ghibah

Ghibah

Abu Zakariya Sutrisno, ST., M.Sc. Akhlak Muamalah 0 Comments

Lunak dan tidak bertulang itulah lidah. Tergantung yang memilikinya, ia bisa menjadi pintu kebaikan dan juga pintu keburukan. Menjadi pintu kebaikan adaikata lidah ringan untuk senantiasa berdzikir dan bertutur kata yang baik. Menjadi pintu keburukan adaikata ringan berbicara kotor dan menyakiti orang lain.

Tulisan kali ini akan membahas tentang salah satu dosa yang berbahaya yang dapat ditimbulkan oleh lisan, yaitu ghibah. Tulisan ini kami sarikan dari kutaib An-Nashaaih al-mufiidah fii Tahrimi al-Ghibah wa al-Namimah oleh Syaikh Muhammad bin Sulaiman al-‘Alith.

Makna Ghibah

Ghibah adalah menyebut tentang seseorang yang ia tidak sukai meskipun hal itu benar adanya. Sebagaimana hal ini telah dijelaskan Rasulallah shalallahu ‘alaihi wassallam dalam hadistnya,

أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ قَالُوْا: اَللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ، قِيلَ: أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِيْ أَخِيْ مَا أَقُوْلُ؟ قَالَ: إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدْ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ

”Apakah kalian tahu apa itu ghibah?” Maka mereka menjawab: “Alloh dan rosul-Nya yang lebih tahu.” Maka beliau bersabda: “Engkau menyebut-nyebut saudaramu dengan sesuatu yang tidak dia sukai.” Mereka bertanya lagi: “Bagaimana pendapat engkau jika pada diri saudaraku itu memang ada yang seperti kataku, wahai Rosululloh?” Beliau menjawab: “Jika pada diri saudaramu itu ada yang seperti katamu, berarti engkau telah meng-ghibah-nya, dan jika pada dirinya tidak ada yang seperti katamu, berarti engkau telah berdusta tentangnya.[1]

Larangan Berbuat Ghibah dalam Al Qur’an

وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

Dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS al Hujurat:12)

Berkata ibnu Katsir rahimahullah di dalam tafsirnya bahwa di dalam ayat ini terkandung larangan ghibah. Lalu beliau membawakan hadist diatas.[2]

Larangan Berbuat Ghibah dalam As Sunnah

Adapun hadist Rasulallah yang menunjukkan larangan ghibah sangat banyak. Salah satunya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassallam bersabda:

الْغِيْبَةُ أَشَدُّ مِنَ الزِّنَا، قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ وَكَيْفَ الْغِيْبَةُ أَشَدُّ مِنَ الزِّنَا؟ قَالَ: إِنَّ الرَّجُلَ لَيَزْنِيْ فَيَتُوْبُ فَيَتُوْبُ اللهُ عَلَيْهِ وَإِنَّ صَاحِبَ الْغِيْبَةِ لَا يُغْفَرُ لَهُ حَتَّى يَغْفِرَهَا لَهُ صَاحِبُهُ

“Ghibah itu lebih keras daripada zina.” Mereka bertanya: “Bagaimana ghibah lebih keras dari zina, wahai Rosululloh?” Beliau bersabda: “Sesungguhnya seseorang telah berzina, kemudian bertaubat dan Alloh pun mengampuni dosanya, sedangkan orang yang melakukan ghibah tidak akan diampuni Alloh, hingga orang yang di-ghibah-nya mengampuninya.” [3]

Perkataan Sahabat Tentang Ghibah

Berkata Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu, “Hendaknya kalian senantiasa berdzikir kepada Allah karena itu adalah obat, dan jauhi kalian menyebut manusia karena itu adalah penyakit.”

Perkataan Tabi’in dan Para imam Setelahnya Tentang Ghibah

Cukup banyak perkataan para tabi’in dan imam-imam setelah mereka yang memperingatkan akan bahaya ghibah. Imam Qotadah rahimahullah telah menukil adanya ijma’ bahwa ghibah termasuk dosa besar.

Berkata imam Nawawi rahimahullah, “Ghibah seseorang (adalah) dengan (menyebut) sesuatu yang tidak ia sukai baik pada badannya, agamanya, (hal) dunianya, pribadinya, bentuknya, perilakunya, hartanya, orang tuanya, anaknya, istrinya, pembantunya, bajunya, gerakannya .. atau yang lainnya. “

Berkata Hasan al Bashri rahimahullah, “Barangsiapa disibukkan dengan aib orang lain dan lupa akan aib dirinya sendiri ketahuilah dia telah terperdaya.”

Renungan dan Nasehat bagi Penuntut Ilmu

Diantara yang paling berbahaya adalah ghibah terhadap para ulama dan penuntut ilmu. Tidak sepantasnya kita menyibukkan diri dengan menyebut-nyebut kekurangan mereka. Meskipun kita yakin tidak ada diatara mereka yang luput dari kesalahan. Hanya Allahlah Dzat yang Mahasempurna dan hanya para RasulNya yang diberi kemaksuman dari kesalahan.

Berkata Ibnu Asakir rahimahullah, “ Barangsiapa menyakiti Allah dengan menghibah (mencela) para ulama, maka Allah hukum dengan mematikan hati mereka ”. Semoga Allah melindungi diri kita dari hati yang mati.

Semoga bermanfaat, Sholawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulallah serta keluarga dan sahabatnya.

Selesai ditulis di Riyadh, 17 Rabi’ul Awwal 1432 H (20 Februari 2011)

Abu Zakariya Sutrisno

Artikel: www.thaybah.or.id / www.ukhuwahislamiah.com

Notes :

[1].  HR. Muslim

[2].  Lihat Tasfir Ibnu Katsir (IV/250)

[3].  HR Ibnu Abi Dunya dan Baihaqiy

Alumni Pesma Thaybah, serta lulus T Elektro ITS tahun 2010. Lulus S2 T Elektro di King Saud University, Saudi Arabia tahun 2013, sekarang sedang menempuh pendidikan S3 di tempat yang sama.
Aktivitas keilmuan sekarang mulazamah masyaikh di Riyadh serta mengajar di Maktab Dakwah Naseem, Riyadh.
Lebih dekat dapat dilihat di website beliau ukhuwahislamiah.com dan sutrisnolink.wordpress.com.

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*