Fenomena Islamic Centre

Admin Tsaqafah 0 Comments

Dulu, umat Islam hebat. Dulu, umat Islam jaya. Dulu, umat Islam unggul. Di berbagai belahan dunia, banyak lahir ilmuwan dan cendekiawan muslim besar yang diakui kehebatannya oleh umat lain. Bahkan umat lain menimba sekaligus mencuri ilmu dari mereka. Umat Islam bangga dengan sejarah emas umat di masa lampau. Namun, banyak kalangan yang menyadari kemunduran dan kelemahan umat Islam zaman sekarang. Kejayaan mereka padam. Tidak sebagaimana para pendahulu mereka. Kini umat Islam lemah, hina, miskin, tak berdaya.

Dengan tekad meraih kembali kejayaan umat Islam dan keunggulannya atas umat lainnya, banyak umat Islam yang berusaha meraihnya dengan memajukan peradaban Islam di dunia. Mereka berasumsi, umat Islam akan kembali jaya dengan kemajuannya di bidang-bidang duniawi. Bertolak dari asumsi itulah, masyarakat Muslim Indonesia bersinergi menciptakan fasilitas-fasilitas edukasi, lightment, dan pembinaan bagi umat Islam Indonesia. Di antara bentuk konkrit upaya tersebut adalah banyak didirikannya pusat-pusat kajian Islam atau yang lazim disebut Islamic Centre.

Menyadari urgentnya eksistensi Islamic Centre ini Pemerintah kota atau daerah maupun organisasi independent ikut andil bagian dalam pendirian Islamic Centre. Pemerintah pusat sampai pemerintah kabupaten berkontribusi dalam proses pendirian Islami Centre itu. Bahkan merekalah yang memberikan izin dan donasi.

Asal Mula Islamic Centre

Islamic Centre adalah sebuah komplek bangunan dengan nuansa “Islami” yang menjadi sentrum/pusat pengkajian Islam dan PUSDIKLAT bagi penduduk muslim setempat. Tujuan didirikannya Islamic Centre adalah untuk memajukan umat Islam di berbagai bidang kehidupan. Pada awal kemunculannya terletak di pusat kota. Namun kini di satu daerah atau kota saja ada beberapa Islamic Centre. Setiap Komplek Islamic Centre biasanya berada di bawah naungan suatu organisasi swasta maupun pemerintahan.

Istilah Islamic Centre belum pernah dikenal sebelumnya dalam sejarah Islam. Baru-baru ini saja muncul. Awalnya istilah ini muncul di luar negeri, di daerah muslim minoritas yang mereka tidak memiliki masjid di dekat tempat tinggal mereka. Akhirnya masyarakat muslim minoritas dari beberapa daerah di luar negeri berkumpul mendirikan Islamic Centre yang menjadi pusat tempat ibadah bagi mereka semua. Pencetusan Islamic Centre sebagai sentrum umat Islam di luar negeri inilah yang kemudian diadopsi dan diinisiasi di Indonesia.

Di nusantara dan di manca, Islamic Centre ini memiliki beberapa nama yang sejenis; Centre for Islamic Studies, Islamic Studies Centre, Islamic Cultural Centre, Markaz Islamic Centre, Religious Organization. Masjid Islamic Centre, Al-Markaz Al-Islami. Ada pula yang setelah Islamic Centre diikuti dengan nama seorang Ulama Salaf, ada pula ulama Khalaf, ada pula nama seseorang tersendiri, juga ada nama sebuah organisasi.

Realita Islamic Centre di Negeri

Di kompleks Islamic Centre terdapat berbagai elemen bangunan dan badan Islami. Yang paling utama adalah Masjid sebagai pusat segala aktifitas yang megah dengan menara pencakar langit dan kubah-kubah besar yang terkadang dilapisi emas murni; perpustakaan Islam dan umum; lembaga manajemen ZISWAF; gedung PUSDIKLAT; sekolah/madrasah dari tingkat Play Group atau PAUD sampai Universitas; gedung ma’had atau pondok pesantren khusus kajian Islam “klasik”; ruang serba guna; ruang audio visual atau multimedia.

Ada pula penerbitan, percetakan, studio rekaman, audio-visual; rumah sakit dan klinik kesehatan; koperasi; kantin; laboratorium komputer, bahasa dan Al-Qur`an; auditorium; asrama; bimbingan manasik dan embarkasi haji; museum namun ini tidak banyak yang punya; arena olahraga dan rekreasi; kios perlengkapan pakaian muslim-muslimah; perkantoran yang berhubungan dengan organisasi keagamaan; areal parkir yang luas.  Demikianlah Islamic Centre secara umum. Secara umum kita bersyukur dengan kemajuan umat Islam ini. Sebab ini menunjukkan kehebatan umat Islam, dan membuat umat nonmuslim sedikit memperhitungkan kekuatan umat Islam.

Sekarang kita telisik lebih dalam dan spesifik sesuai fakta. Pengelolaan Islamic Centre di Jawa Tengah membutuhkan dana 200 juta rupiah per bulan.  Masjid Islamic Centre Samarinda, Kaltim, bangunannya saja senilai 500 miliar. Konstruksi bangunannya memadukan tiga arsitektur masjid; Masjid Nabawi, Aya Sofia, Masjid Putra Jaya. MICS adalah masjid terbesar dan termegah di Asia Tenggara. MICS diharapkan menjadi kawasan wisata keagamaan karena dilengkapi dengan menara setinggi 99 meter. Ketika Gubernur Samarinda melakukan sidak atas proyek MICS ini, beliau diajak naik ke menara menggunakan lift proyek untuk melihat suasana sekitar. Dari ketinggian menara tersebut, dapat dilihat keindahan kota Samarinda. “Ini sungguh sangat mengesankan. Baru sampai 60 meter, belum lagi nanti kalau sudah sampai terbangun 99 meter. Tentu ini kebanggan tersendiri bagi kita,” kata Gubernur.

Ada juga Islamic Centre yang mendapat kucuran dana dari luar negeri seperti Qaddafi Islamic Center di Bukit Azzikra, Sentul, Bogor, Jawa Barat, dibiayai World Islamic Call Society (WISC)–organisasi dakwah Islam Internasional yang berpusat di Tripoli, Libya. pimpinan WICS, Dr Mohamed Ahmed Sherif. Ada yayasan yang ketika hendak mendirikan Islamic Centre, harus melakukan studi banding ke Islamic Centre di daerah lain, bahkan ada yang sampai ke Islamic Center di Iran, Mesir, Prancis, dan Inggris. Jakarta Islamic Centre yang menjadi kebanggaan kaum muslimin di Jakarta berdiri di lahan yang dulunya adalah lokalisasi prostitusi alias perzinaan.

Hedonisme atau Kemajuan?

Setelah kita tahu realita Islamic Centre di atas, dalam benak kita mungkin muncul sebuah pertanyaan besar; Benarkah ini Islami? Benarkah ini ikhlas hanya karena Allah semata? Jika ya, lalu kenapa harus dianggarkan dana mencapai milyaran rupiah? Inikah cerminan seorang muslim yang hidupnya hanya untuk beribadah kepada Allah?

Kita lihat realita tadi. Islamic Centre dibangun dengan dana yang fantastis, mencapai ratusan milyar rupiah. Kita juga melihat beberapa alasan “nakal” dalam pendirian Islamic Centre. Benar niatnya untuk membangun tempat ibadah umat Islam. Namun di balik itu, ada niat yang lebih utama, sebagai tempat rekreasi, obyek wisata, dan simbol kebanggaan. Tujuan inilah yang mendorong para pendirinya untuk membangun Islamic Centre dengan bangunan yang megah, indah, berarsitektur tinggi dan bercita rasa seni, sehingga menelan biaya yang fantastis. Bukankah ini sebuah pelanggaran?

Bahkan untuk sekedar memberi warna merah dan kuning pada masjid saja tidak diperkenankan. Apalagi dengan berbagai warna. Tentu lebih tidak diperkenankan. Ketika ‘Umar menginstruksikan perenovasian Masjid Nabawi, ‘Umar berkata, “Lindungilah mereka dari hujan, dan janganlah sekali-kali kalian warnai merah atau kuning hingga memfitnah (qalbu) manusia.” [Mu’allaq: Fat-h Al-Bari I/539]. Sedangkan Anas membenci memakmurkan masjid dengan cara menghiasinya dan mencela manusia karena tidak memakmurkan masjid dengan sholat. [Fat-h Al-Bari III/107]

Sejarah mencatat, Masjid pada zaman Nabi dindingnya dari batu bata, atapnya dari pelepah pohon kurma, tiangnya dari batang kurma. Abu Bakar tidak menambahinya sedikit pun. Kemudian ‘Umar menambahinya, beliau merenovasinya seperti bangunan aslinya pada zaman Rasulullah, yakni dengan batu bata, pelepah kurma dan mengganti tiang-tiangnya dengan kayu. Kemudian ‘Utsman merubahnya, beliau banyak melakukan penambahan-penambahan di sana sini. Beliau membangun dindingnya dari batu berukir dan semen, mengganti tiangnya dengan batu berukir dan atapnya dengan kayu jati,” [Shahih Al-Bukhari no.446] Meski demikian Masjid Nabawi menjadi sentra kehidupan umat Islam kala itu. Masjid Nabawi lah pusat peradaban.

Rasulullah berkata, “Aku tidak diperintahkan untuk membuat megah / menghiasi (tasy-yid) masjid-masjid.” [Shahih: Sunan Abu Dawud no.448; Syarh As-Sunnah Al-Baghawi no.463; Al-Baihaqi II/438-439; Ath-Thabrani no.13000-13003; Shahih Ibnu Hibban no.1615].

Menurut Al-Baghawi, yang dimaksud dengan tasy-yid adalah meninggikan dan memanjangkannya, seperti yang disebutkan dalam firman Allah, ‘Di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh’,” (An-Nisaa’:78).” [Syarh As-Sunnah II/349-350] Yaitu masjid yang ditinggikan bangunannya.

Sungguh benarlah prediksi Ibnu ‘Abbas. Beliau berkata, “Kalian pasti akan menghias-hiasi masjid-masjid sebagaimana kaum Yahudi dan Nashrani (menghiasi tempat ibadat mereka—pen).” [Mu’allaq: Fat-h Al-Bari I/539]. Betapa tidak? Kita tahu masjid di komplek Islamic Centre atau lainnya, dibangun dengan ornamen yang kadang tidak islami, seperti memasukkan kuburan ke dalamnya, kubah dan hiasannya terbuat dari emas murni, ada salib, ada gambar-gambar makhluk bernyawa.

Nabi Muhammad benar-benar mengancam perbuatan menghias-hiasi masjid tanpa guna dan secara berlebihan. Beliau berkata, “Jika kalian menghias-hiasi masjid dan menghias-hiasi mushaf Al-Qur`an, maka kehancuranlah bagi kalian.” [Hasan: Al-Mustadrak; Sunan At-Tirmidzi; Musnad Ibnu Abi Syaibah. Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no.1351]

Bahkan Rasulullah telah mengatakan, “Bangunlah masjid seperti tempat berteduh yang dibuat oleh Nabi Musa, dari tepas dan kayu-kayu kecil. Sebab ajal kita lebih cepat datang daripada usia bangunan,” [Hasan: Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no.616] Artinya seperlunya, sesuai kebutuhan, tidak berlebih-lebihan.

Senada dengan pernyataan di atas, Dr. Yusuf Al-Qardhawi dalam Tuntunan Membangun Masjid halaman 49, mengatakan, para shahabat Rasulullah juga berusaha untuk tidak menghiasi masjid mereka dan mereka merasa cukup dengan membangun masjid yang kokoh dan sederhana.”

Yang sangat ironi, ada Masjid yang dilapisi emas. Ironinya di pelataran masjid banyak gepeng di situ. Mereka mengemis kepada para pengunjung dan wisatawan di masjid tersebut.

Ironi Islamic Centre

Sudah seharusnya Islamic Centre benar-benar menjadi sarana ibadah umat Islam dan sentra kehidupan umat Islam. Diharapkan Islamic Centre merepresentasikan Islam secara sempurna. Namun lagi-lagi di negeri ini Islamic Centre belum mampu mengemban tugas-tugas itu yang tentunya bersumber dari para pengelolanya yang belum begitu dalam memahami Islam.

Dilaporkan ada beberapa Islamic Centre yang ternyata bukan Islami tapi Syi’i alias Syi’ah Centre. Ini terletak di kota nomor satu di Indonesia. Ada Islamic Centre yang mengadakan Festival Maulid Nasional, padahal itu bid’ah sedang Islam melarang bid’ah. Ada Islamic Centre yang didominasi penganut Agama Tasawuf. Ada yang gemar mengadakan majelis zikir berjamaah. Padahal ini adalah bid’ah.

Jadi ketika disebut Islamic Centre, sejurus muncul pertanyaan Islam manakah yang hendak di-centre-kan. Sebab nyatanya ada yang berlabel Islamic Centre tapi malah menjadi centre agama lain atau juga menjadi pusat pelestarian bid’ah.

Ada pula Islamic Centre yang hanya menjadi proyek pengerukan dana untuk kekayaan pribadi atau pun popularitas organisasi. Sehingga terbengkalai dan tak terurus lagi kini. Tanpa ruh, Islamic Centre malah menjadi ajang kebanggaan kosong atau malah ajang korupsi dalam proses pembangunan dan operasionalisasinya. Seperti di Purwakarta (Gedung Islamic Centre). Juga Islamic Centre Langkat, Stabat, yang awalnya bernama Markazul Islam, mulai resmi digunakan pada tanggal 14 April 1992 dan pernah menjadi arena manasik haji. Kini pengelolaannya jauh panggang dari api. Sudah jarang terdengar di gedung ini diselenggarakan kegiatan-kegiatan bernafaskan Islam. Ilalang tumbuh seperti padi di tengah sawah, lantai dan dinding toiletnya nyaris hitam ditumbuhi lumut.

Demikianlah fenomena Islamic Centre yang sangat menyedihkan hati. Masjid hanya sebagai media berbangga-bangga dan malah merepresentasikan gaya hidup hedonisme. Terlebih menjadikan masjid sebagai sarana berlomba-lomba kreatifitas seni dan berbangga-bangga. Sungguh benarlah apa yang dikatakan Nabi Muhammad dahulu kala, “Kiamat tidak akan terjadi sampai manusia saling membanggakan dalam hal (bangunan/fisik–pen) masjid-masjid.” [Shahih: Sunan Abu Dawud no.449; Sunan Ibnu Majah no.739] Beliau juga mengatakan, “Termasuk tanda-tanda kiamat adalah manusia saling berbangga dengan (bangunan/fisik—pen) masjid-masjid.” [Shahih: Sunan An-Nasa`i no.689]

Copy Right © 1430 Brilly El-Rasheed

Dipublish oleh www.thaybah.or.id

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*