masjid

Masjid Akan Selalu Eksis

Brilly El-Rasheed Penyejuk Hati 0 Comments

Tidak semua masjid dibangun dari nol, dari tanah kosong. Ada masjid yang dibangun dari bangunan lain. Tidak sedikit yang dibangun dari tempat ibadah agama lain. Karena kedatangan sekian orang Islam, maka diubahlah tempat ibadah itu menjadi masjid. Biasanya ini seiring dengan masuknya penduduk sekitar tempat ibadah itu ke dalam Islam, atau juga bertambahnya populasi umat Islam di daerah tersebut. Bahkan pendirian Masjid model ini, yaitu mengalih fungsikan tempat ibada agama lain menjadi masjid, semakin ngetrend. Berikut saya sebutkan profil masjid-masjid yang dulunya adalah tempat ibadah agama lain.

Synagoge Besar Oran

Dalam bahasa Arab disebut Ma’bad Wahran Al-‘Azhim. Terletak di jalan Maata Muhammad Al-Habib, Aljazair. Synagoge (tempat ibadat Kaum Yahudi) ini dibangun pada 1880 oleh Simon Kanoui. Dulu merupakan synagoge terbesar dan paling berpengaruh di Afrika Utara. Saat kemerdekaan Aljazair, synagoge ini diubah menjadi masjid pada 1975.

Hagia Sophia

Hagia Sophia atau biasa dibaca Aya Sofia semula merupakan gereja di Istanbul, Turki. Dibangun oleh Kaisar Bizantium Justinia I pada 532 M dan 537 M. Sebetulnya bangunan Aya Sofia in merupakan bangunan gereja ketiga setelah dua bangunan sebelumnya yang dibangun pada lokasi yang sama, runtuh akibat kerusuhan.

Pada 1453 M, Konstantinopel ditaklukkan oleh Khilafah Turki Utsmani. Sultan Muhammad II memerintahkan gereja ini diubah menjadi masjid. Segala yang berbau Nashrani, semacam lonceng, altar, vas suci, disingkirkan dari bangunan ini. Turki Utsmani menambahkan menara, mihrab, dan mimbar. Bangunan hasil renovasi ini difungsikan sebagai masjid sampai 1935 M. Kemudian pada tahun tersebut, diubah lagi menjadi museum oleh Republik Turki sekuler.

Ada lagi Aya Sofia yang lain, yang sering disebut Aya Sofia Kecil. Terletak di distrik Eminonu, Istanbul, Turki.  Awalnya merupakan Gereja Santo Sergius dan Bacchus yang dibangun dalam rentang waktu 527 dan 536 M. Juga di masa pemerintahan Justinia I, sesaat sebelum pembangunan Aya Sofia besar.

Saat Konstantinopel ditaklukkan, gereja ini belum disentuh Turki Utsmani. Baru pada pemerintahan Sultan Bayazid II, gereja ini diubah menjadi masjid oleh Husain Agha, kepala Agha, penjaga Bab As-Sa’adah di kesultanan. Sampai sekarang, bangunan ini masih difungsikan sebagai masjid.

Di luar Turki pun ada Aya Sofia yang sempat dijadikan sebagai masjid. Terletak di Bulgaria dan diperkirakan dibangun juga oleh Justinia I pada 527 M. Saat Turki Utsmani berkuasa, gereja ini sempat difungsikan sebagai masjid. Sekarang kembali menjadi gereja.

Masjid Selimiye

Masjid Selimiye atau As-Salamiyyah terletak di Nicosia, Cyprus, yang dulunya adalah gereja Kristen Katedral Santo Sophia. Dibangun pada 1228 M. Setelah Turki Utsmani menguasai Cyprus pada 1571 M, gereja ini diubah menjadi masjid. Sekarang menjadi masjid jami’ terbesar di Nicosia, Cyprus.

Masjid Lala Mustapha Pasha

Terletak di Famagusta, Cyprus. Sebelumnya merupakan gereja Santo Nicholas yang dibangun pada 1328 M. Saat Famagusta, Cyprus. Saat Famagusta jatuh ke tangan Turki Utsmani pada Agustus 1571 M, gereja ini diubah menjadi masjid dan diberi nama Masjid Santo Sophia Gazi-magosa. Gambar-gambar makhluk bernyawa, salib, serta makam disingkirkan. Pada 1954 M, masjid ini diganti nama menjadi Masjid Lala Musthafa Pasha.

Masjid Haidarpasha

Di Nicosia, masjid yang sebelumnya adalah Katedral Santa Catherine ini dibangun oleh pengikut Lusignan pada abad ke-14. Turki Utsmani lah yang mengubahnya menjadi masjid ketika Nicosia tertaklukkan.

Masjid Jami’ Bani Umayah Al-Kabir

Juga biasa disebut Masjid Jami Al-‘Umawi. Bangunan Masjid yang berulang kali berubah-ubah fungsi ini terletak di Damaskus. Di era Kaum Aram, masjid ini adalah Kuil Hadad. Di zaman Romawi menjadi Kuil Jupiter. Di era Bizantium menjadi Gereja. Ketika Damaskus jatuh ke tangan pasukan muslim pada 636 M, bangunan ini dibagi dua; masjid dan gereja.

Setelah kota Damaskus dibebaskan oleh Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah dan Khalid bin Al-Walid, Khalifah Al-Walid bin ‘Abdul Malik kemudian membangunnya, merenovasinya, dan merubahnya menjadi masjid. Dibantu oleh Raja Romawi dengan mengirimkan 10.000 (sepuluh ribu) ahli bangunan mereka. Pembangunan Masjid Jami’ Al-‘Umawi ini menelan biaya 11.200.000 dinar. Pembiayaan untuk pembangunan masjid yang spektakuler.

Namun kalau ditinjau berdasarkan syariat Islam, masjid ini tidak bisa dipakai untuk shalat dan ibadah mahdhah lainnya sebab di dalam masjid ini terdapat makam yang diklaim sebagai makam Nabi Yahya. Selain itu juga ada makam Shalahuddin Al-Ayyubi.

Masjid di Clitheroe, Inggris Utara

Masjid ini semula adalah gereja Metodis tua yang ditinggalkan jemaahnya sejak 40 tahun lalu (terhitung sejak tahun 2007). Pada 1940 ditutup. Sebelum menjadi masjid, gereja ini pernah menjadi pabrik logam, pakaian, dan gudang senjata. Bekas gereja ini diubah menjadi masjid atas inisiatif dan perjuangan seorang warga keturunan Pakistan, Sheraz Arshad bin Muhammad Arshad, pemimpin komunitas muslim setempat yang juga bekerja sebagai manajer proyek British Aerospace. Dia juga mendirikan Pusat Pendidikan Islam Madina.

Gereja ini difungsikan sebagai masjid setelah perjuangan Sheraz Arshad untuk mendapatkan izin dari dewan kota setempat. Bahkan seorang Metodis, Goeffrey Jackson, yang merupakan Ketua Eksekutif LSM Trinity Partnership, mendukung dan memuji sikap dan perjuangan Sheraz Arshad.

Sheraz tidak melakukan perombakan besar-besaran terhadap konstruksi gereja. Hanya salib yang dihilangkan. Sheraz tidak memasang kubah untuk masjid ini. Suara adzan juga tidak dikeraskan ke luar masjid.

Masjid Sultan Selim

Letaknya tak seberapa jauh dari White Hart Lane, stadion klub sepak bola Tottenham Hotspur. Dapat ditempuh dalam waktu sekitar 10 menit dengan berjalan kaki dari Stasiun Kereta Seven Sisters di London Utara.

Masjid ini adalah satu di antara ribuan gereja di London yang kini beralih-fungsi menjadi masjid. Diperkirakan dalam sepuluh tahun ke depan, semakin banyak gereja-gereja di London yang ditutup dan difungsikan sebagai Masjid, kantor, toko, atau bahkan pub (bar). Di Inggris saat ini terdapat 47.000 gereja, yang pada 2005 berjumlah 47.600 gereja. Organisasi Christian Research mengatakan, sekitar 4.000 gereja akan tutup atau beralih fungsi dalam 15 tahun ke depan. Pada periode yang sama, jumlah masjid baru hampir sama dengan jumlah gereja yang ditutup.

Dari luar, konstruksi bangunan sama sekali bukan cerminan bangunan masjid. Tidak ada kubah. Yang ada malah menara-menara tinggi dengan Salib di puncaknya. Masjid Sultan Selim lebih mirip gereja tua. Semula ia adalah kompleks gereja sekaligus biara. Satu-satunya pertanda bahwa itu masjid adalah dua tulisan Arab, “Allah” dan “Muhammad” yang ditempel di atas pintu utama.

Menurut pengakuan Brother Osman, warga asal Cyprus yang menjadi imam Masjid Sultan Selim ini, “Gereja ini dibeli dengan bantuan dana dari Sultan Brunei.” Sekarang masjid ini dikelola muslim asal Cyprus.

Di lantai dua masjid ini terdapat banyak kamar yang semula dihuni para biarawati, sekarang disewakan untuk membantu pengelolaan masjid. Ruang utama dan terbesar masjid ini digunakan untuk tempat shalat. Ruangan kecil di sebelahnya dipakai untuk sekolah bahasa Arab anak-anak. Begitu besarnya masjid ini, sampai-sampai untuk mencapai tempat wudhu harus melalui lorong-lorong panjang dan beberapa ruangan kosong. Di sebelah tempat wudhu terdapat ruang tertutup rapat. Ruangan ini adalah tempat memandikan jenazah bagi warga muslim sebelum dishalati di masjid itu.

Masjid Al-Hikmah

Banyak gereja di Belanda yang beralih fungsi menjadi masjid dalam beberapa dekade ini. Salah satunya Gereja Immanuel yang menjadi Masjid Al-Hikmah, Den Haag, atau yang biasa disebut dengan nama Masjid Indonesia.

Menurut Rudy Ervan, salah seorang pengurus Masjid Al-Hikmah, gereja tersebut didirikan pada 1958. Bangunan gereja ini kemudian dibeli Probosutedjo, pengusaha terkenal asal Indonesia, senilai sekitar 1.350.000 golden. Oleh Probosoetedjo masjid tersebut kemudian diwakafkan kepada masyarakat Indonesia pada awal Juli 1996.

Masjid Al-Hikmah merupakan bangunan dua lantai yang mampu menampung sekitar 800 jamaah. Pada hari Jumat dan selama bulan Ramadan, biasanya jumlah jamaah bisa mencapai sekitar 400 orang. Lantai dasar, digunakan untuk kegiatan remaja masjid Persatuan Pemuda Muslim se-Eropa (PPME) Den Haag, dan aktivitas kajian Islam, sementara lantai atas, dipergunakan sebagai tempat shalat.

Pada akhir pekan, masjid ini biasanya menggelar kegiatan pengajian, Taman Pendidikan Al-Quran (TPA) dan buka puasa bersama yang diikuti muslim dari berbagai komunitas. Tak hanya muslim Indonesia, tapi juga Maroko, Turki, Somalia, dan Belanda.

Selain itu, di sekitar kawasan centrum Den Haag, terdapat pula Synagoge, rumah ibadah Yahudi, yang berubah fungsi menjadi masjid. Synagoge itu kini menjadi masjid yang dimanfaatkan oleh komunitas Turki.

Di Amsterdam terdapat sekitar lima gereja yang telah dialih fungsikan menjadi masjid setelah dibeli oleh masyarakat Turki dan Maroko.

Jumlah masyarakat muslim di Belanda hingga 2008, telah mencapai sekitar 6 % dari total populasi penduduk Belanda yang mencapai sekitar 16.3 juta. Muslim di Belanda mayoritas merupakan pendatang di negeri kincir angin, namun sebagian diantaranya ada pula yang mualaf dan karena pernikahan.

Diperkirakan jumlah masjid di Belanda mencapai sekitar 300 unit. Menurut Aziz Balbaid, seorang pengurus masjid Persatuan Pemuda Muslim se Eropa (PPME) Amsterdam, sejak 2007, pemerintah Belanda telah mengeluarkan aturan baru untuk tidak lagi menjual gereja-gereja yang kini banyak ditinggalkan para jemaatnya.

Bolehkan?

Bolehkah mengubah, merenovasi, maupun mengalih fungsikan tempat ibadah agama lain menjadi masjid? Bolehkah dijadikan tempat ibadah umat Islam?

Prof. Dr. Shalih Al-Fauzan, salah seorang anggota Hai’ah Kibarul Ulama, Saudi Arabia, memuji beralih-fungsinya gereja menjadi masjid, dalam bukunya Al-Bayan li Akhtho` Ba’dhi Kuttab II/54. Beliau mengatakan bahwa itu karena menunjukkan kemenangan dan ketinggian Islam dari agama-agama lain.

Namun perlu diperhatikan. Bahwa kita harus mengubah atau merenovasi beberapa elemen konstruksi bangunan tempat ibadah agama lain tersebut agar berbeda dan tampak jelas sebagai masjid. Seperti lonceng, altar, vas suci, salib, patung-patung semisal Maria Magdalena, Yesus, gambar-gambar makhluk bernyawa, makam, dan lain sebagainya yang merupakan simbol-simbol agama lain. Semuanya itu harus kita singkirkan, sekalipun itu makam. Sebab shalat di sekitar makam, meski hanya satu makam, itu haram. Untuk menara, kubah, dan bagian dari konstruksi bangunan lainnya yang sulit untuk dibongkar, maka tidak perlu dibongkar. Yang penting harus menunjukkan itu masjid dan berbeda dengan tempat ibadah agama lain.

Copy Right © 1430 Brilly El-Rasheed

Dipublish oleh www.thaybah.or.id

(1) Pimred majalah TAUHIDULLAH; (2) Pimred majalah dan buletin AS-SHOLIHIN, (3) redaktur pelaksana majalah AL-AKHBAR, (4) editor dan layouter majalah AL IHSAN, (5) reporter majalah MEDIAN LPMP Jawa Timur, (6) kontributor lepas majalah AR-RISALAH, (7) kontributor tetap majalah LENTERA QOLBU, (8) kontributor lepas di majalah ELFATA, (9) editor in chief majalah digital QUANTUM FIQIH, (10) konseptor dan mantan redaktur pelaksana majalah FITHRAH, (11) mantan layouter sekaligus pimred buletin Jum’at THAYBAH, (12) redaktur penerbit PT. EFMS, (13) admin salah satu situs berita Islam Nasional dengan 20.000 visit/hari), (14) online marketing UD. SBY CORPORATION, (15) pengasuh situs THAYBAH.ID, (16) promotor penerbitan majalah donatur, (17) redaktur pelaksana majalah SUARA MASKUMAMBANG, (18) redaktur pelaksana majalah SEJAHTERA dan buletin jumat YATIM SEJAHTERA, dan (19) mengasuh 2 website dan belasan blog keislaman yang ‘hidup segan mati tak mau’ sebagai salah satu cara merehatkan diri, serta (20) penulis buku GOLDEN MANNERS, KUTUNGGU DI TELAGA AL-KAUTSAR, MENDEKAT KEPADA ALLAH, QUANTUM IMAN, yang bisa Anda dapatkan di Gramedia atau toko buku lainnya.

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*