berilmu

Islam Dan Ilmu

Brilly El-Rasheed Aqidah 0 Comments

Jika kita menilik sejarah Islam, maka kita akan tahu bahwa budaya ilmu adalah budaya kaum muslimin. Ilmu begitu dihargai oleh umat Islam. Terlebih ilmu syar’i, ia adalah seutama-utamanya ilmu dan paling besar manfaatnya baik di akhirat maupun di dunia. Kontribusi Islam dan kaum muslimin terhadap ilmu sangat besar dan diakui oleh dunia. Sejarah Islam, perpustakaan yang memuat buku-buku Islam adalah perpustakaan paling besar di dunia. Tidak ada yang dapat menandinginya dalam jangka waktu yang sangat lama. Di sana ada Perpustakaan Baghdad, Cordova, Isybiliyyah, Gharnathah, Kairo, Damaskus, Tarabulus, Madinah, dan Al-Quds. Semua perpustakaan ini adalah perpustakaan terbesar di dunia. Di dalamnya ada karya-karya para ulama salaf yang kompeten dan terkenal dengan kredibilitasnya.

Para ulama Islam dari dulu hingga sekarang terkenal dengan tradisi ilmunya. Mereka menyebarkan ilmu syar’i, berda’wah dari satu daerah ke daerah lain, mengadakan majelis ta’lim di masjid-masjid dan di rumah-rumah. Mereka juga menulis kitab-kitab syar’i yang sangat bermanfaat dan masih digunakan sampai sekarang. Tercatat banyak ulama Islam yang mampu menghasilkan hingga ratusan judul buku dalam bentuk kitab yang berjilid-jilid tebal dan besar.

Sebagai contoh pertama, Muhammad Nashiruddin Al-Albani (1333H-1420H), master hadits abad ini dari kota Ashqodar (Schoder), ibukota negara Albania, Eropa, pada masanya. Dedikasinya di bidang ilmu hadits mengantarkannya pada puncak segala disiplin ilmu Islam. Di samping menjalankan berbagai aktifitas da’wah di berbagai wilayah di Timur Tengah, ulama yang setiap sehari menghabiskan waktu 12 jam untuk mempelajari Islam dari kitab-kitab Islam klasik di dalam perpustakaan Azh-Zhahiriyyah di Damaskus ini, berhasil menelorkan karya ilmiah yang sangat banyak, jumlahnya mencapai angka 218 judul. Sebuah pencapaian yang sangat fantastis. Ini angka belum termasuk karya beliau yang hilang. Banyak di antaranya terdiri dari berjilid-jilid tebal dan besar. Belum lagi karya-karya beliau dalam bentuk kaset. Atas dedikasinya tersebut, pada 14 Dzulqa’dah 1419 H / 1999 M, beliau mendapat anugerah penghargaan tertinggi internasional dari Kerajaan Saudi Arabia berupa King Faisal Foundation dalam bidang Hadits. Saking getolnya beliau dalam menulis karya ilmiah Islam, sampai-sampai ketika beliau di dalam penjara di Hiskah, sebelah tenggara Damaskus, akibat fitnah dan tuduhan tak berdasar, selama 8 bulan pada tahun 1967 M, beliau masih saja menulis. Selama di dalam penjara beliau mentahqiq Mukhtashar Shahih Muslim li Al-Hafizh Al-Mundziri. Dan hasil tahqiq beliau tersebut telah diterbitkan dan tersebar luas.

Ada juga ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz (1330H-1420H) atau yang kerap dipanggil Ibnu Baz. Ulama produktif dari Riyadh, Saudi Arabia, yang sejak usia 20 tahun telah mengalami kebutaan total. Meski beliau kehilangan penglihatan, namun musibah tersebut tak menyurutkan semangat beliau untuk menghasilkan karya ilmiah. Terbukti beliau menghasilkan banyak tulisan di bidang ‘aqdah, fiqh, ushul fiqh, tarikh Islam, baik dalam bentuk hasyiyah (catatan pinggir), syarh, tulisan murni, maupun fatwa. Bahkan pada tahun 1395 H, beliau diangkat menjadi Direktur Jenderal Lembaga Riset, Fatwa, dan Da’wah Kerajaan Saudi Arabia, yang kemudian beliau diangkat menjadi Mufti Saudi Arabia hingga beliau meninggal. Beliau juga pernah menjabat sebagai Rektor Universitas Islam Madinah periode 1390-1395H. Sungguh cerminan mu`min yang semangat da’wahnya senantiasa berkobar meski memiliki keterbatasan fisik yang paling urgent.

Salah seorang murid ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di (1307H-1376H) yang dinobatkan sebagai Ahli Fiqh Islam Internasional abad ini, Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin (1347H-1421H) dari kota ‘Unaizah, Propinsi Al-Qasim, KSA. Beliau adalah ulama paling produktif dengan sejumlah prestasi gemilang di bidang kajian fiqh Islam. Ulama yang pernah menjadi staf pengajar di Universitas Al-Imam Muhammad bin Su’ud ini memiliki kontribusi yang sangat besar terhadap kaum muslimin. Di sela-sela kesibukan beliau dalam ta’lim, fatwa, riset, dan tahqiq, beliau telah menulis puluhan buku Islami, terutama di bidang ‘Aqidah, Fiqh dan Tafsir. Tercatat dalam website resmi milik beliau, www.binothaimeen.com (dikelola oleh Yayasan Shaikh binothaimeen Charity),  ada puluhan judul buku yang kebanyakan terdiri dari berjilid-jilid tebal dan besar, dalam bentuk e-book yang bisa didownload secara gratis. Belum lagi karya ilmiah Islam beliau yang dipublikasikan dalam bentuk kaset yang jumlahnya pun tidak sedikit. Sama seperti Al-Muhaddits Al-Albani, Ibnu Al-‘Utsaimin juga mendapatkan anugerah penghargaan atas dedikasinya dalam bidang Pengabdian Islam, dari King Faisal Foundation pada tahun 1414 H.

Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i (1352H-1422H), pakar hadits dari Dammaj, Yaman, yang bertahun-tahun menderita penyakit lever ini, tidak pernah berhenti dari mengajar. Beliau telah meninggalkan sekitar 50-an judul buku, yang kebanyakan merupakan tahqiq dan bantahan bagi para pengusung kesesatan.  Hamud bin ‘Abdullah At-Tuwaijiri (1334H-1413H), ulama dari kota Majma’ah, ibukota negeri Sudair, Saudi Arabia, yang juga seorang Qadhi (hakim) di beberapa negeri di Timur Tengah ini telah menulis puluhan buku. Jumlahnya mencapai 50 judul buku, yang kebanyakan adalah di bidang ‘aqidah dan bantahan atas tindak penyelewengan syariat. Selain 50 karya tersebut, beliau juga banyak menulis ta’liq (komentar) atas Musnad Al-Imam Ahmad, Fat-h Al-Bari syarh Shahih Al-Bukhari, dan Al-Mustadrak Al-Hakim. Banyak cetakan karya beliau yang diberi pengantar oleh para ulama besar seperti Ibnu Baz, ‘Abdur Razzaq Al-‘Afifi, Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh dan ‘Abdullah bin Muhammad bin Humaid. Prof Dr Wahbah Az-Zuhaili, menurut murid-muridnya setiap hari meluangkan waktu sekitar 15 jam untuk membaca dan menulis. Sehingga ia melahirkan karya-karya monumental setingkat ensiklopedi.

Dari kalangan ulama masa lalu, ada Al-Imam Adz-Dzahabi, guru dari Al-Hafizh Ibnu Katsir (700-774H) dan Al-Hafizh Ibnu Rajab (w.795 H). Beliau yang hidupnya semasa dengan beberapa ulama pemilik kitab hadits ini telah menghasilkan sekitar 100 judul tulisan yang kebanyakan di bidang kajian hadits. Bayangkan apa alat tulis yang ada ketika itu. Tidak ada komputer, tidak ada printer, tidak ada mesin cetak yang besar-besar dan canggih seperti sekarang. Namun beliau mampu menulis karya-karya ilmiah yang sangat mengesankan kuantitas dan kualitasnya. Dan sekarang karya-karya beliau pun masih dapat kita jumpai dengan mudah. Ada pula, Abu Al-Hasan Al-Asy’ari (260H-324H), ulama salaf dari Bashrah, Irak. Beliau yang pernah terfitnah mengikuti madzhab Mu’tazilah sampai tahun 300 H ini mampu menghasilkan 55 tulisan yang bermanfaat sekali di berbagai bidang ilmu Islam.

Seribu Satu Manfaat Menulis

Jika kita telaah dan kita renungkan, apa yang menjadi pendorong para ulama mampu menghasilkan karya-karya ilmiah yang fantastis jumlahnya, yang sampai sekarang belum ada yang menandingi mereka. Ternyata kalau kita kaji, mereka seperti itu karena mereka tahu janji imbalan yang sangat menggiurkan dari Allah ‘azza wa jalla, berupa Jannah yang indah dan nikmatnya tiada tara, bagi para penegak syariatNya.

Khalifah ‘Umar bin Al-Khaththab jauh-jauh hari sudah memerintahkan untuk menulis ilmu-ilmu syar’i. Beliau berkata, artinya, “Ikatlah ilmu dengan menulis.” [Taqyid Al-‘Ilm, Al-Khathib Al-Baghdadi; Jami’ Bayan Al-‘Ilm, Ibnu ‘Abdul Bar, no.395. Dishahihkan Al-Muhaddits Al-Albani dalam footnote Kitab Al-‘Ilm karya Ibnu Abu Khaitsamah, no.55]

Ilmu adalah buruan, dan tulisan adalah pengikatnya.

Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat.

Termasuk kebodohan, engkau berburu kijang,

Lalu engkau tinggalkan lepas di antara manusia.

[Kitab Al-‘Ilm, Ibnu Al-‘Utsaimin, hal.63]

Al-Imam Ibnu Al-Jauzi (w. 597H) dalam karyanya, Shaid Al-Khathir hal.386, menuturkan, saya memandang bahwa manfaat menulis lebih banyak daripada manfaat mengajar (secara lisan). Sebab kalau mengajar mungkin hanya beberapa orang tertentu saja, sedangkan tulisan dibaca dan diambil manfaat oleh sekian banyak orang yang tak terhitung jumlahnya, bahkan mungkin oleh mereka yang kini belum terlahir ke dunia. Bukti akan hal ini bahwa manusia lebih banyak mengambil manfaat dari kitab-kitab para ulama pendahulu daripada dari pelajaran guru-guru mereka.

Karenanya, lanjut Ibnu Al-Jauzi, hendaklah orang yang dikaruniai Allah ilmu meluangkan waktunya dalam menulis karya yang bermanfaat, sebab tidak semua orang yang membuat karya berarti bermanfaat, tapi tujuan tulisan bukan hanya sekedar mengumpulkan sana-sini, tetapi itu adalah anugerah Allah kepada hamba pilihanNya sehingga ia mengumpulkan masalah yang berserakan dan menjelaskan masalah yang rumit… inilah tulisan yang bermanfaat. Hendaknya menulis dilakukan ditengah-tengah usia, karena awal usia untuk menuntut ilmu dan akhir usia sudah mengalami keletihan.

Kita lihat karya-karya Al-Imam Al-Bukhari (194H-256H), Al-Imam Muslim (204H-261H), Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani (773-852H), Al-Imam An-Nawawi (631H-676H), dan para ulama salaf lainnya. Karya-karya mereka, mereka tulis berabad-abad silam. Namun sampai sekarang karya-karya mereka tetap utuh dan bahkan dijadikan referensi utama umat Islam. Ini menunjukkan besar kemungkinan karya-karya yang kita buat hari ini, tetap utuh sampai beberapa generasi setelah kita dan karya kita mereka jadikan rujukan. Kita berharap apa yang didapat para ulama salaf juga kita dapatkan.

Dengan hanya sekali menulis atau menghasilkan buku syar’i, maka kita mendapatkan pahala yang mengalir terus-menerus atas setiap orang yang mengamalkan ilmu syar’i yang termuat dalam buku kita, meski kita telah meninggal. Sangat efektif dan efisien bukan? Hanya satu kali kerja, tanpa harus mengeluarkan tenaga ekstra dan terus-menerus, kita tetap mendapat pahala mengalir terus-menerus. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui.

Nabi Muhammad berkata, artinya, “Apabila seorang manusia meninggal, maka akan terputuslah pahala amalnya, kecuali pahala tiga amal; Shadaqah yang terus mengalir pahalanya (jariyah), Ilmu yang dimanfaatkan, Doa anaknya yang shalih kepadanya.” [Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan At-Tirmidzi, Sunan An-Nasa`i] Nabi Muhammad berkata, artinya, “Sesungguhnya di antara yang akan menyusul seorang mu’min dari amal dan kebaikan-kebaikannya setelah kematiannya adalah;

(1)     Ilmu yang ia ajarkan dan ia sebar-luaskan,

(2)    Anak shalih yang ia tinggalkan,

(3)    Mushhaf yang ia wariskan,

(4)   Masjid yang ia bangun,

(5)    Rumah untuk ibnu sabil yang ia bangun,

(6)   Sungai yang ia alirkan,

(7)    Shadaqah yang ia keluarkan dari hartanya dalam keadaan ia sehat dan masih hidup.

Semua itu menyusulnya meski setelah ia mati.” [Sunan Ibnu Majah no.238; Syu’ab Al-Iman no.3294; Shahih Ibnu Khuzaimah no.2293. Dinyatakan hasan oleh Al-Muhaddits Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib no.77, 112, 275 dan Shahih Al-Jami’ no.2231]

Di samping itu, menulis buku-buku syar’i merupakan sarana bagi para wanita yang juga ingin berda’wah dan ikut berpartisipasi melestarikan ilmu syar’i, tanpa harus berhadapan dengan pria-pria yang bukan mahramnya.

Kini, sudahkah anda bersemangat untuk menulis buku atau lainnya? Apakah anda sudah siap untuk menghasilkan karya ilmiah Islam untuk disebar-luaskan? Siapkah anda mendapat pahala mengalir meski anda telah tiada? Jika ya, segeralah ambil alat tulis atau komputer, kumpulkan bahan-bahan materi ilmu syar’I dan mulai tulis sampai selesai, kemudian sebarkan atau sodorkan ke penerbit buku-buku Islam.

Copy Right © 1430 Brilly El-Rasheed

Dipublish oleh www.thaybah.or.id

(1) Pimred majalah TAUHIDULLAH; (2) Pimred majalah dan buletin AS-SHOLIHIN, (3) redaktur pelaksana majalah AL-AKHBAR, (4) editor dan layouter majalah AL IHSAN, (5) reporter majalah MEDIAN LPMP Jawa Timur, (6) kontributor lepas majalah AR-RISALAH, (7) kontributor tetap majalah LENTERA QOLBU, (8) kontributor lepas di majalah ELFATA, (9) editor in chief majalah digital QUANTUM FIQIH, (10) konseptor dan mantan redaktur pelaksana majalah FITHRAH, (11) mantan layouter sekaligus pimred buletin Jum’at THAYBAH, (12) redaktur penerbit PT. EFMS, (13) admin salah satu situs berita Islam Nasional dengan 20.000 visit/hari), (14) online marketing UD. SBY CORPORATION, (15) pengasuh situs THAYBAH.ID, (16) promotor penerbitan majalah donatur, (17) redaktur pelaksana majalah SUARA MASKUMAMBANG, (18) redaktur pelaksana majalah SEJAHTERA dan buletin jumat YATIM SEJAHTERA, dan (19) mengasuh 2 website dan belasan blog keislaman yang ‘hidup segan mati tak mau’ sebagai salah satu cara merehatkan diri, serta (20) penulis buku GOLDEN MANNERS, KUTUNGGU DI TELAGA AL-KAUTSAR, MENDEKAT KEPADA ALLAH, QUANTUM IMAN, yang bisa Anda dapatkan di Gramedia atau toko buku lainnya.

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*