terorisme

Memberangus Terorisme di Indonesia

Brilly El-Rasheed Aqidah 0 Comments

Indonesia yang merupakan Negara bukan berbasis Islam memiliki penduduk dengan muslim sebagai populasi terbesar di dalamnya. Dulu, Indonesia bisa meraih kemerdekaan dari penjajah setelah diperjuangkan oleh para pejuang tanpa tanda jasa yang mayoritas muslim. Mereka berperang demi Negara dan tidak takut mati. Mendapat serangan yang bertubi-tubi dari penjajah pun mereka siap gugur di medan perang.

Jiwa patriotisme inilah yang kini dibutuhkan untuk menjaga kesatuan Indonesia di dalam melawan terorisme dan mengenyahkannya dari muka bumi. Mengapa demikian? Karena musuh terbesar kedua bagi tanah air saat ini dalam hal stabilitas nasional adalah terorisme, setelah penjajahan ekonomi. Dibutuhkan rasa cinta tanah air dalam rangka memutus mata rantai terorisme di Indonesia.

Kita sudah menyaksikan banyak pemberitaan di media-media massa, elektronik maupun cetak, bagaimana sepak terjang terorisme yang telah memicu banyak kerugian bagi Negara. Terorisme telah membunuh banyak orang. Terorisme telah menghancurkan banyak fasilitas umum. Terorisme telah memperkecil devisa Negara. Terorisme telah mencoreng martabat Negara. Terorisme telah menggoncang ketentraman wisatawan dan penduduk. Terorisme telah membuat para aparatur Negara tersibukkan, sehingga banyak masalah-masalah Negara dan bangsa yang terbengkalai.

Banyak faktor yang mendorong berkembang pesatnya gerakan-gerakan terorisme. Namun di sini kami melihat ada dua faktor paling dominan. Pertama, kesalahan dalam menginterpretasi suatu teks agama. Kedua, kendala ekonomi dunia  yang membuatnya merasa terzhalimi karena kehidupannya selalu serba kekurangan. Kedua faktor ini saling terkait, bagaikan mata rantai.

Faktor yang pertama, kesalahan dalam menginterpretasi suatu teks agama. Melalui penelusuran para penyidik di kepolisian Negara dan pemberitaan nasional, terorisme lahir disebabkan adanya ketimpangan di dalam memahami dan menjalankan suatu agama atau keyakinan. Kita ambil contoh, terorisme dari kalangan muslim. Mereka memiliki pemahaman yang salah terhadap ajaran-ajaran Islam, mereka mengartikan teks-teks Islam yang ada tidak secara komprehensif, bahkan mereka tidak tuntas di dalam mempelajari pesan-pesan ajaran Islam.

Mereka menafsirkan teks-teks Islam dengan perspektif semangat jihad yang menyimpang. Dan memang, di dalam teks-teks agama manapun, kita akan bisa mendapati segala pembenaran hukum dari agama itu mengenai apa saja yang kita lakukan. Kita bisa berkorupsi dan mencari pembenarannya di dalam kitab suci agama-agama. Kita bisa melanggar norma-norma asusila dan mencari pembenaran hukum dari kitab suci agama-agama. Kita bisa pula melakukan gerakan terorisme dengan mengatasnamakan jihad dan mencari pembenaran hukum dari kitab suci agama-agama.

Hal ini dikarenakan teks itu, apapun dan darimanapun asalnya, maknanya tergantung penginterpretasi. Kalau teks itu diinterpretasi secara benar, maka teks itu akan menjadi teks yang positif dan konstruktif. Namun sebaliknya, jika teks itu diinterpretasi secara salah, maka teks itu akan menjadi teks yang negatef dan kontraproduktif, bahkan desdruktif. Seperti fenomena terorisme di Indonesia ini yang bermula dari interpretasi yang salah terhadap teks-teks kitab suci agama-agama.

Faktor kedua, yaitu kesenjangan sosial khususnya dalam taraf ekonomi. Orang-orang yang terlibat terorisme, sangat dimungkinkan karena ingin mendapatkan harta demi kebutuhan hidup mereka. Kita bisa lihat, para teroris yang terjun ke lapangan, adalah orang-orang yang ekonominya di bawah garis kemiskinan. Meski teroris kelas atas, adalah orang-orang yang kaya. Teroris kelas atas inilah yang mendanai mereka, dan mencukupi kebutuhan hidup mereka. Sehingga para teroris kelas bawah ini mau melakukan terorisme meski harus mati, setelah sebelumnya menerima faktor pertama tadi.

Hingga kini, embrio-embrio terorisme terus bersemi. Ada yang mengatakan,  terorisme tidak akan bisa dihilangkan di muka bumi. Pernyataan ini nampaknya sangat relevan dengan fakta-fakta yang ada. Satu otak terorisme telah tertangkap atau terbunuh, maka akan muncul lagi otak terorisme lainnya. Jika ada satu pasukan teroris yang mati, maka akan tumbuh “seribu” teroris lagi sebagai penggantinya.

Namun, ini bukan berarti kita kemudian membiarkan saja, acuh terhadap terorisme. Maka dalam hal ini, kami mengacukan dua cara yang jitu untuk memberangus terorisme di Indonesia, berbekal dua faktor di atas. Pertama, meluruskan kembali interpretasi-interpretasi yang salah itu lalu diajarkan interpretasi-interpretasi yang benar. Ini dilakukan oleh para tokoh agama yang kompeten. Merekalah yang cocok dan mampu untuk mengajarkan interpretasi-interpretasi yang benar kepada terorisme.

Kedua, dengan menstabilkan taraf ekonomi nasional. Ini tidak hanya dilakukan oleh sekelompok praktisi saja. Melainkan seluruh komponen bangsa. Sebab ekonomi itu sangat kompleks dan terbangun atas seluruh penduduk Negara. Dan bagi teroris atau calon teroris, mereka harus dibina dan dipenuhi kebutuhan ekonominya sehingga mereka tidak akan rela dirinya mendapatkan kucuran dana dari teroris kelas atas. Cara ini tidak berarti memberikan uang secara cuma-cuma kepada mereka tapi bisa dengan memberi mereka lapangan pekerjaan yang sesuai.

Inilah dua cara yang paling efektif. Akan semakin efektif jika ada sinergi yang besar dari seluruh unsur Negara. Jika terorisme masih berjalan, maka langkah hukum sangatlah tepat.

Ditulis oleh Brilly El-Rasheed (brillyyudhowillianto@gmail.com)
Copy Right © 1431 Brilly El-Rasheed
Disebarkan oleh www.thaybah.or.id

(1) Pimred majalah TAUHIDULLAH; (2) Pimred majalah dan buletin AS-SHOLIHIN, (3) redaktur pelaksana majalah AL-AKHBAR, (4) editor dan layouter majalah AL IHSAN, (5) reporter majalah MEDIAN LPMP Jawa Timur, (6) kontributor lepas majalah AR-RISALAH, (7) kontributor tetap majalah LENTERA QOLBU, (8) kontributor lepas di majalah ELFATA, (9) editor in chief majalah digital QUANTUM FIQIH, (10) konseptor dan mantan redaktur pelaksana majalah FITHRAH, (11) mantan layouter sekaligus pimred buletin Jum’at THAYBAH, (12) redaktur penerbit PT. EFMS, (13) admin salah satu situs berita Islam Nasional dengan 20.000 visit/hari), (14) online marketing UD. SBY CORPORATION, (15) pengasuh situs THAYBAH.ID, (16) promotor penerbitan majalah donatur, (17) redaktur pelaksana majalah SUARA MASKUMAMBANG, (18) redaktur pelaksana majalah SEJAHTERA dan buletin jumat YATIM SEJAHTERA, dan (19) mengasuh 2 website dan belasan blog keislaman yang ‘hidup segan mati tak mau’ sebagai salah satu cara merehatkan diri, serta (20) penulis buku GOLDEN MANNERS, KUTUNGGU DI TELAGA AL-KAUTSAR, MENDEKAT KEPADA ALLAH, QUANTUM IMAN, yang bisa Anda dapatkan di Gramedia atau toko buku lainnya.

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*