kiblat

Gempa Menggeser Arah Kiblat

Brilly El-Rasheed Kontemporer, Tsaqafah 0 Comments

Pakar Gempa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Dr Amien Widodo, saat seminar ancaman gempa di Surabaya dan sekitarnya di ruang rektorat ITS Senin 21 Desember 2009, mengatakan, akibat gempa yang datang bertubi-tubi kemungkinan besar terjadi pergeseran arah kiblat di sejumlah masjid di Indonesia. Alasannya, gempa yang terjadi telah terjadi pergeseran tanah di Indonesia sekitar tujuh cm per tahun. Secara tektonik posisi ka’bah tidak berubah tetapi akibat gempa yang terjadi di belahan bumi ini masjid yang mengelilinginya bisa bergerak dan berubah posisi. Artinya pusat kiblat berada di ka’bah yang tidak terpengaruh oleh gempa seperti yang terjadi di Indonesia. Diharapkan agar daerah yang rawan gempa atau yang pernah dilanda bencana gempa untuk mengecek kembali posisi arah kiblat menggunakan kompas. Agar tidak terjadi keragu-raguan dalam menjalankan ibadah sholat.

MUI sebagai lembaga penegak syariat Islam tidak ingin hal ini akan menjadi polemik yang tidak menguntungkan umat Islam. KH Abdusshomad Buchori Ketua MUI Jatim, mengatakan, pakar gempa harus melakukan penelitian terlebih dahulu di sejumlah wilayah yang pernah di terjang gempa, sehingga rumusan perjanjian secara ilmiah bisa dipertanggungjawabkan. Sebab persoalan kiblat adalah urusan ibadah umat muslim yang tidak bisa hanya sekadar berdasar mungkin atau tidak mungkin. Dalam ajaran Islam semuanya serba pasti dan bisa dipertanggungjawabkan di akhirat maupun di dunia.

Kesalahan kiblat antara lain terjadi pada beberapa mesjid di Jawa Tengah yang diketahui salah menetapkan arah kiblatnya. Di beberapa wilayah hal ini juga terjadi, seperti di Jakarta saja ada beberapa mesjid milik instansi pemerintah yang juga salah kiblatnya. Menteri Agama (Menag) RI, Suryadharma Ali, menilai salah kiblat yang banyak terjadi di beberapa mesjid di Indonesia tidak harus dibetulkan dengan membongkar mesjid, cukup posisi shaf dan arah kiblatnya yang diubah. Menurutnya, salah kiblat tidak terlalu mempengaruhi makna dari shalat tersebut, karena semua tergantung niat. “Tidak jadi permasalahan, karena ketidaktahuan. Yang penting itu niat untuk ibadah kita, arah tidak mengurangi makna dan kekhusyukan shalat,” katanya.

Terkait penemuan ketidak tepatan arah kiblat beberapa masjid di Indonesia ini, Departemen Agama akan menurunkan tim untuk mengukur kembali arah kiblat, juga dibantu ormas-ormas setempat, untuk mengukur kembali arah kiblat itu. Kepala Kantor Wilayah Departemen Agama Provinsi Jawa Tengah, Mashyudi, mengatakan bahwa arah kiblat seluruh masjid di provinsi ini akan diteliti dan yang posisinya telah sesuai akan diberi sertifikat. Menurut dia, proses sertifikasi sudah berjalan mulai tahun ini. Sedangkan di Jawa Barat, beberapa ormas sudah melakukan perbaikan arah kiblat. Tidak harus mengubah arah masjid, cukup sajadah dan shaf solatnya yang diubah sesuai kiblat yang telah diukur.

Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Kementeriaan Agama, Dr Rohadi Abdul Fatah, menyatakan, sekitar 20 persen dari 763.000 masjid di Indonesia tidak mengarah ke kiblat. Perubahan arah tersebut terjadi akibat gempa bumi sehingga menimbulkan pergeseran tanah. Demikian siaran pers di Media Center Kementerian Agama di Jakarta, Kamis 28 Januari 2010.

Pandangan ini disampaikan untuk membantah pendapat yang dilontarkan Direktur Lembaga Rukyatul Hilal Indonesia, Mutoha Arkanuddin, pada seminar “Verifikasi Arah Kiblat untuk Kemaslahatan Umat Islam” yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sebelas Maret, Surakarta, beberapa waktu lalu. Ketika itu, Mutoha antara lain mengungkapkan bahwa ada 80 persen masjid di Indonesia dan kuburan muslim belum mengarah ke kiblat dengan benar.

Rohadi menuturkan, pergeseran arah masjid hanya terjadi di masjid-masjid yang berlokasi di daerah gempa, seperti Yogyakarta, Tasikmalaya, dan Sumatera Barat. Pergeseran itu pun maksimal 20 derajat. Rohadi pun mengimbau semua pengurus masjid apabila mengetahui kalau masjid yang diigunakan bergeser agar cukup dibetulkan arahnya safnya saja dan tidak harus membongkar semua bangunan.

Untuk meluruskan masalah kiblat ini, sama seperti Departemen Agama, Kementerian Agama telah membentuk sebuah tim yang siap turun ke daerah-daerah untuk mengukur kembali arah kiblat itu. Tim pengukuran arah kiblat ini gratis. Adapun peralatan yang digunakan adalah teodolit, GPS, dan kompas serta paling utama pengamatan melalui Matahari. Untuk mengukur arah kiblat dengan Matahari, masyarakat pun bisa melakukannya pada 28 Mei pukul 16.18 dan 16 Juni pukul 16.27 dengan menancapkan sebilah bambu. Saat itu, posisi Matahari persis di atas Kabah, maka arah bayangan bambu itu adalah posisi kiblat dari tempat tersebut.

Ajaran Nabi yang Tidak Banyak Diketahui

Dalam Fatawa Asy-Syabakah Al-Islamiyyah IX/21,  Dr. ‘Abdullah Al-Faqih mengatakan, para ulama Islam sepakat (ijma’), salah satu syarat sah shalat adalah menghadap kiblat. Tidak ada perbedaan pendapat di antara mereka bahwa orang yang dapat melihat Ka’bah, kiblatnya harus benar-benar menghadap Ka’bah, akan tetapi bagi orang yang jauh dan tidak dapat melihat Ka’bah, maka jumhur (mayoritas) ulama mengatakan bahwa yang diwajibkan bagi mereka hanyalah menghadap ke arah kiblat (arah Masjid Al-Haram). Jika Masjid Al-Haram di arah barat, berarti kewajibannya ketika shalat adalah menghadap barat.

Sebagaimana firman Allah,

وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُمَا   كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ

“Di mana pun kalian berada maka hadapkanlah wajah kalian ke arahnya.” [Al-Qur`an surah  Al-Baqarah: 150]. Pula, didasari praktek shalat Nabi Muhammad dan para generasi yang mengikuti beliau, yang setiap kali shalat selalu menghadap ke arah Ka’bah yang ada di dalam Masjid Al-Haram di Makkah.

Menghadap ke arah Masjid Al-Haram bagi orang yang tidak dapat melihat Ka’bah secara langsung adalah sebuah kewajiban, walaupun tidak tepat mengenai Ka’bah, misalnya agak melenceng ke kanan atau ke kiri melebihi bangunan Ka’bah, selama tidak sampai menghadap arah selain arah kiblat. Contoh mudahnya, kita penduduk Indonesia. Misalkan, arah kiblat berada di arah barat, maka tidak mengapa menghadap beberapa derajat melenceng dari arah kiblat. Ini disimpulkan dari firman Allah di atas.

Demikian pula yang dipahami Nabi Muhammad dari firman Allah tersebut. Ketika Nabi berada di Madinah, beliau berkata kepada penduduk Madinah yang kiblatnya ada di arah selatan,

ما بين المشرق والمغرب قبلة

“Antara timur dan barat adalah kiblat.” [Shahih: Sunan At-Tirmidzi, no.344. Takhrij Misykah Al-Mashabih, Al-Albani, no.715].

Analogi dengan hadits ini, maka bagi orang yang kiblatnya arah barat, bisa kita katakan, “Antara utara dan selatan adalah kiblat.” Demikian difatwakan oleh Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin (1347H-1421H) Al-Faqih Az-Zaman dari kota Unaizah, Propinsi Al-Qasim, KSA, dalam Majmu’ Fatawa wa Rasail Fadhilah Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, XII/414. Namun tentu saja, tepat menghadap kiblat (Ka’bah) lebih utama. Ketidak tepatan menghadap kiblat diperbolehkan untuk orang yang tidak bisa melihat Ka’bah.

Jadi tampaknya apa yang dilakukan sebagian besar warga Indonesia merevisi arah kiblat masjid mereka tepat sekali. Akan tetapi hal itu tidak wajib dilakukan. Apalagi sampai membongkar masjid dan membangun ulang masjid. Cukup dengan mengubah shaf shalat tepat mengarah ke Ka’bah. Tidak Cuma masjid, setiap orang yang shalat dimana pun diusahakan tepat mengarah ke Ka’bah. Perlu diingat, kita tidak seharusnya mencap sesat masjid-masjid yang tidak tepat arah kiblatnya, sebab Nabi memperbolehkan ketidak tepatan arah shalat seseorang dari Ka’bah asal tidak melenceng terlalu jauh sebagaimana hadits di atas.

Copy Right © 1430 Brilly El-Rasheed

Dipublish oleh www.thaybah.or.id

(1) Pimred majalah TAUHIDULLAH; (2) Pimred majalah dan buletin AS-SHOLIHIN, (3) redaktur pelaksana majalah AL-AKHBAR, (4) editor dan layouter majalah AL IHSAN, (5) reporter majalah MEDIAN LPMP Jawa Timur, (6) kontributor lepas majalah AR-RISALAH, (7) kontributor tetap majalah LENTERA QOLBU, (8) kontributor lepas di majalah ELFATA, (9) editor in chief majalah digital QUANTUM FIQIH, (10) konseptor dan mantan redaktur pelaksana majalah FITHRAH, (11) mantan layouter sekaligus pimred buletin Jum’at THAYBAH, (12) redaktur penerbit PT. EFMS, (13) admin salah satu situs berita Islam Nasional dengan 20.000 visit/hari), (14) online marketing UD. SBY CORPORATION, (15) pengasuh situs THAYBAH.ID, (16) promotor penerbitan majalah donatur, (17) redaktur pelaksana majalah SUARA MASKUMAMBANG, (18) redaktur pelaksana majalah SEJAHTERA dan buletin jumat YATIM SEJAHTERA, dan (19) mengasuh 2 website dan belasan blog keislaman yang ‘hidup segan mati tak mau’ sebagai salah satu cara merehatkan diri, serta (20) penulis buku GOLDEN MANNERS, KUTUNGGU DI TELAGA AL-KAUTSAR, MENDEKAT KEPADA ALLAH, QUANTUM IMAN, yang bisa Anda dapatkan di Gramedia atau toko buku lainnya.

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*