disuruh

“Tuhan Kok Disuruh-Suruh?”

Brilly El-Rasheed Aqidah 0 Comments

“Padahal kita manusia, ciptaanNya, pantaskah kita menyuruhNya? Sungguh hina dan lancang sekali kita. Berani-beraninya menyuruh Allah memenuhi permintaan kita. Seberapa tinggi derajat kita dibandingkan derajat Allah sehingga kita berani menyuruhnya? Apa posisi kita dibandingkan posisi Allah? Lantas patutkah kita memintaNya menuruti kemauan kita? Mengikuti keinginan kita? Sungguh tidak layak,” kurang lebih demikianlah alur logika sang penulis buku nyeleneh tersebut.

Implikasinya, sebagian umat Islam yang pemahamannya terhadap Islam belum baik, enggan berdoa kepada Allah dengan alasan berdoa merupakan sikap tidak beradab kepada Allah karena doa kita kepada Allah adalah berarti kita menyuruh Allah, berarti kita memaksa Allah. Itulah gambaran fakta yang menyeruak di tubuh kaum muslimin. Kondisi yang sangat memprihatinkan. Sebuah pola pikir sesat sedemikian cepat membabat. Akal nakal bak aral nan janal. Nalar yang unik nan menggelitik sekaligus membuat hati terusik. Pemikiran liberal yang merusak hening tauhid.

Padahal Allah ‘Azza wa Jalla yang menciptakan kita. Dia menyuruh kita berdoa kepadaNya, memohon, meminta, berharap sebanyak-banyaknya hanya kepadaNya semata.  Firman-firman Sang Maha Kuasa lebih dari cukup untuk menjadi hujjah yang membantah si ustadz “ilmiah”. Kata-kata Nabi yang mulia dan sunnah-sunnahnya juga berlimpah jumlahnya mendepak ungkapan bodoh nan pongah yang mengharamkan doa kepada Rabb alam semesta. Sungguh, dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah bertebaran dalil yang menunjukkan bahwa berdoa itu wajib karena ia sudah menjadi perintah Allah Jalla wa ‘Azza.

Firman Allah, “Dan Rabb kalian berkata, ‘Berdoalah kepadaKu, niscaya Aku penuhi doa kalian.’.” [Al-Qur`an surah Ghafir ayat no. 60] contohnya. Tidakkah firman Allah ini menunjukkan bahwa doa kepadaNya adalah perintah Rabb kita yang mulia? Bahkan Dia berjanji pasti akan memenuhi pinta kita. “Berdoalah kalian kepada Allah dalam keadaan memurnikan agama untukNya.” [Al-Qur`an surah Ghafir ayat no. 14] Apa arti firman Allah Tabaraka wa Ta’ala ini? Kita diperintah oleh Allah untuk meminta apapun kepadanya kan? Apa masih bisa dibenarkan opini sesat tadi? Demi Allah, dua ayat firman Allah ini sudah sangat lebih dari cukup menjadi dalil untuk membantah si ustadz ahli ta`thil (menolak teks-teks Al-Qur`an dan As-Sunnah) sampai masalah-masalah syariat yang terlihat kecil.

Berdoalah kepada Rabb kalian dengan merendah diri dan suara yang lembut.” [Al-Qur`an surah Al-A’raf ayat no. 55] “Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku memenuhi pinta orang yang meminta apabila ia meminta kepadaKu.” [Al-Qur`an surah Al-Baqarah ayat no. 186] Dan masih banyak lagi firman Allah yang lainnya. Bagi orang-orang yang berakal sehat dan beriman kepada Allah, pasti satu ayat saja sudah cukup baginya.

Bahkan Rasul kita, Muhammad Shallallah ‘alaih wa Sallam, tidak tanggung-tanggung kalau berdoa kepada Rabbnya. Beliau kalau berdoa biasanya diulang-ulang sebanyak tiga kali. [Shahih Muslim no. 4625]. Beliau juga menyuruh kita untuk berdoa, meminta, dan berharap kepada Allah sebanyak-banyaknya. [Ash-Shahihah no. 1325] Karena memang yang kita minta adalah Maha Kaya. Dia tidak akan bakhil dengan kekayaanNya. Dan Dia tidak akan menganggap besar akan pemberianNya kepada makhlukNya. [Shahih Al-Bukhari no. 6339; Shahih Muslim no. 6752; Musnad Al-Imam Ahmad 2/475].

Kita pun dilarang Nabi berputus asa ataupun tergesa-gesa ingin pinta kita segera tergapai semua. Jangan sampai kita menjadi malas atau bahkan tidak mau berdoa sama sekali karena terlalu lama menanti terkabulkannya doa dan mengatakan bahwa Allah tidak menepati janjiNya. Kalau kita mau bersabar menunggu, niscaya pinta kita kepada Allah, pasti segera “bertamu”. [Shahih Al-Bukhari7/153; Shahih Muslimno. 6869, 6871]. Seharusnya kita yakin Allah pasti menepati janjiNya untuk memenuhi harapan kita kepadaNya. Kita harus serius dan bersungguh-sungguh. [Shahih Al-Bukharino. 6339; Shahih Muslimno. 6752; Musnad Al-Imam Ahmad2/177]. Allah tidak akan memenuhi pinta orang yang tidak sepenuh jiwa berharap kepadaNya. [Ash-Shahihah no.594]

Meski terkadang hasil tidak terkait dengan kail. Atau kenyataan tidak sesuai harapan. Sebab Allah yang maha tahu punya rencana sejak dahulu, dan pasti semua apa yang ditetapkanNya selalu baik bagi hamba-hambaNya. Tidak ada taqdirNya yang buruk. Bisa jadi doa sesuai asa. Bisa jadi pula dosa masa lalu atau keburukan masa depan akan dihapus oleh Allah, sebagai ganti dari doa yang mungkin salah. [Fat-h Al-Bari 11/98]. Bahkan Allah benar-benar malu (sungkan) kalau ada hambaNya meminta kepadaNya dengan membentangkan kedua tangannya, namun keduanya kembali dalam keadaan hampa. [Shahih Al-Jami’ no.1757] Dan masih banyak lagi dalil yang menindas ta’thil terhadap disyariatkannya berdoa, meminta, dan memohon kepada Rabb.

Lantas sekarang, apakah kita masih bimbang akan dalil-dalil yang sedemikian banyak terpampang? Akankah kita masih enggan berdoa dengan dalih adab kepada Allah sang maha pencipta? Masihkah kita setuju dengan ustadz nakal itu yang sudah jelas kebobrokan pemikirannya? Semoga Allah menunjuki kita semua dan ustadz usil itu kepada jalan yang benar, jalannya Rasulullah dan para nabi lainnya.

Surabaya, 30 Dzul Qa’dah 1431

Disebarkan oleh www.thaybah.or.id

(1) Pimred majalah TAUHIDULLAH; (2) Pimred majalah dan buletin AS-SHOLIHIN, (3) redaktur pelaksana majalah AL-AKHBAR, (4) editor dan layouter majalah AL IHSAN, (5) reporter majalah MEDIAN LPMP Jawa Timur, (6) kontributor lepas majalah AR-RISALAH, (7) kontributor tetap majalah LENTERA QOLBU, (8) kontributor lepas di majalah ELFATA, (9) editor in chief majalah digital QUANTUM FIQIH, (10) konseptor dan mantan redaktur pelaksana majalah FITHRAH, (11) mantan layouter sekaligus pimred buletin Jum’at THAYBAH, (12) redaktur penerbit PT. EFMS, (13) admin salah satu situs berita Islam Nasional dengan 20.000 visit/hari), (14) online marketing UD. SBY CORPORATION, (15) pengasuh situs THAYBAH.ID, (16) promotor penerbitan majalah donatur, (17) redaktur pelaksana majalah SUARA MASKUMAMBANG, (18) redaktur pelaksana majalah SEJAHTERA dan buletin jumat YATIM SEJAHTERA, dan (19) mengasuh 2 website dan belasan blog keislaman yang ‘hidup segan mati tak mau’ sebagai salah satu cara merehatkan diri, serta (20) penulis buku GOLDEN MANNERS, KUTUNGGU DI TELAGA AL-KAUTSAR, MENDEKAT KEPADA ALLAH, QUANTUM IMAN, yang bisa Anda dapatkan di Gramedia atau toko buku lainnya.

Rekomendasi Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*