wajib menaati Allah, Rasulnya, dan ulil amri. Para ulama Islam mengatakan ulil amri adalah para penguasa umat Islam dan para ulama. Kedua, kita wajib menaati fatwa para ulama yang kredibel dan kompeten, serta ulama yang benar-benar ulama. Ketiga, tidak semua fatwa harus kita ikuti. Hanya fatwa yang sesuai dengan syariat Allah yang dipublikasikan RasulNya saja yang harus kita ikuti. Fatwa yang menyelisihi syariat Islam sedikit saja, tidak boleh kita ikuti sama sekali.

Keempat, ketika ada perselisihan atau persengketaan yang sulit dipecahkan, kita harus mengembalikannya kepada Allah dan RasulNya. Artinya kita cari solusinya dengan mengkaji Al-Qur`an dan As-Sunnah. Kelima, jika kita menjumpai fatwa-fatwa para ulama saling kontradiksi, kita harus mengikuti fatwa yang sesuai dengan syariat Islam. Fatwa yang menyimpang dari syariat, harus kita benarkan dan luruskan kesalahannya, dan kita peringatkan umat darinya. Tentu dengan cara yang paling baik dan penuh etika.

Keenam, sesungguhnya yang diikuti dari sebuah fatwa bukanlah fatwa itu sendiri. Yang kita ikuti dari sebuah fatwa adalah dalil-dalilnya. Dalil-dalil itu adalah berupa ayat Al-Qur`an dan As-Sunnah. Ketaatan kita kepada fatwa adalah karena kita diperintahkan Allah untuk menaati para ulil amri, yang terdiri dari para ulama dan penguasa umat Islam. Jadi fatwa merupakan alat bantu untuk memudahkan pemahaman terhadap hukum-hukum syar’i. Fatwa merupakan format yang mempermudah umat untuk mendapatkan hukum-hukum Islam tentang suatu permasalahan.

Jadi para mufti itu sangat berjasa kepada kita. Karena dengan fatwa mereka kita dengan mudah mendapatkan hukum atas suatu hal. Seharusnya kita berterima kasih kepada mereka karena mereka telah rela meluangkan waktunya untuk kita. Bukan malah kita cela mereka, sekalipun terkadang mereka salah. Sebab sekalipun para mufti itu salah dalam ijtihad dan fatwa mereka, mereka tetap mendapatkan satu pahala dari Allah. Dan jika fatwa dan ijtihad mereka benar, sesuai dengan syariat Allah, maka mereka mendapat dua pahala dari Allah.

MUI Harus Ditaati

Di Indonesia, yang menjabat sebagai mufti secara resmi adalah MUI. Majelis Ulama Indonesia atau MUI yang berdiri pada 7 Rajab 1395 atau 26 Juli 1975 di Jakarta ini merupakan wadah musyawarah para ulama, zu’ama dan cendekiawan muslim Indonesia, memiliki 5 peran diantaranya sebagai pemberi fatwa, dan sebagai penegak amar ma’ruf dan nahi munkar. MUI adalah kepanjangan tangan dari pemerintah Indonesia yang bertugas mengurusi berbagai problematika umat Islam. Jadi MUI bisa dikategorikan sebagai ulama juga bisa sebagai penguasa umat Islam. Namun tetap saja, ulama dan penguasa umat Islam adalah ulil amri. Jadi MUI memiliki kedudukan ganda.

Kesimpulannya, kita wajib menaati fatwa MUI. Umat Islam wajib menaati fatwa MUI. Jika tidak berarti dia tidak menaati Allah dan RasulNya. Rasulullah berkata, artinya, “Siapa yang menaati pemimpin berarti ia menaatiku dan siapa yang mendurhakai pemimpin berarti ia telah mendurhakaiku.” [Shahih Al-Bukhari no.2957; Shahih Muslim no.1835]

Tentu saja sekali lagi, fatwa yang kita ikuti hanya fatwa yang benar-benar sesuai dengan syariat Allah yang dibawa dan disosialisasikan Rasulullah. Dari mana kita bisa tahu, sedangkan kita masih awam terhadap Islam? Gampang, ketika ada fatwa dari MUI atau lainnya dari para mufti, kita lihat dalil yang dia pakai. Jika dalilnya benar dari Al-Qur`an dan As-Sunnah dengan pemahaman para salafus shalih, maka kita wajib mengikuti fatwa tersebut.

Al-Hafizh Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah (691H-751H), seorang ulama salaf dari kota Al-Jauziyyah di Damaskus, dalam bukunya I’lam Al-Muwaqqi’in IV/212, “Seorang yang memahami Kitab Allah, Sunnah Rasulullah dan ucapan shahabat dialah yang berhak berijtihad pada perkara nawazil (kejadian atau masalah yang baru). Golongan inilah yang boleh berijtihad dan boleh dimintai fatwa.”

Al-Imam Al-Qarrafi sendiri menyatakan bahwa mufti di hadapan Allah ibarat kedudukan seorang penerjemah di hadapan hakim, yang menerjemahkan keputusan hukum. Sebagai penerjemah, ia tidak boleh mengurangi dan menambahnya. [Al-Ihkam fi Tamyiz Al-Fatawa min Al-Ahkam hal.30] Karenanya, wajib bagi para penguasa untuk memperhatikan sarana-sarana penting guna mempersiapkan para mufti dalam rangka menciptakan kemaslahatan bagi masyarakat luas, terutama umat Islam, sekaligus melarang mereka yang tidak punya kompetensi berfatwa, mengeluarkan fatwa. [Lihat Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab I/69; I’lam Al-Muwaqqi’in IV/214; Al-Faqih wa Al-Mutafaqqih II/55; Al-Ahkam As-Sulthaniyyah hal.55]

Dalam bukunya, Al-Fiqh Al-Islam wa Adillatuh VIII/5082, Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhaili, salah seorang ulama anggota Majma’ Fiqh Al-Islami, mengutip keputusan Fatwa Majma’ Fiqh Al-Islami tentang hal ini. Bahwa Mahkamah non-Islam atau hakim non-Islam tidak boleh mengeluarkan keputusan tentang Islam, apalagi terhadap hal-hal yang menyelisihi ijma’ umat Islam. Jika ada penghukuman yang dikeluarkan dari mahkamah non-syar’i maka dianggap bathil. Dengan demikian, kedudukan fatwa yang dikeluarkan para ulama adalah benar dan mulzim (wajib dilaksanakan) oleh kaum Muslim (bukan nonMuslim). Setelah dikeluarkannya fatwa, diperlukan kekuatan politik dan hukum sebagai alat. Itulah tugas pemerintah. Bukan wilayah ulama lagi.

”Bertanyalah kepada ahlu dzikr (ulama) jika kalian tidak mengetahui.” [An-Nahl: 43]

Copy Right © 1430 Brilly El-Rasheed

Dipublish oleh www.thaybah.or.id

(1) Pimred majalah TAUHIDULLAH; (2) Pimred majalah dan buletin AS-SHOLIHIN, (3) redaktur pelaksana majalah AL-AKHBAR, (4) editor dan layouter majalah AL IHSAN, (5) reporter majalah MEDIAN LPMP Jawa Timur, (6) kontributor lepas majalah AR-RISALAH, (7) kontributor tetap majalah LENTERA QOLBU, (8) kontributor lepas di majalah ELFATA, (9) editor in chief majalah digital QUANTUM FIQIH, (10) konseptor dan mantan redaktur pelaksana majalah FITHRAH, (11) mantan layouter sekaligus pimred buletin Jum’at THAYBAH, (12) redaktur penerbit PT. EFMS, (13) admin salah satu situs berita Islam Nasional dengan 20.000 visit/hari), (14) online marketing UD. SBY CORPORATION, (15) pengasuh situs THAYBAH.ID, (16) promotor penerbitan majalah donatur, (17) redaktur pelaksana majalah SUARA MASKUMAMBANG, (18) redaktur pelaksana majalah SEJAHTERA dan buletin jumat YATIM SEJAHTERA, dan (19) mengasuh 2 website dan belasan blog keislaman yang ‘hidup segan mati tak mau’ sebagai salah satu cara merehatkan diri, serta (20) penulis buku GOLDEN MANNERS, KUTUNGGU DI TELAGA AL-KAUTSAR, MENDEKAT KEPADA ALLAH, QUANTUM IMAN, yang bisa Anda dapatkan di Gramedia atau toko buku lainnya.

Rekomendasi Artikel

Comments 4

  1. Saudaraku ! jagn tafsirkan ayat menurt hati anda, jangan sembarang nuduh orang tawasul murtat, ngaji dulu yg lebih dalam, kalau ngak kamu yg kafir. tau gak Nabi nuh sja bertawasul dg Nabi Muhammad yang belum lahir, tlg pelajari apa yg tertulis pada kapal nabi nuh. Sekali lgi kalu gak cukup ilmu jagn sok alim, nanti kamu jadi syaitan.

    1. Semoga Allah memberi petunjuk pada kita semua.
      Baca dengan baik, insyaallah anda dapat berkomentar yang sesuai dengan ini tulisan…

  2. Memang betul, menafsirkan Al-Qur`an tidak boleh dengan hati atau pendapat sendiri, tapi harus merujuk kepada para mufassirin yang mu’tabar. Kami mengajarkan ilmu bukan untuk sok alim. Insya Allah kita semua sedang mendalami Islam bersama para ulama. Jika kami memiliki kesalahan, sampaikan kritik konstruktif secara santun dan bijaksana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*